Killing Me Softly

Killing Me Softly
29


__ADS_3

Ellie berjalan menghampiri Lyra di ruang tamu yang sedang merangkai bunga mawar putih terakhirnya. Ia membawakan beberapa desain baju untuk Lyra hadir dalam interview bersama Moeis esok hari.


"Nyonya, anda bisa memilih nya sekarang. Silahkan.." ucap Ellie memberikan sebuah tablet.


Namun Lyra tidak langsung menerimanya. Ia masih sibuk menggunting tangkai mawar beberapa kali.


"Nyonya.." panggil Ellie.


Lyra meletakkan peralatannya. Vas bunga nya telah selesai dengan cantik.


"Kenapa kamu tidak menikah?' tanya Lyra. Ia mulai memilih desain pakaian.


Sementara Ellie tidak siap dengan pertanyaan Lyra yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


"Maaf nyonya. Sepertinya saya tidak dapat menjawab pertanyaan pribadi.."


Lyra menoleh dengan garis senyum di wajahnya. Apa? Dia tidak ingin menjawab?


"Kenapa?"


"Saya tidak pernah membicarakan kehidupan pribadi kepada orang lain" jawab nya dengan yakin.


"Aku rasa kamu harus menjadikan ku pengecualian. Katakan saja.. kita harus memperjelas semuanya, Ellie. Aku tidak bisa diam dan kau harus menikah. Semua wanita harus bertemu dengan pasangan sejatinya…"


Itu lah yang Lyra pikiran setiap malam. Jika saja Ellie sudah menikah, ia akan merasa lebih tenang. Rasanya seperti tidak ingin kehilangan Moeis dari kehidupnya.


"Saya hanya tidak pernah memikirkan nya, Nyonya. Saya baik-baik saja tanpa menikah.." jawab Ellie akhirnya mau sedikit terbuka.


'Tetapi aku yang tidak baik-baik saja!' Batin Lyra.


Saat ini Ellie sedang merasakan penghinaan oleh pertanyaan Lyra. Ia tidak suka membicarakan mengenai pernikahan. Tetapi apa boleh buat, yang bertanya adalah nyonya nya sendiri.


"Usia mu tidak berbeda jauh denganku. Atau mungkin kamu sedang menyukai seseorang?"


Ellie terlihat gugup.


"Tidak ada nyonya"


"Mau ku kenalkan dengan seseorang? Katakan, tipe pria yang kamu sukai. Akan coba ku carikan.."


Lyra tidak tau apa yang terbaik untuk saat ini. Namun, saat ia menawarkan calon kepada Ellie, ia akan benar-benar mencarikan yang terbaik. Bukan seseorang yang tidak jelas asal usulnya. Ada baiknya juga, jika Ellie mendapatkan pasangan yang ia sukai.

__ADS_1


"Saya rasa tidak perlu, nyonya. Terima kasih atas perhatian anda. Tetapi, saya masih menikmati bekerja dirumah ini. Tidak ada waktu untuk mengurus rumah tangga sendiri.."


"Baiklah.. jika itu alasanmu. Saya sudah memahaminya.. kalau begitu jika waktumu sudah longgar, aku akan coba carikan pria untukmu. bertemulah dengan dia dan kenali dia dengan baik. Bagaimanapun juga aku, niat ku adalah membantumu.."


Tidak ada yang dapat Ellie katakan untuk saat ini. Sebab ia mendengar suara mobil Moeis baru saja datang.


Lyra menyadari kehadiran Moeis dan berjalan mendekat dengan pelukan singkat. Ellie menatapnya dengan tidak biasa. Ia membungkuk memberikan salam pada Moeis.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Moeis.


"Aku baru saja selesai merangkai bunga. Dan memilih desain pakaian untuk besok…" jawab Lyra.


Moeis mengangguk.


"Benarkah.."


"Nyonya juga menawarkan saya untuk dikenalkan kepada seorang pria agar saya dapat menikah.." sahut Ellie dengan senyuman, seakan-akan menerima tawaran Lyra.


Tatapan Lyra beralih. Ia menunggu respon Moeis.


"Apa kamu menerima nya?" Tanya Moeis kepada Ellie.


"Iya, Tuan" ekspresi nya berubah.


