
Lyra menuruni satu persatu anak tangga, pagi ini ia akan sarapan bersama Moeis untuk pertama kalinya. Entah akan seperti apa suasananya sama sekali tidak pernah terbayangkan.
Semalam bahkan Lyra memilih untuk tidur di kamar lain, ia akan menganggapnya itu kamarnya sendiri. Ia pasti juga butuh space.
Terlihat Moeis sudah duduk dibagian ujung meja. Ia pun menyusul tanpa sapaan apapun.
Menu pagi ini adalah roti gandum dengan madu. Tidak terlihat nikmat.
“Berikan saya rebusan brokoli dan telur” ucap Lyra dingin.
Pelayan pun segera menyingkir kan piring nya dan menyiapkan menu sesuai keinginan Lyra. Tidak ada protes ataupun komentar dari Moeis, tentu saja pria itu pasti tidak akan perduli sedikitpun tentangnya.
“Pastikan tidak ada satupun barangmu yang tertinggal..”
Suara bariton itu mengagetkan Lyra yang sedang fokus berkutik dengan ponselnya. Ucapan Moeis benar-benar ingin dirinya segera pergi dan tidak meninggalkan jejak sedikitpun.
“Apa wanita itu pernah kerumah ini?”
Belum sempat pertanyaan itu terjawab, seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawa sebuah buku besar berwarna biru gelap.
“Tuan, ini buku yang pernah Tuan minta ketika Nyonya datang”
Moeis hanya melihat sejenak.
“Kembalikan saja, Nyonya akan kembali ke German malam ini. Jangan lupa bantu dia membereskan lagi semua barang-barang nya”
Namun Lyra buru-buru mengambil buku tersebut, dan menatap Moeis dengan Sinis.
“Aku tetap ingin lihat”
Ternyata Buku itu berisi tentang sejarah silsilah keluarga dengan sangat lengkap dan sudah diperbaharui 2 tahun lalu, sehingga ia dapat membaca tentang dirinya dibuku itu. Juga terdapat bacaan mengenai bagaimana keluarga ini melakukan berbagai acara, hingga peraturan menjadi seorang istri.
Namun ia menutupnya dan segera menghabiskan sarapan yang sudah selesai dibuat.
Tiba-tiba Moeis berdiri dan berlalu pergi menaiki anak tangga.
Ia tidak perduli juga, namun buku itu benar-benar membuatnya semakin penasaran.
Segera setelah sarapan, Lyra kembali ke kamar pribadinya. Seharian ia membaca dari halaman awal hingga halaman yang ia tunggu-tunggu.
“Jadi ia menghabiskan masa remaja hingga menyelesaikan kuliahnya di Inggris? … menekuni pendidikan bisnis dan hukum… dilarang pulang ke Indonesia sebelum mendapat semua gelar yang sudah ditentukan… bersifat dingin, berprinsip, dan cerdas… tidak pernah main-main dan cukup serius…tidak terbebani dengan perasaan? Ah itu sudah jelas terlihat.. aku bisa merasakannya.. dann.. ? tidak memiliki cinta pertama?”
Sangat menarik bagi Lyra. Buku itu mungkin saja hanya menuliskan hal-hal baik saja, karena ada satu hal yang tidak bisa ia percaya.
Bagian dimana tertulis bahwa Moeis tidak memiliki cinta pertama.
“Apa dia Gay? atau terlahir tidak memiliki hati? tetapi tidak mungkin, dia bahkan bisa berselingkuh.. bagaimana bisa…”
Lagi-lagi tangannya membuka halaman demi halaman. Pandangannya kembali terhenti.
BERLAKU UNTUK NYONYA MEYERS.
Judul yang cukup menarik, itu cocok untuk dirinya.
“Pikirkan diri sendiri adalah yang utama. Tuan tidak memiliki hati untukmu, dia hanya memiliki tempat untukmu… Perintah Tuan adalah prioritas mu… Menemani Tuan dimalam hari…Memohon ampunan dari amarahnya… Tidak ada kata membantah… Mendampingi nya menghadiri acara.. Memberinya keturunan..”
