Killing Me Softly

Killing Me Softly
56


__ADS_3

Petugas kepolisian telah datang dan segera memindahkan Moeis ke dalam mobil ambulan sebelum ada media yang mengetahui kejadian ini.


Karena kecelakaan terjadi tidak jauh dari daerah rumah Moeis, kepolisian tentu sudah sangat mengenal Moeis sebagai orang dari keluarga terpandang. Mereka sudah sering membantu dan bertemu tuan Dave juga dalam beberapa kali kesempatan sehingga tau apa yang harus dilakukan.


Polisi tidak menemukan ponsel didalam mobil Moeis, mereka pun menghubungi perusahaan nya.


Hingga akhirnya seseorang datang untuk mengurus Moeis.


"Bu, anda bisa langsung masuk ke dalam"


"Apa yang terjadi pada nya?"


"Pak Moeis menyetir dalam keadaan mabuk berat sehingga menabrak pembatas jalan, mobil bagian depan memang hancur tetapi semua nya aman berkat Airbag yang berfungsi dengan baik.." jelas si perawat.


Helena kini dapat bernafas dengan lega. Ia masih di kantor untuk mengurus beberapa jadwal dan mendapatkan telpon yang cukup mengejutkan.


Sebelum menemui Moeis didalam. Tentu saja Helena harus bertemu dengan pihak kepolisian untuk segera menutup kejadian ini. Mereka telah mendapatkan kompensasi yang besar dan kehormatan untuk bertemu tuan Dave secara langsung.


Helena mengirimkan foto hancur nya mobil Moeis ditempat kejadian tadi lewat pesan kepada Lyra. Kemudian menghubungi nya.


"Selamat malam, nyonya. Apa anda sudah melihat foto yang saya kirimkan?"


"Apa itu mobil tuan?" tanya Lyra serius.


Sebab ia sudah tidak melihat Moies sejak kepulangan mertuanya.


"Ya, tuan baru saja mengalami kecelakaan kecil karena mabuk berat, nyonya. Saat ini sedang di rumah sakit untuk mengembalikan kesadaran nya. Tidak ada luka sama sekali.."


Lyra menghela nafas nya. 


"Apa besok sudah boleh pulang?"


"Benar, nyonya. Tidak ada yang perlu di khawatir kan. Apa anda akan datang?"


"Tidak. Saya juga sedang sakit kepala. Kamu urus tuan" ucap nya pelan. 


Awalnya hal itu membuat Lyra cemas tetapi mengetahui bahwa Moeis tidak apa-apa dan memang kesalahannya karena menyetir saat sedang mabuk. Lyra tidak begitu memperdulikan nya.


Ia menutup telepon dan mencari obat sakit kepala.


…..


…..


Pagi hari setelah sarapan, Lyra masuk ke dalam ruang kerja Moeis. Aroma alkohol sangat kuat hingga membuat Lyra tidak tahan. Ia membuka pintu lebar-lebar serta semua jendela agar udara bergerak dengan baik.


Di meja santai terdapat 3 botol vodka serta bungkus rok*k dan yang telah di pakai setengah.


Yang lebih mengejutkan nya lagi, ponsel Moeis sudah hancur di lantai.


Lyra tidak habis pikir melihatnya. Dari pada memanggil pelayan, ia malah memilih untuk membereskan nya sendiri. Kemudian menyemprotkan pengharum ruangan beberapa kali.


Ia juga masih segan membereskan meja kerja Moeis.


Terdapat berkas persiapan pengalihan dana sebesar 1 Triliun.


Pandangan Lyra beralih, melihat kedatangan Moeis dan Helena. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit.


Sementara Moeis berjalan untuk duduk di sofa, Helena menghampiri Lyra dan membungkuk menyapa nya.


"Nyonya, ini adalah berkas rumah sakit dan obat oles. Kecelakaan semalam tidak menyebabkan luka apapun. Tetapi tuan mendapatkan perawatan untuk bekas luka di punggung nya yang sudah cukup parah sebelumnya.. juga, saya sudah mengganti ponsel baru tuan.. ini nyonya"


Lyra menerima pemberian Helena. 


"Terima kasih, Helena..."


"Pulang lah, Helena. Dan terima kasih" sahut Moeis. Ia sudah tidak membutuhkan bantuan nya lagi, karena sudah sampai di rumah.


"Baik, saya permisi" jawab nya berlalu pergi.


Kemudian Lyra tidak tau harus bagaimana. Ia ingin bersikap tidak perduli tetapi rasanya tidak tepat. Biar bagaimana pun Moeis sudah menghidupi nya selama ini, setidaknya Lyra ingin membantu nya kali ini.


Lyra ke kamar untuk mengambil kan jubah tidur lainnya yang berukuran besar untuk Moeis. Ia tau bahwa Moeis masih belum bisa memakai baju biasa.


"Ini baju gantimu.." 


Moeis yang semula memejamkan mata, kini melihat wajah Lyra dan menerima jubah tersebut. Ia berdiri dan mulai membuka pakaian nya perlahan.


