Killing Me Softly

Killing Me Softly
18


__ADS_3

Ellie berdiri di depan ruangan dengan mata memerah dan nafas yang tidak beraturan melihat Moeis berjalan memasuki kamarnya.


Sudah tidak ada lagi yang dapat ia lakukan sekarang, semuanya nampak sia-sia. Sejak kehadiran Lyra.


….


"Cukup pijat sampai saya selesai mengecek email saja.."


Lyra mengangkat sebelah alisnya, tangannya terus memijat pundak gagah Moeis.


"Kenapa? Aku bisa memijat mu sampai tertidur. Tidak apa-apa.."


"Besok adalah hari pertamamu bekerja. Jadi persiapan dirimu saja. Lagi pula saya tidak bisa tidur jam segini"


Lyra mengangguk, itu benar. Ia tidak pernah melihat Moeis tidur di bawah pukul 12 malam.


"Aku penasaran.."


Moeis sedikit menoleh.


"Tentang apa?"


"Banyak hal… tentang mu"


Ia terus melihat sisi samping wajah Moeis yang terlihat sangat serius membaca email.


"Biasanya kamu tidur pukul berapa?" tanya Lyra.


"Seharusnya pukul 3, tetapi terkadang bisa lebih. Ada banyak hal yang harus saya urus, cek dan bahkan rencanakan. Belum lagi ada beberapa anak buah yang harus melaporkan sesuatu pada saya lewat panggilan video"


"Jam 3, artinya kamu hanya tidur kurang lebih 2 jam? Kamu bahkan berangkat lebih awal dari pada waktu ku bangun tidur. Apa itu tidak membuatmu lelah? Kamu benar-benar menyiksa diri kalau begitu.."


Apa menjadi seorang CEO selalu sesibuk itu? Lalu untuk apa punya ribuan karyawan bahkan sekretaris jika Moeis masih harus bekerja sekeras itu. Tetapi dia benar-benar tangguh dan tidak terkalahkan. Sama seperti Tuan Dave.


Moeis menutup dokumen, merubah posisi duduknya menjadi sedikit lebih nyaman.


"Jika ingin bersantai, tentu saja bisa. Ada banyak waktu yang saya miliki. Tetapi itu hanya sebuah pilihan. Saya terbiasa membangun komunikasi bisnis sebaik-baiknya dengan banyak pihak. Ada begitu banyak juga kesepakatan dan perencanaan di kepala saya. Jika perusahaan hanya di biarkan berjalan tanpa adanya tujuan-tujuan yang lebih besar. Maka Bara Group akan sangat mudah dikalahkan" ucapnya dengan pasti.


Mendengar ucapan Moeis, semakin membuka pikiran nya lebih luas lagi. Membuka pengertiannya dan mengenal seperti apa karakternya.


"Tetapi, kamu tetap harus menjaga kesehatan. Mungkin sekarang kamu masih bisa, tapi…."


"Lyra.. ada begitu banyak pesaing bahkan rekan bisnis yang ingin menjatuhkan kita secara diam-diam. Saya tidak terbiasa lalai ataupun mengalah. Saya tidak bisa…"


Lyra menghela nafasnya.


"Berjanji lah padaku… akan ada saatnya kita harus sedikit bersantai mungkin di pagi hari untuk mengobrol atau mungkin berolahraga. Apalagi jika nanti…"


Melihat Lyra yang tidak melanjutkan ucapannya membuat Moeis sedikit bingung.

__ADS_1


"Nanti??"


Lyra sedikit merasa gugup.


"Ya.. jika nanti kita sudah memiliki anak. Aku tidak mau dia tumbuh tanpa melihat Ayahnya. Kamu kan sangat sibuk!"


Moeis tersenyum mengangguki perkataan Lyra yang terlihat sangat sulit untuk di ucapkan.


"Tenang saja. Saya sendiri yang akan membentuk karakternya, dia tidak boleh lemah seperti mu.."


Lyra membulatkan matanya dan memukul lengan Moeis.


"Yang benar saja.."


Mereka tertawa dengan berbagai candaan di atas tempat tidur. Namun setelah itu Moeis tetap meninggalkan Lyra di kamar nya, sementara ia kembali ke ruang kerja hingga menjelang pagi.


//


Pada hari pertama nya menangani beberapa kendala keuangan, Lyra cukup kompeten dan dapat memberikan banyak masukan dan solusi. Ia juga meminta sedikit perubahan pada laporan sesuai dengan kebutuhannya.


Lyra bersandar setelah seorang karyawan keluar dari ruangan.


"Bu, anda diminta untuk ke lantai 42 oleh Pak Moeis. Mari saya antar…"


Ini jam istirahat, apa yang akan ia lakukan di lantai teratas di gedung ini?


