Killing Me Softly

Killing Me Softly
40


__ADS_3

Lyra berjalan dengan acuh setelah keluar dari lift lantai 40 dimana ruangan Moeis berada. Ia bahkan melewatkan waktu makan siang nya kali ini.


Helena menyadari kehadiran Lyra dan berdiri untuk menyapa nya.


"Bu, apa ada yang bisa saya bantu?"


Namun Lyra melewatinya.


"Maaf, Bu. Tetapi Pak Moeis sedang sibuk saat ini. Mohon pengertian nya. Jika anda ingin bertemu tunggu sebentar, saya akan atur"


"Apa kata mu? Dengan siapa kamu berbicara?" tanya Lyra.


Helena terdiam. Tetapi benar-benar tidak bisa membiarkan siapapun masuk untuk sementara. Sebab Moeis mengatakan ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu dan fokus dengan pekerjaan nya.


"Saya hanya melakukan perintah Pak Moeis, Bu"


Lyra menatapnya dengan kesal.


"Untuk apa pintu di kunci? Apa ada seseorang di dalam? Cepat buka!"


Akhirnya Helena menyerah. Ia membuka pintu menggunakan kartu yang ia miliki.


Pintu terbuka. Dan Helena kembali menutup nya.


Terlihat Moeis benar-benar fokus dengan banyak dokumen di meja nya. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun meski mendengar Lyra masuk. Sikap nya telah membuat Lyra penasaran dan tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi pada Moeis.


"Moeis… aku ingin bicara sebentar" ucapnya berjalan mendekat.


"Ada apa?" jawab nya singkat.


Lyra duduk di kursi depan meja.


"Sikapmu benar-benar aneh, aku tidak mengerti. Ada apa?"


"Sudahlah, anggap saja saya sedang ingin fokus bekerja.."


Apa maksudnya?


"Hhh… apa aku melakukan kesalahan?"


Moeis menatapnya datar.


"Tidak. Sekarang lihat seberapa banyak dokumen di depan saya. Ini bukan waktunya untuk membahas emosi pribadi. Bukan di sini tempatnya" ucap nya meminta pengertian Lyra.


Namun bukan itu jawaban yang ingin Lyra dengar.


"Kamu menghancurkan ruang kerja dan aku tidak tau apa penyebab nya. Setidaknya katakan saja ini soal apa.."


Moeis menghela nafasnya. Mendengar Lyra begitu ingin tau banyak, benar-benar membuatnya frustasi.


"Lyra, tolong keluarlah selagi saya bicara baik-baik…"


"Kamu membuat perasaan ku tidak karuan kalau seperti ini"

__ADS_1


"Keluar…."


Lyra berdiri dan hendak keluar.


"Terserahlah.."


Moeis hanya melihat punggung Lyra menjauh dan tertutup oleh pintu ruangannya. Ia menyandarkan tubuhnya. Tidak tau apa yang harus di lakukan.


Tidak berselang lama setelah Lyra keluar. Helena masuk membawakan sebuah cangkir minuman.


"Tuan, Bu Lyra meminta saya untuk mengantarkan kepada anda, air madu hangat buatannya.."


Moeis tidak menyangka Lyra akan membuat kan nya minum. Sebab tadi Lyra keluar dengan kesal.


"Letakan saja.. dan saya sudah katakan kepadamu agar tidak ada yang masuk. Kenapa tidak becus sekali…"


Helena menunduk meminta maaf.


"Saya tidak dapat mengontrol Bu Lyra. Dia begitu kekeh"


Melihat desis an Moes, Helena pun keluar ruangan.


///


Lyra mengantar kan Mikha keluar menaiki taksi untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia juga membantu membuatkan makanan untuk di jadikan bekal.


Kini rumahnya kembali sepi, tidak ada orang seceria Mikha lagi. Hal itu membuat Lyra merasa sedih.


Lyra duduk dan bersandar di kursi kerja Moeis. Ia memejamkan mata untuk sejenak saja. Memikirkan kembali sikap Moeis yang sulit di pahami.


Tangannya bergeser ke laci meja yang menjepit sebuah ujung map. Awalnya Lyra hanya ingin membereskan nya, tetapi entah mengapa hatinya begitu ingin melihat isinya.


