Killing Me Softly

Killing Me Softly
4


__ADS_3

Pagi hari yang terasa cukup berbeda bagi Lyra. Setelah Moesi berangkat ke kantor, Lyra tidak tau harus berbuat apa. Sedangkan untuk kegiatan sosial baru dimulai minggu depan bersama rekan-rekan barunya.


"Nyonya, kami sudah menyiapkan mobil untuk anda pergi ke salon"


"Saya akan ke salon kuku nanti sore" ucapnya sambil menata kemeja di lemari Moeis.


"Nyonya besar yang memerintahkan saya untuk mengatur pertemuan ini"


Mendengar hal itu membuat Lyra pasrah, "Baiklah, tetapi saya tidak suka caramu. Kamu selalu saja mengatur saya secara tiba-tiba. Lain kali saya mau pemberitahuan 2 hari sebelumnya"


Ellie hanya diam mengiyakan ucapan Lyra. 


Siang ini, ia telah sampai di sebuah salon. Berjalan perlahan mencari ruangan VIP nomor 03.


Ibu mertuanya nampak sedang menunggunya. Akhirnya mereka mendapatkan pelayanan secara bersamaan.


"Apa ada yang ingin Ibu bicarakan dengan saya?"


"Tentu saja. Kamu terlalu lemah"


Lyra tidak mengerti.


"Maksud Ibu?"


"Dengarkan Ibu jika kamu tidak ingin pernikahan kalian hancur! Kini, Moeis memiliki wanita lain. Apakah kamu tidak perduli itu? lalu, kamu sudah membaca buku silsilah keluarga?"


Ia terdiam dan sedikit merasa kecewa mendengar Moeis memiliki wanita lain.


"Ibu sudah mengetahuinya? dan, ya aku sudah membacanya"


Semua yang tertulis didalam buku itu adalah benar. Tetapi Ibu mertuanya benar-benar harus bertindak karena yakin Lyra belum sepenuhnya memahami keluarga Meyers.


"Tentu saja Ibu tau. Moeis adalah putra berharga kami, semua yang ia lakukan ada didalam catatan Ibu. Lalu, kamu pasti tau bahwa Moeis tidak memiliki cinta untukmu, seharusnya kamu bertindak banyak. Jangan menganggap mudah, Lyra"


Hatinya mulai berdetak, memikirkan semua yang telah ia baca sebelumnya.


"Apa yang terjadi, Bu?"


"Seperti sebuah kutukan, putra dari garis ketulusan kami tidak akan pernah benar-benar jatuh cinta kepada wanita. Itu sebabnya mereka selalu melewati masa perjodohan. Karena hanya dengan sebuah pernikahan, kutukan itu hilang. Kami juga tidak mungkin membiarkan nya menikahi wanita pilihan mereka sendiri, itu sangat beresiko"


Nyonya Dave berbicara dengan emosi di hatinya mengingat pula bagaimana dia bisa masuk dalam keluarga ini. Dulu, nasibnya lebih buruk dari pada Lyra, ia bahkan harus menerima kekerasan dan pengusiran dari Tuan Dave.


"Tetapi sekarang kami sudah menikah, mengapa Moeis belum juga mencintai bahkan memperlakukanku dengan baik, Bu? Juga, skandal nya dengan artis bernama Carrie tidaklah benar"


"Bagaimana kamu bisa yakin bahwa skandal itu tidak benar? Tentu saja Moeis sudah lebih dulu mencintai dia. Itu semua pasti terjadi saat kamu berada di German selama 2 tahun setelah pernikahan. Dulu, kamu menolak semua mengenai keluarga kami hanya karena sudah menikah. Kamu yang memutuskan untuk tidak peduli dengan suamimu"


Wajah Ibu mertuanya nampak lebih serius dan mengintimidasi. Benar, selama ini ia terlalu lalai. Lyra ingin menghormati Moeis sejak pertama menikah, tetapi ia justru pergi dan membiarkan semuanya berjalan dengan tidak semestinya.


"Mengapa? apakah kamu menyesal? ingin memperbaiki semuanya sekarang?" Tanyanya dengan tegas.


Lyra mengusir rasa sedihnya dan menguatkan dirinya.


"Iya, Bu. Beritahu, apa yang harus ku lakukan"


"Tidak banyak yang dapat Ibu lakukan. Akan ku kirimkan detail catatan yang Ibu punya. Setelah itu berjuang lah, Lyra" setelah menyelesaikan pijatannya, Ia meninggalkan Lyra sendiri dan membiarkan menantunya untuk memikirkan ribuan cara mulai sekarang.


