Killing Me Softly

Killing Me Softly
64


__ADS_3

"Kenapa kamu meminta saya memakai pakaian santai seperti ini?" tanya Moeis yang sedang bersiap-siap.


Ia disiapkan celana selutut, kaos dan topi. Tidak tau akan pergi kemana, sebab Lyra sejak tadi sibuk mengeringkan rambutnya.


"Sudah selesai?? Kalau begitu kita pergi sekarang.."


Tidak jauh berbeda, Lyra juga hanya menggunakan jeans seatas lutut dengan kaos polos dan membawa tas kecil.


"Apa kamu akan keluar seperti ini?


Celana mu benar-benar terlalu pendek, Lyra. Mereka akan memperhatikan mu" keluh Moeis.


"Siapa yang akan memperhatikan ku? Sudah ayo.."


Sebenarnya Moeis juga senang keluar bersama Lyra di waktu luang nya, terlebih sore hari begini sangat pas untuk berjalan-jalan.


Sejak kemarin Moeis sibuk dengan pekerjaan nya dan telah pulang dari Bandung. Tetapi untunglah ia masih mau meluangkan waktu untuk Lyra.


Dan saat ini sudah dirumah lagi meninggalkan apartemen.


"Kami akan keluar sebentar, panggil montir untuk mengecek mobil yang kemarin saya bawa ke Bandung" ucap nya kepada security yang sedang membuka gerbang depan.


Ia mengerti, "Baik, Tuan"


Setelah itu mereka berjalan kaki sepanjang trotoar yang lumayan rindang karena banyak pepohonan. Angin sore tidak pernah berbohong didaerah elit ini.


Lyra berjalan lebih cepat menyamai langkah Moeis dan merangkul lengan nya. Kemudian Moeis menurunkan tangan Lyra untuk di genggam. Berjalan berdampingan di suasa yang santai sambil mengobrol.


"Aku sudah menginginkan hal ini sejak lama..." ucap Lyra.


Moeis tersenyum mendengarnya, sebab suara Lyra terdengar manis.


"Apa kita akan ke taman? Arah nya pasti kesana.." tempat itu sangat lah ramai ketika sore hari. Terdapat danau dan pepohonan rindang, anak-anak, penjual makanan dan cafe yang belum lama ini buka.


"Jadi, kamu sudah bisa menebaknya, ya?" Lyra merasa kalah sekaligus senang melihat Moeis yang terlihat tidak keberatan sama sekali.


"Tentu saja sayang. Saya sudah tinggal di sini lebih lama.."


Berjalan tidak jauh kurang lebih 15 menit. Akhirnya mereka sampai dan melihat benar-benar taman yang ramai. Lyra tau Moeis tidak nyaman berada di tengah-tengah sana.


Itu sebab nya mereka hanya akan pergi ke cafe baru yang menghadap taman. Menikmati sore dari sana.


Lyra sudah memesan smoothie dan cake, sementara Moeis hanya lemon tea saja. Pilihan tempat outdoor juga sangat bagus dari sana.


"Kita harus sering-sering seperti ini" ucap Moeis tiba-tiba.


"Aku bisa, tetapi akan sulit untuk kamu pak sibuk" sindir nya lalu tertawa mengalih kan pandangan.

__ADS_1


Moeis berpindah kursi didekat Lyra.


"Saya sudah mengusahakan waktu luang dan akan terus mengusahakan nya, Lyra. Hanya untuk kamu" ucap nya lalu mencium tangan Lyra.


"Aku tau kamu orang yang dingin dimata orang lain, bahkan kaku di mata ku. Tetapi justru itulah, karaktermu yang membuat aku tidak bisa berpaling.. sebab sekali kamu sudah bersikap hangat dan manis. Rasanya benar-benar membuat aku bahagia.." wajahnya berseri-seri ketika mengatakan nya.


Moeis baru tau, bahwa suasana santai seperti ini bahkan bisa terasa romantis juga. Entah kemana arah perbincangan mereka atau bahkan membuang waktu. Moeis tidak perduli. Ia nyaman bersama Lyra seperti ini.


"Apa saya adalah orang terkaku yang pernah kamu kenal?" tanya nya dengan senyuman.


Lyra mengangguk dengan pasti, "Hanya kamu" tunjuk nya ke dada Moeis.


Mereka pun tertawa ringan.


Satu suapan cake ingin Lyra berikan kepada Moeis. Tetapi wajahnya terlalu datar.


"Ada apa?" tanya Moeis. Padahal Lyra sudah siap untuk menyuapinya.


Benar-benar tidak peka. Membuat Lyra tidak bisa berhenti tersenyum.


