
"Apa kabar itu benar, Bu? Mikha akan menikah dengan Meidro?" tanya Moeis lalu menyeruput coffee nya.
Nyonya Dave menghela nafas nya berat. "Itu benar. Kamu juga tau sendiri anak itu sangat keras kepala dan super aktif. Tidak ada yang bisa menanganinya. Sejak kecil selalu berganti pengasuh karena kuwalahan mengurus nya..." ucap nya benar.
Moeis mengangguk setuju.
Sedangkan Mikha adalah anak dari> adik tiri tuan Dave. Yaitu tuan Jo, hanya berbeda ibu dengan tuan Dave. Tetapi mereka semua hidup rukun dan saling mementingkan bisnis saja.
"Jadi, hanya Mikha yang tidak melewati proses perjodohan? Apa Uncle Jo setuju-setuju saja?" tanya Moeis.
"Tentu saja keluarga mereka panas saat ini. Tetapi bagaimana lagi? Mikha sudah sakit berminggu-minggu hingga tubuhnya kurus dan sering mengamuk dirumah sakit" nyonya Dave beberapa kali mengunjungi Mikha dan melihat kondisi nya yang tidak pernah membaik. Hanya seperti itu saja.
Lyra datang membawa jus jeruk.
"Apa selama itu juga Meidro tidak diperbolehkan menjenguk, Bu?"
"Iya.. mereka dipisahkan. Mikha di jemput paksa dari Amsterdam karena ada postingan teman nya, yang mengatakan bahwa Mikha dan lelaki itu mungkin akan mengadakan pernikahan sederhana disana. Itu kan tanpa sepengetahuan keluarga nya"
Lyra merasa kasihan mendengar nya. Tetapi ia juga sudah mengenal Mikha, ia tau seberapa besar Mikha mencintai Meidro.
Tetapi Moeis tidak memperbolehkan nya menjenguk dengan alasan tidak boleh kelelahan.
"Jo mengatakan kepada ayah. Bahwa Mikha sudah berkali-kali menelepon, mengatakan ia tidak bisa hidup tanpa kekasihnya itu. Seharusnya Jo mengurung anak itu sejak dulu, mengapa membiarkan nya berkeliaran di Amsterdam... memang payah" sahut tuan Dave. Ia sedikit terlibat dalam urusan itu.
"Siapa yang bisa mengatur hidup Mikha? Hanya dirinya sendiri..." gumam Moeis tersenyum melihat ke arah Lyra.
Saat ini Moeis dan Lyra berada di kediaman orang tuanya. Nyonya Dave dan Lyra sudah membuat banyak makanan seperti daging barbeque dan sosis bakar. Malam ini mereka menikmati angin malam di halaman samping. Dengan bakaran api yang menghangatkan.
Tidak lain adalah untuk merayakan usia kehamilan Lyra ke 7 bulan.
Ya.. mereka sudah melewati waktu yang panjang. /Berselang 5 bulan setelah Lyra keguguran saat itu, akhirnya ia mendapatkan kepercayaan untuk mengandung lagi. Tentu saja sekarang Moeis membantu nya dalam banyak hal.
Itu artinya sudah 1 tahun sejak permasalahan cerai, yang pernah hampir menghancurkan rumah tangganya.
Saat ini kehamilan Lyra bagaikan permata bagi mereka semua. Terlebih ibu mertuanya yang begitu over protektif. Ia yang selalu menjemput Lyra untuk melakukan USG dan mengirimkan masakan sehat hampir setiap hari.
........
........
"Kami akan menyelesaikan ini dalam 1 minggu, pak. Apa ada yang perlu di tambahkan?" tanya seorang desain renovasi dari perusahaan khusus yang Moeis sewa untuk membuat kamar baru untuk calon bayi nya nanti. Ada 2 pekerja yang sedang melakukan perombakan saat ini.
"Saya rasa tidak ada, lakukan saja dulu sesuai diskusi pertemuan kita kemarin.."
"Baik, pak"
Dan Lyra harus tetap di kamar karena Moeis tidak ingin Lyra menghirup banyak debu di sini.
Ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Lyra. Karena sudah boleh mulai melakukan berbagai persiapan. Ia bahkan sudah membuat list barang jauh-jauh hari.
Moeis kembali ke kamar nya.
__ADS_1
"Kamu sudah siap?" tanya Moeis yang melihat Lyra sudah rapi dengan dress oversize nya karena perut yang telah lumayan membesar. Hamil nya saat ini begitu cantik dan bersih.
"Ya.. ayo berangkat sekarang.." ucap nya tersenyum senang memamerkan kertas list.
Benar, sekarang mereka akan pergi ke mall untuk membeli perlengkapan bayi dan buku-buku, juga hiasan kamar. Untuk furniture mungkin akan menyusul, menyesuaikan setelah kamar bayi selesai.
"Baiklah, sayang" Moeis menggenggam tangan Lyra ke luar rumah dengan hati-hati.
.....
.....
Meskipun sudah memiliki list barang belanjaan, tetapi setelah sampai di sana. Lyra justru semakin bingung ingin pilih yang mana. Semuanya sangat lucu dan memiliki warna yang soft. Tangan nya terus mengelus bahan pakaian nya yang sangat lembut tersebut.
Sementara Moeis mengikuti nya di belakang mendorong keranjang troli.
"Apa tidak ada yang kamu suka?" tanya Moeis. Sebab Lyra sangat lama sekali melihat nya.
