
Untuk beberapa saat Lyra terdiam duduk dipinggir ranjang king size tersebut karena baru saja bangun tidur. Ia merapihkan piyama nya.
Masih pukul 6 pagi tetapi Moies sudah tidak ada dikamar, kemana suaminya pergi? Lyra berdiri untuk mencuci wajahnya.
Terlihat beberapa pelayan sedang membersihkan bagian rumah, serta ada yang membuat sarapan. Entah bagaimana ia sampai di dapur kali ini.
"Nyonya, ada perlu apa ke dapur sepagi ini?"
Ia berdiri didekat meja makan.
"Dimana Tuan?" tanyanya sambil mengetuk-ngetuk meja.
Belum sempat pelayan itu menjawab, Ellie datang dan memberi salam.
"Pagi, Nyonya. Tuan sudah berangkat ke Hotel Asri untuk bermain golf bersama para eksekutif. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Mengapa kamu tahu segalanya, sementara saya selalu kebingungan bertanya tentang ini itu.." Lyra bermaksud berbicara sendiri sehingga membuat mereka sungkan untuk menjawab.
Lyra menarik nafasnya, "Yasudah. Kalau begitu siapkan satu piring lagi, aku akan meminta seseorang untuk menemani sarapanku"
"Baik, Nyonya. Anda bisa kembali lagi kesini pukul 7.30" ucap Ellie dengan ragu. Kali ini apa lagi yang akan diperbuat oleh Nyonya nya.
Kemudian Lyra hanya mengangguk dan langsung kembali ke kamarnya.
Sedangkan Ellie membantu menata vas bunga dimeja makan karena akan ada tamu. Namun tetap saja ia khawatir siapa yang akan datang kali ini?
Ellie melihat kedatangan Pak Johnson ke ruang makan.
"Selamat Pagi, Pak Johnson. Ternyata tamu Nyonya adalah anda, silahkan duduk"
"Terima Kasih"
Tidak lama kemudian Lyra turun dan mereka sarapan bersama.
Tidak ada percakapan sampai akhirnya sarapan selesai.
"Saya sudah menyiapkan permintaan Nyonya" ucap Pak Johnson.
Lyra tersenyum sambil mengusap mulutnya menggunakan kain persegi.
"Benarkah? jika sudah selesai temui saya diruang baca. Ellie bawakan teh kesana..." ia berdiri dan pergi terlebih dahulu.
"Ini File yang anda minta"
File tersebut adalah rincian pengeluaran bulanan untuk gaji pegawai dirumahnya. Matanya tidak bergerak lagi berkali-kali membaca bagian itu.
"Sepertinya Ellie sangat spesial, lihatlah Pak Johnson. Saya rasa gajinya sudah melebihi seorang dokter. Apa ini masuk akal?"
Perubahan ekspresi Pak Johnson terlihat jelas. Ia berusaha tenang.
"Seperti yang anda ketahui, Ellie sudah bekerja sangat lama bersama keluarga ini. Gaji tersebut juga sudah melalui beberapa kali kenaikan…"
Belum sempat Johnson melanjutkan, Lyra sudah memotongnya.
"Anda jauh lebih lama bersama Moeis. Namun hanya berbeda 5 persen dari gaji anda, bagaimana anda menjelaskan nya?"
"Nyonya, itu karena saya tidak pantas mendapat kenaikan gaji yang signifikan lagi karena performa kerja saya juga sudah menurun karena usia. Berbeda dengan Ellie, dia sangat gigih dan setia, dia tidak hanya seorang kepala pelayan, bisa dibilang dia adalah salah satu tangan kanan nya Tuan"
Lyra mencoba mencerna ucapan Pak Johnson berkali-kali, namun ia tetap tidak setuju. Tetap ada rasa curiga bahkan perasaan tidak terima jika Ellie memang benar spesial bagi Moeis.
Pak Johnson kembali meyakinkan Lyra, "Nyonya tidak perlu khawatir, saya yakin Tuan telah mempertimbangkan nya secara adil. Kami semua sama, hanya seorang pekerja. Dan Ellie, dia mengorbankan kehidupan masa mudanya dirumah ini. Tidak mudah mendapatkan seseorang seperti dia, jadi anda tidak perlu khawatir ataupun curiga"
Lyra menarik nafasnya.
