Killing Me Softly

Killing Me Softly
22


__ADS_3

Sejak tadi Lyra sempat khawatir Moeis akan mengingkari janji nya untuk pergi ke mall bersama. Hari ini ia tidak berangkat ke kantor hanya berada dirumah untuk tea time di kebun mawar nya. Setelah itu memotong beberapa untuk dirangkai.


Saat ini ia sudah dalam perjalan menuju perusahaan untuk menemui Moeis, tepatnya pukul 4 sore. Jauh dari waktu rencana nya, yang sebelumnya adalah sesudah jam makan siang. Tetapi Lyra baru mendapatkan balasan dari Moeis bahwa ia sudah hampir selesai.


Tidak berselang lama, terlihat Moeis berjalan keluar dari lobby dan masuk ke dalam mobil.


"Maaf karena telat…"


Lyra menoleh. Apa boleh buat, Moeis memang orang yang sangat sibuk. Masih beruntung ia bersedia menyempatkan waktunya seperti ini.


"It's ok. Kita jalan sekarang, pak"


"Baik, Nyonya"


Saat ini Lyra hanya berpakaian santai dengan shoulder bag nya serta menjepit setengah rambutnya ke belakang. Sementara Moeis, ia masih mengenakan setelan jas rapi dan belum berganti pakaian.


"Apa rencanamu hari ini" tanya Moeis.


"Hmm, aku butuh dress untuk ke bali besok, tas dan kita akan menonton film"


Ya, besok adalah hari pernikahan Becca. Acara akan dimulai pukul 9 pagi.


Moeis mengangguk.


"Film? kamu sudah menentukan film apa?"


"Tentu saja, kamu akan menyukainya"


Begitu sampai di mall, mereka berjalan saja melihat-lihat terlebih dahulu. Dan, Lyra merangkul lengan Moeis.


"Ikut saya.." ucap Moeis.


Lyra nampak kebingungan.


"Kemana?"


Ternyata Moeis mengajaknya ke tempat baju oleh perancang kelas atas. Yaitu Malvin.


"Kenapa kita ke sini? tempat tadi ,aku biasa membeli disana"


Namun Moeis tidak mendengarkan nya dan meminta nya untuk langsung memilih saja. Beberapa kali Lyra sudah melihat yang ia suka, tetapi ini adalah tempat mahal. Ia sanggup untuk membelinya tetapi lebih baik digunakan untuk hal-hal yang lebih dibutuhkan suatu saat nanti


Entahlah, ia tidak tau. Lyra hanya mengambil 2 yang ia suka dan meminta pendapat Moeis mana yang lebih cocok untuknya.


"Kami ambil 2 ini.." ucap Moeis sambil memberikan kartunya.


"Baik, pak".


Kemudian Lyra menggelengkan kepalanya. Ia mendekati Moeis.


"Aku hanya butuh 1, lagi pula. Ah, tempat ini terlalu…"


Lyra mengeluarkan dompet nya dan ingin menukar kartu yang Moeis berikan.


"No… simpan lagi milikmu. Hal-hal seperti ini sudah jadi tanggung jawab saya. Apa yang kamu khawatirkan…"


Tatapan Moeis begitu santai. Baiklah, ada benar nya juga.


"Ini barang nya, dan kartunya pak. Total 21 juta rupiah" ucap pelayan yang membantu mereka.


"Terima kasih.."


Lyra hanya mengikuti Moeis keluar dari toko mewah tersebut. Ia tau, mungkin harga itu sudah biasa bagi Moeis. Tetapi sangat berlebihan baginya.


"Terima kasih, kalau kamu bukan suamiku. Aku tidak akan menerimanya.."

__ADS_1


Moeis terkekeh mendengar keluhan Lyra.


"Mulai sekarang kamu harus menerima apapun yang saya berikan, Lyra" ucap Moeis dan hanya diangguki oleh Lyra.


Selanjutnya, Lyra mengajak Moeis untuk mencari tas. Tetapi lagi-lagi, Moeis lah yang mengajak ke store branded. Berkali-kali ia meminta ditempat lain, tetapi tetap saja tidak didengarkan oleh Moeis.


"Kamu menyukai yang ini?" tanya Moeis. Ia mendekati Lyra yang sedang memilih tas.


"Ya, bagaimana menurutmu?"


"Bagus. Yasudah, pilih yang lain lagi.."


Mendengar tawaran Moeis langsung membuat tatapan Lyra menajam. Ia menolak nya kali ini. Bahkan tas yang saat ini ia pegang, tidak tau berapa harganya.


Seseorang membantu mereka di meja pembayaran. Sambil menunggu ditempatkan di box, Lyra kembali merangkul Moeis dengan mesra.


"Apa Kamu lelah? Tidak ingin membeli sesuatu?" tanya Lyra.


Lyra sedikit merasa khawatir, sejak tadi ia sangat lama untuk memilih. Lyra yakin Moeis tidak terbiasa dengan aktifitas seperti ini.


"Saya senang menemanimu.."


Tiba-tiba ponsel Moeis berbunyi. Menandakan panggilan masuk. Ia pun menghampiri pelayan store lalu berjalan sedikit lebih jauh untuk mengangkat telepon.


Dari tempatnya, Lyra terus mengamati Moeis yang terlihat serius. Sepertinya masalah pekerjaan. Atau mungkin Moeis harus segera pergi saat ini juga?


"Bu, ini barang anda. Dan kartu milik bapak, serta VVIP Card anda telah kami buatkan atas nama Lyra Purnell.."


Lyra terkejut mendengar hal itu. Card apa?


