
Lyra menjalani awal masa kehamilan nya dengan sedikit perhatian dari Moeis. Tetapi ia tetap melakukan apa-apa yang ia bisa. Setiap hari mempelajari banyak hal dan menonton video Disney.
Sementara Moeis ada beberapa kali perjalanan bisnis dan terhitung berapa kali ia tidur dirumah. Ia tidak membantu banyak.
Pagi ini Lyra dan Moeis sudah sampai di halaman besar rumah orang tua nya untuk acara open house. Mereka baru saja keluar dari mobil, Moeis mengambil beberapa kotak hadiah yang ia siap kan.
"Biar ku bantu.."
"Tidak usah" jawab Moeis.
Beberapa mobil sudah terparkir dengan pintu terbuka dan banyak hiasan bunga menyambut.
Kedatangan mereka benar-benar di sambut keluarga. Meskipun acara belum mulai dan masih persiapan.
Nyonya Dave memeluk Lyra.
"Lyra.. terima kasih telah datang. Bagaimana kondisimu?"
"Semua baik-baik saja, Bu" ucap nya tersenyum.
Di belakang ada juga orang tua Lyra yang hadir.
"Mama merindukan mu, sayang. Lihatlah seperti nya pipi mu semakin tebal"
Lyra tertawa.
"Belum. Apa mama menantikan nya?"
"Tentu saja.. jadi apa kamu sudah mengetahui jenis kelamin nya?"
"Mungkin di pemeriksaan selanjutnya. Kemarin aku masih belum ingin tau.."
"Baiklah, kemari lah kita berkumpul dengan ibu mertua mu.."
Sementara itu Moeis di ajak bicara dengan papa dari Lyra. Mereka duduk bersama di dekat patung ruang tamu.
"Papa berterima kasih, kepadamu. Karena sudah menjaga Lyra"
Moeis bersikap santun kepada mertuanya.
"Ya, Pa. Lyra melakukan nya dengan baik"
"Kami tau kamu sangatlah sibuk, maka dari itu papa pernah meminta Lyra untuk tidak terlalu bergantung kepadamu"
"Maafkan saya, Pa. Sikap saya masih sering mengecewakan bagi Lyra"
Papa mengangguk. Ia juga menghormati Moeis.
"Jangan khawatir. Kami pun masih ingin menjaga Lyra dari jauh.."
Setelah percakapan singkat tersebut. Moeis menghampiri Lyra dan mengajak nya ke kamar nya selagi menunggu acara kumpul dimulai. Masih sekitar 2 jam lagi selagi menunggu keluarga besar dan rekan bisnis orang tua nya berkumpul.
Saat ingin menaiki anak tangga. Moeis dipanggil oleh ayah nya dan kumpulan teman nya. Salah satu nya ada Pak Reymon dan Celine.
"Kamu bisa ke kamar lebih dulu.." ucap Moeis pada Lyra.
Namun Lyra menahan lengannya.
"Temani aku.."
"Nanti. Ok?"
Lyra hanya diam melihat Moeis menghampiri wanita itu. Ia mengingat Celine yang datang ke rumah malam-malam.
Ia sedikit tidak habis pikir bagaimana bisa Celine memeluk Moeis seperti anak kecil di depan banyak orang. Lyra pun naik begitu saja, ia tidak tahan melihatnya.
"Moeis.. kita bertemu lagi"
"Ya…"
Pak Reymon dan teman nya tertawa.
"Lihatlah, kalian seperti sudah berteman selama bertahun-tahun"
__ADS_1
"Kami harap kalian bisa ikut mengeratkan hubungan bisnis kami.."
"Ya, pak"
Tuan Dave melihat sekitar.
"Moeis, dimana istrimu? Kita perlu mengenal kan nya kepada teman-teman ayah"
"Lyra baru saja naik ke kamar. Saya akan perkenalkan nanti saat acara di mulai.."
"Baiklah.."
"Moeis.. bisa temani aku mencari ibu mu? Aku ingin menyapa nya juga"
"Tentu .." jawab nya berat.
Setelah bertemu. Celine langsung menyapa nyonya Dave dengan sangat baik.
"Halo tante.." sapa Celine.
"Ya? Siapa dia Moeis?" nyonya Dave nampak tidak mengingat nya.
"Celine, Bu. Anak pak Reymon.."
"Celine… ah, benar. Bagaimana kabarmu?"
Mereka berpelukan.
"Aku baik, tan. Wah, tante tidak berubah ya, masih terlihat semuda dulu"
"Tidak perlu berlebihan.. " jawab nya berusaha ramah. Bagaimana pun juga ibu Celine merupakan teman satu club nya.
"Benar tan" jawab nya super ramah.
"Kalau begitu saya ke atas dulu.." ucap Moeis. Ia hendak melihat Lyra.
Namun Celine merangkul lengannya dengan mesra.
"Saya harus ke atas.."
"Benar, Celine. Moeis harus menemui istri nya dulu di kamar. Kemari lah ikut tante mengecek kue di belakang" sahut nyonya Dave.
Ia telah memberikan tatapan maut kepada Moeis untuk tidak terlalu dekat dengan Celine. Apalagi disini ada orang tua Lyra. Bagaimana jika mereka melihatnya?
Moeis menyadari tatapan tersebut.
"Hmm.. baiklah, tan" ucap Celine tidak bersemangat.
