
Lyra menyetir mobil sendiri untuk menemui ibu mertuanya disebuah rumah sakit besar di pusat kota Jakarta. Hari ini ia diminta menjalani beberapa test dan konsultasi soal kehamilan.
Ia sedikit terlambat karena bangun kesiangan. Sebab semalam ia dan Moeis memasak bersama dan menghabiskan masing-masing 2 kaleng bir hingga mabuk dan tertidur pulas.
Ponselnya kembali berdering. Ah, ibu mertuanya.
"Iya, Bu. Aku sudah di parkiran. Sebentar lagi .."
Namun Lyra hanya diam begitu berhasil memarkikan mobilnya. Ia mendengarkan ucapan ibu mertua.
"Ya, tidak apa-apa. Baiklah, Bu."
Nafasnya sudah tidak beraturan sejak tadi. Tetapi tiba-tiba saja pertemuan ini batal. Ibu mertuanya mengatakan ada hal penting yang mendadak dan ingin me-reschedule pemeriksaan.
"Aku bahkan hampir terkena tilang" ucapnya lelah.
Sekarang ia tidak tau apa yang harus dilakukan. Sudah tidak masuk kantor, dirumah sepi.
Lyra akhirnya menelepon Moeis dan meminta untuk lunch bersama di restoran dekat perusahaan. Ia sampai terlebih dahulu dan memilih meja dekat jendela. Kurang lebih 10 menit, ia masih berkutik dengan ponsel.
"Lyra.."
"Akhirnya kamu datang.." sambut Lyra memeluk singkat.
"Ada apa? Kenapa tidak jadi bertemu ibu?"
"Ya.. aku sudah datang. Tetapi ibu ada urusan mendadak dan meminta lain waktu"
Sebelumnya Lyra sudah memesan makanan dan kini datang tepat setelah Moeis sampai.
"Semalam kamu mengatakan hal-hal aneh.." ucap Moeis.
Lyra terkejut. Ia tidak percaya. Tetapi memang kebiasaan mabuk nya adalah bicara sembarangan.
"Ah apa.. memangnya apa yang ku ucapkan? Sepertinya tidak ada"
Moeis tersenyum ringan mengingat kembali kejadian semalam. Sementara ia tidak mabuk sedikitpun hanya karena 2 kaleng bir. Toleransi nya terhadap alkohol cukup tinggi.
"Saya mendengarnya.."
Lyra geram karena penasaran.
"Ya apa? Katakan…"
"Kamu mencintai saya, lalu ingin membunuh .."
Seketika Lyra menutup mulutnya. Pandangannya kini sudah tertunduk.
"Yang benar saja.. jika aku mencintaimu kenapa juga membunuhmu?" ucapnya pelan.
Namun Moeis menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang ia maksud.
"Bukan saya yang ingin kamu bunuh.., kamu benar-benar bisa mengerikan juga" sindir nya.
"La-lalu? Siapa? Lagi pula aku tidak ada niatan membunuh orang, mengapa sampai terbawa saat mabuk.. itu tidak benar" jawab Lyra membela diri.
Moeis menganggap respon Lyra kali ini sangat lucu.
"Kamu ingin membunuh Ellie dan Helena...bisa-bisa pekerjaan ku berantakan tanpa mereka"
Hal itu membuat Lyra semakin terkejut sekaligus malu juga.
"Benarkah? Mmm… ya, mungkin saja itu hanya halusinasi biasa. Semua orang yang mabuk cenderung mengatakan omong kosong, kan? Aku juga begitu.."
Moeis yang sedang menyantap makan siang, menatap matanya sesekali.
"Lalu, saat kamu mengatakan mencintai saya itu juga omong kosong?" tanya Moeis dengan santai.
__ADS_1
Pertanyaan tersebut membuat Lyra merasa kikuk. Tidak tau harus menjawab apa.
"Ya, ya tidak tau. Lagi pula kamu juga tidak mencintai ku kan?" tanya nya ingin memastikan sesuatu.
Lyra pura-pura fokus memilah brokoli, tetapi sebenarnya sangat menunggu jawaban Moeis.
Sesuai perkiraan nya! Moeis hanya tersenyum kecil dan melewatkan topik tersebut. Mengapa hal ini justru membuatnya overthinking.
Suasana hening untuk beberapa saat. Tidak ada pembicaraan apapun.
Lyra mengingat sesuatu, ucapan Ibu mertuanya. Bahwa Moeis tidak pernah benar-benar mencintai wanita sebelum memiliki keturunan. Jadi, seperti nya Lyra mulai mempercayai hal tersebut. Sikap Moeis memang sudah lebih baik padanya, tetapi bukan berarti cinta itu ada. Lyra tidak bisa memastikan nya sedikitpun.
Terlihat Moeis sudah menyelesaikan makananya.
"Ini untukmu.."
"Ah? Hh… apa ini?"
Lyra menerima paperbag kecil berwarna navy. Didalamnya ada sebuah kotak berbentuk persegi panjang.
"Buka lah.. saya yang memilih sendiri"
"Kalung.. tunggu.. apa ini berlian?"
Sebuah kalung dengan berlian kecil yang begitu mewah langsung membuat Lyra terpana.
"Ya.. itu dari Italia. Biar saya pakaikan.." ucapnya berdiri mengambil kalung tersebut dan memakaikannya dari belakang.
Sekarang kalung tersebut sudah melingkar sempurna dan sangat cocok untuk Lyra.
"Aku tidak tau apakah ini harus dipakai atau disimpan saja. Apalagi ini adalah tepat ramai.." ucap Lyra khawatir.
Dengan melihatnya saja sudah tau seberapa mahalnya kalung ini.