"VVIP Card? Saya tidak memintanya"


"Pak Moeis sudah berbicara dengan salah satu karyawan kami. Dan kartu ini dapat anda gunakan setiap waktu dan terhubung dengan bank pak Moeis.."


Wah, apa yang Moeis lakukan kali ini? Sudahlah, seperti Moeis sedang terburu-buru. Ia hanya mengiyakan saja ucapan karyawan tadi. Lalu keluar menghampiri Moeis.


Moeis memasukan ponselnya ke saku.


"Ya, maaf…"


"Baiklah.. aku tau kamu sibuk. Terima kasih untuk hari ini, dress dan tas.."


Mereka kembali ke mobil dan mengantar Moeis ke perusahaan lebih dulu. Meskipun menonton film dan makan malam bersama harus dibatalkan.


"Ini kartumu. Lalu, aku sudah menerima VVIP Card yang kamu buatkan tadi." ucap Lyra memberikan kartu milik Moeis.


"Terima itu. Kamu benar-benar harus menggunakannya. Jangan hanya disimpan.. Meskipun setiap hari pun tidak masalah. Selama saya masih bekerja, tidak ada yang tidak dapat kamu beli, Lyra…."


Lyra mengerti, ia juga sangat tau seberapa mampu Moeis untuk memberikan nya apa saja. Semua ini berkat kerja kerasnya. Tidak, tetapi Moeis benar-benar bekerja lebih keras untuk perusahaan.


"Terima kasih" jawab Lyra dengan 1 kecupan.


//


Sesampainya di rumah, Lyra berjalan masuk membawa barang nya. Ia masih tidak bisa percaya setelah melihat bukti pembayaran tas tadi. Ia baru melihat nya setelah Moeis turun. Yang benar saja, tas yang saat ini ia bawa seharga 600 juta.


"Kenapa ada kucing disini?"


Lyra melihat nya begitu saja. Kucing berbulu lebat berwarna putih tersebut berjalan ke arah belakang. Ia pun meletakkan barang nya di meja makan dan mengikuti kucing itu. Kemana dia pergi dan milik siapa. Lyra tidak pernah melihat sebelumnya.


Kucing itu masuk ke dalam kamar Ellie yang terbuka. Lyra mencoba untuk melihatnya dan tidak ada siapapun. Terdapat rumah kucing disini, itu artinya milik Ellie.


Ruangan ini lumayan besar dan rapi. Lyra melihat-lihat ke dalam. Dan ia menoleh, kucing tersebut menjatuhkan sesuatu dari meja kerja Ellie.


Kotak kayu berukuran kecil. Setelah dibuka, Lyra sangat terkejut. Ini adalah cincin pernikahan milik Moeis. Kenapa ada di disini.

__ADS_1


"Nyonya.." suara Ellie memanggil nya dari belakang.


Ia berbalik badan dan menyembunyikan cincin tersebut.


"Eliie.."


"Apa yang nyonya lakukan di kamar saya?" tanya nya mendekat.


Lyra menunjuk kucing putih itu.


"Aku mengikuti dia. Sejak kapan ada kucing dirumah ini, maksudku sejak kapan kamu memeliharanya?"


Ellie menundukan kepalanya.


"Maaf, nyonya. Sudah beberapa bulan ini. Dan Tuan sendiri yang meminta agar kucing saya tidak berkeliaran di rumah ini.."


Jadi Moeis mengetahuinya.


"Benarkah…"


"Ya, nyonya".


"Lalu.. bagaimana dengan cincin suamiku. Apa kamu mendapatkannya?"


Tatapan mereka bertemu. Lyra bahkan lebih terlihat gugup daripada Ellie.


"Maafkan saya nyonya. Cincin itu tidak pernah saya temukan lagi.."


"Kenapa?"


"Saya sudah mencarinya di seluruh tempat. Lagi pula Tuan tidak senang memakai cincin atau apapun selain jam tangan.."


Ucapan Ellie benar-benar menguji kesabarannya.


"Lalu apa ini? Apa yang yang aku temukan dimeja kerjamu? …. Ellie, selama ini saya selalu bertanya-tanya apa sebenarnya masalah mu padaku. Aku tau kamu sangat membenci ku kan?"


Melihat apa yang ditemukan Lyra, Ellie merasa geram. Bisa-bisa nya cincin itu terlihat dan belum sempat ia buang.


"Ma-maaf nyonya.. saya sungguh tidak tau. Saya baru saja kembali dari gudang"


Lyra menghela nafasnya sambil tersenyum tidak percaya. Ia berjalan mendekat.


"Kamu berbohong"


"Tidak nyonya. Mengapa anda bersikap seperti ini?"


"Sudah. Tidak ada Moeis disini. Berhenti berpura-pura…"


Mendengar hal itu semakin membuat Ellie kesal. Jika bukan karena dia adalah istri Moeis. Mungkin sudah Ellie habisi, ia sudah tidak tahan lagi.


"Ya.. saya berbohong…"


Bukan main, Ellie berani mengakuinya sekarang.


"Kamu…"


Namun Ellie justru lebih memajukan tubuhnya lagi. Dengan tatapan yang tidak sopan.


"Aku tidak takut denganmu... Aku hanya mematuhi Tuan Moeis. Anda bukan siapa-siapa disini jika saya membuka mulut. Jadi, jangan seperti ini kepada ku.." ucap Ellie dengan penekanan di setiap kata nya.


Lyra terbelalak. Terbuka sudah wajah asli Ellie.


"Kamu menyukai suamiku??" tanya Lyra.


Terlihat Ellie menjeda waktu menjawabnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2