
Moeis telah selesai mandi dan saat nya turun untuk sarapan. Pagi ini ia tidak langsung pergi ke kantor, melainkan ada janji dengan ayah nya untuk pergi golf pagi.
Sementara Lyra sibuk menata, membereskan baju nya di lemari yang mulai tidak teratur.
Moeis duduk di kursi meja makan nya dan melihat hanya ada 1 piring kosong yang di siapkan.
"Kenapa hanya satu?"
"Nyonya sejak kemarin memasak sendiri, Tuan. Jadi kami hanya masak untuk pekerja saja"
Moeis menggelengkan kepalanya. Ia berpikir Lyra mulai melakukan hal-hal yang aneh lagi.
…
Lyra menata gantungan baju dengan acuh. Namun setelah Moeis keluar dari kamar, ia kembali menangis sesak. Saat ia bangun, sudah di tempat tidur. Lalu Moeis sudah bangun lebih dulu dan langsung mandi.
Mereka bahkan tidak melakukan komunikasi apa-apa. Itu membuat Lyra sedih, sebab ingin sekali Moeis datang dan berbicara kepadanya lebih dulu.
Setelah menunggu lama di kamar, Lyra turun untuk memasak.
Langkah nya melambat. Lyra mengira Moeis sudah berangkat, tetapi ternyata masih duduk di ruang tengah membaca koran. Ia berusaha acuh dan langsung ke dapur, mulai membuat menu baru yang lebih sederhana.
Moeis menyadari kehadiran Lyra, tetapi tetap diam.
"Tuan, mobil anda sudah siap"
Moeis berdiri dan bersiap pergi.
"Bawakan tas golf saya ke mobil.." ucap nya kepada pelayan.
"Baik, Tuan"
Sementara Moeis berjalan ke dapur menghampiri Lyra.
"Mari bicara siang nanti setelah saya pulang"
"Tidak mau" jawab Lyra singkat.
Hal itu membuat Moeis berhenti.
"Apa maksudmu tidak mau?"
"Aku membencimu, jadi jangan berusaha berbicara apa-apa dengan ku. Aku tidak ingin dengarkan juga.." entah bagaimana Lyra malah berkata begitu. Harusnya ia senang Moeis ingin mengajak bicara.
Tatapan Moeis menajam.
"Artinya kamu ingin masalah ini terus menjadi bisu? Sebenarnya apa mau mu?"
Lyra telah selesai, ia mematikan kompor nya.
"Kamu yang membuat masalah ini bisu. Kamu sudah menyakiti hatiku. Tetapi, dimana kamu beberapa hari ini? Sangat egois… membuat aku menderita sendirian" ucap nya menangis.
"Jangan marah tak berdasar! Apa kamu pikir saya menelantarkan pekerjaan untuk bermalam di club? Semua ada waktunya, masalah yang ini, persoalan yang itu. Sudah ada di kepala saya dan siap untuk berhantaman. Jadi jangan membuat saya marah dengan sikap mu yang mulai kekanakan… apa itu ingin memasak sendiri? Tidak masuk kantor??? Hhh" murka Moeis.
Suaranya yang tinggi dan menyeramkan membuat para pelayan kembali ke belakang. Mereka tidak bisa mendengar pertengkaran majikannya.
"Apa?? kekanakan… kamu akan menyesali nya sudah mengatakan itu. Memang benar, kamu suka bermain dengan banyak wanita. Lalu kenapa aku tidak bisa berpikir kamu tidur di club? Aku ini…."
Lyra tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Pikiran mu sudah terlalu jauh dan buruk pada saya. Menderita? Lalu bagaimana dengan saya?"
"Jangan salahkan aku. Aku memang tidak tau beban mu yang besar itu, masalah mu yang rumit. Kamu sendiri yang menutupinya!!!"
"Lyra…." ucapnya dengan menakutkan.
Sementara Lyra menatap nya dengan mata memerah.
"Kamu keterlaluan.."
Moeis tersenyum ngeri menggelengkan kepalanya.
"Katakan jika ingin berpisah, saya bisa mengabulkannya"
Ucapan Moeis langsung membuat Lyra diam membeku. Jantung nya serasa di tusuk oleh ribuan anak panah. Ia tidak percaya Moeis melontarkan kata-kata seperti itu. Padahal dia lah yang menyebabkan masalah ini.
Hingga Moeis berjalan pergi dan menghilang dari pandangan nya. Bibir nya masih tidak bisa bergerak. Memikirkan kembali ucapan Moeis.
Ia kembali ke kamar membawa makanan dan segelas air hangat nya untuk membuat susu. Namun hanya air mata yang terus mengalir di wajah pucat nya.
Apa ia harus memberitahu saja tentang kehamilan nya dan menjadi yang mengalah lebih dulu lalu meminta maaf atas semua yang terjadi?
Apa ia harus mengesampingkan ego nya?
