
Lyra menangis mendengar reaksi orang tua nya yang sangat bahagia ketika tau bahwa ia hamil. Lewat panggilan telepon, mama nya banyak memberi nasihat dan beberapa anjuran yang baik di lakukan selama hamil.
Setelah selesai, ia menguatkan diri kembali. Kini saat nya untuk menghubungi keluarga Moeis.
"Halo, bu.."
"Ya, ada apa Lyra? Dan bagaimana kabar kalian?"
"Kami baik. Sebenarnya ada yang ingin aku beritahu.." ucap Lyra ragu.
"Apa itu? Ah, dan untuk janji dengan spesialis, ibu akan jadwalkan ulang. Bisa?"
Benar. Saat itu mereka tidak jadi untuk konsultasi.
"Seperti nya tidak perlu, Bu. Kami sudah ada kabar baik saat ini"
"Kabar baik? Maksudnya, kamu sudah hamil? Apa itu benar?"
"Ya.. aku hamil, Bu. Dan sudah memeriksakan nya. Janin nya sehat"
"Ya tuhan. Ibu tidak tau harus bagaimana. Ibu sangat senang, benar-benar bahagia sekali. Sudah usia berapa??"
Lyra sedikit tersenyum mendengar nya.
"Sudah usia 5 minggu"
"Ibu masih tidak percaya… lalu apa masih merasa mual? Apa saja yang kamu rasakan?"
"Ya, Bu. Masih sering muncul dan terasa tidak nyaman juga pusing. Tetapi tidak masalah karena tidak begitu parah"
"Dengarkan kata-kata ibu. Kamu harus menjaganya seperti berlian, jaga kesehatan mu, perbanyak istirahat dan hanya boleh mengonsumsi makanan bernutrisi tinggi. Apa perlu ibu tinggal di sana dulu mungkin sampai sebulan kedepan?"
"Tidak perlu, Bu. Aku pasti bisa menjaga nya. Aku pasti akan banyak menghubungi ibu untuk menanyakan ini itu"
"Ya sudah. Sering-sering hubungi Ibu"
"Baik. Ku tutup, Bu"
…
Moeis kembali ke kamar setelah melakukan panggilan video dengan rekan bisnis nya di Australia.
Ia melihat kotak susu di meja dan beberapa obat. Mungkin kini Lyra sudah tidak perlu menyembunyikan nya lagi. Semua nya terjajar disana.
"Apa kamu yang menghubungi rumah sakit Hutama? Aku menerima email berisi lampiran form dari mereka" tanya Lyra setelah keluar dari kamar mandi.
Moeis duduk sambil membuka laptop nya di sofa.
"Ya. Itu adalah rumah sakit bersalin terbaik di Jakarta. Saya sudah membayar dokter spesialis senior untuk mu dari sekarang sampai proses persalinan. Ikuti saja semua arahan nya"
Lyra tidak tau bahwa Moeis sudah melakukan hal-hal secara detail dan jangka panjang. Dalam email tersebut juga terdapat lampiran pdf bukti pembayaran sejumlah 500 juta dengan asuransi kesehatan kelas pertama serta rincian jadwal check-up dan vitamin.
"Kamu akan menemani?"
"Tidak tau" ucap nya singkat.
Sementara Moeis sibuk dengan laptopnya, Lyra membereskan seisi kamar. Ia berjalan kesana kemari.
"Awwwhh!!!"
Terdengar suara jeritan Lyra dari ruang ganti.
Moeis berjalan masuk.
"Ada apa?"
"Kaca tempat jam tangan mu tajam dan menggores tangan ku.."
Kemudian Moeis sedikit membereskan nya.
"Lagi pula apa kamu tidak bisa berdiam saja??"
"Kalau aku diam lalu siapa yang akan membereskan kamar? Apa kamu??"
Moeis mendesis.
"Ada banyak pekerja, apa yang kamu pikiran?!!? ..."
"Aku tidak ingin ada yang masuk ke kamar. Sudahlah, kamu selalu menanggapi apapun dengan emosi" ucap Lyra berlalu pergi. Ia bersiap-siap turun ke bawah untuk makan malam.
Namun Moeis meraih lengan nya dari belakang dengan sedikit cengkraman.
Hal itu membuat Lyra sedikit kesakitan.
"Jika kamu tidak mendengarkan, itu hanya menyusahkan dirimu sendiri. Jangan keras kepala" ucap Moeis tegas.
__ADS_1
"Kamu yang keras kepala. Peduli apa dengan ku? Lepaskan.."
Pertengkaran mereka terkesan kekanak-kanakan, seakan egois dan tidak mau saling mengerti satu sama lain.
Pintu kamar terketuk. Lyra membuka nya.
"Nyonya, silahkan turun untuk makan malam. Dan di bawah ada tamu tuan sedang menunggu"
"Siapa, Bi?"
"Namanya, Celine"
"Wanita???" tanya Lyra.
Bibi hanya mengangguk. Sedangkan Lyra menjadi penasaran. Siapa Celine dan untuk apa datang malam-malam.
"Turunlah, mungkin pacar mu yang lainnya datang kali ini" ucap Lyra ketus.
Sementara Moeis tidak mengerti dengan ucapan Lyra dan hanya ikut turun dengan santai.
Lyra berjalan ke meja makan dan Moeis ke ruang tamu.
Terlihat wanita cantik dengan rambut terurai, berpakaian feminim. Senyuman nya terlihat manis melihat kedatangan Moeis.
"Moeis…." sapa nya.
Namun Moeis masih berusaha mengingat wajah itu. Ia hanya menjabatkan tangan.
