Killing Me Softly

Killing Me Softly
28


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 11:37


Selesai membereskan pekerjaan nya, Lyra menunggu kedatangan seorang HRD yang akan memperkenalkan sekretaris baru nya. Sejak pagi sekretaris itu berada ditangan HRD untuk pendisiplinan sebelum memulai kerja.


"Selamat Siang, Bu. Saya sudah bersama sekretaris baru"


"Ya, silahkan masuk dan duduklah.."


Seorang wanita mengikuti langkah HRD memasuki ruangannya. Dengan pakaian rapi dan formal.


"Saya ingin memperkenalkan sekretaris baru yang akan membantu pekerjaan ibu. Nama: Valerie Jane, Usia: 28 tahun. Kami sudah melakukan prosedur pemindah jabatan secara ketat dan melalui pelatihan selama satu bulan lamanya. Dengan latar belakang pendidikan dan karir yang tentu nya memenuhi standar kami .."


Lyra memperhatikan Valerie dengan baik. Penampilan ok, ekspresi dan sepertinya cocok dengannya.


"Baik… Lalu, untuk Valerie. Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui secara pribadi dengan saya. Informasi yang kamu terima selama pelatihan hanyalah garis besar saja. Apa kamu siap?"


"Saya siap, Bu"


Lyra.


"Kalau begitu kamu bisa kembali" ucap nya kepada HRD.


Sebelumnya Lyra sudah mempersiapkan note khusus yang telah ia cantumkan beberapa hal yang harus dilakukan oleh Valerie secara rutin. Kini hanya ada mereka berdua didalam ruangannya.


"Pelajari ini dengan baik…"


"Baik, Bu" jawabnya sambil menerima map berukuran sedang.


"Mari bekerja sama dengan baik. Tenang saja, saya tidak akan membiarkan mu bekerja lembur di kantor. Jika memang ada hal yang belum selesai, kerjakan dirumah. Lalu kirim melalui email kepada saya sebelum jam 12 malam. Apa ada pertanyaan?"


"Terima kasih, Bu. Dan ada yang ingin saya bicarakan" ucapnya dengan ragu.


Lyra memfokuskan pandangannya.


"Apa itu?"


"Saya ingin memohon kemurahan hati Ibu untuk memaklumi saya, karena mungkin besok saya belum bisa menggunakan heels yang sesuai dengan standar seorang sekretaris perusahaan ini…"


"Bagaimana maksudmu? Bicarakan dengan jelas.."


Raut wajah Valerie nampak berubah.


"Heels satu-satunya yang saya miliki patah saat berangkat tadi pagi. Lalu mendapat teguran diruang HRD, heels yang saat ini saya pakai adalah cadangan milik karyawan lain. Saya sedang kesulitan ekonomi, Bu. Sehingga tidak sanggup memprioritaskan hal lain, selain makan sehari-hari. Maafkan ketidak profesional an saya di hari pertama bekerja bersama Ibu" ucapnya membungkuk dan menyesal.


Bukan marah ataupun menegur, Lyra justru berempati dengan Valerie.


"Benarkah? apa yang sedang kamu alami? Setidaknya beritahu saya kondisimu dengan jelas agar saya dapat memahamimu"

__ADS_1


Valerie sudah cukup merasa tidak enak dengan situasi ini. Tetapi ia tidak punya pilihan lain selain jujur. Pasalnya, heels sekelas sekretaris Lyra, harganya tidak main-main supaya terlihat profesional.


"Saya tinggal bersama 3 adik saya. Dan yang tertua sedang membutuhkan banyak biaya untuk melunasi uang kuliah dan persiapan sidang skripsi serta wisuda…"


Lyra tidak menyangka mendengar cerita kehidupan sekretaris nya yang terbilang sulit. Padahal jika dilihat-lihat, Valerie seperti anak dari keluarga mampu dan memiliki kompetensi yang mumpuni. Namun Lyra tidak ingin bertanya mengenai orang tua nya.


"Begitukah… mmm… baik. Gunakan apapun selama itu pantas untuk bekerja. Jika ada yang menegur mu, katakan saja saya tidak keberatan. Tetapi, berkerjalah dengan baik. Agar dapat saya andal kan" ucap Lyra tegas.


Valerie sangat senang dengan kemurahan hati Lyra. Ia membungkuk berkali-kali.


"Terima kasih banyak, Bu"


Lyra berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil ponselnya.


