Killing Me Softly

Killing Me Softly
52


__ADS_3

"Hari ini bisa luangkan waktu sebentar?" tanya Lyra pelan.


Ia baru saja selesai mengeringkan rambutnya. Dan Moeis belum juga bersiap untuk berangkat ke kantor padahal sudah jam 7 pagi.


"Untuk check?"


"Ya.."


Ia tidak langsung menjawab nya. Kemudian mendekati Lyra.


"Saya harus berangkat ke Tokyo dan ini juga mendadak. Kamu bisa sendiri atau mungkin meminta ibu..."


Moeis berbohong.


Jelas ia pasti akan pergi ke Singapore untuk menemui wanita itu. Jantung nya berdegup kencang.


Jadi seperti inilah saat Moeis berbohong. Tidak ada yang berbeda dari ekspresi nya. Lyra tidak bisa membayangkan seberapa banyak Moeis telah berbohong dengan mudah seperti ini.


Sekarang Lyra cemas dan bingung harus bagaimana.


"Tidak bisa..." ucap Lyra tiba-tiba menahan lengan Moeis.


"Ada apa? Kenapa tidak bisa, ini adalah urusan pekerjaan"


"Batalkan jika kamu benar menantikan anak ini. Pikiran apa kamu bahkan pernah perduli.."


"Lyra..."


Saat itu juga ia tau, ia gagal. Gagal meminta Moeis untuk tetap tinggal bersamanya.


Nyatanya, Moeis lebih memilih untuk pergi menemui wanita itu.


///


Tokk tokk....


Pintu terketuk.


"Ada apa?"


Ellie datang ke kamar nya di jam-jam yang tidak biasanya. Sebab ia sudah makan malam, dan sekarang sudah pukul 10 malam.


"Nyonya, tolong keluarkan pakaian kotor karena akan segera kami cuci malam ini juga"


"Kalian sudah biasa mencuci nya di pagi hari, kenapa sekarang.."


"Pencuci yang meminta nya, nyonya. Atau biarkan saya saja yang ambil ke dalam, mungkin berat dan tidak baik untuk kandungan anda" ucap Ellie sekali lagi.


Lyra menolaknya, ia sendiri yang akan mengambil ke dalam. Beberapa pakaian nya dan juga setelan jas milik Moeis. Seperti biasa ia mengecek di setiap kantong yang ada.

__ADS_1


Sebuah lipatan kertas ia keluarkan dari jas Moeis. Buru-buru Lyra membukanya.


Salinan keterangan pihak rumah sakit.


"Hamil... usia 6 bulan.. kandungan lemah dan butuh perawatan khusus.."


Lagi-lagi, tidak ada habisnya. Bak disambar petir, Lyra kehilangan akal membaca surat tersebut. Yang sudah jelas atas nama pasien Carrie Wu.


Sudah lebih dari 10 menit, ia masih dalam posisi tersebut memangku pakaian Moeis. Lyra menoleh melihat panggilan masuk dari Ibu mertua di ponselnya.


Tetapi ia tidak dapat bicara bahkan bergerak.


Pintu kembali terketuk. Beberapa kali.


Emosinya sudah tidak tertahankan lagi. Lyra melemparkan bingkai foto ke arah pintu dengan keras dan pecah berkeping-keping.


Anehnya, ia tidak dapat menangis seakan jiwa nya ikut membeku.


Selama berjam-jam, pikiran terhenti.


Pintu kamarnya kembali terbuka begitu saja. Bibi datang membawakan segelas susu untuknya.


Dengan gugup ia berjalan mendekat, melihat lantai yang penuh pecahan.


"Nyonya.. maaf, anda meletakkan susu ini di meja makan. Bukan kah harus nya anda meminumnya. saya membuatkan lagi dan ini hangat.. tolong di minum nyonya"


"Jangan sekarang, Bi" ucap Lyra melihat Bibi yang membereskan pecahan tersebut.


"Baik, nyonya" jawab nya berlalu pergi.


Saat meminum susu itu lah, Lyra baru bisa menangis. Bahkan ikut melemparkan gelas tersebut setelah menghabiskan nya.


Tetapi.


Tidak berselang lama, perut nya terasa kaku. Lyra merasakan sakit yang amat tidak tertahankan.


