Killing Me Softly

Killing Me Softly
33


__ADS_3

"Mengapa Moeis tidak menjawab?"


Berkali-kali Lyra mencoba untuk menghubungi Moeis tetapi tidak ada jawaban. 


"Apa kak Moeis sudah memecat semua pekerja? Kenapa sepi sekali?"


Saat ini mereka sedang di salah satu kamar tamu, dan Lyra membantu membereskan nya seperti mengganti bedcover.


"Tidak, pekerja sedang libur.."


"Oh begitu…"


Lyra tersenyum. 


"Iya, yasudah kamu istirahat saja. Aku akan siapkan untuk makan malam nanti…" ucapnya hendak pergi keluar.


"Apa kakak mencintai kak Moeis?"


Lyra menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mikha.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


Mikha juga bagian dari keluarga besar Meyers. Dia mengetahui semua sisi gelap bahkan dari orang tua nya sendiri. Tetapi keluarga Tuan Dave adalah yang paling keras dan tinggi derajatnya. 


"Aku ingin tau, apakah kutukan itu benar-benar masih ada. Kami semua selalu menunggu kebebasan tetapi tidak pernah terjadi.."


Akhirnya Lyra kembali mendekati Mikha. Mereka duduk bersama dan saling berbagi cerita. Pengakuan Mikha adalah, ia satu-satunya keturunan yang memiliki sifat seperti ini. Cair dan terbuka. Berbeda dengan seluruh keluarga yang cenderung dingin dan tegas.


Lyra memghela nafasnya.


"Ya… sepertinya masih ada. Meskipun aku juga tidak tau apakah aku benar-benar sudah mencintainya dengan tulus. Tetapi yang ku tau, Moeis belum merasakan cinta dariku.. dan belum bisa memberikan cinta untuk ku. Tapi sikapnya padaku sudah jauh lebih baik.."


"Benarkah? Itu yang membuatku terheran kemarin. Dia sekeras dan sedingin Uncle Dave. Bagaimana mungkin aku menemuinya di supermarket.. ini semua berkat kamu, kak"


Bersyukur mereka mudah mengenal dan dekat. Akhirnya Lyra menemukan seseorang yang tepat untuk melupakan perasaannya mengenai keluarga ini. Yang telah ia tahan sekuat tenaga.


"Moeis memang banyak berubah. Aku merasa senang.." jawab Lyra.


"Ya, aku juga.."


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Meidro? Tidak ada kutukan apapun kan bagi keturunan perempuan?" tanya Lyra.


Mikha menjeda waktu menjawabnya. Ia tidak tau harus mulai dari mana. 


"Kak, aku senang mendapatkan anggota keluarga baru seperti mu. Yang dapat ku ajak bicara dan berkeluh kesah. Boleh aku sedikit bercerita? Aku sangat ingin…"


"Tentu saja, percaya padaku.." jawab Lyra mengelus lengan Mikha.


"Aku sudah bersama Meidro selama 3 tahun. Aku sangat mencintainya sampai-sampai berpikir untuk pergi dan lepas dari aturan keluarga yang membuatku sangat muak. Aku tidak perduli jika harus hidup menggelandang bersamanya…"


"Apa yang kamu bicarakan, kenapa.."


Mikha melanjutkan ceritanya.


"Tidak terjadi kutukan apapun.. tetapi, sebenarnya.. keluarga tidak menyetujui jika suatu saat nanti aku akan menikah dengan Meidro. Mereka tidak memisahkan ku sampai saat ini meskipun mengetahui hubungan kami, karena mereka tidak akan perduli sekarang, tetapi nanti saat waktunya tiba. Mereka akan membuatku meninggalkan Meidro dan menjodohkan ku dengan orang lain. Tentunya dengan kesepakatan bisnis…"


Lyra terkejut. Ia tidak menyangka.. dan bersimpati atas kesedihan Mikha. Itu pasti sangat berat untuknya.


"Lalu apa Meidro tau?"


"Tidak kak.. mana mungkin aku bisa mengatakan nya. Ya, aku ingin egois.. membiarkan nya bertahan lalu suatu saat meninggalkan nya begitu saja. Wanita jahat.." ucap nya menyesal.

__ADS_1


Lyra memeluk Mikha.


"Aku akan membantumu jika bisa. Katakan saja, carilah aku suatu saat nanti.."


"Terima kasih kak.. aku sangat lega mengenal mu.."


Setelah obrolan menyedihkan itu, Lyra membiarkan Mikha untuk beristirahat. Ternyata tidak hanya ia yang menderita, dan sepertinya banyak kisah menyedihkan dibalik dinginnya keluarga ini yang mungkin belum Lyra ketahui.


Sementara dirinya kembali ke kamar untuk beres-beres sebelum Moeis pulang. Lalu menyiapkan makan malam.


