Killing Me Softly

Killing Me Softly
49


__ADS_3

1 Bulan telah berlalu.


Lyra terus menjalani hari nya untuk menjaga kandungan dengan melakukan kegiatan yang ia sukai. Sementara Moeis semakin sibuk dengan pekerjaan nya, ditambah perjalanan bisnis hampir selalu ada dalam 1 minggu. Sehingga tidak pernah bisa menemani Lyra ke dokter.


Mertua nya juga sempat menginap 1 malam untuk memasak bersama dan memberi beberapa saran.


Tidak terlalu buruk bagi Lyra. Ia sudah mulai terbiasa. Sikap Moeis pada nya pun masih seperti itu. Dingin dan hanya perhatian seperlunya saja. Meski kadang merasa sedih juga.


"Bangun Lyra, apa kamu ingin terus berbaring seperti ini?"


Sudah pukul 8 pagi. Setelah Moeis menemui Pak Johnson di bawah, namun Lyra belum bangun juga.


"Lyra.." panggil Moeis sekali lagi.


"Hhhm…"


Akhirnya Lyra mulai bergerak dan melihat Moeis duduk di pinggir ranjang.


"Aku sedikit pusing…jam berapa sekarang?" tanya nya berat.


"Jam 8 lebih.. jika kamu merasa sakit akan saya panggilkan dokter"


Namun Lyra menolak nya. Mungkin hanya karena kemarin ia mengikuti kelas renang.


"Jangan keras kepala.." tegas Moeis.


"Ku bilang tidak.. apa kamu tidak berangkat?"


"Siang nanti saya harus terbang ke Singapore untuk pertemuan bisnis"


Lyra melihatnya berbeda. Mendengar negara Singapore membuat nya sedikit was-was.


"Pertemuan penting?"


"Ya… tentu saja. Jika tidak penting, maka siap pun bisa menggantikan saya. Ada apa?"


Lyra hanya diam menggelengkan kepalanya.


Tokk tokk…


Pintu terketuk. Seperti biasa, ini adalah jam sarapan mereka.


"Kamu turun saja. Aku ingin tidur sebentar lagi.. ahh kepala ku terasa berat" ucap nya sambil membenarkan selimut hendak kembali berbaring.


Moeis masih diam disana menghela nafasnya.


"Apa kamu tidak bisa turun sebentar? Perlu saya bantu?" tanya Moeis bingung.


Lyra memikirkan nya.


"Nanti saja…"


Mendengar hal itu, Moeis langsung keluar kamar dan menuju meja makan.


Tidak berselang lama, pintu kembali terketuk dan Lyra meminta nya agar masuk saja.


"Nyonya, tuan meminta saya untuk mengantarkan makanan ini. Ingin makan di tempat tidur atau…"


"Di sofa saja, Bi. Terima kasih"


"Baik nyonya" ucap nya lalu bergegas keluar.


Meskipun sulit untuk berdiri, Lyra tetap berusaha. Ia ke kamar mandi untuk menggosok gigi nya dan mencuci wajah. Kemudian duduk di sofa untuk memakan sarapannya.


Padahal kali ini ada rebusan dada ayam tetapi selera nya tidak begitu baik. Selagi menyantap nya, Lyra melihat koper milik Moeis didepan ruang ganti yang sudah siap untuk dibawa.


Setelah susah payah menelan makanan namun hanya sanggup menghabiskan setengah porsi saja. Lyra menyerah menyandarkan tubuhnya.


Moeis kembali membawa segelas air. Dan meletakkan nya di meja.


"Dimana susu kehamilan mu?"


Lyra terkejut mendengar nya.


"Apa.."


"Dimana kamu menyimpan nya?" tanya Moeis dengan penekanan.


"A.. disana" tunjuk Lyra.


"Ini sudah habis.." ucap Moeis mengangkat box nya.


Benar. Lyra baru mengingat nya.


"Tidak. Aku masih menyimpan yang lain. Buka saja disebelah itu.."


Moeis membuka nya dan menemukan kemasan baru. Ia mulai mengambil beberapa sendok bubuk susu ke dalam gelas.

__ADS_1


"Apa ini cukup?" tanya nya polos.


"Ya… sudah aduk saja"


"Ini.." ucap nya selesai.