"Ada apa ini.. kenapa sangat sakit ah..hhhhgg"


Tubuhnya mulai dijatuhi keringat dingin dan lemas. Meskipun sudah berteriak, tidak ada satu orang pun yang datang. Tangannya yang gemetar berusaha menghubungi telpon dapur, hasilnya nihil.


Lyra tidak mengerti. Apa yang sedang ia rasakan. Tidak ada pilihan Lain, ia hanya sempat menghubungi Ellie. Panggilan tersambung tetapi tidak di angkat.


Hingga akhirnya ia pingsan tidak sadarkan diri.


......


Bibi terbangun di tengah malam untuk memastikan kembali bahwa lampu-lampu di beberapa sudut ruangan sudah di matikan.


Tetapi seperti nya di lantai atas masih terang sekali.

__ADS_1


"Kenapa pintu kamar nyonya belum di tutup.. tidak mungkin ada penyusup kan?"


Ia berjalan mendekat dengan khawatir. Sebab tuan mereka juga sedang tidak dirumah.


Awalnnya ia hanya ingin langsung menutup nya, tetapi melihat kamar yang masih terang tidak seperti biasanya. Bibi dapat sedikit melihat ke dalam. Di samping tempat tidur ia melihat Lyra tergeletak di lantai.


"Ya tuhan, nyonya!!"


Panik nya semakin menjadi ketika melihat darah disekitar kaki Lyra. Ia sudah dapat mengetahui apa yang terjadi pada nyonya nya.


Kemudian di jam-jam ini semua pelayan harus terbangun, dan Lyra segera diantarkan oleh Bibi bersama sopir. Seharusnya Ellie lah yang mengantarkan, tetapi ia memilih untuk tidak mengurusinya.


......


Orang tua nya bersama mertua telah berkumpul di ruangan VVIP rumah sakit. Keadaan menjadi tidak enak. Dan Lyra masih dipengaruhi oleh obat tidur.


Tuan Dave terus menghubungi Moeis, sebab panggilan tersebut masuk hanya saja tidak ada jawaban. Ia tau bahwa tidak ada perjalanan bisnis untuk awal minggu ini, tetapi Bibi yang mengantar Lyra mengatakan Moeis sedang dalam perjalanan bisnis seperti biasa.


"Pak Broto, kami mohon maaf atas kejadian ini. Kami menyesali tidak ada nya anak kami dalam situasi seperti ini.. hingga Lyra harus kehilangan janin nya" ucap nyonya Dave setelah keadaan sunyi.


Papa Lyra mengangguk putus asa. Mau bagaimana lagi, ini sudah terjadi.


"Dokter mengatakan, andai dibawa lebih cepat mungkin janin masih bertahan. Yasudah, kita berlapang dada saja. Kami yakin kalian juga merasakan kesedihan yang sama, sebab ini adalah cucu pertama keluarga saya dan juga anda..."


Kemudian tuan Dave mendekat.


"Saya yang akan mengurus semuanya. Termasuk anak saya dan apa yang sebenarnya terjadi pada Lyra hingga seperti ini" ucap nya membungkuk.


"Terima kasih.."


Saat ponsel kembali berdering. Tuan Dave keluar ruangan.


Moeis menelepon nya kembali.


"Dimana kamu?!!"


"Ayah, ada apa. Saya sedang di Tokyo" jawab Moeis.


"Segera kembali atau lupakan perusahaan! Saya tau keberadaan mu yang sebenarnya... apa kamu berusaha membodohi istrimu bahkan ayah?"


"Untuk apa, baik... saya memang tidak di Tokyo. Tetapi kenapa ayah marah seperti ini??"


Tuan Dave mendesis hampir ingin meluapkan amarahnya disini. Tetapi ia harus menahannya. Ia tidak akan mengampuni Moeis saat dirumah nanti.


"Istrimu sedang dirumah sakit. Kamu pikirkan apa yang terjadi padanya.. dalam 1 jam kamu harus menghadapi wajah ayah dan mertua mu, Moeis!!" bentak nya lalu menutup panggilan begitu saja.


Sementara Moeis sudah merasakan kemungkinan hal buruk yang sedang terjadi disana. Tidak ada pilihan, jika ayah nya saja sudah semarah ini. Ia harus segera kembali.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2