Killing Me Softly

Killing Me Softly
2


__ADS_3

“Tidak ada yang dapat merusak kebahagiaan selain hilangnya cinta itu sendiri. Hilangnya kepercayaan dan rasa perduli. Kami akan selalu seperti ini, bahagia hingga akhir. Cheers” gelas mereka saling berbenturan diikuti dengan senyum kebahagiaan.


Hanya 25 orang yang menghadiri acara semewah ini, lagi-lagi tertutup dan tidak ada kolega bisnis. Mengapa? apakah ini tradisi.


Ny dan Tn Meyers berjalan bergandengan menuju meja Moeis dan Lyra. Tentu saja ingin menyapa anak dan menantunya.


“Aah Ibu sangat merindukan kalian. Bisa kita bicara di ruang pertemuan VVIP setelah ini? Ibu akan menyapa yang lain dulu sebelum mereka pulang”


“Kami juga merindukan, Papa dan Ibu. Selamat sekali lagi” ucap Lyra.


Moeis menggandeng tangan Lyra, “Kalau begitu kami akan langsung kesana”


“Baiklah”


Dipandu oleh para pelayan, mereka menaiki lift menuju lantai 24.


Tibalah disebuah ruangan bergaya luxury dan terasa sangat tenang serta kaca yang cukup besar untuk melihat pemandangan malam kota Jakarta.


Ponsel Moeis berdering.


“Halo”


“Nanti saja’


“Belum”


“Tunggu aku”


Setelah itu ia berbalik untuk duduk disofa, tetapi ia malah mendapati tatapan Lyra yang tidak tenang. Wanita itu pasti mendengar dan sudah berpikir jauh.


Suasana berubah menjadi hening. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Tetapi Lyra justru merasa sedikit gugup.


“Aa- aku ingin ke toilet”


‘Sebenarnya aku tidak mau memikirkan itu, tetapi mengapa aku jadi cemas tentang siapa yang menghubungi Moeis tadi. Aku tidak jatuh cinta dengannya, tetapi dia tetap suamiku. Bukankah wajar saja perasaan seperti ini? ia tampan dan kaya, wanita mana yang tidak ingin mendapatkan dirinya’ Batin Lyra.


Ia menumpu kan kedua telapak tangannya di marmer wastafel sambil memejamkan matanya. Sifatnya tidak berubah, selalu mengagumi dan menghormati lelaki yang menjadi pasangannya. Begitupun dengan mantan pacarnya 3 tahun lalu yang begitu ia cintai.


Ia kembali dan mendapati Ibu dan Papa mertuanya sudah datang.


“Bagaimana hubungan kalian?” tanya Tn. Dave Meyers.


Lyra diam tidak berani menjawab, ia ingin menyerahkan semua kepada Moeis saja.


“Kami masih berusaha saling memahami, Pa. Tidak mudah” ucapnya santai.


Ibunya mengangguk, “Benar. Tetapi, dengarkan kata-kata Ibu. Semua itu akan mudah ketika kalian sudah mempunyai rencana untuk memiliki anak. Itu juga tujuan Ibu mengharuskan Lyra pulang tahun ini”


“Kita tidak bisa seperti itu, Bu. Saya juga masih harus mengurus banyak hal di perusahaan. Papa mungkin akan lebih mengerti”


“Dengarkan saja apa kata Ibumu” sahut Papanya.


Moeis menatap tidak percaya kearah Papanya.


“Mm.. Saya masih harus kembali ke German. Mungkin tahun depan baru bisa benar-benar kembali dan menetap di Indonesia” ia sangat ragu mengucapkannya. Suasana sedikit tidak enak, tetapi ia harus tetap mengatakannya.


“Papa bisa saja membekuk visamu jika tidak menurut kepada kami. Jadilah istri dan menantu yang baik, tidak ada lagi hal yang bisa kamu lakukan disana mengapa ingin kembali?” suara bariton nan menyeramkan itu muncul langsung menusuk hati Lyra. Mana berani ia membantah ucapan Papa mertuanya.


