
"Sampai kapan kita akan tinggal disini?" tanya Moeis.
Kini Lyra sedang menyiapkan beberapa bahan pasta dari dalam kulkas.
Sudah 4 hari sejak mereka berdua tinggal di apartemen dan melakukan banyak hal sendiri. Memasak, mencuci, dan membersihkan tempat tanpa bantuan pelayan. Terasa seperti keluarga kecil tanpa gangguan apapun.
"Ini sangat nyaman kan? Hanya ada kita berdua. Biasanya banyak pekerja dirumah.." jawab Lyra.
Baru kali ini Lyra melihat Moeis pagi-pagi sudah duduk di sofa menonton berita di televisi. Selama 4 hari ini Moeis berangkat ke kantor lebih santai setelah Lyra selesai memasak sarapan dan mengobrol beberapa menit.
Alih-alih menyetujui berkeliling negara selama 1 bulan full untuk honeymoon, Lyra lebih menginginkan suasana ini. Hanya di apartemen saja.
Hubungan mereka semakin membaik. Begitu pula dengan Moeis yang konsisten memperbaiki sikapnya.
"Baiklah, kalau begitu saya akan membantumu memasak" ia mendekat dan melihat-lihat bahan dimeja. Ragu apa yang harus dikerjakan.
"Membuat pasta itu mudah, sudah menjadi keahlian ku. Karena saat di German aku sering sekali memasaknya, hampir setiap hari. Kamu duduk saja" ucap nya yakin.
Bukannya pergi dari sana, Moeis malah memeluk tubuh Lyra dari belakang.
"Kalau begitu saya akan mencuci piring" ucap nya santai lalu ke tempat pencucian piring. Masih ada beberapa yang kotor karena semalam mereka membeli makanan dari luar.
Lyra terkejut melihatnya. Mencoba untuk melarang.
"Tidak, tidak... kenapa kamu mencuci piring? Bagaimana kalau pecah semua nanti? Maksud ku tangan mu juga bisa terluka.. kamu kan tidak pernah mencuci piring"
Tetapi Moeis tidak mendengar kan Lyra, ia tidak ingin di larang. Meskipun terlihat kaku saat mencucinya, Moeis tetap menyelesaikan cucian tersebut.
Lyra sedikit tertawa melihatnya. Seorang CEO dingin yang pernah menjadi musuh nya, kini sedang mencuci piring.
"Jangan tertawa saja melihat saya, perhatikan sausmu itu.."
"Ah, benar! Aku hampir melupakan nya" jawab nya spontan lalu mengaduk saus di teplon yang hampir jadi tersebut.
Moeis tersenyum menggelengkan kepalanya.
Ada-ada saja.
Setelah beberapa saat. Akhirnya Moeis selesai, padahal hanya 3 piring dan 2 gelas.
"Kamu sudah selesai? Bisa bantu aku?" tanya Lyra.
"Ya, tentu saja" jawab Moeis sambil mengeringkan tangan menggunakan tisu.
__ADS_1
"Ambil kotak jus apel di kulkas dan tuangkan di gelas itu. Mudah kan?"
Moeis melihatnya, "Ya, sangat mudah"
Saat melewati Lyra, Moeis mencium pipi nya singkat.
"Pria nakal" cetus Lyra yang sedang menyajikan pasta di piring. Semua nya hampir selesai.
Seperti pagi sebelumnya. Mereka makan bersama di dekat kaca pembatas antara ruang tengah dan kolam renang. Suasana sangat nyaman. Bahkan lebih dari itu.
"Setelah ini kamu akan langsung berangkat?" tanya Lyra. Sepertinya ia ingin melakukan hal lain terlebih dahulu.
Moeis mengangguk, "Saya dijadwalkan langsung ke Bandung nanti pukul 11. Jadi bisa santai sedikit lagi.."
"Bagaimana kalau berenang saja? Kita sudah 4 hari disini, tetapi kolam renang tidak dipakai sama sekali. Aku tidak ingin menyesal setelah pulang nanti, Moeis" pinta Lyra. Meskipun tau Moeis pasti akan menolaknya.
"Ini sudah pukul 9..." jawab nya tenang.
Lyra menggeser kursinya, dan berbicara dengan dekat.
"Hanya sebentar saja.. 1 jam. Yaa?? Cuaca nya juga sedang bagus, lihatlah.."