Ia tau mengenai wanita simpanan putranya, tetapi bukan berarti ia juga yang harus menyingkirkan nya. Itu tidak akan baik, namun haruslah kemauan dari Lyra. Apakah ingin mempertahankan Moeis atau melepaskan semuanya.


Sementara itu Lyra juga menyelesaikan pijatnya dan segera pulang ke rumah. Hatinya yang lembut membuatnya mudah menangis, tetapi ia tetap harus menyembunyikan kelemahannya. Disini, ditempat ini ia harus kuat agar tidak jatuh.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" suara Moeis terdengar memasuki kamar.


Lyra membalikkan badannya dan tersenyum, "Hanya menata dasi kerjamu"


"Tidak perlu, itu tugas pelayan" ucapnya dingin sambil membuka jas dan dasinya.


"Ellie belum memberitahumu? mulai sekarang tidak ada satupun pelayan yang dapat memasuki kamar kita. Bukankah terasa lebih baik?" 


Moeis menatapnya heran, ia hanya khawatir jika sikap Lyra akan berubah menjadi tidak terbayang kan hanya karena mereka telah melewati malam bersama.


"Apa yang sedang coba kamu lakukan?" 


Lyra tersenyum menatap Moeis, "Aku melakukan tugasku. Bukan kah mengatur rumah ini adalah hak ku? Yaa.. aku hanya ingin sedikit privasi"


"Baiklah, lakukan sesukamu"


Tokk Tokk… 


Lyra segera berjalan menuju pintu. Sementara Moeis hanya memperhatikan nya saja.


"Ini teh mu" Moeis menerima teh yang Lyra bawakan dari pintu. Kini pelayan benar-benar tidak akan masuk, padahal biasanya pelayan akan masuk dan meletakkannya dimeja dekat jendela.


Moeis hanya dapat menghela nafasnya. Kini, rumah adalah urusan Lyra. Benar, semua itu adalah haknya.


Sementara matanya terus memperhatikan Lyra, wanita itu sedang bersikap selayaknya istri. Membawakan teh, mengambil jas dan tas kantornya, menyiapkan pakaian ganti dan yang lainnya.


Melihat Moeis yang sudah masuk kedalam kamar mandi membuat Lyra dapat bernafas lega. Sedari tadi jantungnya terus berpacu selagi menjalankan sikap yang beresiko ini. Ia hanya takut Moeis marah dan menentang dirinya, tetapi semuanya berjalan baik.


Kini ia hanya perlu menunggu Moeis, sebelumya Lyra sudah berbicara dengan pelayan bahwa ia sudah menentukan menu makanan untuk seminggu kedepan juga memberikan resep baru.


Tidak lama kemudian setelah Moeis selesai mandi dan berganti pakaian, mereka turun bersama.

__ADS_1


"Aku yang mengganti menu makan malam kali ini, jika ada yang kurang cocok katakan saja agar tidak disiapkan lagi untuk kedepannya" ucap Lyra sambil mengambil kan lauk untuk Moeis.


Moeis hanya diam untuk beberapa saat.


"Aku tidak suka dengan brokoli saus tiram itu. Bisa berikan segelas air?" 


"Ini…."


"Dimana pelayan?"


"Mengapa mereka harus berdiri melihat kita makan? mulai sekarang disaat kita makan, mereka juga akan makan dibelakang. Jika butuh apa-apa aku yang akan menyiapkannya. Apa kamu keberatan?" 


Mendengar suara Lyra yang lembut membuat Moeis tidak bisa berkomentar apa-apa lagi.


"Hari ini aku bertemu dengan Ibu mu"


"Untuk apa"


"Membicarakan soal skandal kencanmu"


Moeis meletakkan sendok dan garpunya. 


"Aku tidak menghiraukan komentar mereka, tidak perlu didengarkan"


Lyra memajukan tubuhnya.


"Meskipun begitu, mereka khawatir dengan hubungan kita. Seharusnya kamu lebih berhati-hati. Itu bukan berarti aku menerima perselingkuhan mu, aku tau kamu tidak perduli tetapi aku berhak ikut campur atas hal itu"


"Hentikan omong kosong mu.."


"Baiklah. Maafkan aku"


Moeis menghela nafasnya mendengar Lyra meminta maaf.


Setelah kembali ke kamar, Lyra asik dengan Gadgetnya. Sementara Moeis masih diruang kerja hingga larut malam.