Sebenarnya Ibu dan Papa mertuanya adalah orang yang baik, tetapi mereka tegas dan cekatan. Tidak heran, mereka mampu memimpin dan mengembangkan perusahaan hingga sebesar sekarang.


“Ikut dengan Ibu” Lyra berdiri mengikuti langkah Ibu mertuanya dan keluar ruangan.


Entah apa yang akan terjadi setelah ini.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan box persegi yang nampak sederhana. Lyra menatap wajah Ibu mertuanya.


“Malam ini juga kalian harus meminumnya sebelum tidur. Ini syarat untukmu bisa kembali ke German. Pelayan Ibu juga akan mengawasi kalian”


Sungguh tidak terduga, Lyra memikirkan apa yang sedang Ibu mertuanya coba lakukan.


“Apa ini, Bu?”


“Tentu saja anggur dengan extra khusus. Kalian akan melakukannya malam ini kan? lakukan saja seperti biasanya”


Kini ia mengerti. Ibunya ingin ia segera memiliki keturunan. Dan, lakukan seperti biasanya? itu terdengar sedikit gila. Bagaimana mungkin, ia dan Moeis bahkan tidak pernah berkomunikasi apalagi melakukan hal itu.


Tidak ada jawaban lain, selain meng ‘iya’ kan. Bagaimana tidak, mau tidak mau besok siang adalah penerbangan nya untuk kembali ke German.


“Baiklah”


“Sudah 2 tahun berlalu, dan tahun ke-3 haruslah kelahiran seorang bayi” setelah mengucapkan kata itu, Ibu mertuanya berbalik dan pergi meninggalkannya.


Dan ia pun hanya berjalan kosong menuju mobil.


“Selamatkan aku” ucapnya tidak percaya diri. Ia memberikan box itu ke pangkuan Moeis.


“Apa ini?”


“Ibumu memberikan itu padaku, sebagai syarat untukku kembali ke German. Seharusnya aku tidak mengiyakannya tadi” iya menyesali persetujuannya yang belum 5 menit berlalu.

__ADS_1


“Tidak perlu khawatir kita memang tidak akan melakukannya, pergi saja seperti rencana awalmu”


Lyra terdiam mendengar ucapan Moeis, apa itu artinya tidak masalah? Kalau begitu ia lega, besok ia akan pergi tanpa harus memikirkan beban apapun.


×××


Pagi ini cukup cerah, sangat mendukung untuk kepergiannya. Kedua penjaga membawakan tas dan koper nya menuju lobby.


“Dimana Tuan Moeis?”


“Beliau sudah terbang ke Singapore sejak pagi-pagi buta”


Ia tersenyum miring tidak percaya. Jadi ini alasannya membiarkan ku pergi begitu saja tanpa keberatan. Dia memang sibuk, sangat sibuk mengurusi begitu banyak warisan.


2 bulan sudah berlalu, mereka mengurusi urusan masing-masing tanpa komunikasi sedikitpun.


Tetapi sedikit menguntungkan juga untuk Lyra yang masih sibuk melakukan kegiatan kemanusiaan bersama dengan Club alumni kuliahnya.


#Berlin, German.


“Abe, aku membawakanmu pasta dan salad buah” Lyra membuka kotak makan yang ia siapkan dari apartemen nya. Seperti biasa, sebelum berangkat menuju gedung club mereka selalu menyempatkan sarapan bersama.


“Thanks. Lalu bagaimana dengan jawaban dari pertanyaan ku minggu lalu” tatapannya memekat.


Pagi-pagi sudah mendengar pertanyaan seperti ini, membuat Lyra kehilangan nafsu makan.


“Bisa kah kita habiskan dulu makanan ini? aku hampir saja kehilangan selera ku”


Meskipun suasana menjadi canggung. Mereka tetap melanjutkan hingga habis.


