Killing Me Softly

Killing Me Softly
14


__ADS_3

"Akhirnya kita semua benar-benar menikah. Dan, Becca adalah yang terakhir. Ku kira kamu akan menikah di Jerman"


"Ah, aku juga sangat senang. Padahal beberapa hari ini ada saja yang membuat hatiku bergejolak.." jawab Becca tersenyum lega.


Lyra, Becca dan 3 teman lainnya berkumpul di sebuah restoran Prancis untuk makan siang bersama. Mereka juga akan membicarakan mengenai pakaian dan lain-lain.


Tepat hari ini adalah 10 hari sebelum pernikahan Becca yang akan dilaksanakan di Bali. Hanya mengusung konsep modern sederhana dengan kain dan bunga berwarna putih dan bertempatkan outdoor.


"Jangan lupa memberitahu suami kalian untuk hadir oke?" ucap Becca.


Lyra tersenyum ragu.


"Baiklah…"


***


Mobil yang dikendarai Lyra sampai di halaman rumah. Ia keluar dengan membawa makanan yang dibelinya, berjalan memasuki pintu utama.


Beberapa pelayan nampak sibuk menyajikan masakan dimeja makan. Lalu Ellie berada di ruang tengah.


"Siapa yang datang..?"


Mereka menoleh.


"Papa, mama???"


Lyra begitu terkejut melihat kehadiran orang tuanya yang tiba-tiba. Mereka berpelukan, mengingat sudah sangat lama tidak bertemu.


"Maaf kan aku seharusnya sudah mengunjungi kalian.."


"Tidak apa-apa.."


Setelah sedikit bercerita, mereka pun makan malam bersama. Saat mama nya menanyakan kepulangan Moeis, ia hanya bisa menjawab bahwa suaminya itu akan pulang larut karena ada beberapa masalah perusahaan yang harus segera ditangani.


Pertanyaan khas juga ia terima, yaitu mengenai kehamilan. Hal itu sedikit membuatnya gugup. Lyra harap, keluarga nya tidak tau bagaimana situasi rumah tangganya dengan Moeis yang masih berantakan.


"Ayah sekarang sedang mengembangkan bisnis berkat bantuan ayah mertuamu. Sejak muda kami bersahabat, meskipun ia kaya raya tetapi tidak melupakan orang seperti ayah yang hanya pebisnis menengah. Mereka adalah keluarga yang baik. Bagaimana dengan Moeis?"

__ADS_1


Ekspresi dan posisi tangannya berubah entah bagaimana.


"Moeis menjagaku dengan baik, pa. Dia memang memiliki sikap dingin tetapi banyak hal hebat yang bisa ku pelajari mengenai bisnis dari nya"


"Ya.. papa sudah mendengar jika kamu akan segera mendapatkan posisi tinggi di perusahaan. Kapan kamu akan mulai?"


"Besok aku akan menandatangani dokumen dan diperkenalkan secara resmi.."


"Kamu harus melakukannya dengan baik agar dapat membantu mereka"


Lyra mengangguk.


"Sudah cek kesehatan? tidak ada masalah untuk segera hamil kan?"


"Sudah, ma. Tenang saja, jika sudah diberi aku pasti kabari kalian"


****


Pukul 1 dini hari, Lyra masih belum bisa tidur sehingga membuatnya tidak nyaman berada didalam kamar. Ia pun keluar menggunakan piyama tidur dan luaran cardigan panjang dengan rambut terurai.


Rumah ini sudah sepi, semua pelayan sudah berada dikamar nya masing-masing. Ah, Lyra hanya merasa ingin memakan sesuatu yang ringan.


"Kentang goreng di malam hari? terdengar aneh, tetapi aku sangat ingin" ucapnya menyerah.


Ia menyalakan kompor dan menuang minyak goreng. Tangannya membolak balikan kentang dengan senyuman tipis.


"Apa yang kamu lakukan di tengah malam?" tanya Moeis dengan pakaian formalnya.


Biasanya Lyra menyadari kehadiran mobil Moeis didepan. Tetapi kali ini tidak.


Lyra sedikit terkejut.


"Kamu baru pulang? Mmm.. Aku, hanya ingin memakan sesuatu"


"Kenapa tidak meminta pada pelayan? Besok kamu akan datang ke perusahaan, bagaimana jika terjadi hal buruk saat memasak?" tanyanya dengan nada sinis.


Lagi-lagi Lyra harus mendengar omelan Moeis.

__ADS_1


"Aku bisa melakukannya sendiri, lagi pula ini adalah waktu istirahat mereka. Kamu mau kentang goreng?"


Moeis menghela nafasnya.


"Tidak. Tetapi, bawakan air madu hangat. Saya sedikit lelah"


Memang terlihat lelah, Lyra juga menyadarinya.


Setelah selesai dan memakan nya satu persatu sambil bermain sosial media, Lyra membuatkan air madu hangat yang Moeis minta. Ternyata dia masih mengingat minuman ini, yang pernah ia buatkan.


"Minumlah selagi hangat"


Lyra berjalan ke ranjang tidur didekat Moeis. Melihat Moeis langsung menghabiskannya, Lyra sedikit tenang.


"Ingin ku pijat atau bagaimana? Jika kamu sakit, apa aku harus datang sendiri besok? Aku tidak mau.."


"Kau bisa?" ia menoleh menatap wajah Lyra yang sedang berbicara.


"Kamu mau?"


"Ya…."


Suasana hening. Moeis hanya diam tanpa kata menerima pijatan Lyra. Baru kali ini terasa seperti rumah tangga sungguhan, hanya itu yang ada di dalam pikiran Lyra.


Tangannya berpindah dari punggung ke area pundak dan belakang kepala Moeis. Namun Moeis menarik tangan Lyra, sehingga wajah mereka hampir menempel dari sisi samping.


"A- apa yang kau lakukan?"


Moeis menjeda waktu bicaranya.



Satu ciuman Moeis berikan kepada Lyra tanpa protes apapun. Kini mereka sudah duduk berhadapan dengan ciuman lainnya.


Lyra merasakan pelukan erat yang membuat tubuhnya semakin maju. Hanya rasa ingin lebih yang makin terasa.


Moeis mendorongnya hingga tertahan dibawahnya dengan posisi tidur. Sentuhan demi sentuhan terjadi begitu saja. Ini akan menjadi malam kedua bagi mereka.

__ADS_1


Bersambung...


(Selebihnya bayangkan sendiri aja ya) >.<


__ADS_2