Killing Me Softly

Killing Me Softly
45


__ADS_3

Bibi sedang mencuci peralatan memasak bersama pelayan lain.


"Apa kalian lihat, seberapa marah tuan kepada nyonya? Aku tidak bisa bayangkan bagaimana menjadi nyonya. Sementara kita sudah mengetahui sifat tuan sejak dulu" ucap pelayan Yuan.


"Pasti ada alasannya.. tuan sangat mudah marah pada hal-hal yang di luar ekspektasi. Aku ingin tau apa akar permasalahan mereka"


Pelayan lain yang sedang membereskan meja belakang pun mendengarnya.


"Ku pikir hanya perbedaan pendapat"


"Karena belum memiliki anak, mereka masih memikirkan diri masing-masing. Belum terlalu merasakan tanggung jawab"


"Atau bahkan pertengkaran mereka karena belum juga di karuniai anak??"


"Apakah ada masalah dengan rahim nyonya? Bagaimana pun dia harus melahirkan seorang keturunan, kan?"


"Benar, kasihan tuan…"


Bibi mengelap tangannya dan melewati pelayan.


"Jangan bicara sembarangan.. ku rasa nyonya saat ini sedang mengandung"


"Apa??"


Hal itu membuat para pelayan terkejut. Mereka tidak mengetahui hal tersebut.


"Benarkah?"


"Dari mana kamu tau?"


"Benar juga, dia mungkin memasak sendiri untuk menyesuaikan keinginan nya. Dan sudah beberapa hari dirumah saja"


"Aku melihat susu kehamilan di kamar nyonya. Itu sudah cukup meyakinkan" sahut Bibi.


"Apa yang kau bicarakan?" Ellie tiba-tiba datang dengan ekspresi tidak percaya.


Mereka diam.


Hanya Bibi yang terlihat santai.


"Ya.. mungkin saja nyonya sudah hamil tetapi belum ingin di ketahui siapapun"


Ellie mengedarkan pandangannya.


'Itu tidak boleh terjadi. Bagaimana mungkin…' Batin Ellie tidak terima.


Ia segera kembali ke kamarnya. Berkutik dengan ponsel dan membuat Moeis ke ruang kerja dan menanyakan kebenarannya.


Tetapi Moeis belum mengecek ponselnya. Ia sedang berjalan memasuki kamar.


Sepertinya ia tidak bisa bertanya sekarang sebab Lyra sudah tertidur di ranjang dalam posisi miring. Saat Moeis mendekat, terdapat tab yang masih menyala di depan Lyra menampilkan film Disney yang masih terputar.


Ia menjadi semakin penasaran, karena baru kali ini melihat Lyra menonton film anak-anak. Untuk apa?


Moeis mengingat kembali perkataan Bibi yang melihat susu kehamilan di kamar. Ia pun bergegas mencari. Dimana?


Mungkin kah di meja?


Di lemari baju nya, bahkan di laci penyimpanan make up nya. Moeis tidak menemukan apa-apa.


Ia duduk di sofa dan terdiam. Tidak sengaja melihat ke bawah, lemari untuk menaruh vas bunga dan hiasan yang sedikit terbuka.


Saat di buka, benar. Terdapat kardus susu kehamilan. Moeis mengambil nya dan mengecek. Memang telah terbuka seperti sudah di minum sebelum nya.


Ia menghela nafasnya berat. Mengusap wajahnya dengan pikiran kosong.


Melihat ke arah Lyra di tempat tidur.


//


Sabtu pagi, Moeis mendapatkan email dari Helena bahwa jadwal nya kosong hingga siang nanti.


Ia bangun lebih awal dari Lyra.


Yang pertama ia kerjakan adalah membersihkan dan mengecek mobil-mobil nya di garasi. Ada sekitar 8 Mobil sport dan mobil mewah yang perlu di lihat kembali bersama orang panggilan nya dari bengkel terpercaya.


Moeis menggunakan pakaian santai nya. Mengobrol dengan sopir mengenai masalah mobil yang akhir-akhir ini sering ia gunakan.


Sementara itu Lyra bangun dan mandi. Ia mengira Moeis sudah pergi entah kemana.


