
Kurang lebih satu jam lagi mereka akan berkumpul di restoran yang telah di reservasi.
Di dalam kamar, sejak tadi Lyra hanya duduk di sofa sambil menonton film. Ia juga belum berganti gaun malam karena tidak yakin akan bergabung dengan mereka atau tidak. Sedangkan ponsel Moeis masih off, tidak dapat dihubungi.
Perasaan sedih dan harap-harap cemas bercampur aduk menjadi satu hingga Lyra melewatkan beberapa part film karena melamun.
Hingga akhirnya Lyra mendapatkan pesan dari Becca, bahwa ia sudah turun ke bawah dan meminta Lyra untuk menyusul.
Lyra tidak ingin mengecewakan sahabatnya. Ia memutuskan untuk hadir sendiri, dan berharap mereka akan memahami kesibukan Moeis.
Ia berganti pakaian. Dress polos selutut berwarna biru dongker dengan dada yang lumayan terbuka yang ia beli bersama Moeis kemarin. Serta rambut yang ia gerai biasa namun tetap nampak anggun dengan polesan make up sempurna.
Mau tidak mau, Lyra segera memakai heels dan keluar kamar. Tiba-tiba matanya tertuju. Melihat pria yang di tunggu-tunggu dengan cemas. Tanpa berkata apa-apa, Lyra langsung memeluk Moeis dengan erat.
"Kenapa kamu baru datang hiks.." keluhnya memukul pelan punggung Moeis.
"Kamu menunggu saya?"
Lyra melepaskan pelukannya. Mata nya hanya berkaca-kaca, hampir saja menangis dan merusak make up.
"Tentu saja! Ku pikir kamu sudah ditelan bumi"
"Setidaknya saya datang kan.."
"Ya.. ya sudah. Kamu ingin berganti pakaian?"
"Bantu saya ambilkan kemeja di koper ini"
Mereka masuk ke kamar, dan Lyra menyiapkan kemeja untuk Moeis. Ia menyiapkan yang berwarna hitam.
Saat ingin memberikan nya kepada Moeis. Ia sedikit terkejut melihat Moeis yang membuka pakaiannya begitu saja. Di hadapannya. Hal itu membuat Lyra merasa gugup, tetapi mencoba untuk mengalihkan pandangan.
"Ada apa?" tanya Moeis.
"Ti-tidak…"
Moeis lalu mengambil kemeja dari tangan Lyra. Ia membiarkan kancing teratas terbuka dan menggulung kedua lengan kemeja hingga hampir sesiku.
Lyra hanya duduk di tempat tidur memperhatikan setiap gerak Moeis. Ia menyukai setiap kali Moeis memakai kemeja dengan gaya seperti ini.
Terakhir, Moeis berganti jam tangan dengan Rolex yang lain. Lalu, menyemprotkan parfum khasnya.
"Kita keluar sekarang?" tanya Moeis.
"Ya.. ini ponselmu. Dan…."
"Kenapa? Ada yang ingin kamu lakukan lebih dulu?
Namun, Lyra justru berjalan membuka tas nya dimeja. Ia mencari sesuatu. Setelah menemukan, ia memberikan kotak tersebut kepada Moeis.
"Kita akan bertemu sahabat dekatku. Dan aku sudah memakai cincin ini. Bisakah kamu juga memakai cincin pernikahan kita? Hanya untuk malam ini…" ucap nya ragu.
Moeis menatap Lyra, kemudian menerima cincin itu dan memakainya.
Lyra akhirnya dapat bernafas lega. Tidak di sadari ia begitu bahagia saat ini. Berjalan keluar bersama sambil merangkul lengan suaminya.
Sesampainya di restoran mewah yang dimiliki oleh resort ini, Lyra dan Moeis diantarkan oleh pelayan ke meja reservasi.
Ternyata mereka sudah sampai lebih dulu. Kedatangan nya dengan Moeis tentu saja sudah di nantikan oleh mereka.
"Lyra…."
Lyra memeluk sahabat-sahabat dan menyapa para partner.
__ADS_1
"Maaf ya kita telat…"
"Tidak apa-apa"
Setelah duduk dan menerima segelas red wine. Mereka mulai mengobrol. Dengan suasana malam gelap ditemani beberapa lampu dan menghadap ke arah pantai. Lyra juga sudah mengenal kan Moeis.
"Mmm.. Moeis, anda adalah orang sibuk. Terima kasih sudah menyempatkan datang" ucap Becca.
"Tidak masalah. Saya mengusahakan datang karena kalian adalah sahabat Lyra. Terima kasih atas undangannya. Maaf karena saya melewatkan acara penting kalian.."
"Ya, kami mengerti…"
"Tidak apa-apa"
Setelah makanan datang. Mereka hanya sambil terus menikmatinya saja.
Olla mendekatkan tubuhnya kepada Lyra dan membisik kan sesuatu. Beruntung ada suara musik juga, jadi tidak akan terdengar oleh yang lainnya.
"Suamimu terlihat sangat berkharisma dan aura konglomerat nya begitu kuat. Dia tampan…"
"Syuttt.. pacarmu nanti dengar" jawab Lyra kembali berbisik.
