
Selama Lyra berada dirumah keluarga nya setelah pulang dari rumah sakit. Sebenarnya Moeis juga berada di kediaman keluarga Meyers untuk menghadap tuan Dave.
Mau tidak mau. Ia menerima konsekuensi tersebut.
Meskipun nyonya Dave merasa berat dan tidak tega. Tetapi ia juga tidak dapat melarang dan membantah suami nya. Ia harus membiarkan Moeis merasakan kerasnya murkaan tuan Dave.
Hukuman Moeis di lakukan di bangunan belakang. Tanpa ada yang mengetahui. Ia telah berkali-kali tidak sadarkan diri bahkan punggungnya sempat membengkak dan berlumur an darah. Hingga mati rasa.
Setelah beberapa hari menahannya tanpa ada yang mengobati. Moeis akhirnya dapat berdiri dan kembali pulang.
….
Pandangan Lyra masih menatap pintu ruang ganti. Disana, Moeis mencoba untuk memakai piyama jubah karena kesulitan memakai baju biasa. Lengan nya sangat sulit di angkat dan rasa sakit nya berkali-kali lipat saat ini.
Tidak. Ia tidak ingin menangis kasihan. Moeis pantas mendapatkan nya.
Lyra berjalan keluar dan memanggil Bibi. Ia sangat mempercayai Bibi karena sikap nya yang ke ibuan.
"Ada apa nyonya?"
"Tolong bawakan kotak obat ke kamar dan bantu tuan" ucap nya datar.
Bibi segera mengambilnya.
"Memang nya tuan kenapa nyonya?"
"Bibi lihat saja punggung nya dan paksa dia untuk menurut saja.."
"Baik nyonya.."
Setelah Bibi naik ke atas. Lyra pergi ke ruang tengah untuk memejamkan mata sejenak.
Sementara itu Bibi telah dipersilahkan masuk ke kamar dan mengobati punggung Moeis.
"Apa, nyonya yang meminta Bibi?"
"Iya, tuan. Tetapi luka separah ini, saya tidak dapat mengobati nya dengan benar. Seharusnya tuan pergi ke rumah sakit saja karena mungkin akan meninggalkan bekas yang parah juga"
Beberapa kali Moeis menahan sakit karena di olesi obat Bibi.
"Baiklah, saya akan pergi besok. Perusahaan hampir goyah karena saya lepas beberapa hari ini"
"Iya, tuan. Sebaiknya cepat ditangani.."
Bibi bahkan tidak kuat untuk melihatnya.
Selama hampir 1 jam. Beberapa kapas telah di pakai dan handuk kompres sudah berwarna merah darah.
Moeis kembali menaikan jubahnya perlahan. Dan bibi pamit keluar.
Melihat Bibi yang sudah turun. Lyra pun naik ke atas kembali ke kamar. Tetapi tidak ada siapa-siapa. Ia bergegas ke tempat tidur berusaha untuk memejamkan mata. Sulit untuk tertidur entah apa yang sedang ia pikiran kan.
Pukul 3 pagi buta. Lyra belum melihat Moeis kembali ke kamar. Ia pun bangun hanya untuk mengambil minum dibawah. Tetapi melihat ruang kerja Moeis yang sudah gelap membuat Lyra sedikit penasaran. Dia pasti sudah selesai bekerja tetapi tidur disana.
Saat membuka pintu. Terlihat dari celah cahaya jendela.
Moeis hanya duduk di kursi menumpu kan wajahnya dengan lengan tanpa bersandar. Mungkin karena punggung nya terlalu sakit.
Lyra terus menahan nya untuk tidak mendekat. Ia menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
//
Pagi hari Lyra kembali setelah mengambil pakaian bersih dari bawah. Terdengar erangan Moeis dari kamar mandi beserta suara air.
Ponsel Moeis berdering.
__ADS_1
Tanpa ragu sedikit pun, Lyra menjawab nya.
"Moeis, aku sudah mengirim kan hasil pemeriksaan minggu ini. Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku.. tetapi kenapa akhir-akhir ini tidak ada kabar apapun? Kamu baik-baik saja kan??"
