
Lyra diam dengan tatapan kosong di kursi sandar kamar nya. Ia tidak dapat memikirkan apapun selain kekecewaan yang tidak dapat di ubah.
Saat ini sudah tengah malam dan Moeis berada diruang kerja nya.
Ada beberapa kemungkinan yang sedang ia pikirkan saat ini. Pertama, jika hingga ia melahirkan Moeis masih menyimpan wanita itu. Maka perceraian adalah satu-satu nya pilihan. Tetapi jika wanita itu sudah tidak ada maka Lyra akan memikirkan nya lagi demi masa depan anak nya.
Tetapi ini berat. Ini gila.
Mimpinya untuk memiliki rumah tangga yang normal dan bahagia hanyalah angan belaka.
Wajahnya sembab dan suaranya sudah serak tidak karuan. Padahal sudah jam 2 malam tetapi tidak ada rasa kantuk sedikitpun. Hanya pandangan tanpa arti.
Lampu kamar pun sudah dimatikan dan gelap hanya cahaya dari celah jendela.
Sementara Moeis telah menyelesaikan pekerjaan nya, tetapi ragu untuk kembali ke kamar. Ia juga merasa bersalah kepada Lyra dan tidak dapat menatap matanya yang penuh dengan kesedihan karena dirinya.
Namun ini sudah larut. Mau tidak mau ia harus beristirahat agar besok bisa bangun pagi.
Moeis membuka pintu kamar dan melihat ruangan yang sudah gelap. Saat menyalakan lampu. Terlihat Lyra berdiri dari kursi sambil mengusap wajahnya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh nya.
"Ini sudah larut. Kenapa belum tidur??" tanya Moeis.
Lyra mendengar nya. Tetapi tidak ingin menjawab.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Moeis sekali lagi. Ia mengira mungkin Lyra ngidam dan tidak ingin meminta bantuannya.
"Tidak" singkat Lyra menuju ranjang nya dan menarik selimut.
Moeis hanya berdiri melihat Lyra yang merubah sikap nya. Ini sudah pasti terjadi.
Setelah selesai dari kamar mandi akhirnya Moeis menyusul. Karena ukuran ranjang king size, masih tersisa banyak space untukmu.
Ia tau bahwa Lyra belum tertidur.
"Kamu harus tau, bahwa tidak ada perpisahan dalam keluarga Meyers. Apapun yang terjadi di antara kita. Tidak akan merubah apapun"
Lyra membuka matanya perlahan.
"Berapa banyak wanita simpanan mu?"
__ADS_1
Moeis bergerak mendekat hingga tepat di belakang punggung Lyra.
"Saya tidak menyimpan nya. Tetapi memanggil mereka saat merasa butuh" jawab nya lantang.
Lyra berbalik dengan tatapan kesal.
"Butuh?? Apa yang kamu butuhkan dari mereka?"
"Apa rasa nya sakit? Seseorang hanya merasa kecewa kepada sesuatu yang di cintainya. Apa kamu mencintai saya? Jika tidak maka sikapi ini dengan biasa, apa kamu tidak bisa?"
Ucapan Moeis selalu menyakiti nya. Dia tidak punya rasa atau simpati.
"Kamu.. seperti membunuhku perlahan…" ucapan nya dengan tatapan yang dalam.
Lyra bangun dari tidurnya menyingkirkan selimut. Namun Moeis menahan nya.
"Ini sudah malam!!" tahan Moeis.
"Aku ingin tidur di kamar lain saja.." ucap nya pelan.
"Biar saya saja"
Moeis segera bagun dan tidak membiarkan Lyra yang pergi.
Ucapannya membuat Moeis berhenti dan mengusap wajahnya berat.
"Ini sudah larut, tidurlah.."
"Moeis!!!" rengek Lyra. Ia sudah tidak tahan lagi.
///
Saat semua pelayan sedang sibuk memasak di pagi hari. Lyra turun dan berjalan ke bangunan belakang. Ia melihat Ellie sedang menyapu didepan nya.
"Nyonya, apa yang anda lakukan disini?"
"Semua pelayan sedang sibuk dan aku harus minum susu kehamilan tetapi sudah habis. Bisa kamu belikan di supermarket?" ucap Lyra.
Ellie melihat nya sedikit lebih lama.
__ADS_1
"Ah, iya. Baik, nyonya saya akan keluar. Apa ada lagi?"
"Kalau begitu dengan beberapa buah.."
Ellie menunduk mengerti. Ia segera keluar setelah merapihkan diri.
Tetapi, bukan tanpa tujuan Lyra meminta Ellie keluar. Sebab, ini adalah rencananya. Ia ingin masuk ke kamar Ellie dan mencari tau sesuatu.
Untunglah kamar nya tidak di kunci.
Banyak sekali lemari file di sini. Apa yang dapat Lyra cari? Ia harus buru-buru karena supermarket tidaklah jauh.
Setelah lebih dari 20 menit mencari tanpa menemukan apapun. Lyra tidak sengaja melihat 3 ponsel yang berbeda di laci dan masih menyala.
Sayangnya ponsel tersebut di lock.
Tetapi di salah satu nya terdapat beberapa notifikasi email masuk.
Transfer pembayaran tiket pesawat ke Singapore untuk tanggal 7, artinya besok pagi. Lalu surat resmi tagihan pembayaran biaya rumah sakit dari Singapore. Dengan nama pasien Carrie Wu.
"Apa??"
Lyra terkejut menutup mulutnya.
"Kenapan Ellie mengurusi wanita itu? Apa ini atas perintah Moeis?"
Lyra bertanya-tanya dengan jantung yang berdetak kencang.
Ia pun menyempatkan untuk memoret layar tersebut dengan ponselnya, sebelum akhirnya keluar dari bangunan itu dan kembali ke kamar.
Sarapan pagi ini Lyra sendiri karena Moeis sudah berangkat kerja lebih awal. Tetap ia terus menggigiti jari mengingat apa yang ia lihat tadi.
Rumah sakit?
Apa wanita itu sedang sakit sehingga Moeis berat melepaskan?
Itu artinya besok Moeis akan berangkat ke Singapore.
Lyra akan melihat apa yang akan Moeis katakan saat akan pergi nanti.
__ADS_1
Saat ini perasaan nya semakin tidak karuan.
Bersambung...