"Tubuhnya juga terlihat sexy dan kuat. Bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
Melihat wajah Olla yang tersenyum aneh. Lyra menggelengkan kepalanya.
Beberapa kali Moeis juga berbicara dengan Rudy, Max, dan Kelvin. Rasanya sebahagia ini, tidak dapat Lyra ucapkan dengan kata-kata.
"Karena Becca dan Max sudah sah. Lalu, selanjutnya adalah Olla dan Kelvin…" ucap Lyra.
Rudy tertawa, "Jangan berlama-lama bro"
"Biarkan aku yang menentukan tangga mereka..." sahut Becca.
Melihat mereka tertawa, Moeis pun tidak sungkan untuk ikut tertawa. Terlebih lagi Lyra juga terlihat senang.
"Aku doa kan juga, agar kalian cepat di hadirkan bayi-bayi yang lucu" ucap Olla.
Lyra hanya mengangguk tersenyum. Tetapi hatinya juga begitu berharap.
"Apa kalian sudah memiliki rencana tersendiri untuk memiliki anak? Ku rasa, sudah waktunya. Kalian sudah sangat cocok menjadi orang tua" tanya Kikan kepada Lyra dan Moeis.
"Ya.. kami menunggu. Tetapi aku dan Moeis masih sama-sama sibuk dan mungkin belum siap untuk itu" jawab Lyra dengan tenang. Padahal sudah lebih dari 2 tahun pernikahan.
"Jadi belum siap untuk sekarang?" tanya Kikan penasaran.
Kali ini Moeis menjawabnya, "Selain kesibukan saya. Lyra juga sudah mulai bekerja dan memulai aktifitas nya. Saya tidak ingin semua berjalan rumit. Tentu saja keturunan itu penting, tetapi mereka tidak hanya lahir untuk dibesarkan. Mereka juga harus siap dengan masa depan nya"
Lyra menyetujui ucapan Moeis.
"Ya…."
"Kamu memulai aktifitas apa?" tanya Kikan.
"Aku juga bekerja untuk Bara Group. Belum lama ini…"
"Ah.. apa itu perlu? Kamu hanya perlu menunggu suamimu pulang dirumah" ledek Olla.
Mereka tertawa.
"Awalnya begitu, tetapi aku bosan. Aku tidak ingin menyia-nyia kan kuliah yang begitu panjang.."
__ADS_1
"Wah, begitu ya"
///
Dinner malam ini telah selesai, dan Becca sangat berterima kasih dengan kehadiran Lyra dan Moeis.
Akhirnya mereka kembali ke kamar setelah pukul 10 malam.
Sementara Lyra menghapus make up nya. Moeis bersandar ditempat tidur sambil berkutik dengan ponselnya. Kesibukannya telah kembali.
"Terima kasih, sudah datang dan mau menemani ku. Terima kasih sudah bersikap hangat dengan sahabat-sahabat ku.."
Moeis menoleh beberapa saat.
"Tidak masalah. Saya menikmati waktu senggang ini…"
"Apa kamu sudah menyelesaikan pekerjaan di Kalimantan? Tidak tertunda karena ku kan?"
"Tidak, jangan khawatir"
Setelah selesai, Lyra berdiri dan menyiapkan piyama tidurnya.
"Kamu ingin mandi sekarang, atau aku dulu?" tanya Lyra memastikan sebelum ia masuk.
Namun pandangan Moeis tidak teralihkan.
"Kamu dulu.."
'Yasudah' Batin Lyra. Ia masuk ke kamar mandi dan langsung melepaskan gaunnya. Ia telah menyiapkan air hangat di bathtub. Badannya terasa pegal dan lelah.
Lyra menoleh mendengar pintu terbuka.
"Moeis?? Ke-kenapa kamu masuk?" tanya nya kembali menaikkan gaunnya.
Moeis tidak menggubris pertanyaan Lyra. Ia memeluknya dari belakang dan melingkarkan tangannya ditubuh Lyra.
"Moeis??"
"Hmmm"
"Kenapa kamu…"
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Lyra menerima kecupan di telinganya. Beberapa kali Moeis mengeratkan tubuhnya.
"Kita bisa melakukannya berdua"
Lyra membulatkan matanya mendengar ucapan Moeis.
"Apa… kenapa?"
"Tidak mau?"
Pertanyaan Moeis membuatnya gugup. Ditambah lagi saat ini Moeis perlahan membuka kancing kemejanya.
Lyra tidak tau harus melihat ke arah mana. Namun tangan Moeis menelusuri untuk menarik gaun dan melepaskan pakaian nya. Anehnya, Lyra hanya menurut saja.
Tanpa aba-aba, Moeis menciumnya, lalu ke dalam bathtub bersama. Lyra merasakan setiap sentuhan yang Moeis berikan kepadanya. Juga cengkraman tangan Moeis ditubuhnya.
"Aku mencintaimu…" ucap Lyra tanpa sadar.
Moeis yang mendengar nya lalu memperdalam ciumannya. Mereka mengeluarkan keinginan yang semakin kuat. Ditempat ini, tidak ada yang perlu ditahan lagi. Tidak ada yang dapat menghalangi mereka.
Bersambung...
__ADS_1