Killing Me Softly

Killing Me Softly
58


__ADS_3

Dengan kartu akses yang telah di berikan oleh Helena. Akhirnya Lyra dapat masuk dan melihat kamar apartemen Moeis. Ini adalah apartemen yang lain, dan Lyra belum pernah kesini sebelumnya.


Tempat tidur berantakan. Dan meja hanya penuh dengan berkas dan laptop yang masih menyala. Baju-baju tersampir begitu saja di sofa.


Setelah melepaskan heels nya, Lyra berjalan masuk perlahan.


Ia memunguti baju di lantai. Membereskan nya secara reflek.


Moeis tidak terlihat, tetapi terdengar suara air dari shower.


"Jadi dia benar-benar sibuk.." ucap Lyra pelan.


Setelah beres, Lyra duduk di sofa tanpa membereskan berkas disana. Ia takut ada yang terselip. Lebih baik tidak usah menyentuhnya.


Perasaan nya sudah tidak karuan.


Pintu kamar mandi terbuka. Dan Moeis keluar hanya dengan handuk putih di lilitkan di pinggang. Luka punggung itu terpampang nyata dan jelas dan akan membekas mungkin selamanya.


"Kamu datang? Maaf tempat ini berantakan..."


Lyra berusaha mengatur nada bicaranya.


"Sudah ku bereskan..."


Bukannya memakai pakaian nya. Moeis beralih ke dapur bersih untuk mengambil air mineral untuk Lyra.


"Di luar hujan, bagaimana kamu kesini?"


"Di antar, seperti biasa. Karena kamu sudah lama tidak pulang, aku datang kesini untuk memberikan ini..." ucap nya memberikan sebuah amplop surat.


Moeis yang masih berdiri, tidak menduga bahwa Lyra sudah membawa surat cerai tersebut.


"Kamu terlalu siap untuk bercerai hingga melakukannya terlalu cepat.. sedangkan saya lupa bahwa akan kehilangan kamu, karena perusahaan sedang terombang-ambing. Ini hanya.. terlalu cepat.. pikiran lagi Lyra.." ucap Moeis tulus.


Tatapan mereka bertemu.


"Ini sudah yang terbaik yang dapat ku lakukan.. untuk kita berdua.. aku tidak seegois itu, Moeis"


"Apa keluarga kamu sudah tau mengenai semuanya?" tanya Moeis.


Lyra diam sejenak.


"Tidak.. perlahan-lahan saja. Aku lebih tau bagaimana sifat mereka.. sudahlah.. buka berkas ini dan tanda tangani sekarang"


Moeis mengalihkan pandangannya untuk berpikir berat nya keputusan ini. Ia tidak menjawab apa-apa, hanya pergi untuk memakai jubah tidur nya.


Lyra berdiri memperhatikan Moeis.


"Kamu tidak mendengarkan aku???"


Masih tidak menjawab apapun. Lyra berjalan mendekat dengan kesal. Mencoba untuk mendapatkan jawaban Moeis.


"Jangan diam saja. Di mana pulpen mu.."


Saat hendak mencari pulpen, Moeis menarik bahu Lyra dengan kedua tangannya. Menghentikan nya tepat didepan dada dengan tatapan yang cukup dalam.


"Kamu benar-benar melakukan ini? Tidak ingin bersabar sebentar lagi..."


"Lalu kemarin-kemarin kenapa kamu tidak melihat kesabaranku..." jawab nya pelan.


"Kamu tau keadaan nya.."


Moeis adalah orang yang kaku, tidak tau bagaimana meluluhkan hati seseorang dengan benar.


"Ellie sudah meninggal..." ucap Lyra tiba-tiba.


Namun ekspresi Moeis datar menatapnya. Seperti melontarkan pikiran-pikiran lain.


"Tidak.. bukan aku yang membunuhnya.." sela Lyra memperjelas hal tersebut.

__ADS_1


Moeis menundukkan kepalanya di atas dahi Lyra sambil memejamkan matanya.


Mengapa Moeis tidak berkomentar mengenai Ellie? Apa dia tidak memperdulikan berita menyedihkan tersebut?


"Maka sekarang, saya adalah satu-satunya masalah bagimu?"


Lyra tidak berani menjawab pertanyaan Moeis. Posisi mereka sangat dekat. Tidak ada jarak.


Kemudian kepala Moeis perlahan turun ke wajahnya hingga mencium Lyra dengan lembut.


Tidak disangka, Lyra menerima nya tanpa penolakan apapun. Bahkan hingga Moeis selesai.


....


"Kamu tetap ingin bercerai.."


"Ya.." jawab nya singkat.


"Ini berat.../ berikan saya waktu untuk menandatangani berkas tersebut. Kita tidak bisa melalui ini dengan terburu-buru Lyra.."


Lyra menarik nafas nya berat berbalik kembali ke sofa.


"Ini bukan berkas spam, jadi kamu tidak bisa mengabaikan nya terlalu lama.. beri aku kejelasan.."


Kemudian Moeis berjalan menghampiri nya.


