Killing Me Softly

Killing Me Softly
43


__ADS_3

Helena berjalan bersama Moeis keluar dari lift sebuah apartemen. Ia membukakan kode pintu dan meletakkan barang milik Moeis seperti tas laptop dan beberapa dokumen.


Apartemen ini adalah milik Moeis. Dan Helena hanya mengantarkan nya saja.


Sebab Moeis sudah sejak semalam tidak pulang dan memilih untuk menginap disini. Jaraknya tidak jauh dari gedung perusahaan nya.


"Jika sudah, kamu bisa pulang" ucap Moeis.


"Tuan, ada yang Ingin saya sampaikan"


Sementara Moeis membuka jas nya, Helena memanaskan air hangat di teko.


"Apa.."


"Ellie memberitahu saya bahwa Bu Lyra sedang sakit. Tetapi sudah di belikan obat oleh pelayan. Dan sejak kemarin hanya di dalam kamar saja. Apa anda tidak ingin pulang?"


Moeis menghela nafasnya.


"Dia bisa mengurus dirinya sendiri"


"Tetapi para pelayan sangat khawatir"


"Sudahlah, jika nanti saya ingin pulang. Maka saya akan pulang" ucap nya tegas.


Moeis sudah memasuki kamar mandi.


Helena pun diam, ia memilih untuk pulang saja.


Setelah selesai mandi, Moeis keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia melihat layar ponsel nya berdering.


Begitu melihatnya, Moeis mendesis. Sesuatu yang membuat nya begitu tertekan akhir-akhir ini. Tetapi bukan Lyra.


///


Lyra bangun lebih awal hari ini. Ia sudah berkutik dengan laptop nya mencari-cari informasi mengenai kehamilan. Mulai dari gaya hidup sehat, hingga susu yang akan ia beli nanti.


Ia juga sedang sarapan di kamar nya. Sebisa mungkin menghabiskan semuanya meskipun perutnya terasa tidak nyaman dan masih mual.


Moeis tidak pulang, dan bahkan tidak membalas pesannya. Meski begitu Lyra tidak ingin memaksa, ia juga belum ada niatan untuk memberitahu Moeis karena hatinya masih kecewa.


Setelah pukul 10 pagi. Lyra akhirnya turun ke bawah dan meminta sopir untuk mengantarkan nya pergi ke rumah sakit. Ia tidak ingin menyetir sendirian, karena tidak ingin membahayakan kandungan nya.


Syukurlah rumah sakit tidak begitu jauh dan jalanan tidak macet.

__ADS_1


Ia melakukan pemeriksaan sesuai jadwal yang di berikan.


"Bu Lyra, silahkan masuk.." ucap salah satu perawat.


Ia pun masuk dan menemui dokter di dalam. Lyra mendengar kan setiap obrolan singat yang di ajukan oleh dokter. Dan setelah itu di minta berbaring untuk melakukan USG.


"Saya sangat berharap, suami anda dapat menemani. Atau setidaknya wali ya, agar saya dapat meminta bantuannya untuk mengingatkan kepada anda hal-hal seputar menjaga kehamilan" ucap Dokter.


Lyra tersenyum.


"Iya, saya juga berharap ada yang menemani. Tetapi, memang keadaanya sedang tidak memungkinkan. Saya siap untuk menjaga kandungan saya sebisa mungkin, Dok"


Pemeriksaan masih berlanjut. Air mata mengalir di wajahnya melihat janin nya dari layar selama USG.


"Selamat, Bu. Janin nya sehat dan sudah memasuki minggu ke 5. Di mohon untuk jaga kesehatan ya. Memperhatikan pola makan dan nanti akan saya resep kan vitamin juga"


"Baik, Dok. Terima kasih banyak"


Setelah menebus obat di lantai dasar dan membayar administrasi. Lyra berjalan keluar sambil memasukan vitaminnya ke dalam tas. Ia juga telah mendapatkan foto USG nya.