Akhirnya Moeis merasa lega karena telah terpisah dari Celine. Wanita itu benar-benar belum dewasa seperti dulu dan tidak mengerti situasi.
Saat menutup pintu kamar nya, tiba-tiba Moeis merasakan pelukan yang erat dari Lyra.
"Lyra.. "
Pelukan tersebut terasa cukup lama. Hingga akhirnya mereka bertatapan.
Lyra berjinjit dan tangan nya melingkar di belakang leher Moeis dan mencium nya dengan lembut.
Hal itu cukup membuat Moeis terkejut. Sebab sudah sejak terakhir kali mereka berciuman. Ia tidak dapat mengingatnya.
Ciuman tersebut berubah menjadi kasar saat Moeis menjadi ingin membalasnya. Dengan caranya. Dari pada berdiri seperti ini, ia perlahan membuat Lyra tertidur di ranjang.
Seperti biasa, Moeis menelusuri hingga telinga dan leher Lyra.
Tetapi ini bukan waktu yang tepat. Lyra tidak ingin Moeis terlanjur meninggalkan bekas merah. Sementara setelah ini ia akan menemui banyak orang di bawah.
Lyra menyudahi nya dengan kepala sedikit menjauh. Moeis memejamkan matanya dan mengerti maksud Lyra.
Tidak ada percakapan apapun. Masih dalam posisi Lyra di bawah. Nafas mereka memburu berusaha menangkan diri.
Bahkan hubungan mereka masih dingin dan terbilang tidak baik. Tetapi ini terjadi.
Setelah di rasa tenang. Lyra duduk untuk merapihkan pakaian dan menggerai rambutnya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" Tanya Moeis berat.
Lyra menelan saliva nya.
"Tidak ada. Aku hanya.. - aku tidak suka dia.." ucap nya jujur.
"Jika menjadi masalah lebih baik dirumah saja. Ini bukan waktunya untuk mulai bertengkar. Mengertilah.."
"Memang ini soal Celine"
"Tidak perlu membahas nya sekarang. Saya tidak ingin lepas kontrol .."
Lyra hanya diam melihat punggung Moeis dari belakang.
///
Setelah selesai acara. Lyra dan Moeis pulang bersama. Tetapi Lyra hanya diam. Ia benar-benar di uji dengan banyak wanita di sekitar Moeis.
Bahkan selama acara, Moeis lebih banyak menyapa anak teman ayah nya dan Celine selalu mengambil kesempatan. Dan Lyra bersama ibu-ibu teman mertua nya untuk membicarakan soal kehamilan.
"Saat kamu bersama wanita-wanita itu, apa artinya kamu sedang berselingkuh?" tanya Lyra di tengah-tengah perjalanan yang sunyi.
"Tidak.."
"Berapa banyak yang kamu temui diam-diam?" tanya Lyra mencoba untuk menerima meskipun sakit.
"Ada beberapa" jawab Moeis datar.
"Jika kamu berani sampai melakukan hubungan intim dengan mereka. Tidak ada alasan lagi untuk kita tetap bersama, aku akan pergi. Saat anak ini lahir, aku akan pergi dengan nya" ancam nya marah.
Moeis memang selalu membuatnya memendam amarah.
"Kenapa tidak jawab??" tanya Lyra lagi.
"Diam lah, saya sedang menyetir" ucap Moeis mengalihkan.
#Disisi lain. Di rumah Nyonya Dave.
Saat rumah sudah sepi dan beberapa lampu telah padam. Ellie baru saja tiba di tengah malam karena panggilan dari Nyonya Dave.
Bukan tidak tau apa tujuannya. Panggilan di tengah malam artinya penyiksaan bagi Ellie akan datang.
Tetapi ia seperti tidak kenal ampun dan takut.
Selama ini Ellie tidak pernah berpakaian terbuka, sebab tubuhnya penuh luka dan lebam.
Ellie berjalan melewati jalan samping menuju bangunan di ujung. Pastinya, Nyonya Dave telah menunggu.
"Gulung lengan mu!!!" bentak nyonya Dave.
Ellie hanya menurut, memajukan tangannya.
Satu persatu cambukan dengan besi panjang mendarat dengan keras meninggalkan luka dan jeritan.
"Buka!! Buka semua pakaian ini. Kamu benar-benar wanita iblis yang di turunkan dari neraka!"
Penyiksaan di tengah malam selalu Ellie dapatkan, ketika nyonya Dave tau. Bahwa Ellie telah membuat kekacauan di hidup Moeis. Tetapi mengapa ia tidak dapat di usir?
Sebab, Ellie mengetahui semua aib keluarga yang sangat berbahaya. Ia telah di bawah perjanjian, dan sebagai ganti dari penyiksaan ini. Ellie ingin terus berada di sekitar Moeis.
"Membungkuk!!" Murka nyonya Dave.
"Aaaakkk, agghh" jeritan Ellie memenuhi bangunan ini tanpa diketahui oleh siapapun.
"Berani-berani nya kamu menghancurkan rumah tangga anak ku. Lihat wajah saya!!"
Ellie telah merasa kesakitan. Ia menangis, tetapi tidak peduli.
"Dengar! Lyra dan Moeis adalah harta berharga kami, dan saya akan mencium setiap kebusukan kamu untuk melindungi mereka. Berhenti mengacau!!!!"
Teriak nyonya dave terus melukai Ellie tanpa ampun. Ini bukan pertama kalinya. Ini sudah biasa Ellie terima.
Bersambung...
__ADS_1