"Tolong jangan salah paham. Saya tidak membenci anda, Ellie, atau pun pekerja lainnya. Tetapi, ada hal-hal yang terkadang hanya dapat saya rasakan sendiri. Ada perasaan yang menghantui saya sendiri. Terkadang hal itu juga dapat membunuh saya sendiri. Saya tidak yakin apakah anda mengerti, tetapi artikan saja sikap berlebihan saya ini sebagai sikap yang wajar untuk seorang Nyonya Meyers. Tolong maklumi saya…"
Setelah selesai berbicara, Lyra berusaha tersenyum dan membungkuk kepada Pak Johnson. Kemudian ia keluar dari ruangan tersebut.
Sementara Pak Johnson berjalan keluar dengan perasaan tidak enak, ia pun mencoba untuk menghubungi Moeis.
"Selamat siang, Tuan"
…..
"Saya rasa kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Nyonya. Sikap curiganya sama sekali tidak mengarah kepada hal itu. Yang saya lihat, Nyonya hanya khawatir jika Ellie adalah orang spesial anda. Tolong cukup yakinkan Nyonya akan hal itu.."
……
"Baik, Tuan"
Setelah bertemu dengan Johnson, Lyra tidak memiliki kegiatan apa pun. Namun justru berjalan ke kamar lain untuk mengambil buku silsilah keluarga. Seharian ia hanya menghabiskan waktu disana, bahkan makan siang pun ia lakukan diruangan itu.
Sesekali ia juga bisa berpikir, apakah yang ia lakukan ini berlebihan? Tetapi rasanya tidak, mengingat ia adalah istrinya. Apalagi berani berpikir mungkin suatu saat nanti hubungannya dengan Moeis dapat membaik. Dan, dapat menjalani pernikahan seperti apa yang sejak dulu ia impikan.
Setelah malam tiba, Lyra baru menyempatkan untuk mandi.
Kini tubuhnya terasa sangat segar. Ia duduk didekat jendela kamar dengan hanya menggunakan piyama ditemani segelas wine.
"Haruskah aku menghubungi teman-teman semasa sekolah dulu? … mungkin akan menyenangkan selagi menghadapi situasi ini aku juga bisa pergi ke mall, makan malam, berjalan di taman atau bahkan datang ke club" ucapnya sambil tersenyum.
tokk tokk tok….
Lyra mendengar suara ketukan pintu kamarnya, tidak mungkin Moeis.
"Malam Nyonya, Ellie meminta saya untuk menyampaikan pesan dari Tuan kepada anda. Tuan tidak bisa pulang karena ada penerbangan ke swiss malam ini juga untuk perjalanan bisnis.."
"Berapa hari?"
Pelayan itu nampak canggung menatap mata Lyra.
"... mm.. 3 hari, Nyonya. Tuan menitipkan ini untuk anda, juga menawarkan tiket perjalanan keluar negeri. Kabari saja tujuan anda kepada kami, Nyonya"
"Baiklah"
Lyra masuk ke kamarnya dan membuka kotak berwarna gold tersebut.
__ADS_1
"Heels?... " Lyra tersenyum. Ia hanya berpikir, tidak bisakah Moeis memberikan dengan tangannya sendiri. Namun ia tetap mengirimkan pesan terima kasih kepada Moeis.
----
Keesokan pagi.
Lyra turun untuk sarapan dengan penampilan yang sudah rapi. Kemeja putih dengan lengan digulung sesiku, celana jeans dan heels yang di berikan Moeis semalam.
"Dimana Ellie? panggilkan.."
"Baik Nyonya" jawab salah satu pelayan.
Ellie datang dengan penampilan biasa, tidak berseragam formal.
"Ada apa dengan penampilan mu?" tanya Lyra.
"Maaf Nyonya, saya baru saja akan keluar untuk mengunjungi keluarga saya selagi Tuan sedang diluar negeri.." jawab Ellie dengan khawatir.
"Terserah saja. Tetapi, pesankan saya tiket penerbangan ke German secepatnya. Saya akan berangkat ke bandara 30 menit lagi"
Ellie sedikit merasa terbebani dengan permintaan Lyra yang mendadak. Belum lagi ia juga harus segera pergi ke Batam.