Tangan nya bergerak dengan gemetar mengambil ponsel untuk menghubungi Moeis. Meskipun ia tau belum sampai 30 menit setelah Moeis pergi.
Namun, pikirkan kalut se kalut-kalutnya. Ia tidak bisa membayangkan ucapan Moeis yang tidak pernah main-main. Sedangkan sekarang ia sedang hamil.
Sempat menyalahkan diri sendiri. Menjadikan dirinya sebagai beban dan merasa stres.
Panggilan terus ia lakukan, tetapi tidak ada jawaban dari Moeis.
Lyra pergi ke rumah orang tua nya dan meminta kue tradisional yang biasa ibu nya buatkan. Ia hanya ingin menenangkan diri. Namun masih ragu memberitahu kabar kehamilannya entah apa alasannya.
Sementara Moeis telah menyelesaikan golf dan melanjutkan pertemuan santai bersama dengan teman-teman ayah nya di salah satu hotel yang mereka kelola juga.
"Moeis, kamu terlihat jauh lebih gagah sekarang" puji pak Reymon.
Mereka tertawa.
"Ingat anak saya, Celine? Dia sudah pulang dari Paris sekarang. Dan menanyakan mu"
"Ah, yang benar saja. Anak ku sudah menikah lah haaha" sahut Tuan Dave.
Moeis hanya tersenyum.
"Benar juga ya. Dulu kalian pernah kami kenalkan tetapi tidak melanjutkan hubungan. Ya sudah ya…"
"Kami lebih cocok berteman.." jawab Moeis.
"Benarkah… ya, mungkin dia akan menemui mu sekali, sebab Celine tidak percaya bahwa kamu sudah menikah"
"Baiklah.."
"Kalau begitu ajak Celine ke acara open house keluarga kami 2 minggu lagi.." ucap Tuan Dave.
Ah, Moeis melupakan acara tahunan keluarganya. Sedangkan rumah tangga nya sedang membuat nya kacau.
"Istri kita sudah lama membicarakan menantumu. Sebab istrimu tidak pernah mengenal nya" ucap Pak Martin.
__ADS_1
"Ya…. tenang saja, menantu kami tentu saja akan hadir" jawab Tuan Dave.
….
Bibi masuk ke kamar utama untuk mengantarkan madu yang Lyra pesan, tetapi pintu terbuka dan Lyra tidak menjawab. Seperti nya sedang di kamar mandi karena terdengar suara air.
Saat meletakkan madu di meja, Bibi melihat kardus susu di lemari kecil yang terbuka.
"Susu untuk kehamilan? Apa nyonya sudah hamil ya? Mungkin karena ini juga, nyonya membuat makanan sehat dan meminta madu" ucap Bibi pelan sedikit terkejut.
"Bi…"
"Nyonya, ini madu nya. Saya taruh di meja"
Lyra keluar dari kamar mandi.
"Ya, terima kasih. Bi, boleh saya minta di sediakan jagung di kulkas untuk besok pagi?"
"Baik, nyonya. Saya permisi"
Saat turun ke bawah, Moeis sudah duduk di meja makan. Masih dengan pakaian pergi. Dan ini sudah pukul 9 malam.
"Tuan, apa ada yang di perlukan?"
"Buatkan saya kopi, Bi"
Bibi pun membuatkan secangkir kopi yang seperti biasanya. Setelah selesai ia mengantarkan kepada Moeis.
"Ini, Tuan. Kopinya.."
"Terima kasih…"
Namun Bibi diam ingin mengatakan sesuatu. Ia tau keadaan majikannya sedang tidak bagus. Tetapi ia takut Moeis tidak mengetahui kehamilan Lyra sehingga masih membuat Moeis bersikap kasar. Ia sudah bertahun-tahun disini, hingga mengerti bagaimana karakter Moeis. Tepat nya 8 tahun dan termasuk pelayan yang tertua.
Bibi hanya ingin memastikan nya.
"Tuan, ada yang ingin saya katakan"
"Apa itu, bi? Apa ada masalah?"
"Tidak.. tetapi saya tidak yakin apakah anda tau. Apa benar, nyonya sudah mengandung?"
Moeis dengan cepat menjawab.
"Tidak, Bi. Belum"
"Tetapi, saya melihat perubahan aktivitas nyonya akhir-akhir ini"
"Sepertinya kalian sudah tau. Kami sedang tidak baik"
"Bukan itu, Tuan. Tetapi saat itu nyonya sempat sakit. Saya juga mendengar nyonya mual-mual saat lewat di depan kamar. Lalu, tadi… saya melihat susu kehamilan di kamar"
Moeis menoleh.
"Apa?"
"Iya, tuan. Saya yakin itu adalah susu untuk kehamilan. Mungkin karena itu juga nyonya sudah berhari-hari dirumah dan tidak berangkat kerja"
"Baiklah, setelah ini saya akan naik ke kamar"
__ADS_1
Bersambung..