Lyra menghela nafasnya. Ia tidak tahan dengan apa yang sedang di bacanya. Namun ada satu hal lagi.
“Apa? Menyingkir kan wanita-wanita dibelakang Tuan… Jadi benar? Tunggu.. apa selalu seperti ini nasib pernikahan dari garis keturunan keluarga ini?”
Ia pun menandai halaman tersebut dan menutupnya. Buku itu akan ia simpan untuk sementara waktu.
Kini ia hanya duduk memangku buku tersebut sambil memejamkan matanya. Setelah membaca buku itu seperti ada yang bergejolak dalam batinnya, entah harus bagaimana apakah ada yang harus ia lakukan.
Disisi lain malam ini juga ia harus segera melakukan penerbangan, sehingga ia pikir buku itu belum berlaku untuk dirinya.
Pukul 5 sore ia berdiri, meletakkan buku tersebut disebuah lemari, dan menyadari bahwa harus segera mandi dan bersiap-siap.
Lyra berendam cukup lama dan hampir melupakan waktu. Kemudian berdiri menggunakan handuk yang di lilitkan sedada.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar.
“Nyonya, koper anda telah siap kami turunkan. Apa ada hal lain yang perlu kami persiapkan?”
“Tidak. Saya tidak akan pergi. Kembalikan saja semuanya ke tempat semula. Juga urus pembatalannya” ucapnya yakin.
Setelah lama bergulat dengan pikirannya sendiri, akhirnya ia menyadari apa itu takdir. Kehidupannya harus berjalan diatas garis yang telah ditentukan. Ia sangat menyadari bagaimana nasib pernikahan nya tidak berjalan baik itu pasti juga karena dirinya yang bersikap egois. Selama ini ia merasakan senang dan puas dengan kehidupan nya di German, membantu anak-anak miskin untuk memulai pendidikan diberbagai negara, mencarikan dana, membantu mereka melawan penyakit, menghibur dan sebagai nya.
Tetapi bagaimana dengan kehidupan nya? Kehidupan yang nyata adalah ditempat ini, mungkin kini saatnya ia harus berjuang dan berperilaku semestinya.
Tanpa ragu Lyra berjalan keluar dan menuju kamar Moeis, pintu telah terbuka lebar-lebar.
Buku itu juga sudah mengajarkan nya banyak hal, termasuk ia akan mulai memberikan perintah dan mengontrol semua pelayan dirumah ini.
Meskipun sebenarnya ia adalah wanita introvert dan lemah, tetapi ia memiliki kemampuan untuk bersikap kuat. Itu semua berkat kehidupan mandiri nya selama ini, ia sudah terbiasa melawan kelemahannya.
Ia kembali keluar.
“Panggilkan kepala pelayan”
“Baik Nyonya”
Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang dengan seragam yang lebih rapih.
“Selamat malam Nyonya”
“Bagaimana bisa seorang kepala pelayan tidak menyambut ku, ketika aku datang? Atau sekedar memperkenalkan diri.. apa yang sedang kamu kerjakan?” tanya nya dengan datar menginterogasi.
Ia membungkuk.
“Nyonya, nama saya Ellie, 31 tahun. Sudah bekerja dengan keluarga Tn. Meyers selama 10 tahun lamanya. Sejak kemarin saya dikirim Tuan kerumah Nyonya besar untuk mengevaluasi pelayan disana. Maafkan saya karena tidak ada saat Nyonya datang…”
Lyra diam menatap penampilan Ellie dari atas sampai bawah.
“Aku ingin lihat data dirimu”
“Silahkan Nyonya”, seperti biasa, Ellie selalu membawa iPad kemana pun ia pergi. Disana terdapat semua data, jadwal dan kontak keluarga besar keluarga Moeis.
Sampai pagi pun Lyra harus sarapan seorang diri. Meskipun begitu tidak ada sedikit pun niat untuk menghubungi Moeis.
