
***Halo, sebelumnya author mau ngucapin terima kasih banyak buat kalian yang setia nungguin cerita ini. Juga sangat tertarik dan mendukung author dengan vote, like dan komen. Author sangat berterima kasih dan semakin semangat. Untuk mengusahakan up setiap hari seperti sekarang, mohon di maklumi jika terdapat typo ataupun Bab yang lebih singkat. Kedepannya, author akan berkontribusi dengan tulus dan memberikan yang lebih terbaik.
-Salam Author***
***
Setelah mendarat di bandara, Lyra berpisah dengan Moeis. Rupanya Helena sudah menunggu di boarding lounge untuk terbang bersama Moeis ke Beijing. Lyra sempat memberikan tatapan tidak suka nya karena pakaian Helena yang cukup sexy.
Saat ini,
Ia sedang dalam perjalanan pulang dijemput oleh salah satu sopir. Wajahnya terus tersenyum melihat kembali foto nya di Bali. Lyra hampir tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Ia merasa sangat senang.
Lyra melihat ke depan setelah mendengar sopir nya mengklakson beberapa kali.
"Ada apa, pak?"
"Itu nyonya, ada orang didepan gerbang"
Terlihat seorang pria berdiri dengan tas dan koper sambil mengintip ke dalam. Lyra yang melihat nya merasa tidak asing dengan tubuh tersebut.
"Biar saya saja yang keluar, nyonya" cegah pak sopir melihat Lyra membuka pintu mobil.
Namun Lyra menolak.
"Tidak apa-apa, pak"
Ia berjalan mendekat.
"Permisi, ada perlu apa didepan rumah saya?"
Ketika pria tersebut membalikkan badannya. Lyra terkejut bukan main. Mengapa, ada apa, dia di sini? Dari mana dia mengetahui alamat rumah nya yang sekarang?
"Abe…."
"Lyra.. akhirnya kita bertemu" sambut Abe.
Lyra pun mengajaknya sedikit bergeser agar mobilnya bisa masuk ke dalam.
"Pak, tutup saja. Saya akan keluar sebentar.."
"Baik, nyonya"
Lyra masih tidak menyangka dan kehilangan kata-katanya. Untuk apa Abe datang?
"Bagaimana kabarmu?" tanya Abe.
"Ah aku, tentu aku baik. Tapi… kenapa kamu kesini? Maksudku, dari mana kamu tau alamat tinggal ku sekarang?"
Abe tersenyum. Terlihat sedikit kekecewaan diwajahnya.
"Apa ini rumah suamimu?"
"Ya.. aku sudah mengatakan kepadamu kan? Kalau aku ini sudah menikah"
__ADS_1
Untuk bertanya lebih banyak lagi, mereka pun pergi mencari tempat yang lebih baik. Karena Abe membawa koper, akhir ia mencari hotel bersama Lyra.
"Abe.. apa yang terjadi?"
"Lyra, sejak kamu pergi. Aku tidak bisa tenang, rasanya sangat ingin menemui mu dan memastikan apakah kamu benar-benar sudah menikah. Akhirnya aku datang sekarang, dan menemukan jawaban sendiri.."
"Aku sudah katakan.." jawab Lyra melemah.
Pria didepan nya terlihat tidak begitu bersemangat, berbeda dengan saat mereka masih berada di German. Sebenarnya Lyra tidak tega, Abe jauh-jauh hanya untuk kekecewaan ini.
"Aku tau, aku hanya seorang manager di sebuah restoran. Hidup ku biasa saja, kamu pantas mendapatkan kehidupan yang sekarang. Maaf karena terlalu mengharapkan mu. Maaf…"
Lyra sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Abe ucapkan.
"Apa maksudmu? Kenapa bicara begitu?"
"Begitu aku sampai di bandara, aku membaca sebuah majalah di ruang tunggu. Aku juga melihat postinganmu bersama seorang pria di akun sosial media mu. Mereka nampak sama. Suami mu adalah seorang pebisnis kaya raya, dan aku juga sudah melihat sendiri rumah kalian. Kamu pasti sudah hidup bahagia.." ucapanya tersenyum.
Mendengar ucapan Abe, membuat hatinya sedih. Meskipun Abe menyukainya, tetapi Lyra tetap menganggap Abe sebagai sahabat terbaik nya. Mereka sudah melewati masa kuliah bersama selama bertahun-tahun.
"Tidak seperti itu. Kekayaannya bukanlah segalanya bagiku. Aku menikah dengannya, karena aku memang harus menikah dengannya. Ya.. dan sekarang aku memang sudah bahagia. Tetapi, aku juga selalu berdoa untuk kebahagiaan mu…" ucap Lyra dengan tulus.
Tanpa di duga, Abe menjatuhkan air mata nya dan Ini adalah pertama kalinya Lyra melihat seorang pria menangis dihadapannya. Apakah Abe begitu kecewa hingga seperti ini?
