
Lyra telah sampai di stasiun kereta di dekat pasar. Ia akan menunggu Barack datang. Sebelumnya ia sudah membelikan seragam sekolah dan alat tulis. Semuanya berkat bantuan Moeis yang mentransfer kan uang sejumlah 40 Juta. Namun Lyra sudah berkontak dengan Barack lewat pesan dan mereka berencana menyekolahkan adik tersebut di sekolah negeri sehingga uang nya dapat menjadi uang tunjangan kebutuhan lain nya.
"Lyra…" sapa Barack.
"Hei.."
"Sudah lama?"
"Belum.. mmm.. sekarang kita langsung ke rumahnya saja"
Barack berhenti.
"Apa kamu sudah tau di mana tepat tinggalnya?"
"Ya, tadi aku sudah bertanya pada penjual beras yang kemarin"
"Baiklah.."
Mereka pun berjalan tidak jauh dari stasiun, memasuki perumahan kumuh yang kebanyakan ditutupi hanya dengan terpal dan triplek kayu. Jalan semakin terjal dan tertutup banyak sampah, dengan bau tidak sedap.
"Di sebelah sana.." tunjuk Lyra memimpin jalan.
Akhirnya mereka melihat kedua adik tersebut didepan rumahnya sedang mengumpulkan botol. Lyra bertemu orang tuanya adik tersebut yang ternyata bernama Ryan. Barack yang memulai berbicara dan menyampaikan niat baiknya untuk menyekolahkan Ryan. Dan mereka sangat bersyukur karena orang tua Ryan menerima nya dengan baik. Sementara adiknya belum mencukupi usia untuk masuk sekolah.
Barack akan mengirimkan sepeda dan meja belajar, sementara Lyra memberikan seragam tadi. Ia berbicara pada ibu Ryan untuk membuat buku rekening agar dapat mentransfer uang nya menjadi tabungan.
Kurang lebih satu jam mereka mengobrol didalam. Kini sudah waktunya pulang, mereka keluar bersama.
"Besok saya akan kembali lagi, Bu. Semoga Ryan dapat bersekolah dengan baik agar cita-cita nya tercapai" ucap Barack.
Lyra memeluk Ryan.
"Semangat ya, Ryan" ucap Lyra.
"Ya, kak"
"Terima kasih banyak. Saya tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan kalian. Saya sangat bersyukur ada yang membantu Ryan.." ucapnya sambil menangis.
"Jangan di pikirkan, Bu. Yang penting Ryan belajar dengan baik, sudah membuat kami senang"
"Benar, Bu"
….
3 hari berlalu.
Pagi hari yang cukup sibuk. Sebab semua pekerja sudah kembali dan memulai aktifitas nya masing-masing.
"Bagaimana dengan anak itu?" tanya Moeis sambil memakai jas nya.
Lyra pun juga sibuk memakai make up di meja rias.
"Namanya Ryan… dan dia akan mulai bersekolah 2 bulan lagi. Ku harap Ryan melakukan yang terbaik.."
"Apa kamu memiliki fotonya?"
Mendengar pertanyaan Moeis, Lyra menoleh. Ia telah menyelesaikan make up. Dan bersiap turun untuk sarapan bersama.
"Ya, aku punya. Ku tunjukkan nanti di meja makan"
Hari ini Lyra akan menemani Moeis memenuhi undangan konferensi bisnisman asia-eropa di gedung pertemuan besar. Moeis mendapatkan undangan gold khusus orang-orang penting dengan pelayanan VVIP.
Mereka turun dan duduk bersama di meja makan. Pagi tadi Lyra sudah menyapa para pelayan untuk kembali bekerja.
Makanan telah di sajikan. Moeis dan Lyra mulai menikmatinya.
"Kamu ingin lihat sekarang?"
Moeis mengangguk. Ia masih mengunyah makanannya. Sementara Lyra hanya makan sedikit pagi ini. Ia sudah selesai lebih dulu.
"Ini.. Ryan yang lebih tinggi. Dan ini adiknya. Lihatlah rumah mereka…"
__ADS_1
Lyra menujukan foto tersebut dari ponselnya.
"Apa kamu ingin membantunya dengan tepat tinggal juga?" tanya Moeis.
"Mereka menolak bantuan lainnya. Ku pikir lebih baik kita bantu sedikit-sedikit dulu. Lagi pula masih banyak orang lain yang membutuhkan bantuan pendidikan. Setidaknya aku ingin membantu beberapa dari mereka.."
Moeis tersenyum.
"Baiklah.. katakan saja jika kamu butuh bantuan saya"
"Ok.."
Lyra mengambil tomat cherry menggunakan garpu dan hendak menyuapkan kepada Moeis.
"Ada apa?" tanya Moeis melihat garpu dihadapannya.
Hal itu membuat Lyra sedikit cemberut.
"Makanlah, ini untukmu.."
Moeis terkekeh. Namun tetap memakannya.
"Kenapa kamu hanya makan sedikit? Apa tidak enak?" tanya Moeis.