Kini ia telah siap dengan pakaian yang lumayan rapih, heels dan shoulder bag. Ia juga sudah meminta supir untuk menyiapkan mobil.
“Antarkan saya ke Yayasan Rindu Kasih”
Sesampainya disana, Lyra langsung mengurus dirinya untuk menjadi donatur tetap serta bagian dari pengurus untuk beberapa acara sosial.
Rasanya senang sekali mendapatkan tempat yang begitu nyaman, Yayasan ini terdapat di pinggiran kota yang tidak terlalu jauh namun suasanya sudah seperti desa karena terdapat lahan hijau luas, rerumputan bahkan sungai.
Saat seperti ini, ia mungkin akan lupa dengan kehidupannya pernikahan untuk sesaat.
***
3 hari berlalu tanpa kepulangan Moeis. Lyra penasaran apa yang sebenarnya dia lakukan di luar sana? apa masih tetap menemui aktris itu setelah skandal perselingkuhan nya terkuak.
Terlebih lagi Ellie yang mengatakan tidak tau dimana Moeis, hal itu membuat Lyra berpikir ia belum mendapatkan akses sepenuhnya. Seperti semua orang belum memihak dan tidak terbuka padanya.
“Jika kamu menutupi satu hal saja dariku, maka bersiap-siaplah untuk keluar dari rumah ini” ucap Lyra sambil berlalu pergi. Tentu butuh keberanian untuk mengatakannya, ia berusaha untuk terlihat kuat meskipun tau dirinya hanyalah wanita yang lemah.
Seharian ia hanya berada didalam kamar tanpa menyentuh makanan yang sudah disiapkan. Rasanya semakin cemas dan beban pikiran terus bertambah. Rasa penyesalan juga selalu datang.
Namun ia selalu berpikir ini adalah permulaan, ia bisa membuat pernikahan menjadi bahagia.
Disisi lain, mobil Moeis baru saja memasuki pintu gerbang halaman rumahnya. Setelah beberapa hari berada di Bali untuk menyelesaikan pertemuan dan sekedar melihat-lihat tempat hiburan disana.
Tentu saja ada beberapa teman yang ia temui. Sekarang tinggal rasa lelah mulai terasa disekuju tubuhnya.
“Selamat datang, Tuan” pelayan tersebut membungkuk.
Ia langsung menaiki anak tangga dan ingin beristirahat di kamar nya. Lagipula ini sudah pukul 11 malam.
__ADS_1
Namun ia justru masih mendapati beberapa barang Lyra yang terlihat di kamar nya. Moeis keluar dan memanggil lagi pelayan.
“Mengapa barang Nyonya masih ada yang tertinggal? bereskan saja semua..” ucapnya memerintah.
“Maaf, Tuan. Kami sudah mengirimi anda note selama 3 hari ini”
Note tersebut dikirim kan oleh Ellie kepada Moeis setiap hari apa saja yang terjadi didalam rumahnya.
“Ah.. saya tidak sempat mengecek. Ada apa?”
“Nyonya memutuskan untuk tidak pergi lagi dan meminta pembatalan dokumen. Kami telah melayaninya dengan baik selama Tuan tidak ada”
Moes berpikir sejenak mendengarkan penjelasan tersebut. Apa itu artinya kini ia benar-benar akan hidup bersama seorang istri, Nyonya dirumah ini. Namun ia juga penasaran apa yang membuat Lyra berubah pikiran.
Moeis melepaskan dasi dan beberapa kancing kemejanya.
“Lalu sekarang Nyonya dimana?”
“Nyonya sering menggunakan ruang kamar tamu di ujung bangunan, Tuan. Tetapi sejak kemarin Nyonya tidak keluar ataupun memakan makanannya. Nyonya juga sebelum nya meminta sebotol wine dari kami” ucap Ellie apa adanya.
Ia menghela nafasnya, sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Lyra? Ia pun segera berjalan untuk menemui Lyra.
Pintu tersebut dikunci. Ia mengetuk nya.