"Baik, Nyonya"
Setelah mendengar jawaban Ellie, Lyra pun selesai dan langsung menuju ke mobil. Sementara ia hanya membawa koper sedang untuk membawa beberapa barang saja. Entah mengapa tiba-tiba ia teringat dengan Abe, sudah berapa lama ia mengacuhkannya.
Diperjalanan ia sambil berkomunikasi dengan Abe.
Setelah sampai di bandara, supirnya memberitahu bahwa Ellie sudah mendapatkan tiket dan Lyra dapat langsung masuk kedalam.
"Dan, Nyonya. Ellie telah memesankan kamar hotel didekat tempat tinggal anda dulu, dan juga sewa mobil beserta supirnya"
Lyra bersiap untuk masuk, "Batalkan hotel, supir, dan mobil itu. Saya tidak membutuhkan nya"
Supir tersebut gugup, "Tapi Nyonya… bagaimana anda tinggal disana?"
"Jangan khawatirkan saya.. dan terima kasih sudah mengantar sampai disini"
Tentu saja supir tersebut khawatir dan segera memberitahu Ellie.
Disisi lain sebelum berangkat ke Batam, Ellie menemui Johnson terlebih dahulu. Ada banyak hal yang harus ia pastikan bahwa semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Sebuah mobil terparkir didekat danau buatan.
"Bagaimana anda bisa menghadapi Nyonya dirumah itu? Apa semua baik-baik saja?" tanya Johnson.
Ellie menghela nafasnya berat.
"Jika dapat menyerah, aku tetap akan bertahan. Dulu kita terlalu santai saat Nyonya berada di German, dan sekarang adalah kenyataan yang sebenarnya. Awalnya aku meremehkan Nyonya, tetapi dia tidak semudah itu. Aku tau dia mencurigai kita bahkan Tuan melebihi yang kita kira sekarang. Dan, dirumah itu aku berusaha sebisa mungkin untuk bersikap profesional meskipun banyak sekali tekanan. Tidak apa-apa.."
Johnson pun ikut merasakan beban tersebut, ia berbelas kasihan melihat ekspresi lelah yang Ellie tunjukkan.
Lyra memang tidak jahat, tetapi ia cukup berbahaya.
"Bertahanlah. 2 tahun lagi saya akan pensiun, saat itu mungkin keadaan sudah membaik"
"Tetapi, anda tau sendiri bagaimana aku berlari seperti anjing setia kali mereka membutuhkan. Termasuk Tuan, kini bahkan aku tidak di ijinkan untuk masuk ke kamarnya untuk sekedar mengambil pakaian kotor. Tuan tidak bisa membelaku lagi.."
"Saya akan memikirkan berbagai cara. Jadi, jika ada apa-apa segera hubungi saya"
Pertemuan tersebut telah usai. Ellie segera berangkat ke bandara.
---
Setelah lama didalam pesawat, akhirnya Lyra sampai di bandara dan sedang menunggu Abe menjemput nya.
Sebuah mobil berwarna putih mendekat tempatnya berdiri.
"Hey, Lyra"
"Abe.."
Mereka berpelukan karena saling merindukan. Tetapi Lyra benar-benar hanya menganggap Abe adalah seorang sahabat yang baik.
Perjalanan yang tidak terasa, mereka sampai di Apartemen Abe.
"Aku merindukan tempat ini, bagaimana bisa tidak berubah sedikitpun?" ucap Lyra sambil berbaring ditempat tidur milik Abe.
Abe pun tersenyum, "Sebab aku tau kamu akan merindukan tempat ini, maka dari itu tidak ku biarkan berubah sedikit pun_. Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu? semuanya ok?"
"Hhhfff…. Ada beberapa masalah, tapi aku sudah mulai terbiasa"
Abe tersenyum "Begitukah? .. sepertinya melelahkan. Jadi berapa lama kamu akan tinggal bersamaku?"
"Hanya sampai besok sore. Akan memakan waktu karna jarak tempuh juga kan? Lagi pula aku juga harus pulang saat suamiku tiba" ucapnya melemah.
Mendengar kata 'suami' membuat Abe tidak berkomentar apa-apa lagi. Bagaimana pun juga ia masih belum bisa percaya dan terima jika Lyra benar-benar sudah menikah.