Lyra menerima nya dan langsung meminum susu buatan Moeis untuk pertama kalinya padahal sudah 2 bulan lebih. Ia juga tidak tau mengapa sekarang Moeis mau tanpa di minta.


Wajahnya membentuk sedikit garis senyum melihat Moeis membereskan box tersebut.


"Apa kamu menantikan nya?" tanya Lyra.


"Apa?"


"Bayi ini.."


Moeis menatap nya.


"Semua orang menantikan.."


"Bukan semua orang. Tetapi kamu…" ucap Lyra memperjelas pertanyaan nya.


Moeis duduk sambil mengecek paspor nya.


"Ya.. saya akan menantikannya"


Lyra mengangguk.


"Jadi, berapa hari kamu akan pergi?"


"Kenapa? Biasanya kamu tidak pernah bertanya berapa hari dan kenapa ini penting.." tanya Moeis datar.


"Tentu saja karena itu adalah Singapore. Aku punya kecurigaan tersendiri terhadap siapa yang ada disana" jawab nya menyindir.


Moeis paham dengan ucapan Lyra. Ini pasti tentang Carrie. Meskipun selama ini tidak pernah di ungkit lagi.


"Ikut saja kalau begitu"


Suara Moeis terdengar sedikit marah.


"Ingin nya begitu. Tetapi aku tidak ingin terlalu lelah.. aku ingin menjaga malaikat kecil ini"


"Sudah seharusnya begitu.." sahut Moeis.


"Ah, aku seperti ibu tunggal. Melakukan apapun sendiri. Dan kamu seperti masih sendiri. Melakukan apapun dengan bebas. Benar-benar tidak adil.. aku iri padamu"


Mendengar perkataan Lyra, Moeis berpindah mendekat. Ia memberikan sebuah kartu baru.


Lyra tidak mengerti, mengapa Moeis memberikan nya kartu.


"Kartu apa ini?"


"Ini adalah kartu bank saya yang dapat mengakses keuangan hingga seluruh negara di dunia. Hanya perlu membuka website nya untuk konfirmasi. Dengan ini kamu bisa membeli barang apapun dari berbagai negara"


Terdengar berlebihan, Lyra segera menolaknya. Kartu bank? Semudah itu bagi Moeis untuk memberikan?


"Apa/.. kamu tidak perlu melakukannya. Mungkin mudah bagi mu, tetapi aku benar-benar tidak membutuhkan nya. Simpan saja.."


"Kamu menuntut banyak dari saya. Tetapi mungkin hanya ini yang dapat saya berikan dengan mudah" ucap nya jelas.


Lyra menjadi merasa tertekan. Ia memeluk Moeis tiba-tiba. Membuat Moeis tidak dapat berkutik.


"Ini lebih baik.." ucap Lyra pelan.


"Lyra…"


"Coba lah untuk menyentuh perut ku.. ini belum membesar tetapi dapat kamu rasakan" pinta Lyra. Ia ingin sekali ini saja.


Moeis diam tanpa ekspresi. Ia ragu. Tetapi tangan Lyra menuntun nya.


Selagi menyentuhnya, Moeis benar-benar diam merasakan nya. Tetapi Lyra, matanya berkaca-kaca berusaha menahan sesak.


///


Malam hari sudah hampir Larut. Salah satu pelayan kembali ke dapur untuk mengecek bahwa semuanya sudah di matikan. Tetapi ia mendengar suara panggilan dari ponsel.


"Ini kan handphone nyonya dan tuan menelepon." ucap nya mengambil dan membawa nya ke atas.


Lyra meninggalkan ponsel nya di meja makan.


Berkali-kali mengetuk dan memanggil didepan kamar. Namun tidak ada jawaban apapun. Ia tau bahwa tuan nya tidak ada, tetapi apa nyonya nya sudah tertidur.


Pelayan terpaksa untuk membuka pintu yang tidak terkunci itu. Lyra tidak ada di tempat tidur. Setelah di cek memang tidak ada di seluruh ruangan.


Bahkan di ruang kerja Mosis dan di ruangan lain yang memungkinkan keberadaan Lyra.


Ia keluar pintu depan memanggil security.

__ADS_1


"Pak, apa tadi nyonya keluar?"


