
"Terima kasih, pak Moeis. Atas jamuan makan siang nya. Kami merasa terhormat atas kebaikan hati anda. Kedepannya, mari pertahankan hubungan bisnis ini agar tetap berlanjut.."
"Terima kasih kembali. Saya juga senang bekerjasama dengan perusahaan anda. Ya.. mari terus berkoneksi.."
Mereka berjabatan tangan setelah usai makan siang bersama. Moeis baru saja selesai memperpanjang kesepakatan bisnis yang sangat membantu nya untuk menstabilkan nilai saham nya.
Setelah rekan nya pergi. Moeis kembali ke ruangan kerjanya bersama Helena. Masih banyak yang harus di lakukan.
"Saya akan kembali bekerja tuan.." ucap Helena hendak kembali ke meja nya.
"Baiklah.." jawab Moeis. Ia membuka jas nya dan membuka pintu.
"Ibu??"
Nyonya Dave sudah menunggu di sofa sejak tadi. Ia juga sudah disiapkan secangkir teh oleh staff lain.
"Apa kamu makan siang di luar?"
"Iya, Bu. Di hotel tepat didepan perusahaan. Kenapa ibu datang? Sudah makan siang?" tanya Moeis.
"Sudah.. ada yang ingin ibu bicarakan" saat ini nyonya Dave terlihat sedang tidak sehat. Ia menggunakan syal yang melingkar di pundaknya.
"Ibu terlihat pucat.." akhirnya Moeis menyadari hal tersebut.
"Sepertinya ibu mendapatkan gejala sakit ginjal.. tetapi ibu akan urus sendiri. Jangan pikiran lagi.."
Ekspresi Moeis berubah menjadi cemas dan duduk mendekat. Namun ia masih berusaha bicara dengan tenang.
"Sudah mendapatkan dokter pribadi? Harus ditangani secepatnya.."
Nyonya Dave mengangguk mengelus punggung Moeis. "Sudah, jangan khawatirkan. Ibu kesini untuk menanyakan bagaimana dengan Lyra. Apa masalah kalian semakin membaik?"
Moeis ragu bagaimana mengatakannya. Meskipun ia merasa masih bisa teratasi, tetapi bagaimana jika Lyra tetap dengan keputusannya. Semuanya seperti tidak dapat di ukur.
"Lyra belum mengatakan apa-apa lagi, saya meminta waktu satu minggu untuk menandatangani surat cerai yang dia berikan.." jawab Moeis datar.
"Maksudmu Lyra sudah memproses perceraian nya?" . Nyonya Dave nampak terkejut dan tidak percaya. Semuanya terjadi begitu cepat. Meskipun ia sudah membunuh Ellie, perceraian itu tetap di teruskan?
"Benar.. mungkin Lyra tidak ingin saya melakukan hal yang sama lagi kedepannya. Tidak ingin dikecewakan seberat itu. Padahal saya serius ingin memperbaiki semuanya.."
Hal itu membuat nyonya Dave ingin berbuat sesuatu lagi.
"Bagaimana bisa..." gumam nya memikirkan banyak hal.
Moeis menghela nafasnya. "Kami masih satu kamar dan makan bersama. Bahkan menginap di Bogor.. jadi masih ada kemungkinan Lyra berubah pikiran, Bu"
"Jika dia benar-benar ingin bercerai, mengapa masih mau melakukan banyak hal bersama mu??? Apa itu masuk akal.." ucap nya marah.
"Jangan seperti itu, Bu"
Nyonya Dave terlihat begitu kecewa.
"Sudah. Besok ibu akan kerumah kalian.. /yang benar saja!".
........
........
__ADS_1
Lyra selesai menaikkan resleting dres berwarna hitam, dengan panjang sebawah lutut tersebut. Dengan pas membentuk tubuh sempurna nya.
"Dimana kita bertemu dengan mereka?" tanya Lyra berjalan ke meja rias.
Sore tadi, Moeis sudah menelepon Lyra untuk menemani nya makam malam bersama kenalan bisnis nya di sebuah restoran hotel berbintang. Awalnya Lyra menolak, tetapi Moeis memohon untuk kali ini saja. Orang tersebut mengundang Lyra, dan membawa istrinya pula.
"Hotel Sudirman.. saya harap kamu bisa bersikap bijaksana dan ramah disana. Mereka adalah orang penting.." ucap Moeis dengan baik-baik.
Lyra yang sudah terlanjut bermake-up natural pun menambahkan lagi hingga terlihat glamor dan cocok untuk dress nya.
"Apa sepenting itu?"
"Dia adalah investor besar. Sudah seusia ayah.. jadi kita harus lebih menghormati nya"
"Baiklah.." jawab Lyra. Hal tersebut cukup membuat Lyra gugup.
