Killing Me Softly

Killing Me Softly
47


__ADS_3

Pukul 8 pagi. Lyra selesai mengeringkan rambutnya. Dan menunggu pelayan membawakan segelas air hangat untuk membuat susu.


Sementara Moeis masih dikamar mandi dengan suara percikan air dari shower.


Lyra tidak mengerti mengapa semalam ia tidur di pelukan Moeis. Dia benar-benar membuat nya pusing dengan sikap nya yang berubah-ubah. Tetapi tetap saja, ketika bangun sikap dingin itu kembali lagi.


Pintu nya terketuk. Lyra membukanya dan ternyata Ellie yang mengantarkan.


"Aku meminta pelayan Yuan yang mengantarkan" ucap Lyra datar.


Ellie sedikit membungkuk.


"Maaf nyonya, pelayan yuan sedang memasak"


"Baiklah.." Lyra menerimanya dengan ragu.


Setelah menutup pintu. Lyra kembali ke sofa dan mulai membuatnya.


Drttttt drrrttt…


Getaran ponsel mengalihkan pandangannya. Mungkin itu milik Moeis. Tetapi di mana? Lyra mencarinya.


Ternyata di atas tempat tidur. Terdapat panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Seperti nya nomor dari luar negeri.


"Hello?" jawab Lyra.


"Its me.."


"Hello??"


Lyra kembali menjawabnya. Mengapa terdengar suara perempuan?


Berkali-kali ia panggil tetapi tidak ada sahutan lagi. Kemudian panggilan terputus. Dan membuat nya penasaran siapa penelepon tersebut.


"Apa yang kamu lakukan dengan ponsel saya?"


Moeis keluar sambil mengeringkan rambutnya.


"Ah, tadi ada panggilan masuk.." jawab nya gugup. Kini pikiran nya terpecah.


"Siapa?"


"Wanita.." ucap Lyra pasti.


Hal itu membuat Moeis menoleh biasa.


"Benarkah.."


"Tetapi aku tidak tau siapa. Hanya nomor asing"


Lyra meletakkan ponsel Moeis di kasur. Ia kembali ke sofa untuk meminum susu dan vitamin nya.


Berkali-kali Lyra melirik Moeis yang berkutik dengan ponselnya tanpa bergerak sedikitpun.


"Bisa aku meminjam mobil mu?" tanya Lyra.


"Untuk apa?"


"Aku ingin membeli beberapa buku dan DVD kehamilan di toko..."


"Kamu bisa pergi. Pak Jun sudah selesai mencuci mobil. Jangan lupa minta dia menjagamu selagi berbelanja" jawab Moeis.


Tetapi bukan itu yang Lyra maksud.


"Tidak, aku ingin menyetir sendiri"


"Jangan memulai argumen. Berapa kali saya katakan untuk menjaga diri? Apa menyetir sendiri tepat untuk saat ini? Jika terjadi sesuatu kamu pasti akan menyesali nya. Ini adalah sikap perduli saya, terserah jika ingin kamu anggap emosi"

__ADS_1


Jawaban Moeis begitu menyudutkan nya. Nada nya pun sinis.


"Aku bisa menjaga diri.." ucap Lyra langsung memakai tas lengannya. Ia sudah bersiap untuk turun.


Moeis mendesis kesal.


#Flashback_ ****


(Semalam pukul 01.24)


Moeis berada di ruang kerja. Kemudian ponselnya berdering Terdapat panggilan masuk dari Ibu nya.


"Ya, Bu" jawab nya singkat.


"Ibu begitu bahagia, sayang. Terima kasih sudah mewujudkan keinginan kami. Bagaimana perasaan mu saat ini???" ucap nyonya Dave dengan semangat.


Moeis mengerti, ini pasti soal kehamilan Lyra. Ia mengangguk, menyudahi pekerjaan.


"Ya… saya bahagia.." jawab nya pelan.


"Selamat anak ku. Akhirnya keturunan mu akan lahir dan menerima berkat kesempurnaan di keluarga kita. Ada pesan dari ibu dan ayahmu"


"Katakan saja.. saya masih harus menyelesaikan pekerjaan"


"Mulai sekarang tidak bisa. Kembali lah ke kamar dan temani istrimu.. jaga dia"


"Ya,… jadi pesan apa yang ibu maksud?"


"Moeis… kamu tau? Setiap keturunan pertama adalah yang dapat membangun kejayaan keluarga kita di masa depan. Seperti dirimu.. Apa lagi jika Lyra mengandung anak laki-laki. Maka hidup mu sudah sepenuhnya completed. Jadi bantu lah Lyra membesar kandungan nya.. mengerti?"


Moeis memijat pelipisnya.


"Baik…"


"Ibu tau. Bagaimana perasaan mu yang sebenarnya. Pasti belum sebahagia seharusnya.."


"Ya.. saya tidak merasakan apapun. Dan saya belum mencintai Lyra" ucap nya yakin.


"Bu…"


"Ya? Ada apa?"


"Saya …. sedang dalam masalah besar" ucap Moeis frustasi.


"Katakan.. Apa yang terjadi kali ini?"