"Tidak masalah. Kamu harus terus memakainya, karena itu sudah menyatu dengan kecantikan mu. Kamu pantas dan sudah seharusnya terlihat mewah…"
"Terima kasih.. aku sangat menyukai nya.. tetapi ini terlalu berlebihan, kamu bisa memberiku sesuatu yang sederhana saja kedepannya.."
Lyra berjalan ke kursi Moeis dan menciumnya.
"Pulang lah lebih awal hari ini… bisa?" pinta Lyra.
Moeis menatap nya.
"Akan saya usahakan.."
//
Saat ini Lyra sedang menunggu kedatangan Becca dirumahnya hanya untuk sekedar mampir saja. Sudah sejak kemarin Becca ingin sekali datang dan melihat rumah yang ia tinggali bersama Moeis.
Suara gerbang terbuka.
Lyra membuka pintu utama dan menyambut kedatangan Becca yang ternyata juga mengajak Olla.
"Wah, apa aku yang kulihat ini nyata? Rumahmu seperti istana dan lihat lah halaman, dan taman yang cantik.." ucap Becca.
"Helo nyonya…" ucap Olla.
Lyra memeluk mereka.
"Jangan berlebihan, dan selamat datang. Aku senang akhirnya kalian berkunjung.."
"Sepertinya kita yang lebih senang.."
Mereka akhirnya nya masuk dan berkumpul di ruang tengah. Becca dan Olla senang melihat-lihat bagian rumah, furniture dan lukisan yang terlihat indah.
"Tapi, apa kalian hanya tinggal berdua dirumah sebesar ini?" tanya Olla.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Kebetulan baru saja semalam, para pekerja mendapat libur untuk 1 minggu kedepan. Dan aku memutuskan untuk tidak menyewa pelayan lain. Jujur saja aku juga ingin merasakan ketenangan. Karena biasanya ada saja pekerka di sana dan sini"
Becca menaikkan sebelah alisnya.
"Berapa banyak pekerja yang ada?"
Lyra mengingat-ingat kembali.
" Sepertinya ada 11 termasuk pelayan, supir dan security"
Becca dan Olla terkejut bukan main. Tapi tidak heran, jangan kan menggaji 11 pekerja rumah. Moeis juga memiliki ribuan karyawan di perusahaan besar nya untuk di gaji.
"Ya tuhan. Aku dan Max saja masih memikirkan untuk mencari 1 pembantu untuk membereskan rumah. Tetapi ternyata gaji mereka sekarang sangatlah tinggi karena sudah melewati pelatihan di agen. Itu membuat kami berpikir ulang.." keluh Becca.
Olla menganggukinya.
"Kamu benar, supir keluarga ku saja sudah meminta kenaikan gaji beberapa kali.. tetapi mau bagaimana lagi orang tuaku sangat butuh karena tidak bisa mengendarai mobil.."
"Menurut ku jika kalian merasa butuh, itu bisa dipertimbangkan. Aku tau Becca, kamu dan Max sanggup. Kamu hanya perlu mengatur lagi keuangan dengan bijak. Biar bagaimana pun tabungan juga tidak boleh kalah untuk di prioritaskan…"
"Ah, benar. Kamu kan akuntan, harusnya kemarin aku berkonsultasi denganmu"
Mereka tertawa.
"Yang benar saja.."
Setelah itu mereka meminta berkeliling rumah dan memaksa untuk melihat ruang kamar utama milik Lyra dan Moeis. Hanya melihat dari pintu dan tidak sampai masuk.
"Kamu sadar? Kamu adalah istri seorang konglomerat tampan! Jangan lupakan itu. Dan jangan lupakan kita, karena aku sangat senang memiliki sahabat kaya raya. Oke?" ucap Olla.
"Apa yang kamu bicarakan.." jawab Lyra tertawa. Sahabat nya ini memang aneh-aneh jika berbicara.
"Benar!! Mari kita jodohkan anak kita dimasa depan. Aku akan melahirkan anak yang tampan dan cantik agar dia pantas menjadi menantumu.."
Lyra memukul Becca dengan candaan. Saat ini mereka sudah berada didekat mobil. Becca dan Olla sudah ingin pergi ke sebuah acara.
"Ya, ya, ya.. lahirkan kembali dewi kecantikan agar aku merestui anakmu dengan anakku…" jawab Lyra yakin.
"Hahaha akhirnya kamu membakar jokes ku, nyonya!" sahut Becca
"Ah sudahlah, cepat nanti kamu ketinggalan event nya"
"Oke-oke.. bye. Thank you ya, sudah mau house tour alias castle tour.."
Lyra menggelengkan kepalanya melihat mobil mereka berlalu keluar. Ada-ada saja sahabatnya itu. Tetapi suasana hatinya sangat baik setelah kedatangan mereka.
Saat hendak masuk, Lyra melihat gerbang yang sudah tertutup kembali di buka. Mengapa penjaga keamanan itu membukakannya, sementara Lyra saja tidak mengenal mobil tersebut.
Pintu mobil terbuka.
"Kak.. aku datang"
Mikha, sepupu Moeis yang semalam ia temui di supermarket keluar dari pintu mobil membawa sebuah koper berwarna pink.
Lyra kebingungan melihatnya.
"Oh, ya.. hai, Mikha"
"Kak, aku ingin menginap disini ya selama 3 hari. Karena Meidro juga sedang hiking dengan teman-temannya ke Jawa Timur…"
"Hh… m.. ya, masuklah"
Melihat Mikha yang langsung masuk saja. Lyra tidak tau harus bersikap bagaimana. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Mikha nampak sangat ceria dan berani. Dan ia tebak usianya hanya berbeda sekitar 3 tahun dengannya.
Lyra pun mencoba menghubungi Moeis untuk memberitahu bahwa sepupunya datang untuk menginap.
Bersambung...
__ADS_1