Killing Me Softly

Killing Me Softly
5


__ADS_3

Moeis segera membuka pintu yang terkunci tersebut dengan tangannya yang sudah di luar kontrol. 


"Lyra…!!"


Terlihat istrinya terduduk dilantai bersandar pada tempat tidur. Segera saat Moeis mendekat, Lyra melemparkan laporan tersebut dan mengenai dada Moeis.


"Berani nya kamu!!" bentak Moeis.


Meskipun Moeis mencengkram bahu nya, Lyra tetap bersikeras untuk berdiri. Wajahnya yang sembab tidak dapat disembunyikan lagi, rasa kecewa karena pengkhianatan Moeis benar-benar membuat dirinya down.


"Aku sudah tau semuanya, tetapi aku tidak tau orang seperti apa kamu. Sangat mengerikan…" ucapnya sambil berdiri dengan tidak stabil.


"Dengar!! Kamu sudah bertindak diluar batas, tidak seharusnya kamu ikut campur dengan urusan laporan ataupun harta saya!" murka Moeis menyoroti wajah istrinya.


Lyra mengangguk, air matanya terus turun begitu saja.


"Kamu yang sudah diluar batas. Pengiriman uang? barang mewah? gunakan akal sehatmu, Moeis. Aku sama sekali tidak mengerti.." suaranya yang gemetar tidak lantas membuat Lyra takut untuk berbicara pada Moeis.


Pertengkaran yang terjadi di tengah malam itu membuat para pelayan khawatir sekaligus takut. Sementara Ellie hanya berdiri didepan kamar memastikan situasi masih dalam batas wajar.


"Kamu pikir itu urusanmu? jika saya menghabiskan uang untuk seribu wanita pun itu hak saya. Jangan ikut campur!!


"Aku berhak…." 


"Diam!" 


Lyra sangat tidak percaya melihat sikap keras Moeis.


"Bagaimana jika Ibu dan Papa mengetahui ini semua? Apa kamu masih bisa menduduki jabatan mu yang sekarang dengan tenang?" ucapnya dengan putus asa.


Namun hal itu justru membuat Moeis semakin tersulut emosi. 


"Kamu sedang mengancam saya?" 


Lyra menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu. Sementara Moeis semakin mendekatkan wajahnya dengan senyuman yang mengerikan.


Tanpa berpikir panjang Lyra pun langsung berjalan keluar dan mendapati Ellie berdiri didepan kamarnya dengan tegap. 


"Aku tidak akan mempercayaimu lagi.." tatapan Lyra yang kesal penuh dengan kesedihan berhasil membuat Ellie tertunduk.


Malam ini Lyra memutuskan untuk keluar rumah tanpa membawa mobil, dan ia memutuskan untuk mencari taksi di jalan depan. 


Angin yang bertiup sangatlah dingin, sementara matanya  sudah sangat lelah.


Akhirnya ia menaiki taksi dan menuju daerah pantai menyewa kamar untuk tidur malam ini. Ia cukup pintar, karena sudah mengantongi uang cash yang cukup.. Sebab jika menggunakan kartu, Moeis pasti dengan mudah mengetahui sedang dimana dirinya.


Ellie menghampiri Moeis yang sedang nampak frustasi memijat pelipisnya serta memejamkan matanya.


"Tuan, Nyonya keluar meninggalkan rumah"


Moeis menghela nafasnya kasar sambil berdiri.


"Biarkan saja"


"Tapi, Tuan…"


Tidak mendapatkan respon dari Moeis juga sudah cukup membuat Ellie terdiam. Ia pun keluar dan membiarkan Moeis beristirahat.


Terlihat beberapa pelayan berada dimeja belakang.


"Ellie, bagaimana keadaan diatas?" tanya salah satu pelayan.


"Nyonya pergi dari rumah. Minta seseorang untuk mencari Nyonya dan bawa ia pulang. Sebelum matahari terbenam besok, pastikan Nyonya sudah dikamarnya."


"Baik, Ellie"


***


Keesokan pagi, Lyra membuka jendela penginapan nya lebar-lebar dan merasakan sinar matahari yang terasa sangat menenangkan.


"Pagi ini entah lebih baik atau tidak, aku tidak bisa merasakannya dengan pasti"


Ponselnya berdering.


"Halo.."


"Bec?? ini kamu?"