Mendengar nada bicara Lyra yang sangat ingin melakukan nya. Moeis pun mengiyakan nya karena tidak ada pilihan lain. Meskipun jika Lyra ingin berlama-lama, ia bisa pergi lebih dulu nanti.
"Baiklah.. kita harus berganti pakaian sekarang kalau begitu.." jawab Moeis tersenyum.
.....
"Tidak dingin ya, mungkin karena matahari masih hangat. Ini adalah jam yang tepat.." ucap nya melakukan pemanasan terlebih dahulu di pinggir kolam. Ada 2 kursi kayu disana.
Moeis datang membawa 2 gelas minuman dingin dan di letakkan dimeja.
"Sepertinya, lain kali kita harus ke pantai. Kamu sangat indah memakai pakaian seperti ini.. " ucap Moeis setelah melihat Lyra yang hanya menggunakan bikini berwarna abu. Sementara ia masih menggunakan handuk putih di lilit sepinggang.
"Kalau begitu ingin ke pantai?" .Seperti nya ia menjadi tertarik dengan usulan Moeis. Sudah lama tidak ke pantai.
Moeis tersenyum. Ia hendak mencebur kan diri terlebih dahulu karena sudah pemanasan sebelumnya.
"Kamu ingin pantai mana dan kapan? Biar saya sesuai kan jadwal.." ucap nya mulai menuruni tangga kolam setelah melepaskan handuk. Hanya menggunakan celana super pendek hampir seperti pakaian dalam.
Tidak perlu khawatir, ini adalah kolam renang privat yang ada di apartemen nya. Tidak akan ada yang bisa melihat mereka.
Lyra menyusul Moeis masuk ke kolam perlahan. "Bagaimana jika 2 atau 3 minggu lagi. /Aku ingin ke Hawaii.."
__ADS_1
"Baiklah.. saya akan atur semunya, sayang"
Lyra tidak menyangka Moeis akan langsung setuju. Tetapi ia senang mendengarnya.
Setelah beberapa menit berenang sendiri-sendiri. Akhirnya Moeis mendekati Lyra dan meraih tubuhnya.
"Naiklah ke punggung.." ucap Moeis.
"Apa sudah tidak sakit?"
"Tidak. Itu hanya lah bekas luka.."
Lyra naik ke belakang dan melingkarkan tangan nya di leher Moeis. Dengan mudah Moeis berenang membawa Lyra. Ia sangatlah kuat.
"Apa yang ayah lakukan kepadamu?" tanya Lyra. Ia ingin tau bagaimana luka ini meninggalkan jejak yang begitu parah.
Awalnya Moeis tidak ingin memberitahu. Tetapi ia ingin hal seperti ini menjadi hal yang biasa bagi Lyra. Ya ini adalah keluarga Meyers. Yang mengerikan.
"Ini adalah kesalahan saya, dan saya tau hal seperti ini pasti akan terjadi..."
"Bagaimana.."
Mereka berhadapan.
"Dirumah kami, ada bangunan di belakang. Terdapat ruangan menuju bawah tanah yang terkunci rapi. Terdapat banyak senjata milik Ayah"
"Seperti kamu yang juga memiliki nya di gudang?"
"Ya... lain kali saya akan menunjukkan kepadamu. /Dan saat itu saya dibawa kesana.. terdapat besi setengah badan. Saya harus memegang nya erat untuk menahan rasa sakit. Kemudian satu persatu cambukan dilepas.." jawab nya santai.
Tetapi Lyra serius kali ini.
"Menggunakan apa?" nada nya melemah.
"Besi dan saya rasa ujung nya terdapat bengkokan. Karena kamu lihat ada sayatan-sayatan.."
Lyra mengangguk kaku. "Ya.. ada"
"Sudahlah... kamu pasti takut.."
Lyra mendekat dan mencium Moeis sambil melingkarkan tangan nya.
Hingga Lyra terpojok di pinggir kolam karena balasan dari ciuman Moeis yang semakin dalam dan tidak kunjung dilepaskan.
__ADS_1
Meskipun memang benar itu adalah kesalahan Moeis sendiri. Tetapi tetap saja, ayah mertuanya melakukan hal tersebut untuk membela nya. Perlahan Lyra dapat memahami keluarga ini. Bagaimana juga ia adalah bagian dari mereka.
Bersambung...