Lalu, Lyra turun untuk mengolah brokoli dan buncis dengan sehat.

__ADS_1


Beberapa pelayan menjadi lebih hati-hati kepada Lyra.


"Nyonya, biar saya saja yang memasakkan. Kalau dikasih resep saya bisa membuatnya"


"Tidak apa-apa. Kerjakan saja urusan kalian"


"Saya saja nyonya"


Lyra pikir ada baik nya juga. Ia sedang ingin merasakan matahari pagi di luar tanpa alas kaki.


"Baiklah. Saya kirimkan resep nya ke kontak mu"


"Baik, nyonya. Saya akan panggil jika sudah selesai"


"Ya.."


Setelah mempercayakan makanan nya kepada pelayan. Lyra keluar dari pintu samping menuju taman mawar nya yang sudah ditanami bibit namun belum tumbuh besar.


Sebab di halaman depan tidak ada rumput, hanya ada di halaman samping dan tanah menuju bangunan belakang.


Ia melepaskan alas kakinya. Rumput masih terasa dingin. Tetapi sinar matahari sedang bagus-bagusnya.


Lyra memetik bunga melati yang tumbuh dengan sendirinya. Atau mungkin pekerja yang merawatnya.


….


Moeis masuk untuk mengambil kunci mobil lainnya. Melihat Lyra yang sudah tidak ada di kamar, Moeis ke dapur untuk mengecek nya.


"Dimana nyonya?"


"Aaa-… nyonya keluar dari pintu samping, tuan"


"Baiklah..".


Moeis terlebih dahulu memberikan kunci mobilnya. Kemudian menghampiri Lyra. Terlihat dia sedang berdiri memainkan daun-daun taman.


"Lyra…"


Hanya tatapan yang Lyra berikan tanpa sahutan apapun.


"Apa yang terjadi padamu?"


"Apa?" tanya Lyra tidak mengerti.


Lyra melanjutkan melihat tanaman lain. Dan Moeis mengikutinya dari belakang. Memperhatikan kaki Lyra.


"Kamu tau aku sakit, kenapa tidak pulang? Apa kamu tidak khawatir…"


"Sakit apa?"


Lyra berbalik badan. Ia tidak suka mendengar pertanyaan singkat Moeis yang terkesan acuh.


"Aku tidak ada niatan berpisah denganmu, jadi jangan bersikap jauh. Jangan menginap di luar. Jangan bertemu perempuan bayaran. Jangan mengacuhkan ku. Jangan marah… seperti kemarin"


Moeis mendengar dengan serius. Tetapi ekspresi nya datar. Membuat Lyra gugup bahkan takut.


"Jangan menuntut banyak.."


"Sikapmu berubah" jawab Lyra pasti. Ia sedih.


Moeis hanya bisa mengangguk. Ia menyadari hal itu dan tetap melakukan nya.


"Kamu sedang mengandung?"


Pertanyaan Moeis membuat Lyra terkejut. Bagaimana Moeis tau? Sejak kapan? Dan… bagaimana?


"Lalu…" jawab Lyra.


"Sejak kapan? Setidaknya beritahu keluarga"


"Bukan itu yang ingin ku dengar…"


Moeis tidak tau harus bagaimana. Bukan nya tidak senang. Tetapi ia terlalu kaku.


"Tidak ada yang dapat saya lakukan, beritahu apa saja yang kamu butuhkan. Mendaftarlah di rumah sakit besar untuk cek dan sebagainya, minta pengawasan dokter secara pribadi, ikut lah kelas kesehatan dan saya akan off kan kegiatan mu di kantor"


"Bukan itu…" ucap Lyra sekali lagi. Ia kecewa dengan reaksi Moeis. Ini adalah kehamilan. Apa tidak membahagiakan?


"Hanya itu" jawab Moeis pasti.


"Rasanya aku seperti menghadapi mu dari awal lagi. Dan seolah-olah momen baik kita kemarin hanyalah mimpi.. kamu tidak sedang mempermainkan aku kan?" tanya Lyra dengan nada mulai sesak.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu harapkan?"


"Aku lelah.. aku bahkan tidak tau. Jika saja tidak mengandung anak mu, mungkin emosi ku sudah menyetujui perpisahan yang kamu tawarkan kemarin"


Moeis menunduk frustasi.


