Killing Me Softly

Killing Me Softly
8


__ADS_3

Selama perjalan menuju perusahaan, suasana tetap hening tanpa ada pembicaraan apapun.


Moeis nampak sedang berkutik dengan sebuah tab. Sementara Lyra melihat ke luar kaca mobil dan hanya melihat apa yang dilewatinya.


Sudah hampir setengah jam ia menunggu-nunggu sampai punggung nya sakit tapi mobil ini terus saja berjalan.


Moeis sedikit memperhatikan Lyra yang mengusap punggung nya.


"Apa yang kau lakukan selama di Jerman?"


Mendengar pertanyaannya Moeis yang tiba-tiba hanya membuat Lyra menoleh kebingungan.


"Ya?"


"Aku bertanya? kau tidak mendengarkan?"


"Ya aku dengar.. Mmm- tentu saja kuliah dan melakukan kegiatan sosial"


"Kampus dan jurusan??"


"LMU Munich, Accounting and finance. Kamu pasti tau kampus itu, itu adalah yang terbaik. Belum lagi aku lulus dengan raihan cumlaude bahkan hingga Magister. Tidak ada alasan untuk meragukan aku mengawasi keuangan perusahaan mu" ucap nya dengan yakin.


Selain itu selama beberapa bulan ia juga sudah mendapat pengarahan dari beberapa orang perusahaan mengenai Bara group.


Moeis menoleh, ia menyimak apa yang Lyra bicarakan.


"Bagaimana dengan pengalaman di dunia pekerjaan? Ilmu saja tidak akan menjamin kamu bisa mengawasi perusahaan besar seperti Bara Group. Banyak dari mereka yang bermain kotor untuk mendapatkan uang banyak dari kami"


"Ketika melihat catatan CV ku. Kamu akan merasa cukup dengan apa saja yang sudah ku lalui disana. Aku melakukan yang terbaik"


"Jika tidak?"


Lyra menghela nafasnya lalu tersenyum kepada Moeis.


"Kau bisa mengirim ku ke Jerman, untuk kuliah atau bekerja lagii"


Moeis nampak tidak membalas senyumannya.


Ia kembali menatap ke layar tab membalas sebuah email.


"Apakah sudah sampai??" tanya Lyra saat mobil memasuki area gedung dan berhenti di depan lobby utama. Bahkan terlihat beberapa karyawan dan petugas keamanan yang hendak menyambut.


"Ya, persiapkan dirimu"


Mereka membukakan pintu untuk Moeis dan Lyra.


Moeis keluar mobil sembari mengancingkan jas formal yang melekat pas di tubuhnya.


Dan Lyra keluar dengan Heels yang mengetuk lantai dengan elegan.


Mereka nampak membungkuk memberikan salam selamat datang.


Kedatangannya bersama Moeis untuk pertama kalinya, tentu saja langsung membuat para karyawan penasaran.


Setelah keluar dari lift lantai 41, mereka langsung memasuki ruang pertemuan besar yang dihadiri oleh jajaran direktur, pemegang saham dan petinggi lainnya.


Terutama sang ayah mertua yang masih menjadi Ketua Dewan. Wajahnya selalu dingin seperti Moeis.


Satu persatu pembukaan data dan penetapan di lakukan secara terstruktur dan rinci. Lyra nampak begitu serius menyimak memantapkan diri di posisi yang akan segera ia duduki.


Hampir 2 jam lebih pertemuan tersebut dilakukan, mereka juga sudah menetapkan tanggal untuk mengumumkan jabatan baru Lyra.


Kini Moeis dan Lyra diantar menuju ruangan Dave Meyer untuk menikmati teh bersama.


Pintu telah tertutup setelah sang asisten meninggalkan ruangan.


Dave tersenyum puas dengan pertemuan yang baru saja selesai.


Sementara Lyra duduk diantara kedua orang dingin dihadapannya ini dengan perasaan gugup yang mati-matian ia tutupi.

__ADS_1


"Kamu melakukan nya dengan baik, Moeis. Lalu apa yang Tn. Richard inginkan?"


Ya, untuk memberikan posisi tersebut kepada Lyra Moeis harus menyingkirkan orang sebelumnya, tentu saja dengan imbalan lain.


"Usia nya sudah terlalu tua untuk menuntut banyak hal. Saya hanya perlu menyinggung tentang dana rahasia nya di tahun 2016 serta menawarkan paviliun eksklusif untuk dia dan istrinya menghabiskan masa pensiunnya"


Dave tertawa mendengarnya.


"Benarkah?"


"Ya"


"Tetapi, saham nya tidak terlalu kecil.."


Belum selesai Dave berbicara, Moeis langsung memotong ucapannya.


"Dia akan menjual sahamnya kepada saya. Dan benar-benar meninggal kan Bara Group"


"Luar biasa. Bukan gitu, Lyra?"


Pembicaraan mereka terdengar mengerikan bagi Lyra. Mereka melakukan segala hal yang bahkan diluar jalur.


"Ya, Ayah mertua. Terima kasih atas bantuannya"


"Ah, pria itu telah bersama saya sejak perusahaan ini diwariskan dan membantu banyak hal. Tetapi dia mengkhianati saya secara halus. Tidak apa-apa Lyra, meskipun terlalu cepat untukmu berada disini. Tidak akan ada yang bisa merubahnya. Selama kamu memiliki saham yang bagus dan masih menantu kami satu-satunya" ucapnya dengan tatapan lekat.


"Saya akan bekerja keras membantu perusahaan"


"Tidak perlu bekerja keras. Bekerjalah dengan cerdas dan tangkap mereka yang mencuri uang kita"


Lyra mengangguk kaku.


Dan Moeis nampak tersenyum miring selagi membaca beberapa dokumen .


