
"Apa kamu ingin udang nya lagi?" tanya Lyra menyajikan makanan di meja makan.
"Nanti aku ambil sendiri saja, kak" jawab Mikha.
Pagi ini mereka sarapan bersama. Dirumah yang sepi dan ada 3 orang di meja makan. Lyra bangun lebih awal untuk menyiapkan semuanya. Juga mencuci pakaian yang sudah menumpuk.
"Ya sudah, aku mau antarkan makanan untuk security dulu.."
"Cepatlah, kamu juga belum makan" sahut Moeis.
"Iya.."
Lyra pun langsung kedepan untuk mengantarkan 2 porsi makanan, buah dan minuman.
"Apa rencanamu hari ini?" tanya moeis pada Mikha.
"Hmmm, tidak tau. Aku juga takut dirumah ini sendiri, karena kalian ke kantor. Mungkin pergi ke mall saja seharian.." ucapnya ringan.
Moeis menggelengkan kepalanya. Sudah jauh-jauh berkuliah di Belanda hingga Magister. Tetapi belum pernah mencoba pekerjaan apapun. Sangat berbanding terbalik dengan anggota keluarga yang lain. Dimana mereka mengutamakan pendidikan dan tentunya terjun langsung ke dunia kerja.
"Berapa tahun lagi kamu lulus?"
"Tahun depan. Ah, kenapa kamu mengingatkan lagi? Aku sudah sangat stress membayangkan hari itu terjadi..." ucapnya frustasi.
"Perusahaan mana yang sedang kamu incar?"
Mikha tersenyum aneh. Untuk apa memikirkan perusahaan mana. Lagi pula ia tidak ingin bekerja.
"Tidak ada. Untuk apa aku bekerja? Ibu pasti akan langsung menarik aku pulang dan menjodohkan dengan pebisnis kaya. Lagi pula kamu ini kaya raya, Bara Group lebih besar dari pada perusahaan papa ku. Tega nya menyuruh istrimu tetap bekerja..."
Moeis terbatuk mendengar nya. Ia tidak menduga Mikha akan berbicara seperti itu. Sepupunya ini sudah salah paham dengannya.
"Dia bekerja atas kemauannya sendiri. Lyra ingin menggunakan ilmu nya selama berkuliah dan membantu pengawasan keuangan perusahaan saya.. " jawabnya yakin.
Mikha berdecak tidak percaya.
"Kamu tidak mengerti isi hatinya! Semua perempuan pasti ingin menjadi ratu, ingin menjadi nyonya yang hidupnya sempurna. Seperti aku yang ingin menjadi princess saat sudah menikah nanti! Selalu di layani, mendapatkan semua yang kita mau, bisa memerintah sesuka hati. Wanita mana yang tidak mau hidup seperti itu??"
Meski begitu Moeis mendengarkan ucapan Mikha dengan serius. Ia memikirkan, apakah itu benar?
"Tidak semua wanita sama. Dan Lyra berbeda denganmu"
"Ya sudah kalau tidak percaya..."
Terlihat Lyra sudah kembali dan bergabung di meja makan.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya nya penasaran.
"Kami membicarakan tentang princess.." jawab Mikha dengan nada bak seorang story telling.
Moeis melihatnya dengan tatapan aneh. Sementara Lyra tidak mengerti mengapa mereka membicarakan princess.
__ADS_1
///
Lyra dan Moeis berada di lift yang sama menuju lantai atas. Mereka berangkat bersama dan Moeis lah yang menyetir mobil.
Lift menunjukkan lantai 39, Lyra bersiap keluar.
"Aku sudah sampai... bye" ucapnya lembut.
Moeis mengangguk. Tetapi akhirnya ikut keluar dari lift. Lyra melihatnya bertanya-tanya.
"Kenapa kamu keluar? Ruangan mu masih di lantai atas? Ada apa?"
"Kita bicara di ruanganmu.. " ucap Moeis singkat. Ia berjalan lebih dulu, tidak ingin di perhatikan oleh karyawan nya.
"Ada apa?" tanya Lyra menutup pintu ruangannya.
Moeis nampak ragu ingin bicara atau tidak. Mereka duduk di sofa bersama.
"Apa kamu benar-benar ingin bekerja? Katakan yang sebenarnya.."
Lyra tidak mengerti. Ada apa dengan pertanyaan itu? Apakah pekerjaan nya tidak memuaskan?