Lyra mendekat.
"Abe…kenapa kamu menangis. Apa ucapan ku keterlaluan? Apa aku…."
"Tidak.." sahut Abe tegar.
Pria didepannya terus berusaha menahan diri. Tanpa sadar, Lyra juga menangis.
"Lyra, sejak dulu aku selalu berusaha bahagia karena kamu selalu ada. Kamu satu-satunya nya wanita yang membuatku kagum setiap hari. Kamu adalah impian ku… Tetapi, melihatmu sekarang. Rasanya kebahagiaan itu hilang begitu saja. Maaf karena datang seperti ini.."
Sekali lagi, Lyra melihat koper dan tas milik Abe. Melihat nya datang hanya untuk memastikan pernikahan nya yang dulu tidak dia percaya. Ia merasa bersalah karena mengabaikan perasaan Abe selama ini. Tetapi, hatinya memang tidak pernah pernah mencintai Abe.
"Apa yang harus ku lakukan agar kita tetap bersahabat baik? Agar kebahagiaan mu kembali? Aku bukankah sebuah kebahagiaan jika bisa membuatmu merasa buruk seperti ini. Jangan mengagumi ku, aku tidak lah pantas…."
"Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan apapun.. Aku merasa lebih baik jika kamu memang sudah bahagia sekarang. Aku bisa kembali ke German dan menemukan kebahagiaan lain kan? Katakan.. -katakan padaku untuk pergi, Lyra.."
Kata-kata itu membuat Lyra menangis sesenggukan. Ia menutupi wajahnya dan mengusap air matanya. Mengapa seberat ini melihat Abe kecewa. Ia takut persahabatan nya berakhir buruk.
"Yhah… kamu harus kembali dan lebih bahagia dari pada aku. Berkencan lah dengan wanita yang lebih cantik dan mengerti dirimu lebih dari pada ku.. Kamu harus menerima cintanya setiap hari.. maafkan aku, Abe"
Tangisan Lyra semakin sesak.
Abe tersenyum, dan meminta Lyra mengusap air matanya.
"Baiklah.. aku akan lebih berbahagia setelah ini. Terima kasih pernah menemani kehidupanku yang lalu.."
"Maafkan aku…" ucap Lyra sekali lagi.
///
__ADS_1
"Nyonya, apa anda ingin makan siang sekarang?" tanya Ellie.
"Bawakan ke kamarku.." ucap Lyra sambil berjalan ke atas.
Ia baru saja pulang dari hotel setelah berpisah dengan Abe. Lyra menenangkan dirinya, keputusannya sudah tepat untuk meminta Abe pergi dan menemukan kebahagiaan yang lain.
Setelah makan siang yang hanya beberapa suap, Lyra memilih untuk tidur untuk mengurangi rasa lelahnya.
Hingga pukul 4 sore ia baru saja terbangun. Hal yang pertama kali ia lakukan adalah mengecek ponselnya.
Terdapat satu panggilan tidak terjawab dari Moeis. Lyra menghubungi nya kembali.
"Tadi kamu menelepon ku? Maaf.. aku baru bangun tidur"
"Mengapa suaramu serak?"
Lyra baru menyadari nya. Mungkin karena ia tadi sempat menangis.
"Ah, kan baru bangun tidur. Apa kamu sudah sampai? Sekarang sedang apa?"
"... Sedang mempersiapkan presentasi. Nanti malam ada meeting penting"
"Kalau begitu aku tutup ya?"
"Mari bertemu besok saat makan siang, di lantai VVIP. Ada yang ingin ku bicarakan"
Lyra penasaran.
"Tentang apa?"
"Besok saja…"
"Tetapi, besok. Kapan kamu akan akan kembali? Langsung bekerja? Moeis…. "
"Malam ini setelah meeting, saya akan langsung kembali. Tetapi tidak bisa ke rumah. Saya akan tidur di kantor untuk mengurus hal lain.."
"Bagaimana dengan Helena?"
"Dia akan menemani saya. Dia sangat membantu saya dalam menyelesaikan hal ini. Ada apa?"
"Tegur lah dia! Kenapa kamu membiarkan pakaian nya seperti itu? Apa kamu sukaa?"
Terdengar suara kekehan Moeis.
"Apa yang salah? Dia sudah seperti itu sejak dulu dan menjadi ciri khasnya… Saya sama sekali tidak tertarik juga. Apa kamu cemburu?"
"Menurutmu???!!!"
"Sudahlah.. kamu lebih seksi dari pada dia. Saya lebih menyukai tubuhmu…"
Lyra membulat matanya mendengar ucapan Moeis. Sekaligus malu dan kehilangan kata-kata.
"Mm- hgg.. tidak mungkin!..."
__ADS_1
Panggilan pun Lyra berakhiri begitu saja.
Bersambung...