"Bukan begitu, tetapi semuanya begitu lucu. Sangat sulit untuk memilihnya.." ucap nya manis.
Moeis mendekat, "Memang nya kau membingungkan yang mana?"
"Yang ini dengan ini dan ini..." tunjuk Lyra.
"Baiklah.. kita ambil saja" tanpa berbasa-basi. Moeis mengambil dalam jumlah banyak.
Lyra melihatnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Ya.. bukankah bayi sering mengompol bahkan poop?? Kita membutuhkan persiapan pakaian ganti yang lebih kalau begitu" jawab Moeis berusaha meyakinkan diri.
Tetapi ada benarnya juga. Akhirnya Lyra tidak keberatan dan melanjutkan lagi. Saat ini keranjang sudah lumayan penuh. Seperti nya harus ambil 1 lagi untuk Lyra dorong.
"Kita ambil yang ini.." ucap Moeis menunjukkan bantal berwarna pink.
"Barang lainnya berwarna biru, kenapa ini pink?"
"Dia harus melihat banyak warna agar penglihatannya terlatih.." jawab Moeis.
"Tetapi bayi nya laki-laki, kenapa memakai bantal berwarna pink??"
"Ayolah Lyra, warna bukanlah masalah untuk bayi. Ini juga bagus..."
Untuk menghindari perdebatan ditempat perbelanjaan, Lyra pun mengalah. Ia justru tertawa ringan akan hal itu. Pasti ada saja pertentangan pendapat seperti ini. Untunglah sudah tidak pernah ada masalah besar.
Lyra terus berjalan merangkul lengan Moeis. Banyak sekali yang telah mereka beli, hampir seluruh list terwujudkan. Bahkan lebih dari itu ketika Lyra tiba-tiba menyukai barang yang ia lihat.
"Apa kamu lelah?" tanya Moeis membukakan botol air mineral untuk Lyra yang sedang duduk di sofa tunggu.
"Tidak sayang.." jawab nya tersenyum.
Moeis kembali ke kasir untuk membayar barang belanjaan.
__ADS_1
Setelah selesai ia menghampiri Lyra sambil memperlihatkan kertas struk yang begitu panjang. Lyra tertawa melihatnya.
Sebelum kembali ke mobil, Lyra terlebih dahulu membeli 2 smoothie dan memberikan 1 untuk Moeis. Dan mereka sudah bersiap untuk pulang.
"Minum ini sayang, kamu pasti lelah.. maaf karena tidak bisa membantu banyak memindahkan barang belanjaan.."
"Tidak masalah, ini tugas saya. /Kamu beli ini?" tanya Moeis. Ia ragu, mengapa? Padahal selama ini Moeis tidak pernah meminum smoothie.
"Kamu tidak mau ya?".
Moeis pun mengambilnya, dan meminum dengan senang hati. "Ternyata segar juga.."
"Ini kan minuman kesukaan ku, setidaknya kamu harus mencoba.."
"Ya.. baiklah..." .Moeis mencium singkat pipi Lyra. Kemudian melajukan mobilnya.
Diperjalanan mereka banyak mengobrol seperti biasa. Sikap Moeis sudah banyak berubah sekarang, terasa perlahan mencair.
"Ah, benar. Kita belum mendiskusikan nama untuk nya. Tetapi ya.... aku sudah ada beberapa contoh, aku terus membayangkan ingin memanggilnya apa nanti..." ucap Lyra.
Moeis juga baru menyadari hal tersebut. Tetapi ada yang membuatnya seketika gugup. Harusnya ia memberitahu Lyra sejak awal, saat ini Moeis cukup khawatir untuk berbicara.
Melihat ekspresi Moeis yang berubah, membuat Lyra bertanya-tanya.
"Ada apa?"
Moeis menoleh biasa. Ia harus menyampaikan hal ini.
"Sepertinya saya harus menghentikan mu untuk memikirkan nya, Lyra. Maafkan saya.." ia menggenggam tangan Lyra.
Lyra tidak mengerti, "Kenapa? Apa yang kamu ucapkan?"
Butuh jeda sedikit untuk Moeis mengatakan nya. Sebab Lyra sudah terlihat bersemangat.
"Sebenarnya.. untuk nama anak laki-laki harus ayah nya yang memberikan. Itu artinya hanya saya, murni pemikiran saya. Itu adalah tradisi keluarga yang rawan untuk dibantah... mmm~ kamu bisa memastikan hal ini kepada ayah atau ibu. Apa yang saya katakan benar..."
Lyra melihatnya juga dengan terjeda. Tidak bisa langsung berkata-kata. Sebab ia ingin sekali ikut memberi nama anak pertamanya.
Moeis tidak kunjung mendengar respon Lyra, "Kamu pasti kecewa.. bagaimana jika.."
"Tidak, tidak... tidak apa-apa. Tentu saja, aku baru mengingat-ingat nya. Itu memang tertulis di buku silsilah keluarga.. ya aku membaca nya saat itu" jawab Lyra. Ia tidak bisa memungkiri memang sedikit kecewa.
Tetapi mau bagaimana lagi. Ya sudah. Ia berusaha tersenyum agar Moeis tidak perlu khawatir.
"Kamu yakin?"
Saat ini berada di lampu merah, jadi ia bisa mengelus kepala Lyra dan menghadap nya.
"Tentu saja..." Lyra menunjukkan senyuman manisnya. Ia mengerti dan dapat memahami nya. Tidak masalah sama sekali.
Bersambung...
__ADS_1