Killing Me Softly

Killing Me Softly
31


__ADS_3

Lyra membukakan pintu kamarnya mendengar suara ketukan. Moeis baru saja pulang pukul 8 malam, sedikit lebih cepat dari biasanya.


"Bisa buatkan teh hangat?" pinta Moeis. Ia memeluk Lyra singkat lalu bergegas untuk mandi.


"Ya, akan ku siapkan.."


Terdengar sedikit suara-suara dari bangunan belakang. Ya, malam ini para pelayan, supir dan petugas keamanan nya memasuki jadwal libur selama 1 minggu per 6 bulan. Mereka akan kembali ke keluarga untuk menghabiskan waktunya.


"Nyonya, apa ada yang anda perlukan?"


"Tidak.. apa kamu sudah berkemas?" tanya Lyra selagi menyiapkan teh sendiri.


"Kami sudah hampir menyelesaikan nya.."


"Dimana rumah keluarga mu?"


Pelayanan tersebut mendekat, ia senang di ajak mengobrol oleh Lyra


"Di Bandung, nyonya. Malam ini juga langsung kesana.."


Lyra mengangguk.


"Benarkah.. lalu anakmu, apa sudah bersekolah? Usia berapa?"


"Iya, nyonya. Anak saya usia 9 tahun dan sudah bersekolah ditempat bagus. Saya sangat berterima kasih atas bantuan nya…"


"Bantuan apa.. kamu kan sudah bekerja keras tentu saja akan kami hargai"


"Apa nyonya tidak tau? Selama ini Tuan lah yang membiayai sekolah anak-anak kami dan diberikan uang pengobatan secara berkala bagi orang tua kami yang sakit-sakitan.." ucapnya memberi tahu kebenarannya.


Lyra terkejut, ia sama sekali tidak tau mengenai hal itu. Benarkah Moeis melakukan nya? Suaminya benar-benar sulit ditebak. Tetapi dia sangat baik jika sudah lama melakukan hal terpuji seperti itu.


"Mmm.. ya, lalu gunakan sebaik-baiknya. Anakmu harus mengeyam pendidikan setinggi-tingginya" ucapnya tersenyum dan hendak kembali ke kamar membawa secangkir teh hangat.


"Terima kasih banyak, nyonya"



Lyra meletakkan nya dimeja dekat jendela. Ia juga sudah menyiapkan baju tidur santai untuk Moeis lalu kembali ke tempat tidurnya untuk melanjutkan menonton tayangan panda di laptopnya.


Tidak berselang lama setelah Moeis selesai, terlihat ia mengambil sesuatu dari ruangan brankas. Sebuah kotak berwarna maroon. Ia membawanya kepada Lyra.


"Apa yang kamu pegang?" tanya Lyra.


Moeis menyodorkan nya.


"Turunlah dan berikan ini kepada pelayan atas nama mu"


Hal itu membuat Lyra menjadi penasaran dan membukanya perlahan. Matanya membulat, lalu menatap Moeis.


"Emas? Kamu menyiapkan ini?"


Moeis mengangguk Sebab libur kali ini bukanlah hari biasa, melainkan saat libur perayaan.


"Ya… sebelumnya saya tidak pernah membelikan yang seperti ini. Hanya sebatas uang. Tetapi sekarang sudah ada kamu, akan lebih baik jika ada sesuatu yang mereka terima dari tanganmu sendiri. Saya tetap mengirimkan uang libur juga.."


Lyra tidak menyangka Moeis bahkan memikirkan hal-hal seperti ini.

__ADS_1


"Tetapi, ini kamu yang membelikan. Ayo, setidaknya kita berikan berdua.."


Tiba-tiba Moeis meraih tangannya dan menggenggam. Menciumnya dengan mesra.


"Saya membelinya agar kamu yang berikan.. turunlah.."


Lyra menerimanya. Ia sangat tersentuh.


"Baiklah.. apa kamu yakin? Aku akan turun sekarang.."


"Ya.."


Terlihat beberapa koper sedang di keluar kan menuju mobil pengantar. Lyra berjalan menuju bangunan belakang dimana kamar mereka berada.


Mereka membungkuk melihat kehadiran Lyra.


"Saya ingin mengucapkan selamat berlibur dan semoga kalian tetap sehat…"


"Terima kasih banyak nyonya.."


