Killing Me Softly

Killing Me Softly
68


__ADS_3

Setelah melakukan pertemuan dengan klien membahas beberapa hal. Helena menghampiri Moeis dan hendak pergi makan siang bersama di restoran tidak jauh dari perusahaan.


Helena juga akan menjelaskan tentang jadwal Moeis yang akan di tunda selama 1 minggu kedepan selama waktu Lyra melahirkan.


Meskipun sulit mencari waktu, tetapi Moeis tetap meminta Helena untuk mengatur itu semua.


Saat ini mereka sudah duduk bersama dan makan siang.


"Tuan, semuanya pasti sudah sangat melegakan?" tanya Helena.


Meskipun ia hanyalah bawahan, tetapi sudah bersama selama bertahun-tahun dan biasa menanyakan hal tersebut.


"Ya.. melegakan dan akhir-akhir ini menjadi lebih bahagia menunggu hari kelahiran nya.. terlebih karena itu adalah anak laki-laki.." ucap Moeis.


Helena sangat bisa merasakan perbedaan karakter bos nya ini 1 tahun terakhir. Temperamen nya juga sudah tidak seburuk dulu.


"Maksud anda calon penerus Bara Group di masa mendatang?" sahut nya tersenyum ringan.


Moeis mengangguk, "Benar sekali.. masa depan kejayaan yang sudah kita bangun dengan susah payah ini akan berada di tangan nya"


"Anda terlihat sangat antusias" ucap Helena asal. "Itu artinya, anda yang akan membesarkannya dengan karakter yang kuat dan mental bisnis seiring berjalan nya waktu?"


Obrolan mereka sudah kembali ke arah bisnis.


"Saya selalu memikirkan nya. Mau tidak mau, dialah yang akan menanggung warisan besar ini.. tidak akan mudah jika mental nya biasa saja. Saya harap dia bisa mengatasinya.." ucap Moeis serius.


"Hhah.. obrolan ini terlalu berat untuk calon pewaris yang bahkan belum terlahir" candaan nya membuat Moeis tersenyum. "Tetapi, nyonya sehat dan sudah siap berangkat ke rumah sakit?"


"Semuanya sudah siap, dan Lyra tidak mengkhawatirkan apa-apa. Jadi sebelum itu, selama 2 hari ini saya akan menyelesaikannya dulu penawaran kontrak bersama Pak Hamzah dengan serius. Sehingga bisa menemani Lyra melahirkan dengan tenang tanpa memikirkan pekerjaan lagi.." ucap nya yakin.


Semua nampak sudah Moeis pertimbangkan berhari-hari. Untuk mengambil waktu 1 minggu pun, ia harus memeriksa setiap laporan di tangan malam hingga pagi.


.......


.......


Waktunya tiba.


"Benarkah? Sudah sejak kapan? Apa Lyra baik-baik saja?" tanya ibunda Lyra yang mendapat kabar dari Moeis melalui telepon.


"Sejak tadi sore, Ma. Bisa kah mama datang? /Lyra menanyakan mama..."


Moeis baru bisa mengabari ibunda Lyra yang saat ini sedang di Bandung. Sebab sejak tadi Moeis hanya menemani Lyra ditempat tidur rumah sakit, perut nya sudah terasa sakit dan kini sudah pukul 3 pagi.


"Baiklah, mama akan berangkat ke Jakarta sekarang"


Keluarga Moeis pun sudah menunggu di ruang tunggu VVIP dan Moeis didalam, ia terus menjaga Lyra menggenggam tangan nya. Membantu duduk lalu berbaring lagi.


"Apa Lyra akan baik-baik saja, dok?" tanya Moeis.

__ADS_1


"Semuanya akan berjalan baik, tuan. Kita hanya perlu menunggu sedikit lagi" jawab nya tenang sambil mempersiapkan tempat. "Sus, tambahkan kain untuk bayi nya nanti" ucap nya kepada perawat.


Setelah beberapa jam kemudian menunggu dalam cemas-cemas harap.


Ibunda Lyra sudah datang dan berdiri bersama besan nya didepan ruangan.


"Silahkan minum lebih dulu.." ucap nyonya Dave.


"Terima kasih, apa persalinan nya sudah di mulai?" tanya ibunda Lyra.


"Ya sedang berlangsung.."


Hal tersebut semakin membuat mereka menunggu. Sementara itu tuan Dave menelepon seseorang untuk menyiapkan mobil dan penjaga untuk besok mereka kembali ke rumah.


....


Mereka bernafas lega setelah suster yang keluar mengatakan bahwa bayi nya sudah terlahir dengan sehat dan lengkap.


Bahkan suara tangisan nya terdengar sangat keras dan khas.