Tidak bisa di sangkal. Ibu nya lah yang selama ini mengatur jalan hidup nya. Termasuk masalah-masalah besar dalam kehidupan pribadinya. Meskipun terkadang, ibu nya masuk terlalu dalam.


"Mungkin tidak dapat terselesaikan. Dan akan menyakiti Lyra"


"Selama Ibu turun tangan. Semuanya selesai. Apa yang kamu takut kan? Maka dari itu jangan biarkan Lyra tau sedikitpun. Buatlah dia merasa nyaman, buat dia percaya padamu.. lakukan itu anak ku.."


"Bagaimana bisa.. saya saja tidak tau apa yang akan terjadi kali ini" ucap nya putus asa.


"Untuk saat ini.. berikan seluruh perhatian mu untuk Lyra. Jauhkan hal-hal tersebut dari nya… jika tidak kamu akan menyesali itu. Sebab sebentar lagi anak kalian lahir.. kalian akan menjadi keluarga yang bahagia.. - Ceritakan apa masalah nya kali ini.."


"Saya…."


Moeis memberitahu semua masalah yang membuat nya frustasi akhir-akhir ini. Belum lagi banyak perusahaan sedang dalam penanganan besar-besaran.


"Ya tuhan. Kamu tidak dapat percaya, bagaimana bisa… jangan salahkan ibu, jika ibu melakukan tindak kriminal kali ini. Ingat itu!!!"


Jawaban ibu nya membuat Moeis semakin gila dan ingin hancurkan apapun di hadapannya.


#Flashback_Off. ****


Setelah memakai jaket kulit berwarna hitam dan topi. Moeis menyusul Lyra ke bawah. Jika terjadi apa-apa dengan istrinya, bisa-bisa keluarga nya murka.

__ADS_1


"Berikan.."


Moeis merebut kunci mobil yang sedang Lyra pegang. Mereka keluar dari pintu utama.


Lyra hanya menggunakan pakaian santai selutut. Ia melihat Moeis dengan heran.


"Aku ingin menggunakan mobil nya sebentar.."


"Masuk, saya antar"


"Apa??"


Lyra masuk setelah melihat Moeis menyalakan mesin mobil. Ia kemudian menggunakan seatbelt.


"Apa yang kamu lakukan? Memang tidak ada jadwal apapun?"


"Tidak.."


Selama 15 menit Moeis hanya sibuk dengan setir dan suara mesin, mengecek ini itu. Hal itu membuat Lyra mulai jenuh.


"Kamu akan mengantarkan aku atau tidak? Kenapa lama sekali…"


"Mobil ini baru saja di ganti beberapa bagian mesin nya. Jadi saya harus cek kembali"


Lyra menghela nafasnya. Ia benar-benar bosan.


"Aku naik taksi saja.."


Melihat Lyra yang ingin melepaskan seatbelt. Moeis pun mengalah dan segera melaju.


Karena tempatnya tidak jauh. Hanya 20 menit, mereka pun sampai. Hanya toko di pinggir trotoar kota dekat petshop dan penjual bunga.


"Kamu yakin ingin membelinya di sini?"


"Kenapa tidak? Lalu kenapa kamu turun? Pulang saja.."


"Sudah, masuk saja kalau begitu" jawab Moeis tidak peduli.


Ia mengikuti Lyra memilih buku dan DVD. Memakan waktu lebih dari setengah jam.


"Kamu harus memilih yang ini. Terdapat stempel standar internasional.." Moeis memperlihatkan buku tebal dari koleksi penerbit profesional.


Namun Lyra menolaknya. Ia sudah mengambil beberapa buku pilihan nya.


"Aku bahkan tidak ingin melihat covernya. Buku itu hanya berisi tulisan dan foto seperti buku kedokteran.."


"Tetapi ini lengkap. Kenapa kamu memilih buku bergambar? Apa kamu anak kecil???"


Lyra mengangkat bahu nya. Ia memang memilih beberapa buku bergambar yang lebih menyenangkan.


"Mungkin bukan aku yang mau. Tetapi si kecil didalam sana" jawab nya santai.


Moeis hanya menggelengkan kepalanya tidak mengerti. Setelah melakukan pembayaran. Saat hendak masuk mobil. Lyra diam dan berdiri menghadapi seberang jalan.


"Cepat masuk.." pinta Moeis.


"Mmmm… toko cake disana menawarkan menu baru edisi sakura. Aku mau ke sana" ucap nya hendak menyebrang.


Moeis pun keluar dan menyebrangkan jalan. Ia benar-benar kalah hari ini. Mau tidak mau.


Ia bahkan memesanakn cake dan minuman. Sementara Lyra menunggu di meja.


"Kamu tidak perlu terpaksa begitu. Pulang saja jika mau" ucap Lyra.


Moeis menyeruput americano miliknya. Dan hanya Lyra yang memesan sakura cake dengan strawberry milkshake.


"Sudah, cepat habiskan"

__ADS_1


Lyra memanyunkan bibirnya. Padahal tempat ini sangat nyaman dan bagus. Ia bingung kenapa Moeis tidak menyukai nya.


Bersambung...


__ADS_2