Killing Me Softly

Killing Me Softly
53


__ADS_3

Sesampainya Moeis dirumah sakit. Ia tidak diperbolehkan masuk, dan hanya melihat dari pintu sejenak. Kemudian di minta oleh tuan Dave pulang bersama nya. Kali ini penghukuman akan segera Moeis terima.


Ia kembali mengingat kala itu dimana ia juga melakukan kesalahan dan diberi hukuman gila. Selama perjalanan pulang Moeis bersikap tenang tetapi memikirkan apa yang terjadi pada Lyra. Sebab tidak ada yang menjelaskan kepada nya.


"Bagaimana kondisi Lyra? Apa yang terjadi.." tanya Moeis pelan.


Tatapan tuan Dave lurus kedepan dengan angkuhnya.


"Kamu tidak bisa bermain seperti ini, Moeis"


Percakapan mereka perlahan menjadi lebih serius dan mengerikan. Hubungan kaku ini kembali terasa.


"Kenapa tidak, saya tau ayah juga berkali-kali menemui wanita itu sejak dulu dan menyakiti hati ibu. Kalian bahkan membesar kan seorang anak di Australia"


Tuan Dave menghela nafasnya berat.


"Bukan berarti kamu harus meniru nya. Saat ini ibu mu sudah tenang, dia tidak terlalu peduli dengan keluarga simpanan ayah. Ibu mu sudah melalui banyak penderitaan di awal pernikahan kami. Tetapi, Lyra dia tidak sekuat ibu mu" tegas tuan Dave.


Moeis menyudutkan senyum mendengar hal itu. Ia tidak tau bahwa dirinya memiliki banyak kesamaan dengan ayah nya bahkan persoalan wanita.


"Ayah sebut mereka keluarga simpanan. Itu jauh lebih gila dari yang saya lakukan… Tetapi bermain dengan wanita lain seperti menemukan jiwa yang tersembunyi. Tidak ada yang dapat menghentikan nya.. itu selalu saya rasakan sendiri. Meskipun merasa menyesal kepada Lyra, tetapi tidak cukup sebagai alasan untuk berhenti.."


Ucap nya dengan putus asa.


"Berhentilah.."


Moeis menoleh. Menatap wajah ayah nya yang dingin.


"Carrie hamil dan kondisinya buruk.." jawab Moeis.


Seketika tuan Dave merasa marah mendengar nya.


"Lyra kehilangan janin nya.."


Moeis tidak percaya mendengar nya. Apa yang telah ia lakukan. Apa yang terjadi dengan Lyra.


Perasaan nya campur aduk mendengar hal itu. Menyesal dan merasa bersalah.



"Terima kasih, berkas administrasi sudah selesai. Dan sesuai dengan permintaan keluarga, Ny. Lyra dapat dipulangkan besok pagi dan mendapatkan perawatan dirumah" ucap perawat.


"Terima kasih, sus"


Setelah beristirahat beberapa jam, Lyra sudah siuman dan mengumpulkan tenaga nya. Ia sudah cukup lelah menangis dan merasa menderita juga. Kini ia berpikir, kehilangan bayi nya adalah sebuah jawaban bahwa sekarang bukanlah waktunya


Masih banyak yang harus ia lakukan untuk menyadarkan Moeis. Lyra ingin bertindak lebih banyak lagi kali ini.


Mertua nya sudah pulang. Kini hanya ada mama dan papa nya.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Moeis, sayang? Semuanya nampak tidak baik.." tanya mama.


"Ada sedikit masalah. Tetapi ini biasa.. mama dan papa tidak perlu khawatir karena Lyra bisa menyelesaikan nya.."


Papa berjalan mendekat.


"Jika terjadi masalah yang berat, bicarakan. Keluarga akan berusaha untuk membantu, nak"


Lyra tersenyum mendengar nya. Meskipun kini wajahnya pucat dan kesedihan tidak dapat disembunyikan. Namun ia tidak ingin menangisi keadaan didepan keluarga.


