
Moeis baru saja menyelesaikan diskusi tertutup bersama direktur pengembangan. Ia keluar pukul 8.46 dari kantor dan sedang didalam lift untuk turun bersama Helena. Setelah rapat besar dan melihat presentasi Lyra, mereka tidak bertemu ataupun berkomunikasi lagi karena memang pekerjaan kantor sedang padat.
Lyra baru saja membeli latte dan bersiap pulang. Ia juga baru selesai membicarakan pekerjaan dengan Valerie.
Secara tidak sengaja, Moeis dan Lyra bertemu di lobby utama.
"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Moeis berjalan mendekat.
Lyra melihat nya bersama Helena batu saja keluar lift.
"Aku baru selesai. Ini mau pulang. Bagaimana denganmu?"
"Ya, saya sudah selesai juga…"
"Kalau begitu kita pulang bersama" ucap Lyra.
Namun Moeis menghentikan Lyra.
"Tidak, sepertinya saya ingin ke suatu tempat. Ada janji bertemu, apa kamu sudah makan malam?"
Lyra mengangguk. Ia memang telah makan malam bersama Valerie di ruangannya. Mereka memesan pasta dan pizza. Setelah sekian lama Lyra tidak memakan nya.
"Mm.. apa kalian akan pergi bersama? Pertemuan pekerjaan atau?" tanya Lyra penasaran.
"Bukan.. sebenarnya saya akan bertemu rekan bisnis. Ikutlah.. Dan, Helena kamu bisa pulang sekarang"
Helena membungkuk. Meskipun awalnya memang ia lah yang akan pergi bersama Moeis.
"Baik, Tuan" ucapnya berlalu pergi.
Setelah itu Lyra dan Moeis masuk ke dalam mobil dan pergi ke suatu tempat yang Moeis sebutkan sebagai tempat tertutup dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke dalamnya. Mungkin seperti club mewah.
Awalnya Lyra ingin menolak, tetapi tetap ingin ikut kemana pun Moeis pergi.
Lyra juga sudah mengabari Mikha bahwa mereka akan pulang larut. Hal itu membuat Mikha merengek karena takut berada dirumah Moeis sendirian. All hasil, Moeis menyuruh Mikha untuk pulang kerumahnya sendiri bertemu keluarga nya.
Setelah sampai di tempat tujuan, Lyra hanya mengikuti langkah Moeis. Dan benar, tempat ini butuh akses ID.
"Siapa yang ingin kamu temui lagi kali ini?" tanya Lyra.
"Teman bisnis saya yang sudah lama berada di Prancis. Selalu didekat saya, mungkin akan ada yang menggodamu lagi.."
Lyra pun mengeratkan genggaman tangannya pada Moeis.
"Helo bro.."
"Yaa. bagaimana kabarmu?"
"Baik. Apa dia istrimu?"
"Ya. Dia Lyra. Dan ini Harry…"
Mereka saling menyapa. Lyra melihat suasana sekitar dimana banyak sekali meja dan orang-orang berkumpul untuk minum dan bermain kartu. Terdapat pula bar dan diskotik di lantai bawah.
Lyra mendekatkan kursinya.
"Apa kita akan minum?"
Moeis tersenyum mendekatkan wajahnya.
"Kami akan memesan vodka. Bagaimana denganmu?"
__ADS_1
Lyra membulatkan matanya. Ia tidak kuat dengan minuman beralkohol tinggi tersebut.
"Aku wine saja. Tetapi kamu pasti akan mabuk berat, aku tidak bisa membawamu keluar dari sini. Sudahlah, minum yang lain saja ya?" ucap Lyra khawatir.
Namun Moeis justru tertawa ringan.
"Tidak ada yang lebih memabukkan selain dirimu.."
Lyra menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Oh ya? Hmm sejak kapan kamu bisa bicara begitu?"
"Entahlah sayang..." jawab Moeis.
Ia meraih tangan Lyra dan menciumnya. Hal itu membuat diri Lyra terjeda melihat sikap Moeis. Ada apa? Ia mendengar sesuatu yang mendebarkan hatinya. Untuk pertama kalinya Moeis memanggil nya 'sayang'.
"Ucapkan sekali lagi" bisik Lyra di telinga Moeis.
Moeis pun mengiyakannya.
"Sayang ..".
