Killing Me Softly

Killing Me Softly
30


__ADS_3

Kim: "Ya, saya rasa sekarang sudah saatnya untuk hadir calon pewaris masa depan di keluarga anda. // Dan, untuk 5 bulan kedepan. Hal apa yang sedang menanti kalian untuk dikerjakan?


Lyra: "Sekarang saya sudah memulai kesibukan di perusahaan ini. Menjalaninya dengan baik.. lalu ada beberapa rencana juga untuk melakukan kegiatan sosial di daerah-daerah yang membutuhkan"


Moeis: "Hal yang menanti saya hanya lah kerja sama yang menarik, tentunya agar perusahaan stabil dan terus berkembang. Banyak hal yang ingin saya capai.."


Kim: "Baik.. apa itu artinya Bu Lyra juga bekerja, alih-alih menikmati kehidupan yang nyaman di rumah?"


Lyra: "Saya baru memulainya… dan saya masih tetap bisa menikmati kehidupan yang nyaman di rumah ya.. saya masih mengurus pengelolaan nya"


Kim: "Luar biasa. Ini adalah pertanyaan terakhir… harapan kalian untuk pernikahan ini?


Lyra: "Karena kami tidak sebaik itu dalam membuat suasana selalu baik, saya hanya berharap bahwa pernikahan ini akan selalu bahagia. Akan selalu di lingkaran oleh cinta. Tentu nya kami ingin segera menata keluarga ini agar lebih baik lagi"


Mendengar ucapan Lyra yang tulus. Moeis merasa itu adalah benar. Meskipun tidak mengerti mengapa ada keraguan didalam dadanya.


Moeis: "Ya.. pernikahan hanya akan terjadi satu kali. Lalu, membangun keluarga juga dapat terus dipelajari. Karena kesempatan ini ada, dan kesalahan juga pernah ada. Kami tidak ingin merasa menyesalinya. Kami hanya ingin semuanya berjalan baik kedepannya "


Setelah proses interview selesai. Moeis dan Lyra beberapa kali diminta untuk foto bersama. Mereka melakukan nya dengan sangat baik.


///


Suasana justru menjadi canggung entah karena apa. Mungkin kah hanya karena interview tadi? Sementara Moeis dingin dan tidak berbicara banyak, Lyra pun sama. Ia tidak tau harus membicarakan apa.


Saat ini mereka sudah berapa didalam lift hotel didekat perusahaan untuk bertemu Ayah dan Ibu dari Moeis dan makan siang bersama di restoran berbintang. Ini adalah pertemuan mendadak atas permintaan mertua Lyra.


Setelah keluar dari lift, mereka berjalan masuk bersama. Mereka berbincang-bincang terlebih dahulu.


"Apa semuanya berjalan dengan baik? Ayah dengar Tuan Zhang Jing memintamu datang ke perusahaan nya di Beijing?" tanya Tuan Dave.


"Ya. Saya sudah melakukan nya. Dan keputusannya akan dibawakan oleh perwakilan mereka 1 minggu lagi"


Tuan Dave menghela nafasnya.


"Ayah sudah melakukan banyak hal, tetapi Tuan Zhang ini berbeda. Dia tidak semudah saat pertemuan. Keputusan nya sangat tajam. Dia bisa saja tersenyum untuk menolaknya. Bersiaplah untuk keputusan apapun.."


Namun hal itu tidak membuat Moeis pesimis sedikitpun. Ia justru yakin bahwa usahanya kemarin tidak sesepele itu. Ia akan mendapatkan kerja sama tersebut dan mulai menggarapnya

__ADS_1


"Tidak, saya rasa semuanya berjalan baik. Hadir lah nanti saat perwakilan mereka datang. Dan saksikan sendiri…"


Tuan Dave tertawa puas menatap Moeis.


"Kau ini… baguslah"


Kemudian tatapan Tuan Dave beralih kepada Lyra yang sedang mengobrol dengan istrinya.


"Menantu ayah satu-satunya. Bagaimana pekerjaan mu?"


Lyra tersenyum.


"Semuanya baik, Yah. Aku bahkan sudah mendapatkan sekretaris"


"Ya.. tetapi ada satu hal lagi" ucapnya serius.


Hal itu membuat Lyra dan Moeis penasaran.


"Lyra, harus berhenti ketika nanti mengandung calon cucuku. Kamu harus mengurus nya dengan baik. Berikan kami cucu laki-laki…"


Seketika Lyra membeku. Rasanya ingin bersembunyi di belakang Moeis.


"Mmm… belum, bu. Kami masih menunggu nya"


'Katakan sesuatu Moeis' Batin Lyra.


"Baiklah, besok ikut ibu ke suatu tempat. Kami khawatir ada masalah sehingga kamu belum juga mengandung.."


Lyra mengedarkan pandangan nya. Apa yang harus ia lakukan?


"Tempat apa, bu?" tanya Lyra ragu.


"Sudahlah, bu. Lyra juga baru saja bergabung dengan perusahaan. Biarkan dia menikmati waktunya dulu.." sahut Moeis.


Namun kedua orang tuanya nampak tidak setuju.


"Mau sampai kapan?" tanya Dave.

__ADS_1


"Ayah…."


"Ya...baik, Bu. Aku akan ikut ke tempat itu besok" sahut Lyra.


Ia mulai merasakan suasana menegangkan, sehingga harus mengiyakan nya saja.


Moeis menatap nya.


"Ya sudah terserah kamu saja" singkatnya.


"Tidak akan lama. Juga….. kami melihat foto kalian saat di Bali. Ibu tidak tau kamu memiliki waktu seluang itu" ucap ibunya kepada Moeis.


"Saya sudah berjanji dengan Lyra. Saat itu juga saya datang sudah terlambat.." jawab Moeis.


"Baik. Teruslah seperti ini.. " ucap Dave.


Lyra merasa semakin terbebani karena permintaan mertuanya yang terburu-buru. Bahkan memantau kehidupan pernikahannya. Ia hanya berharap mereka tidak tau mengenai masalah-masalah yang mereka hadapi.


//


Didalam perjalanan kembali ke perusahaan.


"Moeis..."


"Ya?" jawab nya singkat. Ia begitu sibuk dengan ponselnya.


"Apa kamu ingin memiliki anak secepatnya juga? Ku rasa orang tua mu sudah sangat menginginkan nya"


Moeis menghela nafasnya.


"Tidak perlu terburu-buru kan? Saya benar-benar bisa menunggunya lebih lama lagi. Mengurus anak tidaklah mudah. Mau tidak mau waktu kita akan banyak tersita"


"Kamu benar..." jawab Lyra.


'Ternyata begitu menurutmu...' batinnya. Mengapa akhir-akhir ini 'anak' selalu menjadi topik utama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2