"Nyonya tidak ada? Tadi saya sedang berganti shift dengan yang lain, dan pintu gerbang memang sedikit terbuka. Tetapi mobil aman. Semua ada.." jawab nya.


Pelayan sedikit khawatir.


"Aduh, lalu bagaimana ini? Nyonya tidak ada, dan tuan menelpon"


"Kalau begitu biar saya cek ke halaman samping dan belakang.." ucap nya lalu pergi dengan rekan lainnya.


Pelayan masih menunggu di pos melihat-lihat sekitar.


Ponsel kembali berdering. Mau tidak mau pelayan mengangkat nya.


"Halo, maaf tuan ini saya.."


"Halo.. siapa?"


"Sa-saya… pelayan Wanti.." jawab nya sangat gugup.


"Ada apa?! Kenapa kamu yang menjawab??"


Mendengar intonasi suara Moeis semakin membuat pelayan tidak karuan.


"Ini Tuan.. saya tidak sengaja menemukan handphone nyonya di meja makan. Baru saja.. tetapi nyonya tidak ada di kamar nya, tidak ada di manapun. Kami juga tidak tau kemana…"


Belum selesai berbicara, Moeis langsung menyela.


"Apa!!?? Bagaimana kerja kalian?!! Dimana penjaga?"


*Sedang mencari nyonya, tuan"


"Ini sudah pukul 12 malam di sana.. Kalian membuat kesalahan besar! Cari nyonya, dan kabari saya dalam 15 menit.." ucap nya lalu menutup panggilan tersebut.


Pelayan yang ketakutan pun berjalan cepat keluar gerbang dengan pakaian seadanya mencari Lyra entah kemana.


Setelah sampai di persimpangan jalan. Ia berhenti dengan nafas tidak beraturan. Terlihat Lyra duduk di bangku taman, sendiri.


"Nyonya .." panggilnya berjalan mendekat.


Lyra menoleh dengan mata sembab nya. Ia terduduk dengan sweater tebal berwarna coklat.


"Bi… kenapa keluar?"


"Nyonya, tuan menelpon.. kenapa wajah nyonya, apa nyonya menangis disini?"


"Tidak, bi. Maaf merepotkan.."


Lyra menerima ponselnya.


"Ayo pulang, nyonya. Ini sudah larut.. tidak baik untuk kandungan nyonya.."


Namun Lyra justru menangis tersedu-sedu di hadapan pelayan, kemudian kembali menahan dan mengusap air matanya.


"Bi, aku ingin sekali gulai ikan tetapi tidak ada. Biasanya di warung makan itu ada tetapi sudah tutup. Dan aku juga tidak tau kenapa harus sesedih ini.."


Pelayan perlahan mendekat, ia mengerti apa yang Lyra rasakan. Mungkin ini adalah efek kehamilan yaitu ngidam.


Hatinya ikut merasa sedih.


"Kenapa nyonya tidak membangunkan kami. Atau saya bisa memasak sekarang.. atau meminta penjaga untuk keluar mencarikan.."


"Tidak tau, bi. Aku hanya tiba-tiba berjalan keluar dan seperti ini…"


"Ya tuhan, nyonya. Sudah jangan menangis.."


Setelah beberapa percakapan, pelayan berhasil membujuk Lyra untuk pulang. Meskipun Lyra kekeh ingin gulai dari rumah makan itu. Tetapi pelayan tetap ingin memasakkan nya sekarang juga.


"Tunggu disini, nyonya"


"Baiklah.. Terima kasih banyak, Bi"


Lyra menunggu di meja makan. Ia menghubungi Moeis kembali.


"Dari mana saja kamu??!!" bentak Moeis.


"Maaf… aku keluar untuk.."


"Apa yang membuatmu begitu ceroboh? Pergi di tengah malam sendiri tanpa membawa ponsel!"


"Hhhh… hiks.. memang nya kamu tau apa?!!! Jangan bicara begitu, apa hak mu memarahi ku tanpa tau apapun"


"Apa katamu?"


"Aku ingin tinggal bersama mama, jadi jangan cari aku"


Entah bagaimana emosinya memang menjadi sangat buruk dan sensitif.

__ADS_1


Lyra memutuskan panggilan. Membuat Moeis merasa frustasi.


Bersambung...


__ADS_2