“Lyra… buka pintu nya.. Lyra” suara bariton tersebut terdengar hingga ruangan lain.
Begitu pintu terbuka, Moeis melihat wajah Lyra yang nampak baru saja terbangun dari tidur. Wanita itu juga sedang menggunakan piyama tipis dengan rambut yang sedikit berantakan.
Ia masuk begitu saja dan menyoroti seluruh sudut ruangan. Botol wine tersebut sudah habis.
“Apa yang kamu lakukan? membatalkan penerbangan, sebotol wine, dan tidur diruangan ini?” tanya Moeis dengan nada menyudutkan.
Namun Lyra tidak menjawabnya dan justru kembali ke tempat tidur.
“Moeiss!!” suaranya meninggi ketika Moeis tiba-tiba saja menyusulnya dan mendekatkan tubuhnya. Pria itu kini menatapnya dengan tajam tanpa sepatah katapun.
“Baiklah. Tapi lenganku sakit jika kamu cengkram seperti ini… aku tidak akan pergi, aku akan mengurusi kehidupan ku disini. Dan, wine itu telah membantuku menghilangkan beban pikiran. Lalu apa lagi? aku tidak tau apa masalah mu, tetapi kamu benar-benar bersikap semena-mena terhadap aku” dengan posisi yang tidak berubah, wajah moeis tepat dihadapannya. Lyra berusaha menjawab pertanyaan tersebut.
Ia melepaskan cengkram an tersebut, namun masih duduk ditempat tidur. Baiklah wanita ini kini sadar dengan tempatnya. Tetapi ia tidak tau apakah ini baik untuknya atau sebaliknya.
“Aku bersikap sesuai dengan martabatku. Tidak ada cinta diantara kita, jangan menuntut hal-hal yang tidak masuk akal”
Kata-kata menyakitkan itu kembali terucap dari Bibir Moies.
“Meskipun aku istrimu? tidak bisakah kita berdamai?” ucapan itu terdengar sangat tulus. Lyra berharap Moeis dapat merasakannya.
“Tidak ada lagi yang dapat kamu harapkan”
Saat Moeis ingin beranjak pergi, tiba-tiba saja Lyra menangis.
“Jika aku istrimu maka temui saja aku, mengapa masih menemui wanita itu? aku sudah menyesali mengapa 2 tahun ini aku justru memilih untuk pergi dan membiarkan pernikahan kita terus-terus seperti ini. Aku ingin memperbaiki nya, Moeis.. aku mohon”
“Menemui wanita itu? lebih baik kamu diam dan urus dirimu sendiri.. dan tidak ada yang dapat diperbaiki, terimalah nasibmu hanya menjadi Nyonya dirumah ini bukan sebagai istri yang mengharapkan hal lain!
Kali ini Moeis benar-benar tersulut emosi, ia lelah dan harus menghadapi Lyra. Kehidupan nya telah berubah.
Tiba-tiba saja Moeis merasakan tubuh Lyra yang memeluknya dari belakang. Wanita itu menangis.
“Lyra..!!!”
Meski Moeis membentaknya, Lyra tetap mengeratkan pelukan tersebut. Ia benar-benar lelah hati, ia ingin merasakan pernikahan yang bahagia tetapi Moeis sama sekali tidak membuka hatinya.
“Kamu salah jika menganggap ku mau mendengarkan perintah gilamu itu, aku sungguh hanya ingin sikapmu berubah itu saja” suaranya benar-benar melemah dan hanya terdengar tepat ditelinga kiri Moeis.
“Kamu akan menyesalinya!”
Moeis berbalik dan mata mereka saling menatap satu sama lain. Akhirnya Moeis mendorong Lyra ke tempat tidur dan membiarkan malam itu menjadi milik mereka berdua.
Meskipun tidak ada cinta bahkan sedikit rasa perduli, Moeis hanya muak dengan rengekkan Lyra.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang dapat Moeis lakukan, mungkin mulai sekarang Lyra akan menuntut banyak meskipun ia belum tentu bisa menyetujuinya.
Bersambung...