
"Kamu mengirimkan ini?" tanya Lyra begitu melihat Moeis memasuki kamar setelah pulang kerja.
"Tidak, apa yang tertulis di sana?"
Lyra menerima sebuah bunga bouquet yang cukup besar dan tidak ada nama pengiriman nya. Dalam kartu kecil yang di selipkan hanya ada sebuah tanda love.
"Hanya...." jawab Lyra ragu.
Moeis mendekat dan melihatnya.
"Love? Kamu tidak hanya ingin cepat-cepat bercerai tetapi juga sudah ada pengganti?" tanya nya santai.
"Apa?? Kamu mengarang cerita.. mengaku saja jika memang kamu yang mengirim ini" ucap Lyra.
"Itu bukan saya.." jawab nya jujur. Moeis juga penasaran siapa yang mengirimkan bunga tersebut.
"Jika kamu tidak mengaku aku akan membuangnya, apa ini suap??"
Moeis tidak mengerti dengan apa yang sedang Lyra bicara kan. Nyatanya memang bukan dirinya yang mengirim.
"Terserah, orang itu mungkin akan menghubungi mu nanti.."
Lyra mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu juga. Ia menaruh nya begitu saja di meja.
...
Makan malam ini terlihat canggung dimata para pelayan. Mereka tidak berani seleluasa biasanya.
"Kamu belum membaca surat yang ku berikan? Setidaknya pertimbangan kan terlebih dahulu" ucap Lyra disela-sela makan malam mereka.
"Belum.. apa kamu bahkan sudah membuat perhitungan hak-hak milik?? Sejauh itu??"
"Aku harus membuatnya kan.. tidak akan terlalu berat untukmu"
"Kamu tidak perlu khawatir soal saham mu. Mereka akan tetap jadi milik mu. Tetapi.... pikirkan, sekarang kita masih bisa berbicara baik-baik dalam satu rumah bahkan kamar. Bagaimana bisa perceraian tersebut tetap berlanjut?" ucap Moeis dengan suara bariton nya.
Lyra sedikit menoleh ke arah dapur, mengapa Moeis membahasnya di sini. Semua pelayan bisa mendengar nya sekarang.
"Mau bagaimana lagi.." jawab nya acuh.
"Ini gila..." gumam Moeis.
"Apa saham ku terlalu besar? Kamu takut kehilangan apa?" tanya Lyra santai.
Wajah Moeis sudah terlihat sedikit kesal.
"Saham bukan apa-apa. Tetapi kamu.. saya lebih membutuhkan mu, Lyra. Kamu tidak mengerti ya, walaupun saya sudah katakan berkali-kali"
"Kamu punya banyak pelayan, pekerja, sekretaris, karyawan dan rekan bisnis juga keluarga. Memang nya aku sepenting apa di mata kamu? Dan... jika ingin tidur... banyak wanita yang bersedia kamu panggil kan?"
Lyra mengatakan nya dengan ragu-ragu. Bagaimana jika justru memancing amarah Moeis. Ia sedikit menyesal.
"Saya butuh wanita yang memiliki mood tidak terduga seperti mu.." jawab Moeis asal.
"Apa?? Yang benar saja.." keluh Lyra.
Tiba-tiba Lyra menyingkirkan gelas susu nya.
"Hhhhgg... bukan kah aku sudah bilang tidak menyukai yang ini... Bi~~"
Moeis menghentikan Lyra yang hendak memanggil pelayan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Moeis datar.
"Aku sudah bilang ingin susu almond.. tetapi ini amis?"
Mendengar hal tersebut, Moeis pun berdiri mengambil gelas susu Lyra dan membawa nya ke dapur bersih.
"Kenapa kamu yang...."
"Tunggu saja.."
Dari meja makan, Lyra terus memperhatikan pergerakan Moeis, mulai dari mengambil gelas baru hingga mengambil kotak susu almond di kulkas dan menuangkan nya.
"Ini... minumlah.."
"Ada apa denganmu? Apa ini suap?"
Lyra terus merasa aneh dengan sikap Moeis. Ia bahkan berpikiran sikap Moeis ini untuk menyuap nya untuk menarik surat cerai tersebut.
"Kamu terus membicarakan suap.. memang nya ini bisnis?" tanya nya.
Lyra mengejek.
"Kamu berusaha melucu?"
"Memang nya tidak lucu?" tanya Moeis.
Melihat ekspresi Moeis, membuat Lyra sedikit ingin tertawa.
"Tidak sama sekali.."
....
....
Di meja kecil terdapat alkohol dan Moeis kini sedang merok*k.
Lyra mendekat perlahan.
"Mengapa kamu baru membuka tempat ini sekarang??"
"Saya baru membuat kunci baru, itu hilang sudah lama. Saya tidak pernah mengurus hal seperti ini.."