....
Pertemuan telah selesai, kegugupan Lyra akhirnya terlepaskan. Dan mereka benar-benar sedang berada di restoran mewah. Lyra berpikir akan sangat menyesal jika hanya menggunakan make up natural.
Saat ingin berdiri, Moeis menahan nya.
"Ada apa? Kita pulang sekarang .." ucap Lyra spontan.
"Duduklah, kita belum menikmati dessert..."
Investor tersebut pergi terlebih dahulu karena akan segera terbang ke luar negeri.
"Tetapi pertemuan sudah selesai.. kamu memintaku untuk menemani bertemu mereka. Ini sudah berakhir..."
"Duduklah"
"Apa ini akan menjadi dinner terakhir kita di tempat seperti ini?" tanya Moeis dengan wajah yang datar.
"Sepertinya.."
"Kita bisa berlibur ke luar negeri.. berkeliling dunia 1 bulan full untuk merefresh keadaan. Tidak bisa kah kamu mempertimbangkannya ?"
Ekspresi Lyra berubah.
"Tidak perlu seperti itu, Moeis. Lagi pula hanya tersisa waktu 3 hari lagi, sampai kamu menyerahkan surat yang aku berikan.."
"Baiklah.. /apa kamu mau dessert yang lain?" ucap Moeis. Ia merasa cukup dengan pembahasan nya.
Lyra menatap wajah Moeis. Dia pasti menahan rasa kesal nya. Tidak tau juga, raut wajahnya tidak dapat di pahami saat ini.
Kemudian Lyra memesan 2 dessert lagi. Menu yang sama.
"Cobalah, ini adalah kesukaan ku sejak dulu.." ia memberikan salah satu nya kepada Moeis.
"Habiskan saja.. lagi pula ini sudah malam. Saya tidak bisa menambahkan kalori lagi"
"Sekali ini saja ya.." wajahnya berubah sedikit memohon membuat Moeis tidak bisa menolaknya.
Mereka menghabiskan hidangan terakhir dinner malam ini.
"Aku mau ke toilet sebentar.." ucapnya lalu berdiri.
__ADS_1
"Ya..."
Tidak berselang lama. Ponsel milik Lyra yang ada di meja menyala terdapat notifikasi masuk. Dengan spontan Moeis melihatnya.
Pesan dari Abe?
~Jadi kapan kamu akan terbang ke German? Kabari aku~
Melihat pesan tersebut membuat Moeis sedikit khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Pikiran nya berputar dalam diam. Meletakkan kembali ponsel tersebut.
Beberapa kali Lyra memanggil Moeis.
"Moeis, ada apa denganmu?"
"Ah, tidak. Sudah selesai?" jawab nya datar tanpa ekspresi. Tidak ada yang ingin Moeis tunjukan dari rasa curiganya.
Lyra mengangguk membereskan diri dan memakai tas kecilnya.
Begitu sampai di lobby, mobil sopir sudah menunggu. Moeis membukakan pintu untuk Lyra, membiarkannya masuk terlebih dahulu.
Ia menunduk kedalam, "Pulanglah. Hati-hati di jalan"
Lyra memajukan posisi duduknya.
"Apa kamu tidak pulang? Mau ke mana?"
"Nanti.. saya akan ke perusahaan lagi. Hati-hati..." ucap nya langsung menutup pintu mobil.
Setelah Lyra pergi, Moeis mencari taksi untuk pergi ke perusahaan.
.....
.....
Lyra selesai membereskan sarapan pagi nya dirumah. Semalam Moeis tidak pulang padahal ia sudah menyiapkan air madu hangat.
Saat mendengar suara mobil, Lyra keluar untuk menyambut Moeis.
Tetapi, yang datang adalah ibu mertuanya.
"Ibu, silahkan masuk.."
Mereka duduk di ruang keluarga dan pelayan menyiapkan sajian untuk nya.
"Di mana Moeis?"
"Tidak pulang, Bu. Mungkin di apartemen nya dekat perusahaan.."
Lyra merasakan aura yang berbeda kali ini. Mengapa rasanya was-was sekali.
"Baiklah, ada yang ingin ibu bicarakan dengan mu"
"Apa itu, Bu?"
"Ibu pikir kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan. Setelah semua yang ibu lakukan, kami membela mu saat anak kami salah. Tuan Dave bahkan menyiksa Moeis tanpa ampun. Kamu bahkan melihat sendiri hal keji yang telah ibu lakukan untuk menyelamatkan rumah tangga kalian.. tetapi..."
"Bu... saya mengerti akan hal tersebut"
__ADS_1
Moeis baru saja pulang dan memasuki rumah dari pintu utama. Ia telah memegang surat yang telah Lyra berikan.
Bersambung...