Killing Me Softly

Killing Me Softly
66


__ADS_3

Moeis berjongkok di lantai untuk memeluk perut Lyra yang sedang duduk di sofa. Sejak tadi hanya mengelus-elus dan mengajak bicara tanpa henti membuat Lyra tertawa.


"Nak, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Moeis.


"Setiap hari kamu menanyakan itu. Mungkin dia akan bosan" sahut Lyra.


Moeis melihatnya. "Dia tidak akan bosan, karena yang bertanya adalah papa nya"


"Kamu ini ada-ada saja../ Kapan kita bersiap-siap" tanya Lyra.


Matahari sudah muncul dan seharusnya mereka bersiap-siap menuju kediaman Uncle Jo untuk menghadiri pernikahan privat Mikha dan Meidro. Hari ini adalah acaranya.


Sejak semalam sudah cukup membuat Lyra tidak sabar. Ia sangat ingin menemui Mikha dan sedikit berbicara untuk menanyakan keadaan nya.


"Sekarang??"


"Ya.. pakaian kita sudah di siapkan. Lagi pula aku ingin menemui Mikha dulu di ruangan nya. Ada yang ingin ku bicarakan.."


Moeis pun berdiri, "Baiklah kalau begitu..."


Diruang ganti pakaian, Lyra mengenakan dress yang simple dan nyaman untuk dirinya yang sedang hamil. Moeis membantu nya menaikkan resleting belakang.


Kemudian Lyra membantu mengancingkan pergelangan tangan kemeja putih Moeis. Mereka kompak dengan pakaian formal berwarna navy.


"Kamu tidak boleh terlalu banyak berjalan, ya. Duduk saja dan nikmati acara. Berhati-hatilah dengan makanan dan minuman di sana, akan banyak alkohol. Nanti saya akan ambilkan jus di belakang.. " ucap Moeis.


"Iya, tenang saja sayang" jawabnya sambil menggunakan kalung di meja rias menghadap cermin.


"Kamu sangat cantik..." Moeis berdiri tepat dibelakang Lyra. Matanya tidak bisa berkedip, karena terus menatap wajah Lyra.


"Kita berangkat sekarang.." ucap Lyra.


"Baiklah". Moeis membantu Lyra untuk turun ke bawah menuju mobil.


.......


.......


Pintu gerbang di jaga dengan ketat. Begitu memasuki halaman rumah Uncle Jo, sudah ada beberapa mobil kerabat dan hiasan bunga berwarna putih. Cukup sederhana tetapi terlihat indah.


Moeis terus menggandeng tangan Lyra saat masuk ke dalam. Menyapa kerabat dan juga keluarga Uncle Jo itu sendiri. Tuan dan Nyonya Dave juga sudah sampai. Mereka sudah mengobrol sebentar.

__ADS_1


"Moeis, aku ingin ke ruangan Mikha.." bisik Lyra.


"Baiklah... kesini.."


Moeis pun mengantarkan nya ke kamar Mikha. Terlihat perias sudah di persilakan duduk di depan kamar untuk menunggu acara.


Saat membuka pintu, Moeis meminta seseorang untuk keluar terlebih dahulu. Kemudian saat nya untuk Lyra masuk, sementara itu Moeis kembali ke depan untuk menyapa saudara lain nya.


"Mikha..."


"Kak Lyra..."


Lyra memeluk Mikha dengan haru. Sudah sangat lama sekali sejak pertemuan mereka. Jadi benar, tubuh Mikha memang menjadi kurus. Itu sebab nya menggunakan gaun yang tertutup, tetapi tetap cantik.


"Kamu cantik sekali, selamat Mikha.." ucap Lyra. Ia duduk di kursi sebelah nya.


Tangan mereka masih berpegangan.


"Terima kasih, kak. Ya ampun, perut kakak sudah membesar. Selamat juga, kak. Aku sangat rindu" . Terlihat sekali matanya berkaca-kaca.


"Iya... kakak juga rindu. Menahan rindu sekali.. / bagaimana perasaan mu sekarang? Sudah lega?"


Masih terlihat sendu di wajah Mikha, meskipun berusaha terlihat bahagia dan menutupinya. Lyra tau bagaimana perjuangan Mikha.


Tetapi Lyra berusaha tetap menguatkan nya.


"Sudah, jangan di pikiran lagi. Semua sudah berakhir... cukup nantikan saja hari esok bersama Meidro, ya?"


Mikha mengangguk, "Dia tidak menyerah menghadapi keras nya papa, aku sangat bersyukur.."


"Benar, sayang. ini terjadi karena kalian berdua sama-sama berjuang... tidak boleh sedih. Sebentar lagi acara akan di mulai"


Akhirnya Mikha pun tersenyum ceria lagi. "Yaa.. terima kasih kak sudah datang. / Dan... kapan kakak akan melahirkan?" tanya nya mengelus perut Lyra.


"Bulan januari, tidak lama lagi.."


"Baiklah, aku akan datang membawa kado terindah untuk kakak dan baby.. boleh aku langsung menggendong nya?"


Lyra mengangguki permintaan Mikha, "Tentu saja.."


.......

__ADS_1


Acara sudah di mulai. Lyra duduk bersama Moeis. Menyaksikan jalan nya pengucapan janji suci antara Mikha dan Meidro. Suasana ini sangat mengharukan. Lyra tidak bisa menahan air matanya.


"Apa kamu baik-baik saja? Ingin ke belakang?" tanya Moeis khawatir.


Lyra mendekat, "Tidak apa-apa, aku hanya turut bahagia atas pernikahan mereka"


"Kamu yakin?"


"Iya, sayang"


......


.....


Lyra bersandar di tempat tidur setelah pulang dari acara, sudah waktunya untuk beristirahat. Tetapi ia masih ingin menonton film.


"Sudah, Moeis. Memang nya kamu tidak mau menonton film nya dengan tenang?"


"Nanti saja.." jawab nya.


Sejak tadi Moeis memijat kaki Lyra yang di luruskan di tempat tidur. Ia tau bahwa akhir-akhir ini Lyra sering mengeluh pegal dan mudah lelah. Apa lagi acara tadi cukup melelahkan. Moeis khawatir Lyra tidak bisa tidur dengan tenang. Kaki nya pasti sangat pegal.


Lyra mengusap rambut Moeis.


"Kamu sangat baik.. terima kasih, sayang"


"Tidak masalah, saya tidak ingin kamu terus terbangun di malam hari. /Ingin merendam kaki di air hangat?" tanya Moeis serius.


Lyra tersenyum mendengarnya.


"Ini saja sudah cukup membuatku bisa tidur nyenyak, aku yakin kamu juga lelah.. kita tidur sekarang saja"


"Apa sudah lebih baik kaki mu?"


Moeis ingin benar-benar memastikan nya.


"Sudah sangat membaik..." jawab nya memeluk Moeis dan mereka pun akhirnya berbaring. Dengan Moeis yang menyerahkan lengan nya untuk di tiduri oleh Lyra. Hampir setiap malam seperti ini.


Perhatian Moeis membuat nya bahagia. Hingga saat tertidur pun kadang masih membuat garis senyum di wajah Lyra.


Ia hanya merasa sangat bersyukur dengan keadaan yang terbayarkan sekarang. Semuanya sudah seperti apa yang Lyra impikan sejak dulu.

__ADS_1


Saat bayi ini lahir, kutukan itu akan hilang. Dan Moeis akan merasakan jatuh cinta dan ia akan menjadi cinta pertamanya.


Bersambung...


__ADS_2