Tidak salah lagi. Itu adalah suara perempuan yang terdengar dekat. Tetapi nama kontak nya adalah HRD.
Hal itu membuat Lyra sangat kesal.
"Kamu pasti senang karena mendapatkan perhatian dari suami saya, Carrie!"
Hanya terdengar suara tidak jelas setelah ia bicara.
"Jawab saya" pinta Lyra dengan tegas.
Panggilan diputus. Tetapi Lyra menghubungi nya kembali. Setelah beberapa percobaan, akhirnya wanita itu menjawabnya.
"Apa kamu takut dengan saya? Saya tidak akan merasa kasihan hanya karena kandungan mu lemah. Kamu sudah seharusnya merasakan nya"
"Maaf, tolong jangan bicara seperti itu nyonya"
Lyra tertawa mendengar wanita itu memanggil nya dengan sebutan nyonya.
"Kamu sudah sangat tidak sopan kepada saya. Kamu menghancurkan rumah tangga kami"
"Saya tidak bermaksud. Saya sudah melepaskan Moeis sejak lama, tetapi saya juga baru tahu bahwa saya sedang mengandung anaknya. Tolong mengertilah, nyonya"
Lyra hampir kehilangan akal nya.
"Mengerti? Lalu seharusnya kamu yang mengerti bahwa Moeis sudah menikah. Gugurlah kandungan itu sejak awal!! Wanita tidak tau diri.."
Terdengar suara helaan nafas.
"Saya baru bisa bisa melakukan tes DNA 2 bulan lalu"
"Diam!!! Dengarkan baik-baik, saya tidak akan membiarkan kamu dan anak itu mengganggu Moeis. Lihat, seberapa sulit kamu akan menghadapi saya!"
"Nyonya, saya juga sulit menghadapi ini.. jadi tolong berbaik hati lah, saya tau saya tidak tau diri dan telah menghancurkan rumah tangga anda. Tetapi…"
"Carrie…"
Ucap Lyra dengan sengaja saat melihat Moeis keluar. Dan berhasil membuat Moeis membeku.
"Apa uang cukup untuk membuatmu enyah?"
Tidak ada yang dapat Moeis lakukan Melihat Lyra berbicara kepada Carrie melalui ponselnya sendiri.
Lyra telah selesai dan meletakkan ponsel di meja dengan asal.
"Kamu pasti marah melihat ku akhirnya bisa berbicara dengan wanita itu?" ia berjalan mendekat dengan mata memerah.
Sementara Moeis mengusap wajah nya frustasi.
"Kamu mengancam nya?"
"Ya..." jawab Lyra dengan angkuh.
"Lakukan saja jika memang itu yang kamu inginkan. Berikan saya jalan keluar yang tidak dapat saya pecahkan sendiri, Lyra"
Moeis terlihat tidak masalah sama sekali. Ia hanya pergi untuk duduk di tempat tidur.
"Bukan berarti kamu bisa lepas tangan. Kamu sudah keterlaluan, Moeis. Kita sudah hancur .."
Moeis meraih tangan Lyra sambil menahan perih di bahu nya. Hingga memejamkan matanya.
"Mari selesai kan ini dan bangun kembali rumah tangga kita seperti yang kamu inginkan.. dan maafkan saya Lyra. Kamu tau sendiri bagaimana keadaan nya sekarang. Ini tidak mudah.."
__ADS_1
"Setelah semua ini?? Setelah kita kehilangan janin di kandungan ku. Kamu baru mau memulai, padahal kemarin aku sangat membutuhkan kamu, meminta sedikit perhatian itu!"
"Hhhh... Baiklah, saya akan meluruskan lagi masalah ini. Berikan saya waktu, Lyra. Dan beri saya kesempatan.."
Lyra berusaha melepas tangan Moeis.
"Jika aku bisa meminta ijin pada keluarga untuk kita bercerai. Kita akhiri saja, kamu bisa memulai dengan Carrie. Anak kalian telah menanti ..."