Pintu nya terbuka membuat Moeis melihat sesaat. Terlihat Lyra berjalan ke arahnya menggunakan piyama tidur.


"Aku membawakanmu air madu hangat. Ingin tidur jam berapa?"


Moeis terdiam sesaat. Apa Lyra sedang mengajaknya untuk tidur bersama?


"Mengapa bertanya?"


"Aku ingin menyiapkan piyama mu juga"


"Dengar, jika kamu ingin tidur maka tidur saja. Jangan pedulikan aku. Mungkin aku bisa tertidur disini"


"Jangan terlalu keras padaku.." ucap Lyra.


Namun Moeis hanya diam dan tidak memperdulikan nya. Tidak ingin berlama-lama lagi Lyra segera keluar dari ruang kerja Moeis. Hatinya sudah tidak kuat lagi.


Saat sedang berjalan menuju kamar, Lyra melihat salah satu pelayan berjalan ke arahnya. Jalan ini satu-satunya menuju ruang kerja Moeis.


"Mau kemana?" tanya Lyra.


Pelayan tersebut berhenti.


"Saya ingin memanggil Tuan untuk kebawah. Ada yang ingin menemuinya, Nyonya"


Tengah malam begini? Lyra heran sekaligus penasaran siapa orang tersebut.


"Siapa?"


"Bapak Johnson, salah satu Konsultan Keuangan keluarga ini, Nyonya. Beliau sudah menunggu dibawah"


"Ini sudah larut malam. Tuan sedang bekerja, biar saya yang turun" ucap Lyra sambil berlalu pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian kemudian turun ke bawah dan menemui tamu.


Pelayan tersebut sempat merasa khawatir, tidak tau harus bagaimana.


"Selamat Malam, Bapak Johnson?" Lyra menyalaminya dengan ramah.


Lelaki berusia 63 tahun itu berdiri melihat Lyra datang, ia tampak berwibawa dan cerdas.


"Selamat Malam, apakah anda Nyonya Lyra?"


"Iya, betul.. silahkan duduk" ucapnya sambil tersenyum.


"Apakah Tuan muda sedang sibuk, sehingga anda yang menemui saya? kebetulan kami sudah membuat janji" Johnson awalnya tidak mengira Lyra yang akan turun, sekarang bagaimana caranya agar dapat bertemu dengan Moeis.


"Ia sedang mengerjakan sesuatu. Apa tidak bisa berbicara dengan saya? bukankah jika yang kamu bawa adalah laporan keuangan keluarga kami, saya juga berhak tau?" 


Johnson menatap Lyra, wanita ini sangat cerdas. Tidak mudah untuk memanipulasi nya.


"Seperti yang anda tau, saya sudah puluhan tahun bekerja untuk keluarga ini. Tidak hanya laporan keuangan, tetapi juga secara berkala saya yang memberikan konsultasi mengenai bisnis kepada Tuan Muda. Dan sekarang, saya rasa perlu untuk bertemu Tuan Muda dan berkonsultasi mengenai beberapa kesulitan yang sedang dialami Tuan muda"


Tidak hanya mendengarkan, Lyra juga mengamati ekspresi dan gaya bicara Johnson.


"Saya mengerti, dan anda tau? saya adalah seorang Akuntan juga… maka saya harap mulai sekarang anda dapat bekerja sama dengan saya. Terutama mengenai semua anggaran yang sampai saat ini masih dikelola Ellie, juga kondisi keuangan, tabungan, dan pengeluaran dari kartu kredit atas nama suami saya" ucap Lyra dengan lugas.


Johnson merasa sedikit tertekan dengan apa yang disampaikan oleh Lyra. Pasalnya, ia lah yang paling tau mengenai kredit Moeis, meskipun Nyonya Dave memerintahkan nya untuk memberitahu semuanya kepada Lyra. Tetapi berat untuk mengkhianati Moeis yang sudah ia bantu sejak muda.

__ADS_1


Melihat ekspresi Johnson membuat Lyra semakin tertantang, rupanya ada hal penting lainnya yang disembunyikan dari nya.


"Bagaimana?" tanya Lyra sekali lagi.


"Baiklah, kalau begitu saya akan mengatur ulang pertemuan dengan anda. Sekarang sudah larut, saya lebih baik pulang terlebih dahulu" 


Terlihat Johnson berdiri dan membawa koper kulit kecil berwarna hitam.


"Bisakah anda berikan laporan tersebut kepada saya, jangan khawatir…." tatapan Lyra membuat Johnson terintimidasi.