"Cepat mandi sana, kita makan malam diluar"
Lyra nampak senang mendengar nya, "Oke…"
---
Disisi lain, Moeis sedang berada dirumah mewah milik Carrie Wu. Ya, saat ini Moeis tidak sedang berada di swiss untuk perjalanan bisnis, melainkan berada di singapore untuk mengunjungi Carrie.
Carrie baru saja selesai membuat pasta untuk Moeis. Ia terus saja tersenyum melihat Meois dari kejauhan sedang memandanginya sambil bersandar di sofa.
Ia membawa 2 piring pasta tersebut.
"Jangan melihatku seperti itu, bagaimana jika pastanya tidak enak" ucapnya sambil tertawa.
"Tetap ku makan.." jawab Moeis dengan senyumannya yang hampir tidak pernah terlihat dirumah. Benar-benar seperti Moeis yang berbeda.
Mereka mulai memakan pasta tersebut sambil berbincang, Moeis sesekali menyuapi Carrie.
__ADS_1
"Pastikan suatu saat nanti kamu kembali berkarir, mereka tidak bisa kehilangan aktris seperti mu. Dan sekarang kamu harus bersembunyi dari media. Ini semua salahku.."
Carrie mengusap punggung Moeis.
"Kamu tahu rasanya putus asa? aku hampir saja kehilanganmu nyawa ku tetapi kamu …"
"Aku tidak akan membiarkannya. Bagaimana pun kita harus menghadapi ini bersama-sama.. Aku sudah berusaha untuk bicara dengan Daniel, tetapi dia tidak mau berlama-lama melihat wajahku.." ia tersenyum.
Persahabatan Moeis dan Danel sudah tidak berarti apa-apa, dan kini mereka saling menjauh tetapi masih sama-sama menjaga Carrie.
"Daniel mengunjungi ku disela-sela kesibukannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir"
Moeis nampak frustasi, "Maaf, karena hanya bisa mengunjungi mu bila memungkinkan. Kamu tau sekarang Lyra sudah kembali dan tinggal dirumahku, dia sangat pemarah dan sulit dipahami bahkan oleh para pelayan. Lyra bisa saja mengatakan sesuatu kepada keluargaku, jadi semuanya bertambah sulit.."
Terlihat jelas Carrie sedang menahan rasa cemburunya, sejak Lyra kembali ia merasa Moeis semakin hari semakin tertekan.
"Selama beristirahat menjadi aktris, akan ku selesaikan masalah ku. Asalkan ada kamu, semuanya pasti baik-baik saja"
Moeis memeluk Carrie, "Aku sangat mencintaimu"
"Aku juga"
Entah seberapa berat beban yang Moeis tanggung saat ini, ada 2 wanita yang masing-masing membutuhkan nya.
"Ponselmu berdering.." ucap Carrie memecahkan lamunannya.
"Oh ya.."
Hanya sebuah misscall. Lalu sebuah pesan yang Ellie kirimkan.
*Tuan, bawahanku menemukan foto yang menandai Nyonya di akun media sosial nya. Sepertinya saat ini Nyonya sedang makan malam dengan seorang pria. Nyonya juga meminta pembatalan hotel dan supir, sepertinya mereka tinggal bersama*
Moeis membaca pesan Ellie lalu memperhatikan foto tersebut. Ia tersenyum miring, sekarang ia sedang bersama kekasihnya, dan istrinya sedang bersama pria lain. Rasanya sudah adil, tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi.
"Ada apa?" tanya Carrie.
"Bukan apa-apa"
"Apa istrimu mencarimu?"
"Tidak sama sekali.." jawabnya dan langsung mencium Carrie.
----
Sudah 1 minggu lamanya sejak Lyra pulang dari German, tetapi Moeis belum juga menunjukan diri dirumah. Semua pelayan dan pegawai mulai resah dengan sikap Lyra yang pemarah.
Namun disisi lain kini ia sedang tersenyum menerima pesan dari teman-temannya. Melelahkan, ia harus bersikap seperti nyonya yang berkuasa agar tidak direndahkan di rumah nya sendiri. Padahal itu sama sekali bukan sifatnya, meskipun sebenarnya emosi sudah mengendap terlalu banyak dibenaknya.
Lyra berdiri mendengar ketukan pintu kamar nya.