//


Pukul 20:03. Lyra sedikit terlambat untuk menyiapkan makan malam karena mendapatkan panggilan video dari sekretaris nya untuk membahas hal penting. 


Dan sepertinya Mikha juga masih mandi setelah tertidur sejak sore tadi.


Untuk kali ini, karena ada Mikha. Lyra sedang membuat sesuatu yang lebih spesial. Yaitu steak dan mashed potato. 


Moeis berjalan masuk dan melihat Lyra di dapur. Ia datang menghampiri nya. 


"Kamu meminta saya pulang cepat untuk menyicipi steak buatanmu?" tanya Moeis.


"Iya.. ini yang terbaik, yang dapat ku lakukan sejauh ini.."


Terlihat Moeis melepas jas nya. Ia berjalan untuk memeluk pinggang Lyra dari belakang.


"Kamu cantik dengan pakaian ini.." puji Moeis sambil menciumi bagian leher Lyra. Sangat mengganggu.


"Moeis.. kamu tidak ingin mandi dulu? Aku akan menunggu…"


Lyra sedang fokus memasak tetapi Moeis justru merecokinya.


"Biarkan seperti ini dulu.."


Moeis tidak jawab. Ia menyandarkan kepalanya.


Lyra pun sedikit menoleh dan berciuman dengan Moeis.


"Ya tuhannn!… maaf, aku tidak sengaja. Baiklah, aku akan kembali saja…"


Teriakan Mikha membuat mereka berhenti dan menjadi canggung. Moeis tidak mengetahui bahwa Mikha datang karena Lyra belum sempat memberitahunya.


"Ti-tidak apa-apa kemari lah. Aku sudah hampir selesai membuat nya.." ucap Lyra buru-buru menata nya di piring putih dengan salah tingkah.


Sementara moeis menatap Mikha dengan tajam.


"Kenapa kamu disini???"


"Hmm.. aku, aku akan menginap disini. Hanya 3 hari.." jawab Mikha gugup.


"Apa?"


Mikha mendekat untuk duduk di meja makan.


"Memangnya tidak boleh. Rumah ini begitu besar, tidak akan kesempitan hanya karena aku datang.." protes Mikha.


Moeis pun duduk di ujung meja. Ia masih tidak habis pikir mengapa anak ini datang disaat semua pekerja sedang tidak ada.


"Pergilah, untuk apa pulang ke Indonesia jika tidak kembali ke rumah? Apa itu masuk akal?" 


"Masuk akal! Lagi pula Mom tidak mencari ku. Dia sibuk mengurus diamond dari pada anaknya sendiri yang tak ternilai harganya.."

__ADS_1


Yang benar saja. Moeis lelah setiap kali menghadapi Mikha. Selera humor mereka sangat lah njomplang. 


Lyra datang memberikan piring steak pada mereka dan mulai menyantap nya.


"Tidak apa-apa menginaplah di sini. Kamu tidak boleh begitu, Moeis. Sudahlah…"


Moeis membuang pandangannya.


"Terima kasih kak Lyra. Kamu yang terbaik!"


"Kamu pasti senang, karena humor kalian tidak jauh berbeda?" Sahut Moeis.


Lyra dan Mikha tersenyum.


"Kenapa sangat berantakan?" ucap Moeis mengusap bibir Lyra yang menyisakan mash potato.  


"Ah, terima kasih"


"Apa-apan, apa sekarang gunung es telah mencair ?" sindir Mikha kepada Moeis.


Namun Moeis hanya diam mengacuhkannya.


//


Malam ini Moeis ingin meluangkan waktu untuk Lyra. Ia melupakan ruang kerja dan ponselnya.


Mereka tidur bersama dan mengobrol kan banyak hal.


"Sepertinya dia akan mengganggu kita.." 


Lyra menoleh.


"Tidak, jangan khawatir. Lagi pula dia sepupumu. Jangan terlalu keras padanya… ya??" rayu Lyra.


Moeis mencium nya.


"Baiklah, Hanya karena kamu yang meminta…"


"Benarkah.."


"Hmm.."


Tiba-tiba Lyra memikirkan sesuatu.


"Moeis, apa yang membuat sikapmu berubah padaku? Apa ada alasan?"


Untuk beberapa saat Moeis terdiam.


"Saya haya merasa lebih baik.. entah apa alasan pastinya.."


Lyra mengangguk.


"Terima kasih…"


Moeis semakin mendekat kan wajahnya.


"Ingin menikmati malam ini?"


Pertanyaan Moeis membuat Lyra bingung. Menikmati  bersama dengan menonton film atau mengobrol hingga pagi.


Tentu saja bukan itu.

__ADS_1


Moeis ingin melakukan nya sendiri malam ini, ia meminta Lyra untuk menikmati saja. Ya.. mereka melakukan hubungan badan yang cukup panas malam ini. 


Bersambung...


__ADS_2