
3 hari berlalu.
Lyra membuang jauh-jauh tangisan pilunya yang tidak berguna tetapi terus-terusan ia lakukan. Betapa bodohnya.
Sore hari ia baru saja pulang berjalan-jalan dari sebuah hutan danau yang indah dan tenang. Ia berjalan memasuki gerbang besar dan pelataran yang luas hanya dengan sweater polos selutut berwarna abu-abu dan dan sandal tali hitam. Melipat kedua tangannya di dada, berjalan perlahan dengan tatapan sendu.
Rumah ini indah bagi mereka yang melihat dari luar, tetapi neraka yang abadi didalam sana. Ia tersenyum memikirkan nya.
Mendekati pintu utama, ia melihat pelayan yang begitu sibuk dari hari biasanya. Sudah bisa ditebak, Moeis pasti sudah pulang.
"Nyonya. Tuan menanyakan Nyonya, dan kami tidak tau anda dimana" Seorang petugas keamanan menghampiri nya dengan wajah resah.
Lyra hanya tersenyum, "Jangan khawatir, saya yang akan bicara sendiri dengan Tuan. Mmm, tolong letakkan bunga ini dikursi taman teratai"
Petugas tersebut menerima mawar putih yang ia petik di danau.
Lyra pun berjalan masuk untuk mandi membersihkan badannya. Namun lagi-lagi ia tidak melihat Moeis dikamar. Hanya tercium bau perfume nya.
Malam pukul 7. Setelah seorang pelayan memintanya untuk turun dan makan malam. Ia menuruni anak tangga dan melihat Moeis sudah berada dimeja makan terlebih dahulu dengan wajah yang dingin. Lelaki itu nampak angkuh.
"Selamat menikmati makan malam Tuan, dan Nyonya. Kami permisi"
Makanan telah disajikan. Kini hanya ada mereka berdua dengan suasana yang kosong.
Lyra beberapa kali melihat kearah Moeis.
"Apakah ada masalah di perusahaan?" tanya Lyra.
"Yaa.." jawabnya singkat.
"Moeis, aku sudah banyak bertingkah selama dirumah ini. Bagaimana menurutmu?"
Moeis menatap Lyra, "Lakukan itu untuk dirimu sendiri, tidak untuk para pekerja. Tidak kah kamu lelah?!"
Lyra tersenyum, meletakkan sendok dan garpunya.
"Aku lelah… ku rasa aku sudah gila. Ah.. pasti Ellie sudah memberitahu mu semua kegilaan ku. Hanya saja.. fase hidup ku kini… tidak pernah terbayangkan sama sekali. Tentu saja ini sangat membuatku frustasi. Kita benar-benar bertolak belakang" suaranya bergetar.
Moeis mengusap wajahnya, "Hentikan, hentikan saja harapan impian itu. Tidaklah sulit menikmati harta dan kebebasan. Sadarkan dirimu. Lakukan saja sama seperti kemarin kau berkencan dengan Abe. Lakukan sesukamu Lyra, lakukan. Dan….. - jangan menuntut apapun dari ku lagi!!"
"Iblis sepertimu, akhirnya aku melihatnya bahkan di kehidupan ku sendiri. Setiap melihat wajah angkuhmu aku selalu bertanya-tanya, orang seperti apa sebenarnya dirimu. Rahasia apa lagi yang kamu simpan rapih, dan bagaimana bisa tak ada sedikipun hati nurani yang kamu berikan untukku"
Hal gila kembali Lyra sadari, mengapa ia menjadi seperti ini lagi.
"Mari hidup dengan ketenangan, Lyra" ucapnya dengan nafas berat.
"Ya, aku juga sudah memikirkan nya saat di danau tadi. Aku akan melakukan apapun yang ku mau.."
Kini Moeis dengan wajah frustasi pun dapat sedikit bernafas lega mendengarnya. Ia mengangguk sambil beranjak pergi, "Baiklah…"
Lyra terus memperhatikan punggung Moeis hingga menghilang dari pandangannya.