Melihat Moeis didepan matanya, Lyra sedikit bisa membayangkan rasa sakit tersebut. Memang parah, punggung nya yang semula sempurna menjadi hancur.


Tiba-tiba tangan Lyra meraih jubah nya dan membantu Moeis melepaskan nya. Tetapi ekspresi Lyra tetap tidak berarti apa-apa.

__ADS_1


"Apa kamu sudah makan? ingin apa?" tanya Lyra datar. Ia sibuk memakai kan yang baru lalu hendak membawa yang kotor.


"Berikan apa saja.." jawab Moeis sambil kembali duduk.


….


Tidak lama kemudian Lyra datang membawa nampan makanan. 


Mereka masih di ruang kerja Moeis.


Tanpa bantuan Lyra, Moeis dapat makan sendiri meskipun terasa nyeri.


"Apa maksud mu menyetir saat mabuk berat? Kamu ingin menghindari masalah ya??" sinis Lyra.


"Maksud mu saya berniat bunuh diri?" jawab Moeis dengan tenang. Ia tidak mempunyai energi untuk bertengkar kali ini.


"Ya mana aku tau! Itu cuma menambah masalah saja, kamu bisa terkena pasal jika sampai menyebabkan korban lain" 


Baru pulang, Moeis sudah mendengar omelan Lyra.


"Ini kecelakaan tunggal, Lyra. Lagi pula saya masuk ke dalam mobil lalu menyetir dan menabrak pembatas jalan dalam keadaan tidak sadar… saya juga bertanya-tanya mengapa bangun dirumah sakit.."


Tidak heran, Moeis telah meneguk banyak sekali alkohol. Wajahnya kini bahkan sangat berbeda dan matanya terlihat merah.


"Aku harus memberitau keluarga mu.." ucap Lyra hendak mengeluarkan ponselnya. 


"Mereka sudah, tau.. jangan mengganggu nya. Saat ini ayah sedang menggantikan saya di perusahaan, banyak yang harus di garap tahun ini. Dan berkat permasalahan dan luka punggung saya, jabatan saya sedang ditangguhkan untuk sementara hingga masalah ini usai.."


"Apa rencana mu? Aku ingin tau. Apa kamu akan menghindar lagi??"


Moeis telah selesai dengan makanan nya. 


"Mari selesai kan ini. Saya ingin kembali ke perusahaan secepatnya, dan.. ingin tau apa keputusan mu? Yang jelas, perceraian bukan hal wajar di keluarga kami. Kamu harus memikirkan lagi untuk meninggalkan saya, karena artinya kamu juga akan terlepas dari keluarga Meyers. Cinta dari saya yang selama ini kamu minta akan datang nanti, butuh waktu…"


"Kamu harus jujur sejujur-jujur nya.. sebenarnya ingin berubah atau tidak? Ingin aku bertahan atau sudahi semuanya.."


"Jangan tanyakan itu lagi dan lagi, kamu sudah tau saya ingin kita tetap bersama, Lyra"


Lyra berusaha untuk mencari kejujuran dari mata Moeis. Ia juga tidak ingin mengecewakan keluarga nya, tetapi masih ingin mempertimbangkan lagi.


///


Namun ia terheran melihat Moeis sudah berpakaian rapi dan menyiapkan koper kecil di meja.


"Kamu mau ke mana, Moeis?"


"Singapore.. saya tidak bisa menunda nya lagi"


Lyra berjalan mendekat.


"Tapi kamu baru saja keluar dari rumah sakit pagi tadi. Lagi pula kenapa tidak bilang? Aku juga harus kesana"


Moeis menoleh.


"Untuk apa? Saya bisa menyelesaikan nya tanpa bantuan mu.."


"Ya aku ingin bicara langsung dengan nya. Aku harus lihat bagaimana kamu menghadapi nya.. dia harus bertemu dengan ku agar tidak merengek kepadamu"


"Dia biasa merengek kepada saya, bagaimana kamu tau?" ucap Moeis dengan asal.


"Apa??"



Akhirnya Lyra dan Moeis pun pergi dalam penerbangan yang sama. Mereka sampai dan langsung di jemput oleh sopir pribadi yang telah Moeis pesan.


"Berbicara lah dengan bijak, Lyra. Agar mereka lebih mengerti.."


"Diamlah, aku sudah tau apa yang harus ku lakukan. /Kamu pasti sudah menjadikan negara ini sebagai rumah keduamu.."


Moeis diam tidak menjawabnya.


"Kita sudah sampai, pak. Silahkan.."


Kedatangan mereka sama sekali tidak Carrie duga. Mau tidak mau ia harus mempersilakan nya masuk karena melihat Lyra.


Sementara itu hati Lyra sangat sakit melihat perut Carrie yang sudah membesar. Ia teringat dengan kandungan nya yang tidak dapat diselamatkan.


"Lyra…" panggil Moeis.


"Ya??" jawab nya tersadar dari lamunan singkat.