"Lalu, ini sedikit pemberian dari Tuan. Kalian bisa jadikan tabungan… suatu saat nanti mungkin saja dibutuhkan" ucapnya memberi kan emas satu persatu.


"Wah nyonya, ini terlalu berlebihan"


"Terima kasih banyak, nyonya"


///


Setelah para pelayan pergi dan rumah menjadi sangat kosong dan sepi. Lyra masih berada dikamar sementara Moeis di ruang kerjanya. Tidak perlu khawatir akan adanya penyusup atau penjahat, sebab Moeis menyewa petugas keamanan dari luar selama seminggu kedepan.


Moeis memasuki kamar dan mendekati Lyra. Tubuh nya memeluk istri cantiknya.


"Ada apa?" tanya Lyra.


"Sepertu saya lapar.."


Lyra menoleh, melihat wajah Moeis.


"Kamu lapar? Ingin sesuatu?"


Tidak biasanya. Tetapi kali ini Moeis benar-benar lapar.


"Kamu bisa memasak?"


Rasanya senang mendengar Moeis bersikap seperti ini. Ia mengusap pipinya.


"Bisa… tetapi ku rasa pelayan sudah membersihkan kulkas"


"Saya sedang ingin sup jagung. Benar-benar hanya berisi jagung…"


Lyra terheran mendengar nya. Kenapa aneh sekali?


"Baiklah.. aku akan ke supermarket sebentar. Bisa pinjam kunci mobil?"


Seingat Lyra, di gudang makanan jagung termasuk yang jarang di stok. Mungkin karena jagung yang disimpan terlalu lama akan mengeras dan tidak cocok untuk di rebus.


Moeis bergegas mencarikan kunci mobil. Dan Lyra pun memakai sweater nya dan mengambil tas. Namun Moeis juga terlihat memakai jaket kulit berwarna cokelat dan topi.

__ADS_1


"Kamu ikut?"


"Tentu saja, bagaimana mungkin membiarkan kamu pergi malam-malam sendiri" ucapnya berjalan merengkuh pinggang Lyra dan keluar bersama.


Meskipun tidak terlalu jauh, mereka tetap pergi menggunakan mobil sedan biasa. Untuk pertama kalinya, Moeis mengantarkan Lyra berbelanja makanan. Beruntung supermarket ini tutup lebih malam dari yang lain.


Lyra mendorong troli melihat-lihat apa yang ingin ia beli. Sepertinya akan menjadi banyak, untuk cadangan beberapa hari kedepan. Awalnya Moeis mengusulkan untuk menyewa pelayan lain tetapi Lyra menolak. Ia ingin menikmati rumah yang sepi.


Jagung, kornet, daun bawang, paprika, dan dada ayam segar sudah Lyra ambil. Selebihnya hanya membeli yoghurt dan eskrim.


"Dimana Moeis?"


Ia melihat sekeliling. Terlihat Moeis sedang berbincang dengan sepasang kekasih didekat kasir. Lyra menghampiri mereka.


"Moeis…"


Mereka menoleh.


"Apakah dia istrimu?" tanya si perempuan.


"Ya… Lyra dia adalah sepupu saya Mikha dan kekasih nyaMeidro"


"Halo… saya Lyra"


"Halo.. oh kak, aku udah dengar banyak dari ibu"


Lyra mengangguk tersenyum.


"Kenapa kalian pulang?" tanya Moeis.


"Kita di indonesia hanya liburan sebentar. Tanggal 28 sudah kembali ke Amsterdam" ucap Mikha. Ia tidak sengaja melihat Moeis saat sedang membeli cemilan bersama Meidro.


Lyra baru mengetahui bahwa Moeis memiliki sepupu.


"Oh ya.. apa kamu kuliah disana?" tanya Lyra.


"Iya, kak. Wah, sekarang Kak Moeis sudah terlihat berbeda. Bahkan pergi ke supermarket.." ucapnya sambil tertawa.


"Sudah lah, kita berpisah sekarang"


"Oke.. bye besok aku akan menghubungi kakak"


Mikha dan Meidro keluar lebih dulu.



"Apa kamu ingin membeli sesuatu?" tanya Lyra.


"Ya …"


Moeis berjalan begitu saja memgambil sesuatu di tepat khusus.


"Bir ?"


Lyra hanya diam melihat Moesi mengambil 4 kaleng bir dan membayar nya menuju kasir.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2