
Setelah menginap semalam di kamar hotel bersama Moeis. Mereka pulang pagi-pagi untuk mempersiapkan kembali ke kantor. Sementara Moeis berangkat terlebih dahulu dengan mobilnya, Lyra berangkat setelah membereskan beberapa bagian rumah. Mulai dari mencuci baju hingga membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Sebab Mikha tidak ada di rumah. Mungkin masih berada dirumah keluarganya.
///
"Dimana tanggung jawabmu? Saya tidak peduli apakah dokumen itu bermasalah atau sengaja ada yang mengubah! Apakah kamu tidak mengeceknya sebelum tanda tangan kontrak dengan mereka? Apa 11 M itu dana bodoh? Atau jangan-jangan kamu meremehkan saya?" murka Lyra yang sedang menyidang bawahannya.
Kedua karyawan tersebut menunduk dihadapan Lyra.
"Maaf, Bu. Kami telah membaca seluruh isi dokumen kontrak tetapi setelah acara tersebut selesai kami baru menyadari bahwa nominal perjanjian banyak yang kacau"
Lyra menghela nafasnya.
"Kalian ini benar-benar! Panggil akuntan yang menyusun dokumen ini.. cepat!"
Valerie yang sejak tadi berada di belakang mereka pun keluar untuk memanggil akuntan yang Lyra maksudkan.
Tidak berselang lama, pintu ruangannya terbuka.
"Kemari!! Lihat ini.." Lyra melempar dokumen tersebut.
Sepertinya akuntan tersebut sudah mengerti dengan apa yang sedang terjadi di sini.
"Saya hanya mengerjakan berdasarkan data yang di berikan oleh pak Wira. Dan tidak ada yang berubah dari yang saya kerjakan, bu" ucap akuntan tersebut.
Hal itu semakin membuat Lyra frustasi. Sebab ia sudah mengerjakan proyek pertamanya yang lumayan besar ini dengan seluruh kemampuannya. Tetapi perwakilan nya justru mengacau.
"Buat lah surat-surat terkait, atur dan pikirkan saja cara kalian menyelesaikan masalah ini. Berikan pada saya sebelum besok pagi. Jika tidak, lebih baik serahkan surat pengunduran diri kalian!"
"Baik, Bu"
Setelah ketiga karyawan nya itu pergi dari ruangannya. Lyra bersandar di sofa sambil memejamkan matanya.
Valerie datang membawakan air mineral untuk nya.
"Sebaiknya Ibu bersiap untuk pulang karena sudah hampir selesai jam kantor. Saya akan lembur dan membantu mereka, secepatnya akan kami berikan hasil akhirnya"
Lyra mengangguk.
"Terima kasih. Tolong bantu saya kali ini, saya sangat mempercayai mu"
"Baik, Bu"
Lyra mengambil tas dan ponselnya.
"Ini.. beli lah makan malam yang kamu suka. Saya pulang dulu .." ucap nya memberikan uang 200 ribu.
"Terima kasih banyak, Bu"
Sore ini hujan. Lyra masih berdiri di lobby menunggu sopir kantor nya mengambil mobil dan mengantar nya pulang. Ia melihat sekitar, beberapa karyawan harus pulang kehujanan, sepayung bertiga, ada juga yang dijemput menggunakan motor dengan jas hujan besar. Ia tersenyum.
Seorang security membukakan kan pintu mobil untuknya. Selama perjalanan Lyra menyandarkan kepalanya di kaca, melihat aktivitas di jalanan yang begitu sibuk.
…...
"Nyonya, kita sudah sampai" ucap sang sopir.
Lyra mengangkat kepalanya dan melihat kembali ke arah luar. Ah, padahal belum lama ia memejamkan matanya. Ia pun keluar dari mobil.
"Pak, mobil siapa ini?" tanya Lyra pada security rumahnya.
__ADS_1
"Ini mobil dari kantor, Bu"
Mobil kantor? Tetapi mobil Moeis tidak ada di halaman.
Saat ingin masuk, tatapan Lyra memaku. Kenapa dia keluar dari rumahnya?
"Nyonya.." sapa nya sambil membungkuk.
"Helena? Apa yang kamu lakukan dirumah saya? Apa Tuan ada di dalam?"
Ekspresi Helena berubah. Ia terlihat khawatir.
"Iya, nyonya. Tuan sedang beristirahat di dalam. Saya sudah memberinya obat, karena Tuan sakit kepala. Jadi saya mengantar nya pulang…"
Lyra terkejut mendengar hal itu. Jadi, Moeis sakit?
"Sejak kapan???"
Helena melihat jam tangannya.
"Pukul 2 siang tadi. Maaf karena.."
"Kenapa kamu tidak memberitahu saya? Kamu harus nya segera menghubungi saya jika ada hal-hal seperti ini…".
"Maafkan saya, nyonya…"
Lyra mendesis. Ia pun segera masuk dan mengabaikan Helena disana. Bagaimana bisa tidak ada yang memberitahu nya jika Moeis sakit. Keterlaluan sekali.
Begitu membuka pintu kamar. Terlihat Moeis bersandar ditempat tidur sambil memejamkan matanya. Rona wajahnya memang terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Lyra berjalan mendekat.