"Iya.. kita ketemuan di Yayasan ya, aku kirim alamat nya sekarang"


Tiba-tiba saja mood Lyra menjadi sangat baik setelah mendapatkan panggilan dari Becca, sahabatnya sejak kecil. Becca juga baru saja menyelesaikan pendidikannya di German dan kembali bersama kekasihnya. 


Setelah mandi dan kembali menggunakan baju semalam, Lyra menyempatkan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian, heels dan tidak lupa ke salon untuk memperbaiki penampilannya.


Ia mencari-cari keberadaan Becca, ternyata ia sudah selesai mendaftarkan diri untuk menjadi donatur dan ingin aktif melakukan kegiatan sosial bersama kekasihnya juga.


"Iya, aku udah seminggu yang lalu sampe disini. Sebenarnya udah lama, tapi Max masih punya acara sama profesornya"


Lyra mengangguk, "Oh ya, artinya kamu dan Max udah memutuskan untuk benar-benar pulang?"


"Ya. Dia melamarku belum lama ini. Dan, kami sedang proses pertemuan keluarga untuk membahas pernikahan kami" ucap Becca dengan ekspresi bahagianya.


"Aku turut bahagia" 


Mereka berpelukan. Lyra bahagia mendengar nya, meskipun hal itu tidak pernah ia rasakan di kehidupan nyata.


"Hmmm… bagaimana_ dengan Moeis?" tanya Becca dengan ragu.


Ia tau awal mula hubungan Lyra dengan Moeis, tetapi setelah 1 tahun tidak berkomunikasi membuat Becca penasaran. Apakah mereka sudah menjalani kehidupan yang baru.


"Sejujurnya aku kan juga belum lama kembali, jadi aku dan Moeis masih menyesuaikan keadaan. Tidak mudah.."


"Ya, kamu benar. Semua butuh waktu./Oh ya, bulan depan kita dapat program sosial untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Myanmar, ikut ya? Ingat kan dulu waktu masih SMP kita selalu ikut kegiatan seperti ini?"


Lyra tersenyum, "Aku ingat. Nanti aku kabari lagi setelah bicara dengan Moeis"

__ADS_1


Melakukan kegiatan sosial sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, hal itu menurun juga dari ibunya. Ia selalu merasa ingin bepergian dan berinteraksi dengan anak-anak. Tetapi saat ini rasanya sangat sulit, sebab passport nya masih ada ditangan Moeis. Ia tidak yakin, Moeis akan memberikan nya begitu saja.


Hari sudah mulai gelap, setelah bertemu Becca dan para pengurus yayasan, maka kegiatannya hari ini selesai. Sebelumnya kembali ke penginapan, ia menyempatkan untuk membeli makanan untuk makan malam nanti. Hanya di kedai biasa, tidak perlu di restoran.


----


"Lebih baik tidak perlu kesini jika belum menemukan Nyonya! Pergi..!!" bentak Ellie kepada orang bayarannya.


"Ia bekerja sekeras ini meskipun Tuan tidak memintanya untuk mencari Nyonya" bisik salah seorang pelayan dari balik ruangan.


"Apa dia benar-benar ingin Nyonya kembali?"


Mereka sedikit meragukannya. Semua pelayan selalu membicarakan Ellie, dia satu-satunya yang mengetahui kegiatan Moeis. Sering menemui Moeis dikamar, bahkan bepergian bersama.


"Kalian siapkan makan malam untuk Tuan"


"Baik, Ellie.."


Selama beberapa hari ini para pelayan merasa gerah dengan emosi Ellie hanya karena orang bayaran itu belum juga menemukan Nyonya. Padahal Moeis juga tidak pernah menanyakannya.


Kini Moeis hanya menjalani jadwal nya seperti biasa, tanpa mencari ataupun mengkhawatirkan Lyra.


Moeis memasuki rumah nya pukul 8 malam, seperti biasa Ellie lah yang menyambutnya dan mengantar ke kamar.


"Buatkan penerbangan untuk saya tanggal 13 selama 2 hari ke Singapore" ucap Moeis dengan datar.


Sementara Ellie yang sedang merapihkan pakaian ganti Moeis seketika terdiam.


"Tuan.."


"Ada apa?"


"Anda belum bisa pergi. Tanggal 14 malam, Tuan dan Nyonya besar akan datang untuk pembicaraan bisnis. Kami akan menyiapkan makan malam untuk itu" 


Kerja keras nya untuk mencari Nyonya bukanlah tanpa alasan. Sebab ialah yang mengatur jadwal Moeis, sehingga akan menjadi masalah jika pada tanggal 14 Lyra belum pulang atau bahkan Moeis justru ingin pergi ke luar negeri. Semetar waktu hanya tinggal 1 hari lagi.