"Iya.. aku serius dalam bekerja. Aku berusaha melakukan yang terbaik"
Namun tangan Moeis menghentikan ucapannya.
"Tidak, bukan itu yang saya tanyakan. Tetapi, apa kamu benar-benar ingin bekerja atau dirumah saja seperti... berbelanja atau berkumpul dengan sahabat-sahabatmu?"
Seharusnya ia membiarkan Lyra menikmati uang nya saja. Memberikan semua yang ia mau.
"Aku tidak mengerti dengan pertanyaan mu. Kan memang aku yang mau.. aku benar-benar serius dengan keputusan itu. Ada apa denganmu.."
Lyra justru tertawa ringan melihat sikap Moeis seperti ini.
"Baiklah.. tetapi katakan saja kapanpun kamu merasa lelah dan ingin berhenti. Ada banyak orang yang ingin mendapatkan posisimu juga.."
Lyra memeluk Moeis dari samping.
"Hmm.. siapkan saja orang itu. Lalu aku akan berhenti saat mengandung nanti. Yaa??"
Moeis mengangguk dan tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu saya ke ruangan sekarang. Kita bertemu di rapat nanti.." ucapnya mengelus kepala Lyra.
"Baik, pak"
Lyra mengantarkan Moeis keluar dan melihat sekretaris nya di meja depan berdiri dan membungkuk menyalami Moeis.
Setelah Moeis memasuki lift. Lyra menghampiri meja Valerie.
"Apa kamu sudah menyiapkan untuk rapat?"
__ADS_1
"Sudah, Bu. Sebentar lagi kita bisa langsung menuju meeting room"
"Baiklah.."
Lyra mencoba untuk melihat sedikit ke arah kaki Valerie. Ternyata sekretaris nya belum mengganti heels dengan yang seharusnya.
Tetapi Lyra sudah menyiapkan heels tersebut. Ia memesannya sendiri dan di kirimkan melalui kurir.
Lyra kembali setelah mengambil nya dari ruangan.
"Valerie.. pakailah ini untuk masuk bersama saya ke rapat nanti. Saya tidak ingin kamu terlihat berbeda dengan sekretaris lain. Gunakan agar terlihat profesional"
Sekretaris nya menatap tidak percaya dan membuka box tersebut. Ia tidak tau harus berkata apa, bersyukur atau malu.
Valerie menundukkan kepalanya.
"Terima kasih, Bu. Saya akan pakai dan mengembalikan nya nanti. Maaf karena belum juga mendapat heels seperti ini.."
"Tidak perlu mengembalikan nya. Ini untukmu. Anggap saja hadiah pertemuan kita. Ya sudah, saya akan ambil dokumen di dalam"
Sementara itu, Valerie berganti heels dan mengumpulkan kepercayaan dirinya. Lalu mengambil beberapa keperluan rapatnya.
Ia mengikuti langkah Lyra memasuki ruang rapat di lantai 40.
Di dalam ruangan besar dengan meja luas dan memanjang ini beberapa petinggi sudah hadir bersama sekretaris mereka yang duduk di kursi belakang nya.
Lyra mendapat posisi urutan ke 3 dari ujung, kursi yang akan Moeis duduki.
Tidak berselang lama, pintu terbuka dengan kehadiran Moeis. Mereka saling menatap hanya seperkian detik saja untuk menjaga ke-profesionalan.
Di tengah-tengah berjalannya rapat. Lyra melihat ponselnya menyala. Terdapat notifikasi pesan masuk.
Moeis: Kapan kamu maju ke depan?
Lyra sedikit memperhatikan kanan kirinya. Agar tidak ada yang melihat layar ponselnya. Mencoba tetap seanggun dan setenang mungkin.
Lyra: Ku pikir setelah ini, kenapa?
Moeis: Tidak..
Lyra: Jangan aneh-aneh. Aku tidak ingin melakukan kesalahan karena mu. Oke?
Moeis: Iya, iya...
Dan benar. Kini saatnya lyra untuk maju ber presentasi.
Beberapa sekretaris nampak berbisik kecil melihatnya. Mereka cukup kagum dengan kecantikan istri dari CEO mereka. Dan melihat mereka berdua didalam satu ruangan tanpa menyapa sedikitpun cukup menjadi perbincangan di grup chat para karyawan.
Moeis mengirimkan pesan agar dibaca oleh Lyra begitu selesai nanti.
Moeis: Aku akan membunuh mereka para pejabat tua yang melihatmu dengan tatapan terpesona.
__ADS_1
Bersambung...