
"Sudah, biar aku saja. Bagaimana kamu bisa menyentuh pupuk dari kotoran ternak?" ucap Lyra merebut sarung tangan yang hendak Moeis pakai.
Mereka baru saja keluar dari kamar, dengan sedikit perdebatan.
"Itulah kenapa saya pakai sarung tangan. Apa yang kamu khawatirkan…"
"Tetapi, kamu tidak pernah melakukan ini kan? Bukan kah sepanjang hidupmu hanya bergelut dengan dokumen dan laptop?"
Meois tertawa ringan. Langkah nya tetap pasti menuruni anak tangga. Ia hanya menggunakan baju santai berwarna abu-abu.
"Saya pernah mengeruk kotoran kuda dan membersihkan kandangnya…"
Lyra terkejut mengetahui hal tersebut.
"Benarkah?..."
"Lihat saja nanti…"
Moeis menghentikan pelayan Yuan yang baru saja membuang tanaman mawar yang lama. Dan, tanaman baru telah sampai sejak tadi.
"Biarkan saya dan nyonya yang melanjutkan. Masuklah dan kembali bekerja…" perintahnya.
"Baik, tuan"
Meskipun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, pelayan Yuan tetap diam dan masuk ke dapur lewat pintu samping. Hal ini baru pertama kali nya terjadi. Selama ini, sebelum ada Lyra. Para pelayan sangatlah kaku karena tuan mereka yang tidak tersentuh kan. Moeis sangatlah ditakuti dan disegani. Jarang pulang. Sekalipun dirumah, Moeis hanya ada diruang kerjanya, kamar ataupun turun untuk makan.
"Karena tanahnya masih bagus, kita hanya perlu pindahkan mawar nya dari polibag ke tanah. Bisa..?"
Moeis mengangguk. Ia benar-benar mulai melakukannya. Beberapa kali Lyra melihat wajah Moeis yang terlihat bersungguh-sungguh.
'Apa yang terjadi denganya?'
"Akkkkh!! Apa itu? Moeiss!!!"
Lyra menjerit dan berpindah ke samping Moeis. Ia ketakutan melihat cacing tanah yang menggeliat didekatnya.
"Ini hanya cacing.."
"Tidak, singkirkan saja! Sangat menggelikan!"
Melihat Lyra yang ketakutan, Moeis tidak tega lagi. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana bisa kamu sangat ingin berkebun tetapi takut dengan cacing?"
Lyra memukul Moeis. Sebab, tadi Moeis menyodorkan cacing tersebut kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak langsung membuangnya?!!" rengeknya.
"Aku sudah membuang nya, hey. Jangan takut lagi, kita lanjutkan ini sebelum matahari terbenam.."
"Baiklah hhffgg…."
//
Pukul 5 sore, Ellie akhirnya kembali setelah beberapa hari dirumah tuan Dave. Ia harus menghadapi nyonya besar dan melakukan beberapa tugas disana.
"Mengapa kalian berkumpul disini?" tanya Ellie.
Beberapa pelayan yang berdiri di jendela dapur, terkejut akan kehadirannya. Mereka sedang mengintip kegiatan tuan dan nyonya nya yang sangat tidak biasa.
"Kau sudah kembali, Ellie?"
"Ku tanya! Kenapa kalian disini bukannya melakukan pekerjaan?"
"Kami sedang melihat…"
Ellie yang semakin penasaran pun langsung melangkah maju dan melihat ke luar jendela.
Apa yang sedang dilihatnya? Apa yang Moeis lakukan disana? Ini gila. Seketika ekspresi berubah.
"Tidak, Ellie. Tuan justru yang meminta ku untuk masuk. Tuan ingin berkebun mawar bersama nyonya untuk menghibur hatinya. Kami harus memberi mereka ruang dan jangan sampai mengganggu nya"
Ucapan pelayan Yuan sama sekali tidak dapat Ellie cerna. Semuanya kacau setiap dirinya pergi. Itu yang ia pikirkan.
Tatapannya tidak bergeming melihat dari kejauhan Moeis tersenyum untuk Lyra, mereka saling membantu dan terlihat bahagia.
Ellie sangat pusing melihat pemandangan tersebut.
"Sudah… Apa kalian tidak akan menyiapkan makan malam?!!"
"Ya, Ellie. Kami akan siapkan…"
Para pelayan pun bergegas pergi. Sementara Ellie kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Setelah menyelesaikan taman mawar bersama, kemudian kembali ke kamar untuk membersihkan badan. Mereka berdua telah dipanggil untuk segera makan malam.
"Terima kasih sudah membantu ku. Kamu hampir melakukan semuanya.." ucap Lyra dengan tulus.
Moeis duduk di kursinya. Mereka mulai menikmati hidangan.
"Apa itu membuat mu merasa lebih baik?"
__ADS_1
"Tentu saja. Aku sangat senang. Apa setelah ini kamu akan langsung bekerja diruangan?"
"Hanya mengecek beberapa email, dan membaca laporan"
"Bisa lakukan di kamar?"
"Ada apa?"
"Aku akan memijat mu. Agar tidak terasa lelah, besok kamu harus berangkat pagi-pagi"
Moeis mengangguk, ia menerima tawaran Lyra.
//
"Saya akan mengambil dokumen dulu" ucap nya kepada Lyra tepat didepan pintu kamar.
"Baiklah.."
Saat baru saja menutup pintu ruang kerjanya, tiba-tiba Moeis menoleh ke belakang mendengar seseorang masuk dan langsung mengunci pintu.
"Apa yang kami lakukan?" tanya Moeis.
Ellie berjalan mendekat.
"Harusnya aku yang bertanya. Apa anda sudah kehilangan akal? Para pekerja melihat anda berbaur dengan tanah! Tuan, anda tidak serendah itu…"
Tatapan mereka tajam, tidak ada yang ingin mengalihkan pandangan.
"Apa berkebun membuat derajat saya jatuh? Tidak perlu berlebihan.."
"Berkebun? Hah! Yang benar saja?! Anda mungkin akan semakin tidak disegani oleh bawahan anda sendiri jika membiarkan kesalahan mereka. Aku sudah mendengar, masalah yang mereka sebabkan. Tetapi, anda tidak mengambil tindakan apa-apa? Tidak menjatuhkan hukuman ataupun teguran. Itu akan membuat mereka perlahan menganggap anda bermurah hati.."
Suara Ellie meninggi dan terdengar emosional. Selama ini, Ellie juga membantu Moeis dalam menegakkan sikap kerasnya. Ellie yang membuat Moeis semakin disegani dimana pun ia berada.
"Berhenti mengatur untuk kali ini saja. Saya lelah. Jika itu mau mu, maka kamu bisa menghukum mereka. Sudah…"
Moeis mengambil dokumen dan melempar beberapa ke mejanya. Ia sudah bersiap untuk kembali ke kamar.
"Dan, satu lagi. Sikap anda kepada nyonya sudah banyak berubah. Anda akan semakin terbebani, karena nyonya mungkin akan menuntut lebih banyak lagi kepada anda. Dengarkan aku atau tuan akan menanggung beban yang bertambah berat.."
"Biarkan saya, kali ini saja.."
Setelah itu, Moeis hanya keluar begitu saja. Sementara Ellie kesal dan hampir ingin menghancurkan guci diruangan itu.
Bersambung...
__ADS_1