Lagi-lagi hal itu membuat Moeis frustasi, dalam keadaan hubungan yang berantakan seperti ini ia masih harus bersikap sebagai suami Lyra.


"Maka cari Nyonya.."


"Saya sudah membayar orang untuk mencarinya sejak kemarin.."


"Lalu"


"Maaf, Tuan.."


Belum sempat Ellie berbicara, Moeis sudah sangat lelah.


"Keluar!"


Setelah berganti pakaian dan bersandar di tempat tidurnya, Moeis beberapa kali mencoba untuk menghubungi Lyra.


Tidak disangka, Lyra mengangkatnya. Namun ia diam menunggu Lyra berbicara terlebih dahulu.


"Ada apa menelponku?" tanya Lyra diseberang sana.


"Apakah harus?"


Moeis menghela nafasnya.


"Jika saya bilang pulang maka kamu harus pulang".


"Moeis, aku orang yang cukup perhitungan.."


"Katakan, apa mau mu"


"Jelaskan tentang laporan itu. Dan ,jika aku pulang, kembalikan passport ku. Bulan depan aku harus melakukan kegiatan di Myanmar"


"Baiklah"


Saat hendak menutup panggilan, Moeis masih mendengar suara Lyra.


"Satu lagi…"


Moeis diam, mendengarkan.


"Jemput aku, jika kamu mau aku pulang"


Seketika ekspresi Moeis berubah menjadi kesal.


"Kamu pikir waktu saya seluang itu!?"


"Kamu tidak mau ya?" nada suaranya melemah.


"Yasudah, kirim alamatnya"


Setelah menutup panggilannya, Lyra langsung mengirimkan alamatnya saat ini. 


---


Hari telah siang namun Lyra baru saja selesai mandi dan membereskan barangnya. Suara ketukan pintu terdengar. Akhirnya Moeis datang menjemputnya.


"Nyonya…"


Lyra menatapnya.


Supirnya membawakan tasnya dan segera masuk ke mobil.


"Dimana Tuan?" 


"Maaf, Nyonya. Ellie mengatakan, Tuan sedang bertemu dengan klien dan tidak bisa menjemput Nyonya"


Ia hanya diam sepanjang perjalanan pulang, hanya bersandar menghadap jendela. 


Seharusnya tidak semudah itu ia mempercayai ucapan Moeis. Apa? menjemputnya? memangnya seberapa penting dirinya untuk Moeis. Sayangnya, laki-laki itu adalah suaminya.

__ADS_1


"Nyonya, kita sudah sampai" 


Supir tersebut sungkan membangunkan Lyra yang tertidur pulas. Akhirnya ia memanggil Ellie.


"Nyonya.. anda sudah sampai, tolong bangunlah" ucapnya sambil sedikit mengoyak bahu Lyra.


"Nyonya, tolonglah.."


"Jangan berani mengganggu ku" ucapnya sambil melawan kantuk.


Sudah kira-kira setengah jam Ellie dan supir berdiri didekat mobil menunggu Lyra bangun sambil sesekali membangunkannya.


Namun ternyata Lyra sengaja tertidur dimobil, ia bahkan sudah bangun namun tetap melanjutkan tidurnya. Sedikit kekanak-kanakan, tetapi hanya ini yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan kekesalannya. Dari dalam ia melihat ke arah luar, menatap wajah Ellie.


'Jangan harap saya akan mendengarkanmu, Ellie. Kamu lah yang harus patuh kepada ku' batin Lyra.


Kini rasa kantuk kembali melandanya.


Sedangkan Ellie, baru saja menelfon Moeis dan memberitahu bahwa Lyra tertidur dimobil dan tidak mau dibangunkan. Setelah menerima perintah Moeis, Ellie membiarkan Lyra dan ia pun masuk kedalam untuk mempersiapkan dinner malam ini.


 


pukul 17.21


Mobil moeis memasuki pekarangan rumah. Ia keluar dan langsung menghampiri mobil berwarna hitam didepannya. Ia pun duduk disamping Lyra dengan lelah.


"Apa kamu benar-benar harus melakukan hal seperti ini?"


Lyra mendengar ucapan Moeis. Sedari tadi ia hanya memejamkan mata saja.