"Ini untukmu.." akhirnya suapan itu berhasil Lyra berikan.


Tidak perlu khawatir terlihat terlalu bermesraan di tempat umum. Sebab mereka melakukan nya dengan santai dan biasa.


"Berkunjung lah ke perusahaan sesekali.. setidaknya untuk menemani saya makan siang.."


"Baiklah, pak.." jawab nya asal.


Moeis mengusap rambut Lyra beberapa kali. Ia melihat ke arah jam tangan nya. Waktu berlalu begitu cepat. Mereka bahkan hanya berbincang santai.


Matahari sudah hampir tenggelam.


Saat berjalan pulang, sebuah mobil dengan plat yang mereka kenali melintas di jalan. Karena tidak terlalu cepat, Moeis bisa langsung mengenalinya.


"Itu seperti mobil...(?)." ucap Lyra sambil berpikir keras.


"Mobil ayah.." jawabnya datar.


Setelah itu mereka berjalan sedikit cepat untuk sampai dirumah. Mereka pasti datang untuk memastikan soal surat pengajuan cerai yang dibuat oleh Lyra. Nyonya Dave belum mengetahui bahwa mereka kembali bersama.


.........


.........


Pukul 7 malam. Mereka sudah duduk bersama di meja makan. Begitu sampai dirumah tadi. Tuan dan Nyonya Dave membiarkan Moeis dan Lyra untuk membersihkan diri terlebih dahulu dan nyonya Dave mengambil alih dapur begitu saja. Ia yang memasak makan malam ini.


Wajahnya tidak terlihat senang. Lebih terlihat seperti tidak mengerti keadaan dirumah ini.

__ADS_1


Melihat Tuan Dave yang sudah memulai mengiris daging. Artinya yang lain juga sudah diperbolehkan untuk makan. Begitu tradisi nya.


Suasana terasa canggung untuk Lyra dan Moeis.


Hingga akhirnya setelah beberapa suapan tanpa pembicaraan. Tuan Dave meletakkan alat makan nya. Bersiap untuk berbicara.


"Apa benar kalian sudah mengurus perceraian?"


Moeis tau Lyra akan takut untuk menjawabnya. Ia pun berbicara terlebih dahulu.


"Itu benar, tetapi kami sudah berbicara lagi.."


"Sudah sampai ditahap mana?"


"Kami tidak akan bercerai" ucap Moeis apa adanya.


Nyonya Dave terkejut tetapi setelah itu menghela nafasnya. Sementara tuan Dave terlihat biasa. Ia mengangguk. Jari-jarinya terus bergerak mengetuk kaca meja makan.


"Keputusan mu sudah tepat. Sebenarnya ayah tidak akan membiarkan itu terjadi dan akan mencari tau pengacara mana yang akan mengurus kalian. Sebab perceraian adalah hal yang memalukan bagi keluarga ini"


Itu bukanlah kata-kata yang keterlaluan. Semuanya mengerti, itu adalah hal yang wajar di ucapkan oleh tuan Dave.


"Kami mengerti, ayah" ucap Moeis.


Tuan Dave melihat ke arah mereka seperti ingin memberikan ceramahan. "Masalah hanyalah masalah, yang perlu untuk di singkirkan adalah masalahnya. Bukan Rumahnya. Korban kan apapun, tetap jaga apa yang sudah kita punya"


"Benar.. ibu juga berharap kalian tetap bertahan bersama" ia merasa sangat lega sekarang.


Hal ini mereka sampai bukan untuk salah satu dari mereka. Tetapi tentu saja untuk mereka berdua.


"Rumah tangga sangatlah berharga./ Sama seperti perusahaan. Kalian sudah membangun nya dengan susah payah, banyak permasalahan, tetapi bernilai besar seiring berjalan nya waktu. Saat ada 1 masalah besar, apa kalian akan menghancurkan perusahaan nya? tentu saja tidak kan... kalian pasti akan menyelesaikan permasalahan nya... lakukan hal yang sama dengan rumah tangga kalian..."


Ucapan ayah ada benarnya. Cukup mengubah pemikiran mereka.


Dengan kata lain, di mata tuan Dave persoalan cinta adalah nomor 2. Jika rumah tangga bertahan, cinta bisa dibangkit kan kapan saja.


Moeis kemudian menggenggam tangan Lyra di meja.


"Kami melewati masalah berat karena saya. Tetapi semuanya sudah membaik.. kami akan melanjutkan seperti ini. Jadi jangan khawatirkan lagi.."


Nyonya Dave tersenyum, begitu pun yang lain.


"Mari bersulang.."


Mereka mengangkat gelas dan bersulang. Keadaan perlahan mencair. Juga terasa melegakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2