"Di dalam terasa hangat, tetapi di sini dingin dan sepi. Ada apa denganmu?"
"Menurut mu? Rumah ini akan kembali sepi jika kamu pergi.. saya akan jarang pulang lagi dan pelayan bekerja tanpa arah.."
Lyra menarik rok*k Moeis dan meletakkan nya di asbak.
"Aku tidak tau apakah ekspektasi ku terlalu tinggi terhadap kamu. Tetapi semua orang memang berekspektasi tinggi kepadamu. Harusnya kamu berikan saja semuanya kepada ku..." ucap Lyra pelan.
"That's why... kamu butuh berikan saya kesempatan.. lalu saya akan serahkan semuanya..."
Moeis menggenggam tangan Lyra yang dingin.
"Ah, lupakan hal itu dulu.." ucap Lyra mengalihkan pandangannya.
"Ikutlah pergi bersama saya"
"Pergi kemana?"
Moeis menarik Lyra untuk duduk di pangkuan nya. Sehingga membuat Lyra merasa terkejut dan tidak siap.
__ADS_1
"Ini akan sangat menyenangkan.. bersiaplah, sayang" ucap Moeis berbisik tepat di telinga nya.
Mereka bangun dan berganti pakaian. Tidak tau apa yang akan terjadi, Lyra hanya menuruti saja perkataan Moeis.
Kenapa juga memanggil dengan sebutan sayang? Membuat hati Lyra berdesir saja.
Karena Moeis meminta Lyra untuk memakai pakaian hangat, Lyra pun mengenakan sweater yang lumayan tebal. Padahal tidak tau akan dibawa kemana.
.....
.....
"Jadi kamu membawaku ke peternakan kuda lagi?" tanya Lyra begitu keluar dari mobil.
Benar-benar sangat dingin. Ini adalah suasana malam di desa dengan suara-suara hewan kecil yang tidak tau dari mana asalnya.
"Naiklah ke kuda ini.."
Terdapat 2 kuda yang sudah di siapkan di depan. Mereka menaiki masing-masing nya.
Dengan takut, Lyra berkuda mengikuti Moeis yang ada di depan nya.
"Kamu takut?" tanya Moeis memecahkan kesunyian. Jalan yang mereka lalui tentu saja sudah biasa di lalui warga.
"Sedikit..."
30 menit kemudian. Mereka telah sampai di sebuah bangunan yang lumayan berada di atas. Tempat ini berada di kelokan kaki gunung yang menghadap langsung ke arah kota tanpa tertutupi apapun. Sangat jelas.
Lampu-lampu kota menyala, namun terlihat begitu jauh dan indah.
"Apa itu Moeis???" tanya Lyra disamping sebuah rumah.
"Kunang-kunang. Kamu senang melihatnya??"
Anggukan Lyra sudah menggambar suasana hati nya saat ini.
"Tetapi ini rumah siapa? Kenapa kita ke sini?"
"Masuklah... ini vila yang belum lama selesai dibangun. Awalnya saya merencanakan untuk ke sini bersama ku setiap minggu. Setidaknya jika kamu sudah memutuskan untuk bercerai. Kita bisa kesini sekali saja..."
Vila ini tidak begitu besar tetapi hangat dan nyaman. Sebelum nya Moeis sudah meminta seseorang untuk membersihkan dan menyiapkan minuman juga untuk sarapan besok pagi. Ya... mereka akan menginap.
Lyra berdiri didepan jendela melihat pemandangan malam. Dan Moeis memeluknya dari belakang.
"Moeis, apa yang kamu lakukan"
"Mengembalikan hati mu seperti semula. Bisa kah.. itu terjadi lagi??"
Suasana ini sungguh canggung. Hanya ada mereka berdua ditempat seperti ini.
"Bagaimana kamu akan melakukannya?" tanya Lyra ragu.
"Seperti ini..." . Dengan perlahan Moeis membalikkan tubuh Lyra menghadap dirinya.
Ciuman itu tidak hanya di bibir, tetapi kemana pun Moeis ingin. Ia berpikir dan terus berpikir... mengapa Lyra tidak pernah menolak jika memang ingin bercerai. Seperti saat berada di apartemen.
Tanpa sadar mereka sudah berada di sofa. Seperti gairah yang akan terluap kan.. gerakan itu semakin agresif. Tanpa ada yang mencoba untuk menyadarkan diri.
Moeis menelusuri tubuh indah Lyra yang kini berada di tangannya. Seperti harapan besar lagi, Moeis sudah bisa merasakan.. bahwa masih ada kemungkinan Lyra akan membatalkan perceraian tersebut.
Tidak hanya Moeis yang bermain. Kali ini Lyra seperti takut kehilangan hingga mengambil alih gairah. Memuaskan Moeis malam ini.
__ADS_1
Bersambung...