"Aku harus melakukan ini" 


"Kelakuan mu membuat para pelayan jenuh"


Lyra tersenyum "Maka aku akan menerima surat pengunduran diri mereka"


Mendengar jawaban Lyra, Moeis tersenyum miring. 


"Dengarlah, saya tidak tau apakah kamu kecewa karena saya tidak menjemputmu? sudah jelas saya pergi menemui klien, jadi jangan bertingkah…."


Lyra melihat ke arah Moeis dan berusaha berbicara dengan tenang.


"Aku kecewa dengan semua yang baru kusadari.. semua tentang rumah ini, tentang sikapmu, dan.. simpananmu. Harusnya aku tidak pergi menyia-nyiakan waktu 2 tahunku. Aku tau keluargaku tidak sebanding denganmu, tetapi sekarang aku tidak perduli. Aku adalah Nyonya dirumah ini, aku istrimu. Jika kamu tidak suka dengan apa yang aku lakukan demi pernikahan kita, maka lawan saja aku!! Kamu harus tau seberapa besar aku menghargai sebuah pernikahan" 


Terdengar suaranya yang bergemetar dan mata yang berkaca-kaca.


"Untuk menghargai pernikahan ini, hanya bisa dengan cara yang sudah ada. Urus urusanmu sendiri, dan menuruti perintahku. Maka hidupmu akan berjalan dengan baik"


"Selain dengan artis itu, apakah kamu juga pernah berselingkuh dengan Ellie?"


"Jangan ikut campur" jawab Moeis sambil menghela nafas. Ia benar-benar harus menahan emosinya.


Lyra menatap mata moeis lekat-lekat.


"Jawab saja, aku istrimu.."


"Tidak ada hal seperti itu antara saya dan Ellie.. cukup abaikan saja dia jika kamu tidak menyukainya"


"Tapi aku sangat ingin tau kebenaran sehingga aku bisa memecat Ellie dengan tenang"


"Tidak ada yang bisa memecat Ellie, kecuali saya.."


Lyra menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya dengan ucapan Moeis.


"Lihatlah sikapmu…" 


Setelah itu Lyra hanya keluar dari mobil begitu saja. Hari sudah gelap. Sebentar lagi pasti mertuanya akan datang, ia segera masuk ke kamar nya dan membersihkan diri. Kemudian melihat Gaun yang disiapkan oleh Ellie.


"Mengapa aku harus menggunakan gaun jika hanya makan malam dirumah" ucapnya kesal sambil melewati gaun itu dan berjalan menuju ruang ganti bajunya. 


Moeis mengikuti Lyra sambil mengancingkan kemeja berwarna dongkernya.


"Pakai saja. Begitu cara menghargai mertuamu. Mereka juga akan datang dengan kemeja dan gaun" suara Moeis terdengar dingin.


"Segera turun" sambung Moeis. Ia akan ke ruang kerjanya lebih dulu.


Sementara Lyra keluar kamar sambil membawa gaun berwarna biru gelap itu dan membiarkannya terseret dilantai. Ia menuruni anak tangga dan memberikan gaun tersebut kepada Ellie.


"Carikan longdress polos berwarna hitam. Kurasa selera kita tidak sama, harusnya kamu tanya dulu mana yang akan kupakai" Suaranya selalu terdengar tetap lembut meskipun berusaha keras kepala.


"Baik, Nyonya"


----


Mertuanya sudah berada dimeja makan dan sedang berbincang dengan Moeis. Khususnya Tn. meyers yang sedang mendengarkan pembicaraan Moeis mengenai kesulitan dan juga perkembangan bisnisnya.


"Dimana Lyra?" tanya Ibunya.


"Panggilkan Lyra" ucap Moeis kepada Ellie.


Terlihat Lyra sudah berjalan terlebih dahulu menuruni anak tangga sambil membawa sebotol anggur. Ia terlihat sangat cantik.



"Maaf, Ibu aku baru selesai"


"Menantu kita sangat cantik. Bagaimana hubungan kalian? semuanya baik?" tanyanya sambil tersenyum.


Lyra menyela saat Moeis hendak menjawab "Iya, Bu. Tadi siang bahkan Moeis menjemputku di salon"


Moeis menatap heran Lyra yang sedang tersenyum. Mungkin ini adalah sebuah sindiran yang dilemparkan kepadanya.


"Ibu senang mendengar nya. Jangan lupa memberi kami cucu secepatnya"


Lagi-lagi Lyra tersenyum "Baik, Bu".

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2