
Hari setelah Lyra di sah kan jabatannya. Moeis tidak terlihat lagi selama 2 hari. Mereka memang pulang bersama, tetapi tidak melihat satu sama lain kemudian.
Pagi hari, Lyra baru saja selesai mandi dan mengenakan dress putih polos yang sangat cocok di tubuhnya. Dengan geraian rambut dan wajah tanpa make up sedikitpun.
Ia menikmati sarapan sendirian, namun begitu sibuk dengan ponselnya tanpa memperdulikan ada atau tidak adanya Moeis 2 hari ini.
"Bisa aku minta teh melati?"
"Baik, Nyonya"
Ellie pun belum terlihat pagi ini.
Ponselnya berdering. Lyra segera mengangkatnya.
"Sudah dimana, pak?"
……
"Ya, benar. Gerbang besar dengan patung hitam. Saya segera keluar"
Akhirnya yang ia tunggu-tunggu datang juga. Sejak semalam Lyra sibuk mempersiapkan ini itu dan mempelajari sesuatu lewat internet.
Begitu keluar, mobil pengantar telah sampai di depan. Namun belum di buka kan oleh penjaga. Yang benar saja, padahal supir tersebut pasti sudah menyebutkan namanya.
"Pak, saya yang memesan mereka. Tolong biarkan mereka masuk.." ucapnya berjalan menuju halaman depan.
Para penjaga pun benar-benar mematuhi perintahnya.
"Bisa bantu saya?" tanya Lyra.
"Ya, Nyonya.."
"Mereka dari penjual tanaman. Dan, saya sudah memesan 50 tanaman mawar putih. Turunkan dan letakkan saja di taman samping…"
"Baik, Nyonya"
Setelah semuanya selesai. Lyra segera mengambil sarung tangan dan beberapa peralatan. Yang akan ia lakukan adalah memindahkan mawar tersebut dari polibag ke tanah. Awalnya ia ingin membeli bibit tetapi entah mengapa ingin sekali melihat yang sudah berbunga di halamannya.
"Ini sangat menyenangkan, jika mawar ini tetap hidup hingga aku memotong bunganya untuk di rangkai. Maka, selanjutnya aku akan mulai membeli bibit nya" ucapnya disela-sela membersihkan tanah dari rumput liar.
Saat ini hanya ada ia di sana. Lyra ingin suasana tenang, jadi ia meminta para pekerja untuk kembali bekerja saja.
///
3 hari berlalu.
__ADS_1
Suasana rumah megah yang sedang ditinggalkan oleh sang tuan kini sedang dilanda masalah besar karena kemarahan Lyra.
Sementara Ellie sedang berada di kediaman Tuan Meyers. Dan Moeis, entahlah. Mereka hanya bilang bahwa tuan sedang dalam rangkaian perjalanan bisnis ke berbagai negara.
Pelayan Yuan menjadi salah satu yang terpusing memikirkan kemarahan Lyra.
Sebab, kemarin pagi tanpa sepengetahuan siapa pun tiba-tiba Lyra mendapati taman bunga nya hancur karena tertindih box kayu yang biasanya ada di gudang. Parahnya, tidak ada satu pun pekerja yang mengaku. Ditambah, satu-satunya CCTV yang mengarah sudah lama tidak dalam pengecekan sehingga tidak memunculkan rekaman apapun.
Lyra menolak untuk makan di meja makan dan membawa sepiring roti gandum ke kamarnya. Raut wajah nya sangat marah, tetapi pelayan Yuan tetap mengikuti nya dari belakang.
"Nyonya..saya akan bertanggung jawab atas masalah ini. Mohon tunggu hingga sore, saya akan menanam mawar baru seperti sedia kala.."
"Nyonya.. saya mohon kemurahan hati anda. Saya bersungguh-sungguh.."
Lyra menghela nafasnya. Ia berhenti tepat sebelum memasuki dan menutup pintu kamar.
"Temukan saja siapa dia. Jangan bertanggung jawab jika bukan kamu yang merusak" ucapnya dengan penuh kesabaran yang perlu ditahan.
Setelah pintu tertutup, pelayan Yuan hampir putus asa. Belum lagi jika Tuan mengetahui hal ini, apa yang akan terjadi dengan nya.
Selama berjam-jam, pelayan Yuan duduk di dekat gerbang menunggu pengantar bunga, sama seperti yang pernah Lyra pesan.
Ketika gerbang terbuka, ia berdiri. Mengira bahwa pengantar datang. Tetapi, ternyata mobil Moeis lah yang memasuki halaman. Ia semakin resah, dan berjalan menghampiri Moeis.
"Tuan…"
Moeis yang hendak masuk pun berhenti.