Moeis pergi tanpa menghabiskan makanan nya, setelah selesai Lyra pun membawa piring tersebut ke belakang. Dan melihat beberapa pelayan sedang makan dimeja belakang.
Mendengar suara letakan piring membuat pelayan menoleh dan berhenti menyantap makanan nya. Mereka berdiri melihat Lyra dan menghampirinya.
"Ya tuhan, Nyonya. Mengapa anda yang membawa piring kotor ini, biarkan di meja kami akan membersihkannya" ucapnya tergesa-gesa mengambil kan Lyra tisu.
Lyra tersenyum sambil melihat kondisi meja makan belakang.
"Lanjutkan makan kalian, jangan khawatir. Saya hanya ingin sesekali melihat ke bagian dapur. Tapi, tangga apa itu?" ia berjalan melihat tangga menuju bawah.
"Ini tangga ke lantai bawah Nyonya. Disana terdapat beberapa gudang. Termasuk gudang bahan baku makanan seperti beras dan bumbu rempah"
__ADS_1
"Oh ya, bagaimana bisa saya tidak mengetahui rumah ini dengan baik. Lalu, gudang apa lagi?"
"Ada gudang penyimpanan alat perkakas, dan peralatan yang sudah tidak digunakan lagi. Semuanya akan di sortir setiap 4 bukan untuk dipilih mana yang harus segera di buang"
Melihat tangga tersebut membuat Lyra ingin tau bagaimana dibawah sana.
"Temani saya turun"
Mendengar hal itu membuat Ellie yang baru saja datang langsung melarangnya.
"Tidak perlu, Nyonya. Disana sangat berantakan, anda mempunyai hal lain untuk di lakukan"
"Akan ku lakukan setelah melihat ke bawah"
"Tidak, Nyonya"
"Ellie…" ucap Lyra dengan dingin.
Ekspresi Ellie hanya diam menatap Lyra dengan lekat.
"Kamu mungkin dapat mengatur saya tapi hanya saya yang dapat memerintah. Kembali lah setelah saya selesai. Benar-benar !……" suara tegas Lyra membuat mereka terdiam.
Seorang pelayan muda yang biasa menata gudang menemani Lyra untuk turun.
"Nyonya, ruangan ini untuk bahan makanan kering. Kami menggantinya berdasarkan masing-masing ketahanan lama nya. Disana adalah beberapa jenis timbangan, yang ini untuk beras dan itu untuk yang lebih ringan"
Lyra menelusuri setiap rak dan melihatnya satu persatu, ia mengangguki penjelasan pelayan tersebut.
"Lalu pintu besar itu?"
"Disana kami menyimpan daging, ikan dan seafood lainnya. Biasanya waktu pembersihan dan penggantianya adalah satu minggu"
Setelah di buka ternyata terdapat ruangan pendingin dan aquarium dengan ikan yang masih hidup.
"Iya, Nyonya"
Mungkin bahan makanan ini terlihat sangat banyak. Meskipun Moeis hanya makan pagi dan malam, tetapi sepertinya semua ini habis untuk para pekerja di rumah ini.
Mereka keluar dari ruangan pertama dan melihat lebih ke dalam. Di pintu terdapat tulisan penyimpanan alat dan barang bekas.
Namun masih ada 1 pintu yang terlihat lebih tertutup dan besar.
"Pintu apa ini? Bukalah…".
"Maaf Nyonya, ini adalah ruangan rahasia Tuan dan kami tidak pernah tau apa yang ada didalam sana. Sebenarnya Ellie selalu memberitahu kami untuk tidak mendekatinya"
"Siapa saja yang dapat memasuki ruangan itu? setidaknya kamu harus tau untuk menjawab pertanyaan saya"
Pelayan itu terlihat tidak nyaman.
"An.. a.. yang pernah saya lihat hanya Tuan, Ellie dan Pak Johnson"
"Bahkan pak Johnson? kenapa dia bisa.."
Ia bertanya-tanya diatas rasa penasaran nya akan banyak hal.
