Killing Me Softly

Killing Me Softly
37


__ADS_3

"Aku akan ke pasar pagi untuk membeli beberapa bahan makanan. Kamu harus tidur lagi dan tunggu aku pulang, jangan coba-coba untuk berangkat ke kantor ya?"


"Ya, yasudah.."


Pukul 5.27 pagi. Lyra sudah bersiap pergi ke pasar loak untuk mengincar sayuran segar. Sudah sangat lama ia ingin pergi ke pasar tapi baru sempat kali ini.


Lyra menyetir mobil sendiri dan membawa keranjang belanjaan.


Jarak yang tidak begitu jauh, dapat ia tempuh hanya dalam 15 menit saja. Sudah ramai penjual dan mobil bak sayur juga pembeli di waktu sepagi ini. Suhu masih segar berbau khas pasar.


Lyra mulai mencari sawi putih, tomat, dan ikan. Ia membeli nya dengan tawar menawar seperti pembeli lainnya.


Dan sepertinya semua yang ia cari telah didapatkan dengan mudah di sini. Rasanya ia ingin kembali lagi untuk sering berbelanja.


Langkah nya terhenti melihat 2 anak laki-laki yang masih kecil sudah memunguti sayuran di tanah sepagi ini. Padahal sudah terinjak-injak dan kotor.


Lyra pun berjalan mendekat.


"Adek, yang ini sudah kotor. Di ambil untuk apa?"


Mereka nampak seperti kakak beradik. Menggunakan jaket yang lusuh dan memegang kantong plastik berwarna merah.


"Untuk dimasak mama. Nanti bisa di cuci kak"


Hatinya sakit mendengar hal itu.


"Setiap hari begini?"


"Iya, kita ambil yang dibawah jadi tidak usah bayar. Aku ambil sayuran, adik ku ambil bocoran beras dari karung penjual"


Lyra mengelus bahunya.


"Rumah kalian dimana? Sudah sekolah?"


Adik nya yang kecil masih sibuk memunguti beras.


"Di dekat rel kereta. Dekat dari sini. Gak sekolah kak, kata mama tunggu dapat uang"


Hatinya semakin bergetar.


"Udah yuk, sini ikut kakak ambil beras di sana ya?"


Mereka pun mengikuti Lyra. Ia membelikan 2 karung beras dan meminta si penjual untuk mengantarkan ke rumah 2 adik ini. Ia juga membagi dua belanjaannya.


Tidak lupa Lyra mampir ke sebuah warung membelikan susu kotak, roti dan jajanan kecil. Ia berjongkok dan memberikan banyak nasihat, memberinya motivasi agar tidak menyerah dalam hidupnya.


Lyra tidak sengaja menoleh dan melihat seorang pria sedang memotret nya dari jauh sambil berjalan mendekat.


Kedua adik tersebut hendak pergi dan pria tersebut memberinya uang saku.



"Tadi kamu foto saya dari jauh kalau tidak salah?" tanya Lyra.


Pria tersebut menurunkan kameranya, ia tersenyum.


"Maaf, tetapi jangan khawatir karena saya bukan paparazi. Saya mempunyai laman photography dan tadi saya memotret kamu saat sedang berbicara pada mereka. Ingin lihat?"


Tidak ada rasa curiga apapun. Lyra melihat hasil foto-foto tersebut dan memang terlihat indah dan bermakna.

__ADS_1


"Baiklah.. ya hasil nya bagus"


"Tidak apa-apa jika saya posting?"


Lyra tidak keberatan.


"Ya, berikan pesan yang baik kepada para penggemar mu.."


Pria tersebut tersenyum menjabatkan tangannya.


"Saya Barack…" ucap pria berparas Arab tersebut.


"Saya Lyra. Bisa beritahu laman photography mu?"


Pria tersebut pun memberitahu nya dan menunjukan kepada Lyra hasil potretannya. Akhirnya mereka duduk bersama di depan warung makan karena gerimis lebat yang tiba-tiba turun. Lyra menyukai semua gambar di laman tersebut. Mereka banyak mengobrol tentang anak tadi juga. Dan berencana untuk menemuinya lagi agar dapat membantunya bersekolah.


Mereka bertukar kontak.


Barack melihat jari manis Lyra yang melingkar sebuah cincin.


"Kamu sudah menikah?"


Lyra mengangguk.


"Iya, bagaimana denganmu?"


"Saya juga sudah bertunangan. Tetapi dia tinggal di Dubai" ucapnya menunjukan gelang berinisial M.


Baiklah. Lyra senang mendapatkan teman baru yang memiliki visi yang sama dengannya. Apalagi mempunyai obrolan yang cocok dan luas.


Barack memesankan susu jahe hangat.


"Ya, aku juga harus pergi. Apa kamu membawa payung? rumahmu dekat dari sini?"