__ADS_1


"Dimana Daniel?" tanya Moeis kepada Carrie.


Carrie nampak gugup dengan tatapan Lyra.


"Daniel masih bekerja…- Moeis, aku sudah mengatakan jangan datang lagi, jangan temui aku.. kenapa kamu keras kepala sekali??"


"Tidak bisa.. kita harus memperjelas semuanya. Maaf karena datang seperti ini.."


Ucapan nya berhasil membuat Lyra menatapnya. Mengapa Moeis masih berbicara dengan Carrie begitu lembut.


"Apa maksud kedatangan kalian? Aku sudah bilang, lupakan anak ini. Dia akan besar sebagai anak Daniel.." ucap Carrie.


"Terima kasih atas keputusanmu. Pasti berat.. tetapi tidak ada jalan lain. Ini untuk mu.." 


Lyra memberikan berkas perjanjian kepada Carrie.


"Apa ini, nyonya?"


"Itu adalah perjanjian di atas materai. Kami serius dalam menyelesaikan persoalan ini…"


"Uang 1 Triliun?? Apa maksud kalian? Aku tidak akan mengungkit masalah ini dimasa depan, kurasa kalian sudah berlebihan.. keterlaluan.."


Moeis kembali berbicara.


"Jangan salah paham, Carrie. Ini bukan apa-apa. Ini uang untuk anak ku. Jangan gunakan, berikan padanya suatu saat nanti.."


"Apa hak mu? Aku sama sekali tidak keberatan jika kamu enyah. Pergi lah…"


"Jangan keras kepala! Dengarkan saya… ini yang terbaik untukmu… saya berusaha menebus kesalahan saya dengan membuat mu menerima sedikit keadilan. Itu saja!" Moeis sudah berdiri memegang bahu Carrie dengan kedua tangan nya. 


Tatapan mereka bertemu.


"Aku tidak perduli. Jangan memaksaku seperti ini, Moeis.." air mata jatuh tepat di hadapan nya.


Lyra memalingkan wajahnya tidak ingin melihat perdebatan mereka. Wanita itu adalah selingkuhan suaminya. Tetapi Lyra saja bisa merasakan kelembutan hati Carrie. Ia menjadi tidak tega melihatnya.


"Carrie.. baiklah.. ini adalah permintaan keluarga saya. Terima saja setelah itu terserah ingin kamu apakan uang itu"


"Kamu pasti sudah merasa lebih baik jika uang sudah bekerja ya? Aku sudah katakan berkali-kali.. ketulusan jauh lebih penting dari pada uang.. hhhhgghh… uang adalah penghinaan bagi ku saat ini.." ucap nya sesenggukan.


Moeis menghela nafasnya berat.


"Tanda tangani surat ini, Carrie. Setelah itu aku akan pergi seperti yang kamu minta.."


Carrie terkejut melihat Lyra membungkuk kepadanya. Ia memohon dengan hormat. Lalu Moeis meraih lengannya untuk tidak melakukan itu. Ia tidak ingin harga diri Lyra jatuh. 


"Tolong pergi.. " ucap Carrie.


"Aku akan menunggu di luar. Bicaralah secara leluasa.." ucap Lyra.


Ia ingin Moeis bisa mengatakan hal baik kepada Carrie tanpa harus memikirkan dirinya.


Suasana menjadi berbeda.


"Moeis.. dia wanita baik. Tolong lupakan aku dan anak ini mulai sekarang.. aku tidak apa-apa.. ini bukan sepenuhnya kesalahanmu jika aku hamil... kita melakukan bersama ,dan aku mau padahal tau kamu sudah beristri. Maka sekarang aku sedang menanggung resikonya.. tetapi tanpa uang itu, ini sudah adil.. kamu tetap memiliki Lyra. Dan aku akan memiliki Daniel... mengerti??"


Perkataan Carrie yang dewasa seperti yang Moeis kenal akhirnya keluar. Ia terus menatap matanya yang terlihat sedih.


"Tidak bisa. Tetaplah terima semuanya, Carrie. Atau kita harus berurusan lagi di masa depan.."


"Aku tidak mau. Jangan pernah muncul untuk mencari anak ini... tolong"


Moeis mengusap wajahnya berat. Ia benar-benar kalut.


"Baiklah.. jika kamu menandatangani berkas itu, aku tidak akan mencari kalian sampai kapan pun"


Kalimat itu lebih baik Moeis ucapkan untuk saat ini. Meskipun dirinya sendiri pun tidak yakin.


Setelah memikirkan banyak pertimbangan, Carrie menyerah.


"Sudah.. sekarang kamu pergi saja dulu bersama Lyra. Aku akan simpan berkas ini dan tanda tangani nanti.. kita lupakan semuanya.. ini permintaan ku"


....


"Lyra ingin minta bercerai..." ucap Moeis sekedar memberitahu.


Carrie tidak menyangka mendengar hal itu.


Dengan langkah berat pula, Moeis beranjak pergi padahal masih terasa semuanya belum selesai di antara mereka.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2