“Abe… aku tidak berbohong. Aku sudah menikah, jangan merusak persahabatan kita. Aku kembali hanya untuk memastikan kamu tidak seperti ini terus”


Lagi-lagi Abe menolak. Ia tidak ingin jawaban semacam itu dari Lyra.


“Berhenti bicara omong kosong. Lihat ID identitas mu, data kelulusan bahkan kamu tidak terlihat seperti wanita yang sudah menikah. Kamu hidup bebas disini, tidak pernah ada pesta pernikahan bahkan kunjungan dari suamimu. Lalu apa aku harus percaya dengan penolakan mu itu?” ia bersikeras dengan ucapannya.


Wajar saja Abe semarah ini, ia sudah menyukai Lyra bertahun-tahun lamanya. Tetapi wanita ini hanya ingin bersahabat dengannya, tidak mungkin bisa.


“Aku baru saja menemui suamiku di Indonesia. Sudahlah jika kamu tidak percaya, aku juga tidak mungkin mengenalkan mu dengan pria dingin itu. Terserah saja jika ingin tetap seperti ini. Aku akan berangkat sendiri” ucapnya dengan kesal.


Ia menolak tumpangan dari Abe. Dan sudah menaiki Bus.


Ponselnya terus berdering, mungkin Abe. Ia akan mengacuhkannya saja kali ini.


Sudah hampir sore, ia ingin mengecek email dari rekan Clubnya. Tetapi justru mendapati puluhan panggilan tidak terjawab dan pesan dari Moeis.


To Moeis: Kenapa menelpon ku sebanyak itu? aku sibuk.


Lyra menggertak. Berani-beraninya Moeis berbuat seenaknya. Ia bahkan belum bisa mengkonfirmasi kehadirannya untuk kegiatan sosial selanjutnya di Afrika. Tetapi pria itu malah mengacau.


To Moeis: Apa-apan sih? tidak bisa.


From Moeis: Terserah. Coba lihat berita ter-atas dari Indonesia.


Berita apa? sepenting itukah? ia buru-buru melakukan pencarian.


**PUTRA TUNGGAL DARI PEMILIK BARA GROUP DIPASTIKAN SUDAH MENIKAH SECARA DIAM-DIAM 2 TAHUN LALU.


DIPASTIKAN SUDAH BERSTATUS MENIKAH. MOEIS MEYERS, PENERUS TUNGGAL BARA GROUP SERING MENGUNJUNGI AKTRIS TERKENAL ASAL SINGAPORE YAITU LIU CARRIE**


Bak disamper petir di sore hari, berita-berita mengenai pernikahannya akhirnya terungkap untuk publik. Tetapi yang lebih membuatnya tertusuk adalah Moeis sering ke Singapore untuk mengunjungi artis itu?


Lelaki itu benar-benar menyuruhnya untuk melihat berita perselingkuhan.


Tidak terasa air matanya jatuh begitu saja. Jadi ia harus ke airport malam ini? Baiklah itu memang yang terbaik.


Ia juga penasaran bagaiman respon keluarga. Juga pengakuan dari Moeis. Kekhawatiran nya terjadi dengan cara seperti ini. Tidak heran, Moeis memang sudah terkenal karena sering melakukan interview di berbagai majalah dan televisi.


Jika benar Moeis berselingkuh, entah apa yang akan terjadi pada nasib pernikahan nya yang malang ini.


***


Mobil berhenti tepat dihalaman rumah Moeis, ia mengusap air mata dan menyingkirkan pikiranya yang rapuh. Kini hanyalah tatapan kesal yang tersisa.


“Ny. Lyra.. ..”


“Dimana Tn. Moeis?” tanya nya pada seorang pelayan.


“Mari saya antar..”


Sampailah Lyra pada sebuah ruangan kerja dengan pintu besar yang telah ditutup rapat. Pria itu tampak sedang menunggunya.