Pak sopir sudah menunggu di lobby utama.


"Pak, kita ke supermarket dulu ya"


"Baik, Bu"


Semua ia lakukan sendiri.


Saat kembali ke rumah, ia bertemu Bibi di dapur dan memberikan belanjaan nya.


"Bi, tolong di taruh di kulkas ya. Nanti sore tidak usah memasak untuk saya, masak untuk para pekerja saja.. "


"Baik, nyonya"


Sementara itu barang-barang seputar kehamilan, ia bawa ke kamar. Agar tidak ada yang mengetahuinya. Semua nya ia masukkan ke dalam penyimpanan lemari kecil di dekat sofa.


Setelah beres, Lyra mempersiapkan dirinya untuk memberitahu Becca.


Terdengar jahat, karena tidak memberitahu suami atau keluarga terlebih dahulu. Tetapi semua ini ia lakukan sesuai dengan kesiapannya. Mungkin beberapa hari kedepan ia akan memberitahu keluarga dan mertuanya. Untuk Moeis, entahlah. Lyra hanya ingin Moeis lah yang perduli kepadanya terlebih dahulu.


Panggilan tersambung.


"Halo…."

__ADS_1


"Halo, halo… Lyra.. bagaimana? Kenapa kamu baru menghubungkan ku? Bagaimana hasilnya?" tanya Becca dengan sangat antusias.


Hal itu membuat suasana hati Lyra menjadi lebih baik.


"Ya.. aku sudah memeriksanya"


"Lalu?? Apa hasilnya?"


Terdengar helaan nafas.


"Ini positif…"


"What…. ya tuhan congratulation sayang. Kan!! Sudah ku bilang apa. Feeling ku mengatakan begitu.."


"Ya.. terima kasih banyak. Dan, aku juga baru pulang untuk USG"


"Benarkah? Semuanya baik-baik saja kan?"


"Semua nya baik. Janin nya juga sehat. Ah, kamu tau kan bagaimana perasaan ku saat ini? Sangat mendebarkan.."


"Tentu saja.. aku juga turut senang. Aku sebentar lagi akan jadi Aunty.. Lalu bagaimana respon Moeis?"


"Dia, tentu saja senang" ucap nya pelan. Lyra terpaksa berbohong untuk hal ini. Ia tidak ingin sahabat nya khawatir dengan nya. Cukup untuk kabar bahagia ini saja.


"Kalian akan segera menjadi orang tua. Dan calon penerus Bara Group akan lahir di dunia ini. Sebaiknya aku segera menyiapkan kado ya kan?"


Mereka tertawa. Lyra cukup terhibur dengan candaan Becca.


….


Malam hari, Lyra memasak sendiri makanannya tanpa meminta bantuan siapa pun. Ia tidak ingin di ganggu.


Ia telah mengumpulkan banyak resep di handphone nya. Meskipun baru percobaan pertama, rasa masakannya terasa enak dan sesuai dengan selera nya.


Saat malam, untuk membuat susu. Lyra melakukanya di kamar.


3 Hari berlalu tanpa kepulangan Moeis.


Lyra sempat menangis juga di malam hari. Sebab rasa mual dan lemas masih ia rasakan, dan butuh seseorang yang membantunya. Tetapi mengapa Moeis tidak ada niatan untuk memperbaiki hubungan terlebih dahulu.


Ia bahkan belum masuk ke kantor lagi seharusnya Moeis tau dan mengkhawatirkan nya. Tetapi tidak sedikitpun.


Setelah membaca beberapa buku, Lyra tertidur di kursi sandar.

__ADS_1


Tanpa di sadari, akhirnya Moeis pulang pukul 2 pagi. Ia memasuki kamar dan melihat Lyra dalam posisi seperti itu. Kemudian memindahkan nya ke tempat tidur lalu pergi ke ruang kerjanya.


Bersambung...


__ADS_2