Pelayan Yuan membungkuk dengan wajah ketakutan.
"Maafkan saya, Tuan. Kami telah menyebabkan masalah dan membuat Nyonya marah…"
"Apa yang terjadi. Katakan dengan benar!"
"Nyonya …. menanam mawar di taman samping, ia sangat menyukainya dan merawat mawar tersebut dengan baik. Tetapi, mmm- tiba-tiba saja taman mawar tersebut rusak dan kami tidak tau siapa pelaku nya.."
Moeis menjeda waktu bicaranya. Apa yang terjadi selama ia tidak ada? Emosinya sedikit terpancing.
"Tidak ada yang mengaku? Kalian tau saya sangat membenci orang-orang yang seperti itu. Apa kamu sudah tidak bisa bekerja? Dimana Ellie?!!!"
Mendengar bentakan Moeis, membuat pelayan Yuan dan beberapa penjaga serta supir disana diam dan ketakutan.
"Maaf Tuan. Saya akan mencari tau lagi. Dan, Ellie sedang berada dirumah Tuan Dave"
"Apa nyonya makan dan istirahat dengan baik??" tanya nya dengan intonasi yang lebih rendah.
"Sejak kemarin Nyonya baru makan 2 kali, Tuan. Nyonya juga terlihat berdiri di balkon setiap malam. Kami tidak tau Nyonya tidur pukul berapa"
//
__ADS_1
Setelah mendengar situasi tersebut. Moeis masuk ke kamar dan melihat Lyra yang berdiri didepan jendela besar. Wajahnya muram, tidak seperti biasanya. Moeis berjalan mendekat dan mencoba mengajaknya berbicara.
"Bagaimana keadaanmu, selama saya pergi?"
Ini sudah 5 hari, tidak pernah ada komunikasi apa-apa diantara mereka.
"Tidak tau. Aku hanya merasa…"
"Kesal?"
Lyra mengangguk, menatap mata Moeis.
"Kamu bisa menanam mawar lagi. Atau membeli di toko bunga. Jangan terlalu lelah hanya karena masalah ini?"
Jadi Moeis sudah mengetahui masalah ini. Lyra bisa merasakan perubahan sikap nya kali ini. Terdengar seperti sedang memberikan perhatian. Namun hal itu justru membuatnya tersentuh dan menangis seperti anak kecil. Meluapkan kekesalan yang mengendap di hatinya. Mengapa sampai begini padahal hanya soal bunga. Mungkin karena yang hancur adalah kebahagiaan kecilnya dirumah ini.
"Kamu tau? Aku mempelajari banyak hal untuk memutuskan menanam mawar, merawatnya setiap saat. Bahkan seperti ingin menamai mawar itu satu persatu.. dan kemarin aku ingin mulai memotong nya agar bisa ku rangkai. Tetapi semua nya hancur…."
Melihat air mata jatuh di wajah polos Lyra, Moeis berjalan mendakat dan memeluknya. Membiarkan Lyra agar sedikit lebih baik.
"Saya akan menghukum mereka. Siapa yang kamu curigai?"
"Tidak tau…" suaranya bergetar.
"Ingin mengganti semua pekerja??"
Mendengar hal itu, Lyra segera menolak. Ia mengusap wajahnya. Tidak mungkin mengganti semua pekerja hanya karena bunga. Ia menangis seperti ini mungkin karena emosi nya yang sedang tidak stabil.
"Bukan begitu. Hanya saja, ini sangat mengecewakan bagiku. Kamu mengerti kan? Aku sangat kesal, apalagi tidak ada yang mau mengaku. Hhfftt, lupakan saja tidak apa-apa" ucapnya pasrah.
"Mau lakukan bersama? menanam mawar baru.."
Lyra terkejut mendengar tawaran Moeis yang diluar dugaan. Seorang Moeis Meyers ingin melakukan hal yang tidak penting? Apa yang terjadi dengannya.
"Apa??...."
"Mari lakukan bersama. Jadi, jangan menangis hanya karena satu kali gagal. Kamu harus bisa bangkit dari kehancuran, jika menyerah di langkah pertama. Kamu belum bisa disebut Nyonya Meyers. Bagaimana?"
Seketika ekspresi Moeis berubah sedikit lebih tajam seperti biasanya. Jadi dibalik sikap tersebut, ada hal yang ingin Moeis ajarkan kepada Lyra sebagian kecil dari prinsip hidupnya.
"Apa kamu yakin?"
"Saya akan berganti pakaian.."
Melihat Moeis yang terlihat serius dan bergegas ke ruang ganti, membuat Lyra tetap tidak percaya.
"Sekarang juga?"
"Ya…"
__ADS_1
Bersambung...