
Tetesan embun dingin pada daun-daun menandakan pagi yang sejuk dengan rumput basah karena hujan semalam.
Lyra terbangun melepaskan selimut tebal di tubuhnya karena tidak melihat Moeis dikamar. Rasa khawatir dan penasaran membuatnya beranjak untuk segera mandi membersihkan tubuhnya dengan singkat.
Ia memakai sweater tebal di kursi lalu berjalan keluar mencari keberadaan Moeis. Bagaimana jika ia ditinggalkan sendirian disini. Tempat yang sangat jauh dari kota.
Ternyata masih pukul 6 pagi, masih terlihat kabut diujung lapangan dan kuda-kuda yang mulai di keluarkan dari kandang.
Ia sedikit lega setelah melihat mobil Moeis dari kejauhan, tetapi dimana dia?
"Selamat pagi, Nyonya" sapa seorang pekerja yang berjalan membawa karung.
"Pagi, pak"
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, akhir nya Lyra melihat Moeis yang sedang berbincang dengan beberapa peternak. Mereka tampaknya sedang membicarakan hal serius.
Sudah hampir 10 menit tidak melihat pergerakan Moeis, Lyra memutuskan untuk kembali.
"Nyonya, anda bisa duduk disini menunggu teh hangat nya siap" bibi melihatnya datang dan memintanya duduk di kursi teras rumah.
"Bi, sebelumnya kapan terakhir kali Tuan datang berkunjung?"
"Sekitar 2 bulan yang lalu, Nyonya. Tuan muda datang untuk mengecek kuda yang baru saja datang dari luar kota"
"Mmm.. Apa Tuan pernah mengajak orang lain kesini?"
Bibi mengangguk.
"Ya, tentu saja. Tuan muda sering mengajak rekan bisnisnya kesini untuk berkuda. Bahkan beberapa pejabat datang atas izin nya. Tempat ini sering dikunjungi oleh tamu-tamu kalangan atas, Nyonya"
"Benarkah…"
__ADS_1
Selama setengah jam, Lyra hanya duduk melihat pemandangan area ini. Tidak ada kata bosan.
Moeis datang dengan suara langkah kaki yang cukup terdengar. Ia melepaskan sepatu boot yang dipakainya dan berganti dengan sandal rumah lalu duduk didepan Lyra.
"Kamu bangun pukul berapa? kenapa tidak ajak aku melihat kuda kesana?" tanya Lyra.
Tangan Moeis sedang mengetik cepat diponselnya, ia tidak menjawab sebelum selesai.
Suaminya itu mendesis.
"Kamu sudah mandi? kita akan kembali ke Jakarta 1 jam lagi.." tanya Moeis tanpa menjawab pertanyaan dari Lyra.
Ekspresi wajah Lyra menjadi lebih serius.
"Katamu akses jalan ditutup karena longsor?"
"Sekarang sudah bisa dilewati sementara 1 jalur. Apa kamu masih ingin disini!? Tidak ingin bekerja?"
"Ya.. aku sudah mandi. Apa ada masalah di perusahaan?
Bibi datang membawakan teh hijau dan sepiring kue ubi.
"Hfft… selalu ada masalah"
"Baiklah…"
***
Perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat. Kini mobil telah kembali memasuki gerbang dan berhenti di depan pintu utama.
Moeis dan Lyra keluar dari mobil langsung berjalan masuk ke kamar tanpa memperdulikan pelayan ataupun yang lainnya.
__ADS_1
Lyra mengunci pintu kamarnya, ia berbalik dan melihat Moeis sudah bergegas memakai setelan jas.
"Lyra, bantu saya menyiapkan dokumen dalam map hitam yang ada di meja kerja dan masukkan bersama laptop. Jika saya sudah turun maka antarkan ke mobil.." ia masih bersiap-siap, mengancingkan kemeja berwarna putih.
Melihat ekspresi Moeis yang seperti siap meledak, membuat dirinya langsung berjalan ke ruangan kerja di sebelah.
'Apa yang terjadi? apa ada masalah besar?'
Sesudah menyiapkan dokumen yang Moeis minta, Lyra kembali ke kamar namun seperti nya Moeis sudah turun. Terpaksa ia juga harus turun mengantarkan tas tersebut.
Terlihat Ellie sedang berdiri disamping pintu mobil.
"Ini tas mu. Aku sudah menyiapkan semuanya"
"Baiklah…"
Setelah mobil melaju. Kini hanya ada ia dan Ellie dengan raut wajah menyebalkan.
Ellie membungkuk dan hendak berjalan masuk. Namun, Lyra menghentikan nya.
"Bisa lakukan sesuatu untuk ku?"
"Ya, Nyonya. Apa yang dapat saya bantu?"
"Siapkan mobil. Setelah bersiap-siap aku akan langsung keluar…"
Mendengar hal tersebut tentu sedikit merubah garis senyum Ellie. Ia cukup muak dengan perintah Lyra.
"Baik, Nyonya. Supir sudah siap kapan pun jika anda ingin pergi keluar.."
"Tidak. Aku sendiri, tidak dengan siapa-siapa…" ucapnya berlalu pergi.
__ADS_1
Bersambung...