
Sepulang nya dari rooftop bar disebuah hotel bintang lima, Moeis turun dari dari mobil lebih dulu sambil bertelepon. Sementara Lyra sejak tadi hanya diam, ada yang tiba-tiba mengganggu pikirannya.
Supir telah berdiri tepat di depan pintu mobil menunggunya turun.
Lyra memejamkan matanya memegangi kepala untuk beberapa saat.
"Pak, bisa kita pergi ke rumah orang tua saya. Sekarang.."
"Baik, Nyonya"
Ada yang ingin ia cari disana. Sudah sangat lama sekali, sejak terakhir kali melihat barang itu.
Memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Terasa begitu cepat bagi Lyra yang hanya melamun selama perjalanan.
Ia langsung menekan bell berkali-kali. Begitu pintu terbuka oleh bibi, Lyra langsung berjalan cepat ke kamarnya. Kamar yang sangat ia rindukan. Aroma dan barang-barang yang masih sama sejak kepergian nya ke German. Tempat ini seketika memunculkan seribu kenangan yang ia lalui bersama keluarganya.
Sempat terdiam hanya untuk memandangi persudut ruangan. Ia tersenyum sendu melihat foto-foto masa kecilnya, dengan dress berwarna pink, dipangkuan ibu, dan saat sedang bermain piano.
Yang ia cari… ada di lemari, atau di laci-laci meja. Entahlah, Lyra tidak mengingat nya lagi. Tangannya terus membongkar sana dan sini, semoga benda itu dapat ia temukan. Benda penting yang terlupakan.
"Dimana? dimana aku menyimpannya…"
Semua tempat telah Lyra susuri, ia hampir menyerah putus asa. Ada sebuah koper besar di bawah tempat tidurnya, semua barang didalam nya telah dikeluarkan. Dengan nafas tersenggal, Lyra bahkan melihat ke bawah kolong ranjang.
Saat mengangkat syal lamanya, sebuah benda kecil kotak berwarna biru dongker terjatuh. Matanya tertuju melihatnya dengan jeda.
Perlahan tangannya mengambil benda tersebut dan membukanya. Sambil meneteskan air mata Lyra memakai nya lagi.
Cincin pernikahan nya dengan Moeis.
#FLASHBACK 2 tahun lalu.
"Lyra, kamu baru saja menikah kemarin. Lebih baik sekarang pindahkan semua barang mu ke rumah Moeis. Dia sibuk dan tidak sempat untuk membantu mu. Papa dan mama yang akan membantu.."
"Pesawat Lyra akan boarding pukul 7 malam ini. Tenang saja ma, aku sudah berbicara dengan keluarga dia"
"Tapi, kalian setidaknya harus saling menyapa dulu. Saling mengenal.. mama paham kalian hanya mengikuti keinginan kami. Tetapi tidak ada benarnya jika kamu langsung pergi begini.."
Lyra berdiri setelah menutup koper besarnya.
__ADS_1
"Ma, Lyra sudah menikah sesuai dengan keinginan kalian. Bahkan dengan lelaki pilihan kalian, tetapi ya semuanya sampai disini dulu. Kalian sudah berjanji untuk membiarkan ku melanjutkan pendidikan kan? Sekarang aku sudah bersiap untuk berangkat.."
Tidak ada lagi yang dapat orang tuanya katakan. Mereka juga ingin tetap menepati janji. Meskipun rasanya berat dan sedih.
Sebelum membawa kedua kopernya keluar, Lyra melepaskan cincin nikahnya dan menaruhnya lagi di dalam kotak. Kemudian menyimpan didalam bungkusan syal dan dimasukkan dikoper besar.
"Aku tidak mengenal dia dan tidak ingin mengenali nya untuk saat ini. Sampai jumpa.. pernikahan ini hanyalah sebuah keuntungan bagimu kan. Jadi kamu tidak benar-benar membutuhkan ku" ucapnya sambil membayangkan wajah dingin Moeis saat di kastil kemarin.
#FlashbackOFF
---
"Lyra, apa yang sedang kamu cari? Kenapa jadi berantakan semua?"
Ia menoleh, terlihat mama nya sedang berdiri di pintu kamarnya.
"Maaa…" peluknya sangat lama.
"Aiyo.. kangen rumah ya?"
Lyra mengangguk. Ia menyembunyikan kotak cincin di saku blazer nya. Bagaimana bisa benda penting ini berada di kolong sana selama bertahun-tahun.
//
Seharian Lyra berada dikantor mengadakan beberapa kali diskusi dengan bawahannya, bahkan melewatkan makan siang dan belum bertemu Moeis untuk hari ini.
Semalam ia pulang dari rumah orang tuanya pukul 1 malam. Mencari Moeis, tetapi tidak ada. Dan tidak pulang hingga pagi, ia hanya berangkat kerja sendiri.
Untuk pertama kalinya Lyra menggunakan cincin nikahnya. Kalau diingat-ingat, beruntung mertuanya tidak menyadari bahwa ia dan Moeis selama ini tidak menggunakanya.
Sebelum pulang, Lyra mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Moeis.
>Kamu dimana? kita belum bertemu sejak semalam. Aku akan menemui mu nanti malam diruang kerjamu.
Meskipun tidak berharap juga dibalas oleh Moeis, ia tetap mengirimnya.
Lyra menghampiri meja Helena.
"Nyonya, apa anda ingin bertemu dengan Tuan? Untuk saat ini, Tuan masih bersama direktur David melakukan kunjungan ke salah satu kantor cabang"
__ADS_1
"Sampai pukul berapa?
Helena kembali mengecek komputernya.
"Kurang lebih pukul 8 nyonya, setelah makan malam bersama"
Mendengar hal itu, Lyra hanya mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada Helana.
"Berikan nomor ponselmu.."
"Ya, nyonya???"
"Berikan pada saya. Kedepannya, saya akan sering menanyakan jadwal suamiku.."
Tatapan Helena beralih, ia hanya menuruti perintah Lyra.
Syukurlah, wanita ini benar-benar mengubah style nya. Meskipun masih terkesan seksi. Tetapi, sudah cukup bagi Lyra.
"Anda bisa menghubungi saya kapanpun, Nyonya"
"Baiklah.."
Huftt.. akhirnya Lyra harus berangkat dan pulang sendirian. Ia kembali diantarkan pulang oleh supir.
Ponselnya berdering. Menerima pesan masuk dari Moeis.
Moeis: Masih dalam pertemuan. Ada apa?
>Ada yang ingin ku tanyakan, nanti saja
Moeis: *Baiklah..
>Aku menunggu mu*
Moeis: Ya,
Meskipun mendapatkan balasan yang cukup singkat dan terkesan cuek, Lyra tetap tersenyum. Moeis membalas pesan nya bahkan disaat sedang sibuk.
Bersambung...
__ADS_1