"Baiklah…"


Ia berjalan dengan suara heels, menghampiri Moeis yang sedang duduk di sofa menghadap jendela besar.


"Terima kasih" ucap Moeis setelah dituangkan wine ke dalam gelasnya.


"Tempat apa ini? kenapa sangat berbeda?"


Moeis menoleh, mengisyaratkan Lyra untuk mengambil gelas wine didepannya.


"Tidak sembarang orang dapat naik ke lantai ini. Hanya mereka yang setara dengan saya saja. Kita akan makan disana" ia berdiri menuju meja makan kaca.


"Sebelumnya kamu makan dengan siapa?"


Moeis dan Lyra mulai menyantap makan siang bersama.


"Jika sedang ada pembicaraan penting dengan ekskutif atau rekan bisnis, saya undang mereka kesini. Tidak setiap hari.."


"Benarkah.."


"Lyra, dengarkan baik-baik. Ini adalah tempatmu, saat jam makan siang atau lelah. Dia akan melayanimu, tetapi jangan ajak siapapun. Saya akan banyak urusan dan bahkan perjalanan bisnis keluar negeri. Disana ada 1 kamar besar yang biasa saya pakai juga. Mereka sudah mengatur sidik jarimu untuk akses ke lantai ini.."


Lyra cukup terkesan dengan semua yang Moeis berikan padanya. Suaminya adalah orang yang sangat pekerja keras, ia hanya berharap untuk bisa lebih memilikinya lagi. Hingga benar-benar mengetahui semua yang ada pada diri Moeis tanpa kecurigaan apapun.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memperhatikan ku"


"Mari tetap menjaga profesional di kantor. Saya tidak ingin terlalu banyak bicara didepan pada karyawan, tidak perlu juga berdekatan dan mengobrol kan sesuatu yang tidak terlalu penting"


"Di depan mereka?"


Moeis mengangguk.


"Ya.. bawa dirimu setinggi-tingginya agar mereka menghormati mu. Jangan biarkan satu orang pun berani meremehkan atau merendahkan. Ingat siapa dirimu"


Yang Moeis ucapkan semuanya benar. Ia juga berpikir begitu, bagaimana pun juga ia harus menjaga nama baik Moeis dan setara dengannya.


"Ya .."


"Ada satu hal yang belum saya katakan. Ini adalah perintah dari Ayah juga. Kamu tidak harus datang setiap hari ke kantor. Pekerjaan mu bisa dikerjakan di rumah. Sekretaris untukmu akan datang besok pagi, dia yang akan mengatur setiap pertemuan yang dijadwalkan untukmu"


Hah, Lyra tidak menyangka akan mendapatkan sekretaris juga.


"Hmmm. Kalau begitu ada yang harus ku katakan juga. Ku harap kamu bisa menemaniku menghadiri pernikahan sahabatku di Bali pekan ini.."


Moeis menatap Lyra.


"Pekan ini?"


"Tepatnya hari sabtu. Dan juga akan ada makan malam perayaan. Luangkan waktumu…"


Moeis tidak yakin dengan itu karena belum melihat jadwalnya untuk minggu ini. Ia pun mengambil ponsel dia saku nya dan menghubungi seseorang.


"Periksa jadwal saya untuk sabtu ini.."


Ekspresi Lyra berubah. Pasti dia adalah Helena si sekretaris seksi. Ia sedikit melihat tubuhnya yang dirasa lebih bagus dari pada wanita itu.


"Baiklah. Ya, lakukan sebisamu.." ucap Moeis lalu menutup panggilannya.


"Bagaimana?" tanya Lyra antusias.


"Jumat pagi saya ada kesepakatan bisnis di Tokyo. Juga… undangan jamuan budaya dengan para investor. Jadi..."


Belum sempat melanjutkan ucapannya. Raut wajah kecewa Lyra sudah begitu terlihat.


"Jadi kamu tidak bisa?!"


"Saya tidak yakin, maka dari itu semua tergantung Helena. Dia akan coba untuk mengatur nya"


Seketika mood Lyra berubah. Bagaimana bisa ia hanya datang sendiri ditempat se romantis Bali. Apa lagi mereka akan mengadakan makan malam bersama pasangan masing-masing ditempat mewah. Apa jadinya jika hanya dirinya yang datang sendirian???


"Aku tau kamu sibuk, mau bagaimana lagi…" gumam nya kecewa, menatap ke arah gelasnya.


Melihat hal tersebut, Moeis tidak berkata apa-apa lagi. Ia tidak ingin berjanji-janji dan membuat harapan kosong hingga Lyra begitu berharap tinggi. Bagus jika dia mengerti, ini akan lebih mudah baginya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2