Setelah Lyra di pindahkan ruangan yang lebih besar, para keluarga sudah diperbolehkan masuk. Sebab semuanya sudah selesai dan hanya menunggu Lyra pulih kembali.


"Lihatlah hidung dan matanya sangat berani .."


"Benar-benar sehat, ya ampun tampan nya.."


Keluarga bergantian melihat dan tidak henti-hentinya memuji.


Lyra tersenyum berseri, melihat anak nya yang sedang di jaga keluarga. Tadi ia sudah sempat menggendong dan memberi asi pertama.


"Seperti nya aku sudah sangat sehat dan bisa berjalan sekarang.. aku ingin menggendong nya, ma" ucap Lyra antusias.


"Ya.. setelah suster mengganti pakaian nya. Kamu boleh memangku nya di tempat tidur"


"Baiklah... tetapi dimana Moeis?"


Setelah bayi nya lahir dan di urus perawat. Moeis keluar dan belum kembali lagi.


Ibunda mengangguk, "Ah iya. Moeis sedang mengurus keperluan lain"


Kemudian pintu terbuka. Moeis dan perawat datang membawa papan nama berukuran kecil. Dan di letakkan di ranjang bayi.


Moeis berjalan mendekati Lyra dan mengecup nya. Mengusap kepalanya. "Sudah lebih baik?"


"Sudah sangat baik.." jawab nya bahagia. "Apa itu papan namanya? Sudah kamu tulis??" tanya Lyra penasaran.


"Sudah.." jawab Moeis tersenyum.


"Bantu aku berjalan kesana.." ia pun berdiri dan berjalan perlahan ke ranjang bayi nya. Keluarga terlihat bahagia sekali.

__ADS_1


Di papan lucu tersebut bertulis kan nama


~Jayden Jeff Meyers~


Lyra menatap nya berkaca-kaca. Ia menyukai nama tersebut.


"Itu sangat cocok untuknya.." ucap Lyra pelan.


"Kamu menyukainya?"


"Iya.. sangat bagus sekali.."


Kemudian seperti yang ia inginkan, ia pun memangku Jayden dan menimang nya dengan lembut. Beberapa foto telah Moeis abadikan selama kelahiran tersebut.


...........


...........


"Apa masih belum berani?" tanya Lyra kepada Moeis yang berusaha untuk mengenakan baju kecil untuk Jayden.


"Kamu saja, saya belum bisa.." akhirnya Moeis menyerah. Ia hanya tersenyum menggoda Jayden yang terus melihat ke arah nya.


Lyra menggeleng kan kepalanya. "Ini sudah 3 minggu sejak Jayden dirumah.. tetapi papa belum berani mengganti pakaian Jayden yaa.." ucap Lyra bergumam kepada anaknya.


Nyonya Dave tertawa ringan. Ia lah yang membantu mengajar kan Lyra memegang Jayden sejak awal. Cara menggendong yang benar, memandikan nya, dan menidurkan nya. Sebab orang tua Lyra kini sudah tinggal di bandung mengurus nenek nya yang semakin sepuh.


Ruangan ini sudah berbau baby oil dan bedak yang khas. Perlengkapan sudah hampir digunakan semua.


"Baiklah, Lyra bisa mandi sekarang. Biar ibu yang menidurkan Jayden.." ucap nyonya Dave.


"Baik, bu.."


Setelah Lyra keluar, Moeis berganti masuk dan mengusap usap pipi Jayden dengan lembut.


"Duduklah disana..." perintah nyonya Dave. Ia menunjuk sofa besar dekat jendela.


"Kenapa, bu?" tanya Moeis.


"Tentu saja kamu harus bisa memangku dan menidurkan Jayden. Bagaimana jika ibu sudah harus kembali? Apa harus Lyra yang menjaga Jayden 24 jam? Kalian juga tidak mau menyewa pengasuh.."


Moeis pun menurut dan duduk di sofa menerima Jayden, "Saya tidak mempercayakan Jayden kepada orang lain, bu"


"Baiklah.. perhatian kaki nya.. ya.. benar... pegang senyaman-nyaman nya. Jangan berhenti, kamu harus tetap bergerak.."


Setelah mendengar arahan ibunya, Moeis akhirnya paham. Ia benar-benar memangku Jayden di sofa dan terus menggerakkan badan nya perlahan.


Tidak berselang lama setelah Lyra selesai mandi dan ibu memasak makan malam di dapur.


Lyra masuk melihat Moeis dan Jayden. Ia tidak bisa menghilangkan senyuman di wajahnya. Karena melihat Jayden yang sudah nyaman dan baru saja tertidur. Lyra berusaha tenang, ia mengambil ponsel nya untuk men video mereka.

__ADS_1


Moeis menatap nya bahagia.


Bersambung...


__ADS_2