"Apa kamu…"
"Aku Celine. Kita dulu pernah bertemu"
Moeis juga tidak tau bahwa Celine akan datang ke rumahnya tanpa mengabari lebih dulu. Ia kira Pak Reymon akan mempertemukan nya di tempat lain.
"Oh ok. Silahkan duduk. Ada apa kamu datang?"
Celine berpindah tempat duduk menjadi satu sofa dengan Moeis.
"Ini sudah 6 tahun sejak terakhir kali kita bertemu. Papah yang memberiku alamat rumahmu. Rumah ini sangat besar dan indah"
Moeis hanya tersenyum mengangguk.
"Oh, yaa. Kata papah, kamu sudah menikah?" tanya nya ragu.
Celine nampak kecewa.
"Maaf karena dulu aku terlalu kasar dan sombong. Padahal kamu sudah sangat baik. Jika saja saat itu berjalan dengan baik, mungkin…"
"Itu sudah berlalu. Lagi pula hanya perkenalkan biasa yang diatur"
"Kamu benar… -- Hmm.. Jadi istrimu sekarang ada didalam?" tanya Celine penasaran.
"Dia ada di meja makan. Bergabunglah dengan kami, ini sudah jam makan malam"
"Apa boleh? Aku ingin mengenal istrimu juga"
"Ya, ikutlah.."
Mereka masuk ke ruangan utama yang luas dan terhubung dengan area dapur.
"Bi, siapkan satu piring lagi"
"Baik, tuan"
"Lyra, ini Celine. Anak teman papa, teman lama saya" Moeis memperkenalkan Celine pada Lyra.
(Sudah gila Moeis…>.<)
"Oh.. ya. Halo, saya Lyra"
"Aku Celine. Hmm dimana anak kalian?"
Lyra menatap nya diam.
"Kami belum. Tetapi Lyra sedang hamil" jawab Moeis.
"Benarkah. Selamat untuk kalian"
Mereka pun mulai menyantap makan malam.
"Moeis apa kamu dan papah masih bekerja sama seperti dulu?"
"Ya, kerja sama masih berjalan. Tetapi lebih banyak dengan ayah saya. Semuanya mereka yang atur"
"Hmm.. Kamu tidak ingin investasi di brand ku? Aku sudah memiliki iklan besar dan pasar eropa"
__ADS_1
"Kita bisa bicarakan soal itu. Apa semuanya berjalan baik?"
"Ya. Dan kamu adalah motivasi ku. Saat kamu masih berada di London, aku sempat ingin menghubungi tetapi tidak menemukan waktu yang tepat"
Moeis sedikit melihat Lyra. Wajah nya terlihat menahan tidak suka. Tetapi mau bagaimana lagi. Celine adalah anak pak Reymon, tidak enak jika terlalu mengacuhkan. Moeis tau bagaimana cara mempertahankan hubungan bisnis.
Dan Celine melihat foto pernikahan di dinding ruang tengah. Tetapi ia tidak mempunyai rasa tidak enak sedikitpun.
"Aku sudah selesai dan ingin istirahat lebih dulu. Maaf ya, teruskan saja obrolan kalian.." ucap Lyra berdiri.
Moeis sudah bisa merasakan kekesalan Lyra.
"Ya benar kamu sedang hamil, tidak apa-apa" jawab Celine.
Lyra tersenyum biasa.
"Bi, tolong antarkan segelas air hangat ke kamar" pinta Lyra kepada pelayan. Ia tidak ingin berlama-lama di meja makan.
Lalu Moeis melanjutkan obrolannya dengan Celine. Mau tidak mau harus meladeni nya.
Bahkan hingga pukul 9 malam di ruang tamu.
Setelah selesai. Moeis kembali ke kamar nya untuk mengambil ponsel. Kini ia harus kembali bekerja di ruangan nya.
"Dimana ponsel saya?" tanya Moeis kepada Lyra. Tadi ia meletakkan nya di tempat tidur, tetapi sekarang tidak ada.
"Di meja lampu…" jawab nya singkat.
Moeis berjalan mengambil nya.
"Apa dia menyukaimu?"
Pertanyaan itu membuat Moeis menoleh.
"Tidak"
"Dia seperti menyukaimu"
"Saya tidak perduli.. Jangan memancing masalah"
'Kamu yang memancing masalah. Seorang wanita datang dan menghilangkan nafsu makan ku' Batin Lyra.
Namun ia hanya diam.
"Mau kemana?" tanya Lyra.
"Ruang kerja. Ada apa? Kamu kira saya ingin keluar bersama wanita tadi?"
Lyra membuang pandangannya.
///
Pukul 3.20 pagi buta. Moeis kembali ke kamarnya.
Lampu ruangan gelap, tetapi ia melihat Lyra bersandar di tempat tidur.
"Lyra, kenapa kamu duduk saja?"
Sebenarnya tidurnya tidak nyenyak. Ia terus terbangun saat sudah memejamkan mata. Benar-benar tidak bisa.
"Aku tidak bisa tidur.."
"Pikirkan kandunganmu, jangan berbuat semaunya. Setidaknya kamu harus berbaring" ucap nya datar. Moeis juga bersiap untuk tidur.
"Sudah. Tetapi berkali-kali terbangun. Kamu tidak mengerti!"
Moeis menghela nafasnya.
"Ya lalu bagaimana??"
"Sudahlah.." jawab nya lemah.
Moeis melihat Lyra sedang memandangi sebuah foto USG ditangannya. Jantung nya sedikit berdebar.
"Baiklah, tidur di sini" perintah Moeis. Ia sudah siap meminjamkan lengan dan tubuhnya.
"Apa? di mana??"
"Cepat.." ucap nya menarik tubuh Lyra.
"Aku akan tidur nanti" ucap Lyra.
"Diam, dan tidur saja"
Bersambung...
__ADS_1