"Baiklah. Ayah akan ada jamuan makan siang diluar" Dave berdiri merapikan jas nya.


"Ya, Ayah"


Terlihat beberapa pegawai masih menunggu mereka untuk mengantar kebawah. Namun Moeis menghentikan langkah nya dan menoleh kepada Lyra.


"Saya akan ke ruangan mengambil beberapa dokumen. Antarkan Nyonya ke mobil lebih dulu" pintanya kepada pegawai.


"Baik, Tuan"


"Ah tidak perlu. Saya akan ikut Tuan ke ruangannya" Lyra tersenyum menolak ajakan pegawai untuk memasuki lift.


Mendengar ucapan Lyra membuat Moeis terdiam sesat lalu mengangguk dan berjalan begitu saja.


"Duduklah disana" ucap Moeis saat memasuki ruangan besarnya.


"Bawakan dokumen dari komisaris Pak Han" Moeis menelpon seseorang.


Lyra mengamati persudut ruangan yang hanya berwarna abu-abu dan kaca. Setiap hiasan juga terlihat mewah.


Terdengar suara ketukan pintu membuat Lyra menengok.


Seorang wanita dengan pakaian formal namun terkesan sexy masuk dan menghampiri Moeis memberikan amplop besar berwarna putih.


Wanita itu nampak berbisik dihadapannya Moeis.


"Kemarilah.."


Moeis membuka dokumen tersebut dengan duduk di sofa tempat Lyra duduk.


"Helena. Perkenalkan dirimu kepada istri saya, Lyra"


Wanita tersebut membungkuk memberikan salam nya.


"Senang bertemu anda, Nyonya. Saya adalah asisten pribadi Tuan Moeis, Helena Tan"

__ADS_1


Lyra hanya tersenyum minim. Ia terus memandangi dari atas sampai bawah penampilan Helena yang terlihat tidak pantas berada di kantor.


"Senang mengenalmu…"


///


Mobil mereka akhirnya keluar meninggalkan area perusahaan.


Moeis melihat jam Rolex yang melingkar pas di ditangan kirinya.


"Pak, kita ke Carlton Hotel untuk makan siang"


"Baik, Tuan"


Moeis sempat menoleh ke arah Lyra kalau-kalau wanita itu akan komplain dan semacam nya. Namun sejak keluar dari perusahaan Lyra hanya diam tanpa berbicara apapun bahkan wajahnya terlihat tidak tersenyum sama sekali.


Meski begitu Moeis tidak menanyakan apa-apa kepada Lyra.


Ini adalah makan siang pertama mereka berdua namun sayangnya suasana begitu hening. Hingga saat menikmati dessert, Lyra baru membuka obrolan.


"Apa Tn. Richard benar-benar melakukan dana rahasia?"


"Ya, bersama beberapa rekannya"


"Lalu kenapa dia masih bekerja untuk perusahaan? seharusnya kamu masukkan dia ke penjara"


Moeis mengangguk.


"Seharusnya begitu. Tetapi Ayah menyelamatkan nya"


Wah, Lyra semakin tidak mengerti dengan cara mereka menjalankan perusahaan nya.


"Lalu??"


"Tentu saja harus ada yang bertanggung jawab. Beberapa rekannya saat ini masih di dalam jeruji besi" ia tersenyum. Berbicara secara terang-terangan.


"Apa menurutmu itu adil?"


Mendengar pertanyaannya interogatif Lyra, membuat Moeis meletakkan gelas wine nya. Lalu menatap mata nya.


"Menurutmu?" jawab nya dingin.


Benar kata ayah nya. Sebuah perusahaan besar tidak akan lepas dari hal kotor untuk terus membangun kejayaannya. Mereka yang ada di lantai atas adalah yang berhati dingin dan sangat berkuasa.


"Apa kau yakin akan menempatkan aku diposisi itu?"


"Itu sudah menjadi posisi mu"


"Bagaimana jika kita tidak memiliki tujuan yang sama? saat kau ingin menutupi kesalahan orang lain dimasa depan, apa aku akan jadi satu-satunya nya yang menentang? Saat kau menutupi lagi kasus seperti itu, mungkin aku yang akan membuat mereka semua menanggung hukuman yang sama.."


Moeis diam dengan ekspresi wajah yang tidak dapat dibaca.


"Maka saya tidak akan membiarkan kamu mengetahui kasus tersebut. Lyra.. hal itu hanya terjadi pada 0,9 kasus dalam 10 tahun. Tentu saja mereka yang melakukan penggelapan dana harus menerima hukuman setimpal. Saya sendiri yang akan membunuhnya!"


Suara berat Moeis jelas menggambarkan sifat aslinya. Tidak heran, suaminya adalah iblis yang sangat mengerikan.


Alasan Tn. Richard tidak menerima hukuman nya adalah karena ia sahabat Dave. Mereka berdua telah melakukan berbagai macam negosiasi hingga akhirnya mendapatkan kesepakatan. Dave pun meminta orangnya untuk memusnahkan barang bukti yang mengarah kepada Tn. Richard dan di jatuhkan seluruhnya kepada rekannya.


Lagi dan lagi setelah obrolan itu, mereka tidak mengatakan apa-apa dan saling memasang wajah dingin.


Setelah selesai dan sedang menunggu pembayaran. Handphone milik Moeis yang diletakkan di meja menyala tertulis kan panggilan masuk dari Helena Tan.


Lyra merollingkan mata sambil memakai shoulder bag nya.


"Penampilan asisten mu benar-benar tidak pantas..." gumam Lyra yang langsung berjalan keluar restoran.


Sementara Moeis masih menunggu kartu kredit nya. Ia terus melihat Lyra berjalan.


Wanita itu benar-benar pemarah.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2