"Ini enak. Tetapi perut ku sedang tidak enak. Lagi pula nanti kita akan makan lagi disana. Berat badanku sudah bertambah 3 kilo, apa kamu menyadarinya?" tanya nya sambil tertawa.
Moeis melihat Lyra dari atas sampai bawah.
"Kamu masih cantik seperti biasanya. Jangan terlalu kurus, seakan-akan seperti ku terlantarkan.." ucap nya asal.
Lyra memukul pelan bahu Moeis dan tertawa.
"Apa.. kamu sudah bisa bercanda ya sekarang? Siapa yang mengajarimu?"
"Apa itu lucu?"
"Tentu saja.."
Pandangan mereka teralihkan dengan seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar tamu menggunakan piyama tidur dan rambut acak-acakan.
Mereka hampir melupakan bahwa Mikha masih menginap dan meninggalkan barang-barang disini.
"Mikha.. ada apa denganmu?" tanya Lyra.
Gadis itu terlihat menderita.
"Hey, apa kamu gelandangan??" ketus Moeis.
Mikha mengerang.
"Aku bisa gilaaaaaa!!!"
Wajahnya sembab dengan kantung mata panda, semalaman telah menangis tanpa jeda.
"Ingin bercerita?"
"Bercerita? Kita harus segera berangkat" sahut Moeis.
"Dengarlah kakak.. aku sangat stres karena Meidro!! Laki-laki itu telah menguji perasaanku! Dia gila, dia pasti gila…"
Di pagi hari yang cerah, Mikha justru meraung dan menangis di meja makan, membuat beberapa pelayan penasaran.
"Kenapa?"
Mikha memajukan tubuhnya.
"Meidro berfoto dengan wanita sexy disana! Mereka menginap di gunung berhari-hari … jika aku tau akan ada wanita penggoda, tidak akan ku ijinkan Meidro pergi!! huaaa"
Moeis memijit pelipisnya. Hanya Lyra yang menanggapi Mikha.
"Jangan langsung menyimpulkan. Apa kamu sudah berbicara dengan Meidro? Apa dia sudah pulang?"
__ADS_1
Mikha menggelengkan kepalanya. Dan masih sempat-sempatnya mencomot udang di meja.
"Sudah, dia bilang akan menjelaskan nanti. Tapi tidak membantahnya dan justru membela wanita itu!! Aku sudah minta dia menghapus nya dari sosial media tapi masih ada sampai sekarang" tangisan nya semakin pecahm
"Tenangkan dirimu, minta Meidro cepat-cepat ke sini"
"Sudah.. Lyra kita akan terlambat" sahut Moeis.
Karena waktu yang semakin mepet. Lyra pun berdiri.
"Pelayan Yuan???" panggil Lyra.
"Ya, nyonya?.."
"Tolong jaga Mikha dan bantu dia, ya"
"Baik nyonya.."
///
Moeis dan Lyra sudah sampai di gedung tempat konferensi. Pintu terbuka lebar dan terdapat meja registrasi. Banyak orang dengan pakaian formal berlalu lalang dan mengobrol.
Pembicara kali ini cukup terkenal di kalangan pebisnis dan berasal dari eropa.
"Jangan tinggalkan aku ya?"
"Tenang saja.."
Beberapa kali Moeis di sapa oleh rekannya. Lyra pun juga di perkenalkan pada mereka. Hal itu cukup membuatnya gugup.
Pandangan nya beralih. Lyra seperti melihat seseorang yang ia kenal.
"Barack…"
Terlihat Barack berjalan dengan 2 orang lainnya di belakang nya. Pakaian nya yang formal mengeluarkan kesan yang berbeda saat bertemu di pasar.
"Kita bertemu di sini.." sapa Barack.
"Ya, aku menemani suamiku.."
Moeis yang semula masih mengobrol dengan kenalannya. Kemudian berbalik badan dan menghadap Barack. Matanya terpaku tanpa ekspresi. Mereka berdua sama-sama diam.
Lyra tersenyum dan hendak mengenalkan nya.
"Moeis, ini Barack. Dia juga ikut membantu Ryan kemarin…"
Namun suasana menjadi dingin.
Barack mengangguk.
"Kami saling mengenal.."
"Ah, benarkah. Kalian rekan bisnis?".
Tidak ada yang menjawab. Terlihat Barack lebih santai dari pada Moeis.
Tanpa berbicara apa-apa, Moeis pergi untuk masuk ke dalam meninggalkan Lyra dan Barack.
"Aku harus pergi.. menyapa teman"
Setelah Barack pergi. Lyra mencari Moeis di dalam.
"Ada apa? Kenapa kamu tidak menyapa nya dengan baik?"
Moeis menoleh dengan sikap dingin.
"Fokus la pada acara ini, Lyra. Itu tujuan utama mu datang bersama saya. Bukan yang lain.."
Lyra tidak menduga jawaban Moeis.
"Ya, baiklah…"
__ADS_1
Bersambung...