"Aku bisa berlari hingga mobil. Rumah ku juga tidak begitu jauh"


"Ok… dan Lyra, saya tidak ingin kamu meragukan bahwa saya orang yang cukup baik. Ini, kartu nama saya kamu bisa pegang" ucapnya memberikan sebuah kartu.


Lyra terkejut.


"Kamu Co-founder aplikasi xx?.. wah"


Aplikasi tersebut sangatlah bagus dan banyak digunakan oleh masyarakat umum"


Pria tersebut hanya tersenyum rendah hati.


///


Lyra kembali dan langsung membersihkan sayuran yang ia beli di dapur. Namun pakaian cukup basah terkena air hujan.


Ia berjalan perlahan memasuki kamar, karena Moeis sedang video call dengan rekannya melalui laptop di tempat tidur.


Kini Lyra hanya menggunakan kaos polos sepanjang lutut nya.


"Sepertinya saya harus pergi" ucap Moeis tiba-tiba.


Ekspresi Lyra berubah. Dalam keadaan seperti ini pun masih ingin pergi juga?


"Kemana? Lagi pula di luar hujan, cuaca sedang tidak bagus. Aku sudah bilang hari ini adalah off day mu"

__ADS_1


"Tidak bisa. Perusahaan sedang membutuhkan saya. Justru kekhawatiran semakin menumpuk di kepala saya jika hanya berdiam diri seperti ini…"


Lyra berjalan mendekat. Ia tidak habis pikir.


"Tunda saja dulu. Kamu memiliki orang-orang handal kan? Lalu, biarkan mereka yang melakukannya kali ini" ucapnya lalu memeluk Moeis.


Moeis menghela nafasnya. Ia mencium kepala Lyra.


"Ini penting. Ok? Saya akan pergi setelah sarapan dan meminum obat"


Sepertinya kata-kata nya sudah tidak akan mempan lagi mendengar jawaban nya begitu. Tidak ada yang dapat Lyra lakukan. Ia akhirnya hanya mengijinkannya saja dengan syarat pulang lebih awal. Setelah Moeis menyetujui dan bergegas mandi, Lyra turun ke bawah untuk memasak dan menyiapkan sarapan.



"Sudah selesai?" tanya Lyra.


"Ya.."


Sarapan yang ia buat juga sudah siap di meja makan. Ia serba mengambilkan makanan untuk Moeis di piringnya.


"Mmm.. kemarin aku melihat panggilan masuk di ponselmu dari nomor tidak dikenali.."


Moeis menoleh.


"Saya sudah lihat, dia adalah salah satu team di proyek. Kamu tidak mengira dia adalah seorang selingkuhan kan?"


Lyra membulatkan matanya. Kenapa juga tiba-tiba Moeis berkata seperti itu.


"Untung tidak ku angkat.. hampir saja" ucap nya tertawa.


Hal itu membuat Moeis terkekeh.


"Angkat saja lain kali jika kamu penasaran.."


"Baiklah"


Moeis melanjutkan sarapan nya, untuk beberapa saat ia tidak berbicara apa-apa lagi. Pertama kalinya ia makan pagi dengan nasi dan tumis yang Lyra buat kan, namun tetap ia makan dengan lahap.


"Tadi pagi kamu lumayan lama di pasar. Apa kamu tidak terbiasa? Lagi pula supermarket lebih dekat, kamu hanya harus menunggu mereka buka beberapa jam lagi"


Lyra telah selesai. Ia meletakkan sendok garpu nya.


"Aku menyukai pasar lebih dari yang ku bayangkan. Dan tadi aku bertemu 2 anak kecil yang sedang memunguti sayuran kotor di di tanah. Lalu ya.. aku sedikit membantunya membelikan beras. Sedih nya mereka tidak bisa masuk sekolah karena tidak ada biaya.."


Moeis pun ikut meletakkan alat makannya. Ia tertarik dengan cerita Lyra.


"Bantu saja mereka. Kamu bisa katakan pada saya, lain kali"


"Yaa.. aku berencana untuk menemui mereka lagi dan berbicara pada orang tuanya. Sebentar lagi adalah tahun ajaran baru. Waktunya sangat pas.."


"Kalau begitu saya akan transfer uang ke rekeningmu. Begini saja. Bantu biaya pendidikan nya hingga SMA lalu jika ingin melanjutkan ke universitas, biarkan yayasan Bara Group membantu mereka dengan beasiswa. Kamu bisa kontak yayasan, nanti saya beri nomornya"


Lyra senang mendengar Moeis ingin membantu nya juga. Lyra mendekatkan kursinya dan memeluk Moeis juga menciumnya.


"Terima kasih banyak. Aku menyayangimu.."


Moeis membalas ciuman Lyra.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2