Tangisan nya lolos begitu saja. Padahal sudah berusaha menahannya.
Tanpa aba-aba Moeis memeluk Lyra dengan erat. Ia tidak bisa kehilangan apa yang telah ia miliki sebelumnya.
"Aku lelah!"
"Maafkan saya.. ini fatal.. saya sadar"
Kepala nya sudah sakit saat ini. Begitu berat beban masalah yang di sebabkan oleh Moeis.
//
Tanpa sepengetahuan Moeis. Lyra menemui keluarga Meyers.
Hanya ada nyonya Dave disana. Ia telah di suguhkan teh herbal dan sedang berbicara di ruang keluarga.
"Jadi, kamu ingin meminta cerai dari Moeis?" tanya nyonya Dave dengan tenang.
Lyra mengangguk dengan hormat.
"Ya.. bukan tanpa alasan. Ibu tau semua yang terjadi, saya yakin.."
Nyonya Dave terlihat berat menatap Lyra.
"Lyra, kita adalah menantu di keluarga ini. Ibu juga sama denganmu. Semua... yang kamu alami, tidak ada apa-apa nya./ Apa Moeis pernah mengusirmu tanpa ampun?"
"Tidak, bu.."
"Dia dan ayah nya sama. Bukan hal yang perlu di ributkan seperti ini jika kita sama-sama tau bagaimana posisi mereka. Pertama, mereka tidak merasakan cinta sebelum lahir nya seorang anak. Tetapi mereka tetap tidak akan melepaskan kita karena tau semua akan menjadi lebih baik diwaktu yang tepat... lalu.. semua pria ber'uang selalu menginginkan keistimewaan dalam kehidupan mereka bahkan kepuasan. Termasuk soal wanita. Tetapi pikirkan, siapa kita? Dimana posisi kita? Apa kita lebih rendah dari simpanan mereka?"
Lyra mendengar kan dengan serius.
"Bu, tetapi Moeis akan memiliki seorang anak dengan wanita itu" ucapannya emosional.
Nyonya Dave mengerti.
"Tuan Dave juga membesarkan anak dari selingkuhan nya di Australia. Anak itu sekarang baru saja lulus perkuliahan. Awal nya saya sama sepertimu, tetapi tidak bisa apa-apa. Tuan Dave lebih kejam daripada Moeis. Hingga akhirnya semua berlalu, dan saya tetap mempertahankan posisi ini. Wanita itu sudah sakit keras dan tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan tuan Dave. Saya mengerti bahwa wanita ingin menjadi satu-satunya dan memiliki rumah tangga tanpa gangguan siapapun. Tetapi, inilah takdir kita.."
Seperti sesak mendengar nya. Melihat bagaimana ia lah yang menjadi menantu di keluarga ini. Tuhan pasti sudah mentakdirkan hal ini kepadanya.
Ia sangat depresi memikirkan nya.
"Mungkin ibu bisa, tetapi saya... ini berat.."
"Apa kamu mencintai Moeis?"
"Ya, tetapi dia telah mengecewakan saya, Bu"
"Apa Moeis sudah meminta maaf mengenai masalah ini? / Lyra, Ibu tidak ingin memaksamu... ibu ingin kamu mengerti saja. Setelah itu keputusan ada di tanganmu.."
Lyra semakin terbebani.
"Apa dalam sejarah keturunan, pernah ada kasus perceraian, Bu?"
"Tidak.. kami tidak melakukan nya. Ibu pun pasti akan menyesal jika dulu memaksa cerai. Kini, semua nya milik ibu. Melihat Moeis akhirnya lahir dan begitu di banggakan oleh tuan Dave.. adalah kebahagiaan yang hampir saja hilang.."
Setelah mendengar cerita mertuanya. Bukan berati dapat mempengaruhi nya secepat itu. Ia tetap pada prinsipnya. Entah bercerai atau tidak, tetapi yang jelas Lyra ingin menyelesaikan antara Moeis dan Carrie terlebih dahulu.
__ADS_1
Bersambung...