"Baiklah.. terima kasih, pa"


"Besok akan papa antar"


Lyra diam sejenak. Hatinya masih belum siap.

__ADS_1


"Aku ingin pulang ke rumah kalian.. hanya untuk satu minggu. Nanti aku akan bilang kepada Moeis, pa"


"Apa tidak masalah? Tadi pun Moeis belum sempat masuk dan menunggu mu siuman"


"Tidak apa-apa.."


//


Selama hampir satu minggu ini, pelayan hanya bekerja seperti biasa tanpa melayani tuan dan nyonya nya. Mereka banyak membicarakan kejadian sebelumnya dan penasaran apa yang akan terjadi pada nasib rumah tangga ini.


Sebab Lyra belum kembali, begitu juga Moeis.


Lalu, setahu mereka Ellie juga di panggil karena menghilangkan beberapa hari ini.


Bibi yang memberikan susu tersebut terus merasa stres dan khawatir kepada Lyra juga kepada dirinya sendiri karena takut di hakimi. Saat itu Ellie lah yang mengingatkan nya tentang susu tersebut. Tetapi kini Ellie tidak pernah terlihat lagi.


Tetapi hari ini, pelayan bekerja jauh lebih sibuk. Sebab Lyra akan pulang setelah 6 hari dirumah orang tuanya dan kondisinya sudah sepenuhnya pulih.


Pintu gerbang terbuka lebar, sebuah taksi masuk hingga didepan teras pintu utama.


Lyra keluar dengan penampilan hangat, sweater dan rok span panjang. Dibantu penjaga, tas dan koper kecil nya telah di turunkan. Ia meminta untuk pulang sendiri dan tidak merepotkan keluarganya lagi.


Segera ia ke atas, tetapi berhenti tepat didepan pintu kamarnya. Ada perasaan berat dan sedih. Mengingat kejadian saat itu.


Setelah memejamkan mata sejenak, Lyra akhirnya masuk dengan berani. Melihat seisi ruangan yang masih tertata rapi.


Pintu terketuk.


Seketika terbuka. Bibi langsung bersujud di kaki Lyra dengan ketakutan bahkan menangis.


"Nyonya, ampuni saya. Saya tidak melakukan nya, sungguh.. ampuni saya nyonya.."


Lyra terkejut melihatnya dan langsung memegang lengannya meminta bibi untuk berdiri.


Bibi menangis dan terus menunduk.


"Maafkan saya nyonya, ini semua pasti terjadi karena susu yang saya berikan. Tetapi saya… s-saya bersumpah tidak melakukan apapun"


Akhirnya Lyra mengerti.


"Tidak bi, jangan khawatir. Saya tau, apa yang terjadi pada saya dan ini semua bukan karena bibi.. jangan seperti ini bi"


"Benarkah nyonya. Apa yang anda ucapan kan, apakah benar?"


"Iya, bi.."


Semua nya telah Lyra pikiran. Ia tau siapa yang melakukan nya.


Setelah selesai membersihkan diri, Lyra terduduk di sofa memandangi box susu dan beberapa buku yang telah ia beli. Dengan kuat, ia hendak menyingkirkan barang-barang tersebut.


Pandangannya beralih mendengar pintu terbuka.


Jantung nya seperti berhenti untuk seperkian detik. Karena Moeis masuk secara tiba-tiba. Mereka saling menatap kemudian Lyra membuang arah pandangannya.


Moeis melihat Lyra memangku buku-buku tersebut. Dengan wajah yang masih pucat dan rambut yang memanjang.


Ia berjalan mendekat sambil mengusap wajahnya.


"Lyra, saya minta maaf telah membuatmu.."


"Aku tidak ingin dengar…. tidak mau" sahut Lyra menundukan kepala nya.


Perkataan Moeis membuatnya muak.


Namun, Moeis justru berlutut di hadapan nya.