“Ada yang ingin kamu katakan?” matanya memerah. Nada suaranya juga melemah.


Setelah menatap Lyra, ada banyak hal yang ia pikirkan. Mengapa matanya memerah? wajahnya nampak kesal? dan nada suaranya terdengar jelas bahwa wanita itu marah.


Secangkir teh telah diantarkan. Moeis melihat hingga pelayan itu keluar dan menutup pintu.


“Aku sudah mengatur media untuk menyingkir kan berita itu. Juga, pernikahan kita sudah terkuak tidak ada lagi yang bisa ku lakukan. Mulai sekarang tinggallah disini dan berperan sebagai Nyonya. Aku juga sudah bicara dengan orang tuamu, tidak ada lagi masalah”

__ADS_1


Semua sudah ia atur, terutama untuk meredamkan berita perselingkuhan itu ia harus mengakui pernikahan nya.


“Jadi kamu berselingkuh?” pertanyaan nya terdengar kurang tepat, tetapi ia tetap ingin mendengar jawaban Moeis.


Rasanya semakin kesal saja karena ia bersikap seolah-soal sudah jatuh hati, padahal tidak ada rasa cinta karena ia hanya orang yang perasa. Sejak pernikahan nya, ia sudah meyakinkan prinsip untuk mengingat Moeis sebagai suaminya dan berusaha menghormati nya.


Terlihat Moeis duduk menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Jawaban itu terjeda beberapa saat.


“Aku memang sering menemuinya, lalu apa bedanya aku dan kamu?” pertanyaan yang tidak terduga.


“Aku?”


Moeis mengangguk dan memperbaiki posisi duduknya.


“Kamu disana dekat dengan Abe. Lalu aku dekat dengan Carrie. Jika yang ku lakukan salah, maka katakan dan pikirkan bagaimana dengan yang kau lakukan. Kita memang menjalani kehidupan masing-masing” suaranya terdengar tenang. Berbeda dengan Lyra yang sudah tidak tahan.


Ucapan Moeis sederhana tetapi berhasil membuatnya ingin meledek.


“Kamu ingin menyalahkan ku juga dengan permasalahnmu? menyembunyikan ku selama 2 tahun, lalu mengakui ku untuk menyelamatkan nama baikmu. Bukan kah kamu terlalu jahat? apakah aku salah?” entah mengapa air matanya jatuh begitu saja. Hatinya terasa sakit.


Mungkin ia juga terbawa kesal karena Moeis memutuskan visa nya begitu saja tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu. Juga membawa nama Abe untuk membela perselingkuhan nya.


Sejak putus dengan mantan kekasihnya, entah itu masih terasa tetapi emosinya menjadi tidak stabil. Padahal ia selalu setia dan berusaha memberikan yang terbaik.


“Mau mu bagaimana? aku ingin tau” jawab Moeis. Mengapa wanita ini harus menangis dihadapannya.


“Apa seumur hidup kita akan terus begini? bermusuhan dan saling acuh? kalau begitu aku tidak bisa” lagi-lagi suaranya melemah. Mungkin emosinya mengalahkan pikiran nya sendiri. Ia ingin terlihat kuat juga tetapi malah bersikap terang-terangan.


Moeis menghela nafasnya, sungguh situasi yang membingungkan. Sepertinya Lyra harus benar-benar tau istri yang bagaimana yang ia inginkan.


“Berhenti menangis. Kamu pikir bisa merengek didepan ku seperti ini? Aku bahkan menunda pertemuan bisnis hanya untuk menemui mu. Dengarkan selagi aku bersabar”


Lyra meluapkan kekesalannya, “Apa?”


Moeis memajukan tubuhnya dan berusaha bicara dengan tenang.