Setelah selesai, Lyra berjalan menuju kamar nya bersama Ellie. Ia menjelaskan bahwa Lyra harus memilih baju yang akan ia kenakan besok untuk kunjungan pertamanya ke perusahaan utama yang di pimpin oleh Moeis, yaitu Bara Group.
"Kirim kan gambar nya kepadaku, akan ku cek dikamar"
Lyra memasuki kamar nya untuk berganti piyama. Ia mengambil ponselnya dan membawa nya ke tempat tidur. Cukup banyak gambar yang ia terima dari Ellie.
Karena terlalu fokus memilih, Lyra tidak tau bahwa Moeis memasuki kamar dan sedang berada di ruang ganti.
__ADS_1
Lyra tiba-tiba sudah melihat Moeis duduk di kursi dekat jendela besar sambil bertelepon.
'Lihatlah ekspresinya, dia benar-benar yang terburuk. Lihat saja, aku juga bisa menjadi angkuh. Kau pikir tidak?..' Batin Lyra.
"Berhenti melihat saya seperti itu"
Suara berat Moeis menyadarkan Lyra.
"Tidak ada. Aku melihat jendela"
"Matamu pasti bermasalah…" jawabnya singkat.
Lyra bergedik kesal plus malu. Kesalahan fatal bagi nya untuk memperhatikan Moeis tanpa sadar seperti tadi.
"Yang benar saja.." gumam Lyra sambil meroling kan matanya kembali menatap layar ponsel.
***
"Nyonya, anda hanya harus menyapa para Direktur dan petinggi lainnya. Juga beberapa karyawan yang anda jumpai. Lalu duduk diruang rapat untuk melihat presentasi mengenai posisi yang akan segera anda duduki"
"Baiklah"
Lyra dan Moeis sudah berada dimeja makan untuk sarapan bersama. Setelah Ellie selesai menyampaikan beberapa hal untuk Lyra, ia pergi untuk mengecek mobil didepan.
"Silahkan menikmati sarapan pagi anda, Tuan dan Nyonya"
Ya, hari ini Lyra sudah dijadwalkan untuk pergi. Semalam ia sudah memilih pakaiannya dan pagi ini terlihat formal dan sangat cantik.
Sementara Moeis, seperti biasa ia mengenakan pakaian jas formal kali ini berwarna abu-abu.
"Apa kamu akan menemani ku disana atau ada pekerjaan sendiri?" tanya Lyra kepada Moeis yang tidak berkomentar apa-apa mengenai kunjungan pertamanya ke perusahaan.
"Saya sendiri yang akan memperkenalkan mu pada mereka"
"Jika aku tidak menyukai perusahaanmu, aku akan melamar di perusahaan lain…."
Moeis tersenyum miring mendengar ucapan Lyra yang menurutnya sangat tidak cocok didengar. Sudah jelas ini semua telah di atur oleh keluarganya, untuk mengisi waktu kosong Lyra. Dan hanya langsung menempati posisi, mengapa Lyra ingin melamar ditempat lain.
"Apa kau akan benar-benar bekerja?"
"Tentu saja. Jika aku menyukai perusahaan mu"
"Lalu perusahaan lain pasti akan menerima mu. Tidak perlu repot-repot datang saja pagi ini. Jangan mengacau"
Ucapan Moeis terdengar begitu serius dan marah. Pria itu benar-benar menyebalkan bagi Lyra.
Melihat Moeis berjalan keluar begitu saja, Lyra pun mengikutinya di belakang. Mereka lalu memasuki mobil yang sama.
Moeis menatapnya ngeri.
"Keluar.."
"Apa?"
"Jangan datang untuk membuang waktu kami. Keluar sekarang.."
Mendengar percakapan Tuan dan Nyonya nya, sang supir hanya diam dan belum menjalankan mobil.
"Ucapanku tadi tidak serius. Mari jalan sekarang, Pak"
Lagi-lagi Lyra terwah-wah dengan sikap Moeis yang sulit ditebak. Namun akhrinya mereka pun tetap jalan menuju Bara Group.
__ADS_1
Bersambung...