"Tenang saja, aku memiliki teman lama.."


Ellie sama sekali tidak percaya dengan respon Moeis.


///


Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat didepan lobby perusahaan. Moeis dan Lyra keluar bersama dan hendak menuju lantai teratas untuk menerima interview hari ini.



Pihak majalah sudah datang satu jam lebih awal untuk mempersiapkan set dan lainnya dibantu oleh Helena.


Hari ini cukup membuat Lyra gugup dan membutuhkan kesiapan percaya diri sejak semalam. Lyra sempat berpikir apakah ia pantas untuk mendampingi Moeis.


Ketua team dari pihak majalah terlihat sedang berdiskusi dengan Helena. Mereka menyambut kedatangan Lyra dan Moeis.


"Selamat pagi…"

__ADS_1


"Selamat pagi.. terima kasih atas kunjungannya" ucap Moeis.


Mereka melakukan briefing selama kurang lebih setengah jam sambil menikmati teh pagi yang sudah Helena siapkan. Kemudian sekarang adalah saatnya untuk interview di sofa yang telah di atur didepan jendela besar.


Tidak hanya untuk majalah saja, tetapi mereka juga akan membuat video berdurasi 34 detik untuk cuplikan video.


Interview kali ini akan sedikit berbeda juga untuk Moeis. Sebab sebelum nya ia hanya menerima interview seputar bisnis tetapi kali ini lebih kepada gaya hidup nya bersama Lyra.


Pewawancara tersebut bernama Kim. Mereka telah melakukan sapaan dan mulai dengan pertanyaan pertama dari beberapa pertanyaan yang akan diajukan.


Kim: "Bagaimana pertemuan kalian terjadi hingga akhirnya menikah?"


Moeis: "Sebenarnya kami bertemu dan menikah karena keluarga. Saya tidak yakin dapat menemukan wanita yang tepat untuk kehidupan saya dimasa depan. Maka dari itu saya menyetujui"


Lyra: "Benar. Saat itu saya juga masih melanjutkan pendidikan di German. Keluarga lah yang mengatur semuanya .."


Kim: "Jadi bisa dikatakan bahwa pernikahan terjadi melalui perjodohan keluarga?"


Lyra: "Ya, kurang lebih seperti itu"


Kim: "Baik, apakah ada campur tangan bisnis dalam pernikahan anda?"


Moeis: "Kenapa tidak.." (why not) jawab Moeis dengan santai. Ia berbicara apa adanya.


Pewawancara tersebut tersenyum. Dan Lyra menganggukinya.


Kim: "Kemudian, saya ingin bertanya. Bagaimana peran anda dalam mendampingi Pak Moeis, yang kita semua tau bahwa Bara group semakin menguasai perekonomian di negara ini?"


Mendengar pertanyaan tersebut, Moeis perlahan melihat wajah Lyra. Ia juga ingin mendengar jawabannya.


Lyra: "Saya tidak yakin apakah peran saya ber'arti. Sebab tidak banyak yang dapat saya lakukan untuknya. Kami banyak membuang waktu dimasa lalu. Dan, sepertinya justru saat inilah peran saya sebagai istrinya baru di mulai. Meskipun hanya sebatas mendampingi dan tidak bisa berbuat banyak" jawab Lyra dengan intonasi tenang dan rendah.


Moeis: "Kamu melakukan dengan baik" sahut Moeis.


Hal itu membuat Kim dan team nya tersenyum. Helena juga masih disana untuk melihat jalannya interview.


Kim: "Kalian memiliki hubungan yang kuat dan aura yang berbeda. Lalu … di usia pernikahan yang sudah melewati 2 tahun ini.. apakah momongan menjadi hal yang anda tunggu dalam waktu dekat?"


Lyra: Mmm.. kami selalu menunggu nya. Tetapi bukan sesuatu yang terlalu di prioritas kan… jika memang dipercayakan, hari itu akan datang.."


Moeis tidak tau harus bereaksi bagaimana. Tetapi tetap mengiyakan. Sementara Helena sejak tadi menyimak sambil menggenggam ponselnya yang terhubung panggilan dengan Ellie. Sehingga Ellie juga mendengarkan nya dari rumah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2