"Lupakan. Lupakan soal berpisah. Pikiran saja dirimu dulu.. sudah.."


"Apa kamu baru saja mengatakan, bahwa hanya aku yang akan mengurus kandungan ini? Uang saja tidak cukup.."


"Lalu apa??!" tanya nya dengan nada sedikit marah.


"Bagaimana cara melunakkan hati mu? Katakan… Apa kamu harus se kejam ini? Kamu bahkan tidak tersentuh sedikit pun padahal akan memiliki anak"


Moeis menjeda waktu menjawabnya. Tatapannya hanya dingin.


"Saya terkadang lebih sulit memahami mu. Ya, benar. Saya memang tidak pernah tersentuh dengan perasaan apapun. Dan bertanya-tanya mengapa bahkan dengan kabar ini. Seharusnya saya bahagia, tetapi bagaimana rasa yang kamu maksud? Memang bagaimana perasaan mu?"


Lyra menjatuhkan air matanya.


Ia memeluk Moeis begitu saja dan menangis hingga dada nya sesak. Tidak perduli jika ada yang melihat. Tidak perduli apapun, yang jelas Lyra hanya lelah dengan situasi ini. Ini butuh bahu untuk bersandar.


.....


Mereka kembali ke kamar dan duduk di sofa, berhadapan.


"Saya menunggu anak itu. Jadi jangan perduli kan sikap saya... Berhenti banyak menuntut dan mari urus ini bersama. Meskipun tetap kamu yang harus lebih menjaganya, sebab kesibukan saya tidak dapat di tawar" ucap nya jelas.


"Ini yang aku takutkan.. Jika kamu tidak perduli, maka berpura-pura lah perduli pada ku mulai saat ini. Dan itu sudah cukup bagi ku. Selesaikan masalah mu, dan kembali seperti kemarin, aku mohon" ucap Lyra sesenggukan.


Moeis tidak pernah membayangkan situasi seperti ini. Ia terlalu kaku untuk hal-hal haru.


"Ya" jawab Moeis singkat.


Mengapa terlihat berat.


"Ini juga pertama bagi ku. Sedih jika tidak ada seseorang yang dapat membantu secara batin, kamu tau? Jadi tolong pikiran lagi.."


"Lyra, sikap saya tidak pernah berubah tanpa alasan. Ini berat.. tetapi sudah... -- Kamu bisa pergi sarapan" ucap Moeis sambil berdiri untuk pergi ke ruang kerja.


Lyra menutup wajahnya dan menangis. Tetapi tidak boleh seperti ini. Jika ia stres kasihan kandungan.


Di sisi lain, Ellie mengikuti Moeis yang masuk ke ruang kerja. Dan menoleh saat menutup pintu agar tidak ada yang lihat.


"Tuan .."


Moeis menoleh.


"Katakan bahwa itu tidak benar. Nyonya tidak mungkin hamil kan??"


Moeis menyandarkan tubuhnya di kursi lalu memejamkan mata dengan frustasi.


"Itu benar.. "


"Apa???"


Ellie benar-benar terkejut.


"Tidak masalah, ini baik untuk keluarga. Mereka sudah menanti sejak lama"


"Tetapi, bagaimana dengan..."


"Diam. Jangan mengungkit apapun yang membuat saya marah! Ini hanya soal tanggung jawab. Tidak usah ikut campur"


Tatapan Ellie pada Moeis terkunci. Ia tidak tau bagaimana Moeis bisa menjawabnya seperti itu.


"Anda akan biarkan anak itu lahir?"


"Tentu saja!"


"Bagaimana bisa?"


"Saya memilih Lyra. Dan saya akan selesaikan masalah saya agar bisa kembali kepada Lyra. Meskipun berat dan butuh waktu"


"Anda tidak bisa berkata begitu.."


"Diamlah.. keluar"


"Lihatlah apa yang akan terjadi nanti. Semua kesalahan anda karena tidak mendengarkan saya"


Namun Moeis tidak memperdulikan Ellie lagi. Ia masih memejamkan matanya dengan pikiran kacau.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2