"Berbaring lah.. kenapa hanya duduk dan bersandar seperti ini??"
"Moeis…" ucapnya pelan.
"Hmm…"
"Berbaringlah… jangan membuat ku khawatir.. setelah itu aku tidak akan mengganggu mu"
Namun Moeis kembali tidak merespon. Mungkinkah sudah nyaman dengan posisi nya? Ah, ia hanya akan membuatnya terganggu jika terus berbicara.
Moeis merasakan pergerakan kecil Lyra yang ingin bangun dari tempat tidur.
"Saat sakit kepala seperti ini, saya justru tidak bisa berbaring karena hanya semakin menambah rasa sakit. Bahkan biasanya saya hanya duduk di kursi kerja selama berjam-jam hingga pagi"
Bukannya simpati, Lyra justru memukul Moeis dengan bantal kecil.
"Berhenti menyiksa dirimu. Kan sudah ku katakan, harusnya kamu lebih bersantai dan menyempatkan untuk berolah raga. Ayo ke rumah sakit saja, kamu pikir sakit kepala tidak berbahaya??" rengek Lyra.
"Saya punya jadwal gym, asal kamu tau"
"Terserah, buktinya kamu sekarang jatuh sakit. Aku bisa menuntunmu ke bawah.."
Namun Moeis menolak untuk pergi ke rumah sakit. Ia sudah memahami dirinya sendiri lebih dari siapapun. Biasanya, sakit kepalanya muncul saat benar-benar stres dengan beban berat. Setelah meminum obat resep dari dokter pribadinya, ia akan membaik dalam 2 jam saja.
"Jangan khawatir .." Moeis kembali memejamkan matanya.
Lyra ke bawah untuk membuatkan bubur untuk Moeis. Ia sudah lama tidak membuatnya namun masih yakin dengan kemampuannya. Kurang lebih 1 jam sekaligus membuat makan malam untuknya, semangkuk bubur telah siap.
Lyra membawanya ke atas. Saat sedang meletakkannya di meja, ponsel Moeis berdering. Namun sepertinya Moeis masih tertidur.
__ADS_1
Dari nomor tidak dikenal.
Siapa?
Saat ingin mengangkat nya. Terdengar suara bell pintu utama berbunyi. Dan juga pergerakan Moeis yang sepertinya mulai terbangun.
…
"Ibu…"
Ibu mertuanya datang setelah di hubungi oleh Helena.
"Sudah di berikan obat?"
"Sudah, Bu"
Mereka memasuki kamar. Terlihat Moeis sedang menyantap bubur buatan Lyra yang ada di meja.
"Apa sudah lebih baik?"
"Ya .. kenapa Ibu datang? Sekarang sudah ada Lyra yang akan mengurus saya. Lagi pula hanya sakit kepala biasa, kenapa kalian begitu khawatir.."
"Apa ini bubur buatan mu?"
"Iya, Bu" jawab Lyra.
"Tetapi Lyra belum tau apa yang membantumu untuk fit kembali. Saat sedang sakit, buat kan Moeis rebusan jahe dan teh herbal. Campurkan saja menjadi satu"
Lyra mengangguk tanda mengerti.
Kemudian Lyra dan mertuanya kembali ke dapur untuk membuat minuman yang di maksud.
"Kapan semua pekerja kembali?"
"3 hari lagi, Bu.."
"Bagaimana hubungan kalian? Apa lebih baik?"
"Sangat membaik, Bu. Kami mulai memperbaiki keadaan"
Nyonya Dave lega mendengar nya.
"Ya. Kelihatan memang begitu. Terus pertahankan kepercayaan yang Moeis berikan. Dia bukan orang yang mudah. Perlu banyak usaha untuk dekat dengannya sekalipun saya sebagai ibunya. Meski begitu, saat kita melakukan satu kesalahan yang menurutnya fatal. Ibu rasa kamu harus membangun kepercayaan dari awal lagi. Jadi tidak usah bermacam-macam dan cukup turuti keinginannya saja"
Lyra mendengarkan nya dengan serius.
"Iya, aku mengerti. Dan mmm.... apa Moeis pernah kecewa kepada kalian? Lalu apa yang terjadi padanya?"
Nyonya Dave mencoba untuk kembali mengingat-ingat.
"Dulu kami sering berselisih paham saat Moeis masih menempuh pendidikan untuk mempersiapkan nya memimpin perusahaan. Pemikiran nya jauh lebih luas dari yang kami duga. Dia ingin mewujudkan rencananya sendiri, membangun jalannya sendiri. Tetapi ayah nya menentang hingga menunda kepulangannya ke Indonesia, dan memasukkan ke asrama pendidikan di London. Dia sangat kecewa dan enggan membangun komunikasi yang hangat lagi kepada kami. Bahkan hingga saat ini, sikap dinginnya yang sudah ada sejak remaja semakin menjadi karakter nya yang kuat. Begitulah ia berubah karena kekecewaan yang di pendam nya"
"Benarkah, Bu. Pantas saja sekarang Moeis selalu berusaha untuk membangun perusahaan dengan segala macam caranya..."
Nyonya Dave mengangguk.
"Ya. Tetapi berkatnya juga perusahaan tidak pernah collapse dan terus membangun kejayaan..."
Bersambung...
__ADS_1