"Sudah waktunya makan siang. Kamu bisa segera turun ke kantin.."


"Apa Ibu ingin saya siapkan makan siang?"


"Tidak. Saya sudah memiliki tempat untuk makan siang tersendiri.."


///


"Kamu terlambat 20 menit.." ucap Moeis yang sudah menikmati makan siang lebih dulu.


"Ya, aku sedikit mengurus sekretaris baru"


"Katamu ada yang ingin dibicarakan?" tanya Lyra.


"Besok kita akan datang bersama untuk wawancara majalah metropolitan . Mereka hanya meminta kita berdua untuk menjawab beberapa pertanyaan dan berfoto. Apa kamu keberatan?"


Wawancara yang bagaimana? Lyra tidak mengerti. Ini adalah pertama kali baginya. Berbeda dengan Moeis yang sudah mondar mandir untuk di interview sebagai pebisnis sukses. Lalu apa yang ingin mereka ketahui tentang dirinya.


"Mereka mungkin hanya ingin mengetahui tentangmu. Kenapa aku juga ikut?" tanya Lyra polos.


"Tentu saja karena kamu adalah istri saya. Tetapi, ada beberapa pertanyaan yang mengarah kepada kehidupan pernikahan kita.."


Seketika Lyra menjadi gugup.


"Ya.. kita jawab saja apa adanya. Tetapi kita bisa katakan selama 2 tahun itu kita mengejar mimpi kita masing-masing. Kita juga berkomunikasi dengan baik. Bukankah kita harus memberikan kesan yang baik untuk mereka ketahui?"


Moeis mengangguk, menyetujui ucapan Lyra.


"Mereka juga akan bertanya mengenai momongan. Sebenarnya saya sudah menerima beberapa contoh pertanyaan yang mereka kirim kan.."


Mendengar kata momongan membuat Lyra sedikit terbatuk. Ia juga perlu memikirkan hal itu.


"Apa.. mm.. kita kan memang menunggu. Tetapi ya belum dipercaya oleh tuhan" jawab Lyra tidak pasti.

__ADS_1


Entahlah. Bagaimana dengan Moeis. Apakah ia benar-benar menunggu kehadiran seorang bayi atau tidak. Ia tidak yakin. Padahal usia pernikahan sudah terbilang lama.


"Ya…" ucap Moeis singkat.


Setelah itu mereka hanya melanjutkan makan siang tanpa berbicara apa-apa lagi. Terlebih Moeis yang sambil membaca beberapa dokumen ditangan kirinya.


Suara pintu terbuka dan terlihat Helena datang membawakan sebuah paperbag.


"Selamat siang, tuan dan nyonya. Maaf mengganggu waktu anda.."


Moeis mengusap mulutnya menggunakan kain persegi.


"Ada apa?"


Helena meletakkan paper bag di meja.


"Pak Broto, perwakilan dari Agung Group baru saja selesai pertemuan oleh direktur kita dan mengatakan bahwa anaknya menitipkan ini untuk anda, Tuan"


Ekspresi Moeis terlihat biasa saja dan menerimanya. Ia dan pak Broto sudah lama sekali kenal. Juga dengan anak nya.


"Baiklah, saya akan menghubungi nya sendiri untuk mengucapkan terima kasih"


"Baik, tuan. Nyonya, saya permisi" ucapnya membungkuk lalu pergi.


Lyra sedikit penasaran dengan hal itu.


"Kamu mengenal anaknya?" tanya Lyra.


"Ya. Teman lama saya.."


"Laki-laki?"


Pertanyaan tersebut tidak Moeis jawab. Ia membereskan dokumen nya untuk bersiap kembali ke ruangan.


"Apa dia perempuan?" tanya Lyra sekali lagi.


"Dia perempuan dan jauh lebih muda dari saya. Kita berteman baik, tetapi sudah lama tidak berkomunikasi. Ada apa?"


"Benarkah… mmm aku hanya bertanya" jawab Lyra ragu.


Sebelum bersiap turun. Moeis lebih dulu memeluk Lyra.


"Pulang lah lebih awal hari ini…" pinta Lyra.


"Saya tidak yakin.. jika kamu ingin, kamu bisa keluar dengan sahabat-sahabat mu. Habiskan waktu dengan mereka" ucap Moeis lalu mencium Lyra singkat.


"Baiklah…"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2