Seorang wanita dengan pakaian sexy menghampiri meja mereka membawakan minuman dan sebuah kartu.
Lyra melihat Moeis mengeluarkan beberapa gepok uang dollar dari dalam saku jas nya.
"Apa kamu akan bermain kartu dengan taruhan?"
Moeis terlihat santai dan menunggu Harry mengeluarkan uang nya juga. Mereka tidak hanya bermain berdua saja, tetapi ada beberapa orang kaya lainnya.
"Kami tidak bermain untuk mendapat keuntungan seperti mereka. Hanya untuk mempererat hubungan bisnis. Begini caranya.." ucap nya jujur.
Moeis terlihat sangat serius dan profesional, ia berkali-kali mendapatkan dollar dari mereka. Awalnya Lyra mengira ia akan merasa bosan, tapi nyatanya tidak. Ia sangat gugup dengan permainan Moeis yang cekatan.
"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya Moeis di sela-sela permainannya.
"Iya, lalu bagaimana? Kamu masih bermain"
Moeis pun memanggil wanita tadi sambil memberikan kartu.
"Antarkan dia ke kamar saya dan layani dia. Jangan lupa siapkan pakaian ganti juga"
"Baik"
"Naiklah terlebih dahulu. Saya memiliki kamar hotel di sini. Nanti saya akan menyusul, jika ada apa-apa segera telepon. Ok?" ucap Moeis.
"Jangan lama-lama.."
Lyra segera memakai tas nya dan pergi dari sana.
….
Akhirnya Lyra dapat berbaring di ranjang berkurang king size. Ia mengembalikan kesadarannya karena sedikit mabuk. Namun masih bisa meng handle nya.
"Ternyata kehidupan Moeis jauh lebih luas dari pada yang ku kira. Dia juga memiliki segalanya lebih dari yang terlihat…hhhh aku sangat lelah"
Lyra membuka mata setelah memejamkannya sebentar. Terdengar suara ketukan pintu.
"Ini adalah pakaian yang telah di setujui oleh Tuan Moeis.."
"Baik, terima kasih"
__ADS_1
Karena sudah ingin segera mandi dan beristirahat. Lyra membukanya.
Matanya terbelalak mengangkat pakaian tersebut dari dalam box.
Sebuah lingerie tipis berwarna salem yang begitu membentuk tubuh.
"Hah.. Moeis… bagaimana bisa kamu menyetujui pakaian seperti ini? Jangan-jangan wanita tadi mengira aku adalah wanita pesanan mu. Ah ini gila…" ucap nya malu.
"Sudahlah, aku tidak perduli" ucapnya acuh.
Lyra hanya akan mandi dan segera tidur.
///
Pukul 02.13
Moeis membuka pintu kamar hotelnya. Meskipun meneguk alkohol berkadar tinggi, matanya masih benar-benar terjaga dari kemabukan. Kecuali rasa kantuk yang mulai terasa.
Ia melihat Lyra yang sudah tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Moeis tersenyum.
Ponselnya berdering. Ia segera pergi ke ujung ruangan dan mengangkatnya.
"Ada apa?"
"Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Ellie.
Saat ini Ellie berada di Batam untuk menemani ibu nya yang tinggal di rumah perawatan karena sakit keras yang sudah di deritanya selama 1 tahun terakhir.
"Ya..."
"Haruskah aku pulang lebih awal?"
Moeis menolak.
"Tidak. Urus saja dulu ibu mu. Kau bisa pulang kapan pun.."
"Baiklah.. / Hmm.. ada yang ingin ku bicarakan"
"Apa?"
Ellie menjeda waktu menjawabnya.
"Apa aku benar-benar harus di kenalkan oleh laki-laki seperti yang nyonya mau? Bisa kah kau menghentikan nya?"
"Ikuti saja... Lyra melakukan dengan niat baik. Lagi pula selama ini kau sudah bekerja keras. Carilah kebahagiaan juga"
Ellie tidak percaya dengan jawaban Moeis.
"Bagaimana bisa tuan bicara seperti itu?"
"Lalu saya harus merespon bagaimana? Kami hanya ingin membantumu. Katakan saja laki-laki seperti apa yang kamu mau. Mudah saja.."
"Hhh... terserah lah. Aku juga tidak bisa menolak kan?"
"Iya. Kau tidak bisa menolaknya.."
"Apa??"
Bersambung...
__ADS_1