Tanpa di sangka-sangka. Map tersebut berisi sebuah foto-foto dirinya bersama Barack. Mulai dari di pasar, sampai di mobil saat mereka berpisah setelah selesai dari rumah Ryan. Namun pose mereka di foto tersebut benar-benar dapat menimbulkan kesalahan pahaman. Padahal tidak seperti itu kenyataan.


Pikiran nya membeku. Siapa yang melakukan hal ini? Kenapa ada di meja kerja Moeis?


Tunggu.


Apa jangan-jangan, ini yang membuat sikap Moeis berubah??


Seketika tubuhnya lemas.


Ini salahnya. Lyra merasa bersalah, kenapa tidak memberitahu saja sejak awal bahwa ia menemui Ryan bersama Barack.


Kemudian Lyra juga baru teringat. Setelah bertemu Barack di acara konferensi, sejak itu sikap Moeis berubah drastis. Ya.. benar.



Hingga pukul 1 tengah malam. Lyra masih menunggu Moeis pulang, diruang tamu. Ia memegangi map tersebut dengan perasaan cemas.


Padahal semua pelayan telah kembali ke bangunan belakang. Dan banyak lampu yang sudah di matikan.


Rasa kantuk begitu terasa, meski Lyra berusaha untuk menahannya. Ia memejamkan mata namun terus berusaha menyadarkan diri.

__ADS_1


Lyra terbangun seketika mendengar pintu terbuka. Dan Moeis tidak mengerti mengapa Lyra ada di ruang tamu.


Tatapan mereka bertemu.


Lyra mengangkat map tersebut tepat di hadapan Moeis.


"Apa ini yang membuat sikap mu berubah???"


Tatapannya beralih.


"Apa yang kamu lakukan di ruangan saya???"


"Aku tidak sengaja menemukan nya. Sekarang jawab pertanyaan ku, Moeis…"


Ekspresi Moeis lelah bercampur marah. Ia baru saja pulang ditengah malam setelah bergulat dengan tanggung jawab besar. Dan kini sudah di hadapkan dengan urusan lain.


"Diam!! Dan lakukan sesuka mu, temui dia kapan pun kau mau. Berhenti menganggu saya!!" bentak Moeis.


Hatinya tersentak. Lyra tidak menyangka dengan emosi Moeis yang memuncak seperti ini.


"Apa yang kamu pikiran kan? Kenapa bicara begitu? Jelas-jelas aku sudah katakan, dia juga ikut membantu Ryan untuk bersekolah.. tidak lebih. Dia pria baik dan sudah memiliki tunangan, tidak ada hal yang perlu di khawatirkan..."


Moeis menunduk dengan garis senyum yang menakutkan.


"Omong kosong…" ucapnya pelan.


Lyra mendekat dan hendak meraih tangan Moeis. Namun suaminya menolak, ia menjauh darinya.


Itu menyakiti hati Lyra. Apa begitu saja jadi masalah besar? Harusnya Moeis bertanya, bicara saja. Maka masalah ini bisa di selesaikan dengan jelas. Kenapa justru seperti ini.


"Dengarkan aku.. aku baru mengenal nya beberapa hari. Jadi tidak ada…"


Pyarrrrrr…….


Moeis membanting vas bunga besar yang terbuat dari keramik. Suaranya begitu keras mengisi rumah sebesar ini.


Lyra mundur beberapa langkah dengan syok dan ketakutan.


"Moeis… kenapa ka---"


"Pergi!! Datanglah pada iblis itu.. katakan padanya, dia bisa memilikmu!" ucap nya dengan intonasi tinggi.


"Apa??"


Suara Lyra mulai bergetar, ia menahan tangis dan sesak didadanya.


Sementara Ellie, sejak tadi diam-diam melihat mereka dari balik kaca ruangan. Ia puas melihat amarah Moeis kepada Lyra.


Karena Ellie telah mengatakan banyak hal kepada Moeis. Dan sebenarnya, Barack adalah sahabat masa lalu Moeis. Namun sudah lama menjadi lawan dan tidak pernah berhubungan baik.


Moeis dan Barack pernah terlibat dalam perang dingin yang membuat Moeis harus mengalami hal yang menjadi memori buruk dalam hidupnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2