"Ada apa"
"Nyonya, kali ini anda tidak boleh melewatkan makan malam. Tuan bisa saja marah kepada kami…"
Lyra tersenyum tidak percaya. Mengapa pria itu harus marah jika ia tidak makan ataupun tidur? Ellie terus saja meyakinkan dirinya bahwa Moeis terlalu sibuk menghadapi permasalahan perusahaan sehingga harus bermalam di apartemen terdekat.
"Nyonya…" Ellie gugup melihat Lyra hanya menatapnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Dimana?" tanya Lyra.
"Mmh.. maksud Nyonya?.."
"Apartemen Tuan"
Melihat Ellie tidak menjawab, Lyra hanya mengangguk lalu memasuki kamarnya untuk berganti pakaian. Ellie pun ikut masuk untuk menghentikan Lyra.
Tatapan Lyra menjadi lebih tajam, "Kamu sangat percaya diri memasuki kamar ini??"
"Saya akan pastikan Tuan kembali besok, Nyonya. Jadi tolong jangan lakukan apapun sampai saat itu. Anda tidak bisa seperti ini.."
"Mengapa aku tidak bisa..kamu bilang Tuan tinggal di apartemen dekat perusahaan? Baiklah ada belasan yang terdekat. Aku akan mencarinya sendiri, satu persatu"
Mendengar jawaban Lyra tentu saja membuat Ellie semakin frustasi.
"Lalu jika Tuan pulang, apa yang dapat anda lakukan untuknya? apa ada yang bisa kalian lakukan bersama? jika tidak ada, maka biarkan saja Tuan menyelesaikan urusannya… Ada baiknya jika Nyonya memberinya ruang sendiri untuk saat ini, agar tidak selalu membebani Tuan. Hanya ini yang dapat saya lakukan terhadap anda...!"
Entah emosi macam apa atau ketidaksadaran membuat Ellie berkata seperti itu lalu mengunci Lyra di kamar nya. Ia berjalan ke kamarnya dengan nafas yang berat.
Sementara Lyra terdiam ditempat mendengar ucapan Ellie yang begitu menusuk hatinya. Matanya berkaca-kaca dan mulai kehilangan keseimbangannya sehingga membuatmu terduduk di sofa.
Semua yang Ellie katakan benar, mengapa ia merepotkan semua pelayan selama seminggu hanya karena Moeis tidak pulang. Ia memutar ingatan nya mengapa begitu sesak dan emosi ketika berbicara dengan mereka, seakan-akan ia begitu penting untuk Moeis. Jika Moeis pulang, ia hanya akan membuatnya marah.
"Aku hanya ingin menjadi istri yang berhak marah ketika suami nya tidak pulang kerumah. Tetapi tidak ada alasan yang cukup masuk akal untuk melakukan nya. Ada apa denganku, sadar lah Lyra!!!.....hrrrhghhh" ucapnya dengan amarah dan tangisan yang meluap.
Perkataan Ellie begitu tajam menusuknya hingga membuat Lyra kalut dan hilang akal. Ia melemparkan semua barang dikamar untuk melampiaskan nya. Semakin lama, semakin ia menyadari betapa menyedihkan semua yang telah ia alami. Tidak ada yang benar-benar menghargai nya dirumah ini, mereka hanya tidak ingin kehilangan pekerjaan.
Lyra menangis tanpa henti sampai-sampai merindukan ibunya.
Seorang pelayan tidak sengaja mendengar jeritan Lyra saat melewati pintu kamar utama. Ia segera berlari untuk memberitahu Ellie dan yang lainnya.
"Apa yang harus kita lakukan? Aku mendengar Nyonya menangis bahkan menghancurkan barang-barang kamar. Ellie, cepat tangani Nyonya…" ucap pelayan tadi dengan tergesa-gesa.
"Benarkah?"
"Ada apa dengan Nyonya?"
"Aku tidak tega setiap kali menatap mata Nyonya"
Para pelayan kebingungan harus berbuat apa.
Ellie mengusap wajahnya dengan kesal dan membentak pelayan lainnya.
"Apa yang kalian tau tentang Tuan dan Nyonya?? Diamlah selagi aku bersabar!!"
__ADS_1
Semua pelayan nampak syok melihat amarah Ellie.
Bersambung...