Killing Me Softly

Killing Me Softly
12


__ADS_3

Suasana malam yang terasa dingin dan lekat menemani makan malam mereka berdua. Sementara bibi sudah kembali ke kamarnya di belakang.


Kini Lyra juga sudah memakai sweater tebal milik Moeis yang tersimpan di kamar rumah ini.


"Moeis berbicaralah, rumah ini seram jika hening. Banyak suara-suara aneh dari luar..."


Pandangan nya tidak teralihkan sedikitpun.


"Hanya suara khas pedesaan"


"Pedesaan apanya, tidak ada rumah lain di sekitar sini. Hanya ada rumah kuda"


"Ada rumah para pekerja di samping bangunan kandang kuda. Tidak jauh dari sana adalah perumahan warga"


Meski begitu, Lyra tetap tidak terbiasa dengan suasana ini. Ditambah nuansa rumah kayu ini terlihat tua dengan lampu-lampu dinding dan rak buku-buku lama yang tebal.


"Apa yang kamu takutkan" tanya Moeis.


Lyra menyudahi makan malamnya dan melipat tangan didada agar tidak terlalu dingin.


"Suasananya… aku tidak ingin menginap lagi disini. Cukup berkunjung saja lain kali"

__ADS_1


Melihat Moeis berdiri dan berjalan pergi, Lyra langsung mengikuti nya. Ia bahkan tidak yakin bisa tidur malam ini.


Moeis membuka pintu sebuah ruangan.


"Ini kamarmu, dan itu kamar saya. Kalau ada apa-apa kamu bisa berteriak"


Lyra membulatkan matanya dengar apa yang Moeis ucapkan. Ini gila, meskipun pintu nya hanya berhadapan tetapi mustahil untuknya berada didalam sana.


"Kamu gila? Kenapa aku harus tidur disana sendirian? Tidak mauu…."


"Rumah ini sangat aman. Kamu tidak lihat ada yang berjaga diluar? Tidak akan ada yang menyelinap" suaranya cukup mempertegas.


Lyra menggelengkan kepalanya dan mulai merengek.


Ia benar-benar seperti tidak bisa melewati malam ini.


Apa yang salah dengan wanita ini. Dia sudah hidup sendiri di luar negeri bertahun-tahun, tetapi untuk tidur di negara sendiri sampai ingin menangis dan mengancam pergi.


"Kamu tidak mengerti apa itu longsor di akses jalan satu-satunya??! .. Masuklah.." ucapnya dengan frustasi.


Lyra menatap wajah Moeis dengan mata yang memerah. Ini aneh, ia begitu tidak ingin sendirian hingga seegois ini. Mungkin karena bertahun-tahun tinggal di pusat kota jadi tidak terbiasa dengan suasana desa.

__ADS_1


"Sementara Lyra berselimut di tempat tidur, Moeis membuka laptopnya di kursi.


Hampir jam 12 malam, Moeis masih mendengar suara Lyra yang berbalik badan berkali-kali ditempat tidur. Sudah pasti, Lyra tidak bisa tidur sekeras apapun mencoba.


Moeis pun menutup laptopnya dan beranjak tidur. Lyra merasakan tangan Moeis yang memeluknya dari belakang. Ia membuka matanya lalu sedikit menoleh. Kini wajahnya tepat berada dada Moeis yang hangat.


"Cepat tidur atau saya yang akan tidur lebih dulu dan kamu akan terjaga sendirian" saat ini matanya sudah terpejam.


Tidak berlama-lama, Lyra membalikan tubuhnya menghadap Moeis dan membalas pelukan itu. Tidak ada komentar apa-apa, mereka hanya terpejam. Sebelum benar-benar tidur, Lyra mencium singkat pipi Moeis.


Apa yang baru saja ia lakukan? Entahlah, Lyra berusaha melupakan nya dengan memejamkan mata sedalam-dalamnya.


Setelah beberapa jam menemani Lyra untuk tertidur, Moeis bangun ditengah malam mengecek ponselnya. Ia bersandar di tempat tidur dan memfokuskan pandangan ke layar ponsel.


Banyak sekali pesan yang masuk dari Daniel dan Carrie. Benar-benar membuat nya kesal dan bertarung dengan berbalasan pesan. Ini adalah pertama kalinya terjadi, hubungan nya dengan Carrie sedang dibakar api.


Carrie terus meminta Moeis datang ke Singapore untuk berbicara empat mata, sementara hingga kini Moeis belum memiliki jadwal yang pas untuk ke luar negeri.


Moeis mendesis. Membaca pesan yang baru saja ia terima dari Carrie.


"*Jika kamu tidak datang. Aku yang akan terbang ke Indonesia. Kita tidak bisa seperti ini berlama-lama, dear"

__ADS_1


Bersambung*...


__ADS_2