“Bukankah aku sudah menjadi suamimu? Lalu tidak ada satu hal pun yang seharusnya kamu khawatirkan. Dan kamu harus tau kenyataan mu menjadi istriku. Aku hanya ingin kau lakukan urusanmu sendiri, selain itu hanya mematuhi perintah ku. Cobalah belajar dari Ibuku”


Benar adanya. Sejak dulu di keluarga nya, seorang istri hanya akan mengurusi urusannya sendiri dan selebihnya adalah mematuhi perintah suaminya. Namun hal yang Moeis tidak katakan adalah, mereka akan menjadi harmonis setelah memiliki keturunan.


Lyra menggelengkan kepalanya sambil menyeka air mata. Semua itu jelas hanya kemauannya. Tetapi ia tidak dapat bersuara.


“Aku tidak tau mengapa aku menangis. Tetapi, seperti yang kamu katakan. Aku akan mengurusi hidupku sendiri. Aku akan kembali ke German!” ucapnya dengan yakin.


Moeis hanya melihat Lyra berjalan keluar. Ia memijit pelipisnya lalu bersandar disofa. Jadi seperti itu istri yang harus ia hadapi.


Sementara itu Lyra berjalan dengan langkah cepat, mengikuti pelayan menuju kamar utama.


“Nyonya, ini kamar Tuan. Kami sudah bereskan barang-barang Nyonya didalam ruang ganti. Apa ada lagi yang Nyonya butuhkan?”


“Apa ada kamar lain?”


Pelayan itu terdiam dan menoleh kepada rekannya.


“Ada atau tidak. Jika tidak aku akan keluar saja” emosinya semakin tidak stabil dan membuat suaranya melemah.


Mendengar Lyra akan keluar, pelayan tersebut lebih baik buru-buru mengantar Lyra ke kamar tamu di ujung bangunan.


“Begini lebih baik. Aku tidak ingin melihatnya dulu. Biar saja menjadi pembangkang, aku yakin besok pasti Lyra Purnell ini sudah luluh lagi dengannya!” ucapnya berbicara dengan diri sendiri.


Ngomong-ngomong, tiba-tiba saja matanya tertuju dengan jendela besar yang dapat digeser untuk keluar menuju balkon. Dari luar sini, jelas terlihat betapa luasnya bangunan rumah ini. Apa benar ia adalah Nyonya dirumah ini? rasanya tidak begitu.


‘Aku hanya bersahabat dengan Abe, tetapi dia berselingkuh. Apa dia memakai akal sehatnya untuk menyalahkan ku. Awalnya aku benar-benar ingin menghormati dan bersikap baik padamu, tetapi melihat sikapmu yang keterlaluan membuatku tidak bisa berbuat begitu. Aku tau kita tidak saling mencintai tetapi bukan begitu cara memperlakukan istrimu, Tuan Moeis!’


Sedari tadi ia hanya duduk memandangi danau buatan tersebut sambil berbicara didalam pikirannya sendiri.


#Keesokan harinya.


Lyra menoleh mendengar pintu kamarnya terbuka, dan syok melihat Moeis berjalan masuk begitu saja. Apa-apaan ini, ia bahkan hanya sedang memakai towel Pajama sambil mengeringkan rambut didepan meja rias.


“Kenapa kamu masuk begitu saja?”


Namun Moeis justru melemparkan amplop kearahnya.


Tidak mungkin kan ini surat cerai? apa Moeis marah besar karna ia merengek kemarin. Tidak berlama-lama ia langsung membuka amplop tersebut.


“Katamu ingin kembali ke German? Lakukan saja. Semua kebutuhanmu sudah siap” ia berbicara sambil berdiri dengan tatapan tegas.


“Apa?”


“Penerbanganmu pukul 7 malam” ucapnya sambil berlalu pergi.


Lagi-lagi pagi ini diawali dengan hal tidak mengenakkan.


“Maaf Nyonya, Tuan menunggu anda untuk sarapan dibawah”


“Dia memintanya?” tanya nya memastikan.


“Iya, Nyonya”

__ADS_1


“Baiklah. Aku akan turun setelah berganti pakaian”


Bersambung...


__ADS_2