__ADS_1


"Saya menyesalinya, Lyra. Kehilangan janin itu juga membuat saya hancur"


"Tidak ada guna nya merasa hancur untuk mu. Kamu tetaplah Moeis. Yang tidak ber'hati. Aku pasti terlalu mudah bagimu, sehingga semua ini terjadi"


Moeis memeluk Lyra dengan paksa. Meskipun Lyra berusaha untuk melepaskan nya, tetapi matanya justru memerah dan dada nya terasa sakit.


"Kamu harus tau kenapa janin itu pergi. Karena tuhan tidak ingin dia lahir untuk saat ini dan menghadapi orang tua seperti kita. Moeis, kita tidak lah pantas untuk menyambutnya.. kamu pun tidak berhak mengharapkannya!!" kesal Lyra.


"Ya.. saya tidak pantas. Saya terlalu buruk untuk nya dan kamu"


Entah berbicara dengan tulus atau hanya penyesalan terhadap keadaan saja. Lyra tidak dapat merasakan nya.


Setelah Moeis kembali berdiri. Lyra menatap nya dalam-dalam.


"Jika ingin terus bersama.. berhenti berbuat semau mu, Moeis"


"Lyra…"


"Apa kamu sudah menikahi wanita itu diam-diam??"


Pertanyaan itu berat untuk Moeis. Tetapi ia tidak dapat menghindar lagi kali ini.


"Tidak.."


"Lalu?"


"Kami bercinta.. kami bersama jauh lebih dulu sebelum kita menikah" jawab nya jujur tidak dapat menatap Lyra.


Meskipun sakit, Lyra tetap ingin menghadapi masalah ini.


"Tetapi dia hamil 6 bulan, bicaralah dengan jelas!!" murka Lyra.


"Carrie sudah bertunangan dengan Daniel. Sehingga membuat kami bertengkar .. mereka hampir berpisah. Tetapi kondisi kehamilan Carrie buruk sejak awal. Saya juga ingin menjaga nya, tetapi akhirnya Daniel tidak ingin melepaskan Carrie. Dia melarang saya datang.. meskipun Carrie menginginkan saya untuk melihatnya sebentar.."


Lyra tidak habis pikir mendengar nya. Drama gila itu lah yang telah menghancurkan kehidupan rumah tangga nya.


"Dia anak mu.. dan kamu ingin menjaga nya. Kamu ingin Carrie bagaimana?? Lalu kamu ingin mempertahankan aku atau tidak. Atau kamu ingin melepaskan ku tetapi takut dengan keluarga mu, iya??"


Pertanyaan itu rumit. Membuat Moeis semakin gila.


"Tidak. Sudah jelas tidak akan terjadi apa-apa dengan pernikahan kita. Maka dari itu ku bilang ini bisa saya selesai kan nanti.."


"Selesaikan bagaimana? Aku tidak ingin anak itu dirumah ini, aku tidak mau menerima salah satu bahkan kedua nya dari mereka!! Ingat itu, Moeis. Jangan coba-coba untuk membawa mereka.."


Tentu saja Lyra membenci wanita itu. Amat sangat membencinya. Sampai-sampai ingin mengucapkan hal yang lebih buruk tetapi masih mencoba untuk menahannya.


"Baiklah.. saya tetap akan memprioritaskan kamu, Lyra. Saya tidak ingin mencampuri mu dengan mereka. Tidak akan.... / Tetapi berikan saya waktu untuk menghadapi masalah ini.."


"Kamu tidak akan tegas menghadapi ini!! Aku tau.. maka jangan salah kan jika aku akan ikut campur akan semua hal mulai saat ini.."


Moeis berjalan pergi ke ruang ganti. Sementara Lyra masih mengatur nafasnya.


Ia menengok ke belakang, ruang ganti yang terbuka lebar. Moeis membukan kemeja putihnya dengan perlahan-lahan.


Memperlihatkan punggung kekar tersebut. Tetapi tatapan nya memaku.


...


Punggung Moies dipenuhi luka-luka dan lebam. Terlihat seperti bekas cambukan besi bahkan sayatan panjang.


Lyra menutup mulutnya karena terkejut. Apa yang terjadi?


Apa Moeis menerima hukuman berat dari tuan Dave??


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2