"Nyonya, tolong jangan membebani saya"


Lyra sedikit tersenyum mendengar kata-kata itu.


"Saya akan bertanggung jawab…" 


Johnson menjeda waktu menjawabnya. Ia menatap Lyra berkali-kali dengan ragu. Hal ini adalah privasi Moeis, ia harus mengambil resiko besar jika memberikan laporan ini kepada Lyra.


"Baiklah.. "


Setelah mendapat kan apa yang ia mau, Lyra membiarkan Johnson pergi. Ia buru-buru pergi ke kamar untuk mengecek laporan tersebut.


Ia bahkan mengunci kamarnya agar Moeis tidak masuk secara tiba-tiba.


"Baiklah… disini tertulis ada 6 kartu kredit atas nama Moeis.."


Lyra membaca nya dengan teliti, sesuai dengan keterangan disana menyatakan 1 kartu dibawa oleh Ellie, 1 oleh sekretaris dan 1 ia pegang yang baru didapatkan beberapa hari yang lalu. Maka saat ini Moeis memang 3 kartu.


Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan dengan keenam kartu tersebut. Kemudian ia beralih ke halaman lainnya.


"Pengiriman uang ke luar negeri??..." hati Lyra mulai tidak karuan.


"Hhh….s-singapore…" ucap Lyra sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.


Jantung nya terus berpacu membaca baris demi baris. Disana bertuliskan Moeis rutin mengirimkan uang sejumlah besar kepada Akun atas nama Carrie Wu. 


Carrie Wu adalah artis yang diduga selingkuhan Moeis. Jadi benar semua yang ada di dalam catatan Ibu mertuanya. Moeis bahkan mengeluarkan uang untuk menafkahi wanita itu.


Sesak adalah yang sedang Lyra rasakan saat ini. Sudah selama 1 tahun terakhir uang itu Moeis kirimkan. Bahkan lebih besar dari yang ia terima selama berada di German.


"Lelaki itu pasti sudah gila !!…" kesal Lyra yang sudah terlanjur menjatuhkan air matanya. Bahkan matanya memerah dan nafasnya tidak beraturan.


Ia kecewa dan hatinya merasa terluka dengan sikap Moeis. Sungguh tidak rela.


Semakin ia baca laporan tersebut, semakin terluka pula harga dirinya.


Terdapat banyak daftar pajak barang mewah yang dibeli atas nama Moeis. Tas, sepatu, pakaian bahkan perhiasan.


Tatapan Lyra terhenti.


"Mengapa terdapat pembelian barang mewah atas nama Ellie???"


Semua sudah tidak beres di pikiran Lyra, kepala pelayan itu bahkan mendapatkan barang mewah? 


Kini ia hanya duduk dengan lemas memikirkan semua ini. Ia benar-benar tidak mengerti.


***


Disisi lain, Moeis hanya fokus bekerja sejak Lyra keluar ruangannya. Ponselnya pun dalam keadaan ter silent.


Ia tidak menyadari sedari tadi Pak Johnson terus menghubungi nya untuk memberitahu bahwa laporan itu kini sudah berada ditangan Lyra.


Pukul 01.13


Setelah meneguk air madu yang dibawakan oleh Lyra, Moes akhirnya mengecek ponsel. Ia terheran melihat misscall dari Pak Johnson.


Moeis pun menghubungi nya kembali.


"Malam, Pak. Saya baru sele-..."


Belum sempat menjawab, ia sudah syok dengan sahutan Pak Johnson. Beliau bahkan meminta maaf terus menerus dalam pesan yang dikirimkan kepada Moeis.


"Baik.  saya mengerti. Tidak apa.. nanti saya hubungi lagi…" jawab Moeis dengan sangat frustasi.


Tanpa berpikir panjang, Moeis langsung berjalan menuju kamarnya dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya berubah menjadi sangat murka dengan tatapan tajam khasnya.


"Lyraa!!!... " Ia berusaha membuka pintu yang terkunci tersebut.


"Sial..!!!! Lyra.. buka pintunya sekarang sebelum saya bertindak lebih jauh!!.. Lyra..!!!"


Ia terus menggedor pintu dan keras, sampai-sampai beberapa pelayan termasuk Ellie menghampirinya.


"Tuan, apa yang terjadi?"


"Berikan kunci cadangan.. cepat..!!"


Semua pelayan nampak takut melihat Moeis yang sedang emosional seperti ini.


Segera setelah Ellie mendapatkan kunci tersebut, ia berikan kepada Moeis.


"Ini tuan…"

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2