"Kalau begitu, sampai urusan saham beres. 1 minggu lagi..."


"Baiklah... aku akan pulang sekarang" ucap nya mengambil tas dan memakainya.


Setelah keluar, Lyra masih berdiri didepan lift sambil menghubungi sopir berkali-kali.


"Halo.. saya akan turun sekarang"


"Maaf, nyonya. Saya baru saja sampai dirumah"


"Apa???"


Lyra tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya. Ia langsung menutup panggilan. Dengan ragu kembali mengetuk kamar Moeis.


"Kamu masih di sini..."


"Kamu bawa mobil?"


"Tidak.. kenapa? Kemana pak sopir yang mengantarkan kamu?"


"Dia sudah kembali. Terjadi misscomm di antara kita.. ya sudah aku akan naik taksi"


"Di luar hujan, tidurlah disini.. ini sudah pukul 11 malam..."


Lyra tidak yakin dengan tawaran tersebut.


"Haruskah..." gumam nya tetapi tetap masuk begitu saja hingga membuat Moeis sedikit bingung.


"Tidurlah disana.."


Hanya ada satu tempat tidur.


"Bereskan sofa ini, aku bisa tidur di sini.." ucap Lyra datar.


Namun Moeis malah mendudukinya.


"Tidak bisa, saya selalu mengerjakan apapun di sini dan tertidur di sini. Dan masih banyak yang harus saya selesaikan. Kamu bisa tidur di sana.. kenapa begitu khawatir padahal kita masih berstatus suami istri.." sindir Moeis melihat wajah Lyra yang canggung.


"Hhhhh..."


Lyra pun langsung merebahkan tubuhnya dan langsung terlelap tidur. Ia sudah menahan lelah dari tadi.


.....

__ADS_1


.....


Keesokan pagi nya. Moeis bangun dan melihat Lyra sudah mengenakan pakaian olah raga.


"Dari mana kamu dapat pakaian itu?"


"Aku minta Helena membawakan salah satu miliknya" jawab nya cuek.


Moeis berdiri hendak ke kamar mandi.


"Kalau begitu kita bisa olah raga bersama"


"Apa??"


....


Akhirnya mereka sudah berada di jalur jogging dekat taman kota. Cukup banyak juga yang sedang berolah raga pagi. Lyra tidak bisa melarang Moeis untuk ikut dengannya.


"Kenapa kamu terus mengikuti ku?"


"Memang nya kenapa? Kamu keberatan?"


Tidak jauh dari sana. Lyra berhenti sambil mengatur nafas nya dan duduk di kursi taman. Mereka sudah berlari kira-kira 1 jam tanpa terasa.


Sementara Moeis, tadi terlihat pergi dan kembali membawa botol air mineral. Lalu membukakan tutupnya dan di berikan kepada Lyra.


"Minumlah... kamu sedang melihat apa?" tanya Moeis.


"Terima kasih../ lihatlah anak kecil bertopi ungu itu. Ayah nya berhenti setiap kali putaran lari untuk menyuapinya. Dan ibu nya hanya bermain dengannya menghirup udara segar.."


Moeis tidak mengerti.


"Apa yang sebenarnya kamu ucapkan? Kamu memuji siapa?"


"Aku memuji anak nya. Dia sangat lucu dan beruntung mempunyai orang tua seperti mereka.." jawab Lyra ketus. Moeis sangat tidak peka dengan apapun. Membuat Lyra selalu merasa kesal.


Setelah berlari baru beberapa menit. Lyra tiba-tiba menghentikan Moeis.


"Tunggu... berhenti dulu.."


"Ada apa??"


"Aku sudah lelah, aku ingin makan dulu. Terserah kamu mau ikut atau tidak"


Lyra berjalan menghampiri pedagang kaki lima penjual soto betawi. Dan langsung duduk disana tanpa ragu. Moeis hanya bisa diam mengikutinya.


"Terima kasih, pak.." ucap Lyra setelah menerima mangkuk nya.


"Kamu serius tidak mau? Ini enak..."


Moeis tidak memesan apa-apa. Ia tidak pernah memakan makanan tersebut.


"Lihatlah.. apa guna nya kamu berolah raga tetapi langsung makan makanan seperti ini.."


"Apa yang salah.." ucap Lyra acuh.


"Ya sudah habiskan saja..."


"Makanlah, satu suap saja.." .Lyra menyuapkan kepada Moeis. Namun di tolak beberapa kali. Karena ada pelanggan lain yang melihat ke arah mereka. Moeis pun mengalah, mau tidak mau ia menerima suapan tersebut.


"Bagaimana? enak kan?"


Moeis langsung meneguk banyak air.


"Saya tidak terbiasa dengan rasanya.." ucap nya terbatuk-batuk.


Hal itu membuat Lyra menahan senyuman nya. Lalu kembali ke ekspresi semula.


"Ini enak.." gumam nya lagi.

__ADS_1


"Cepat habiskan.. saya ada pekerjaan yang menunggu" sahut Moeis.


Bersambung..


__ADS_2