Killing Me Softly

Killing Me Softly
41


__ADS_3

Malam ini kesedihan begitu menyelimuti hati Lyra. Ia berdiam diri di kamar sendiri sementara Moeis berada di ruang kerja dan tidak kembali ke kamar.


Lyra sudah berusaha untuk berbicara lagi dengan Moeis tetapi tidak mudah. Moeis begitu tertutup dengan emosi nya.


Satu yang masih Lyra pikirkan, siapa pengirim foto-fotonya dengan Barack. Jadi selama beberapa hari ia bertemu Barack, ada yang mengikut dirinya. Untuk apa? Siapa dia?


Bahkan hingga pukul 3 pagi, Lyra hanya berbaring memejamkan mata. Tetapi kesadaran masih penuh dan tidak ada rasa kantuk sama sekali. Pikiran nya juga terus berputar tanpa henti.


….


Moeis memasuki kamar nya untuk bersiap mandi. Ia cuek dan tidak memikirkan apapun. Fokus dengan apa yang ingin ia lakukan pagi ini.


Sementara Lyra sudah beberapa kali bergerak. Ia mungkin saja baru tertidur selama beberapa jam saja.


Lyra mendengar suara percikan air shower ketika membuka matanya.


Saat melihat jam, baru pukul 5.20.


Ia menguncir rambutnya, duduk di pinggiran ranjang menunggu Moeis selesai.


Perasaan gugup semakin terasa.


Ceklekk…


Lyra menoleh, menahan untuk bertanya beberapa saat. Hingga akhirnya Moeis telah berpakaian rapi.


"Moeis…"


Tidak ada respon apapun dari nya.


"Maafkan aku… aku tau kamu kecewa, tetapi.."


"Terserah, jika menurut mu dia baik. Maka teruslah bersama nya. Pikiran itu…"


Lyra mendekat. Sebenarnya tidak tau juga harus berkata apa, tetapi asal Moeis bisa mengerti.


"Foto-foto itu benar-benar membuat kesalahan pahaman…"


Moeis menghela nafasnya.


"Saya tidak sedang cemburu. Tetapi kamu membuat pikiran saya semakin kalut dengan hal itu, masih ada banyak yang membuat saya marah dan tidak dapat berpikir jernih. Jadi jangan anggap amarah saya ini hanya karena foto yang tidak berguna itu!!" bentaknya.


"Kalau begitu ada apa! Ini membuat ku sedih. Dan aku tidak mengerti kamu.." rengek Lyra. Ia sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini.


"Sudahlah"


Lyra meraih lengan Moeis yang hendak keluar membawa dasi nya.


"Apa ada hal lain?? Lets fix this.." Lyra memohon pada Moeis.


"Ya… ada hal lain. Kamu tidak perlu tau, ini bukan tentang mu. Jadi jangan menambah saya marah, lupakan.." pinta Moeis.


"Kenapa aku tidak perlu tau?? Dan kalau kamu melarang ku tau, ubah sikapmu. Kenapa begini?"


Ponsel Lyra tiba-tiba berdering. Barack menelepon dirinya dan Moeis melihat layar ponselnya tersebut.


Kemudian Moeis pergi begitu saja.


Lyra menangis setelah Moeis keluar dari kamar. Padahal hubungan mereka sudah cukup baik dan membuat nya bahagia. Tetapi kini semuanya seperti kembali ke semula.


Ia membawa panggilan Barack yang kedua kalinya.


"Ada apa?"


"Mmm.., apa kamu sibuk? Ingin ke yayasan?" tanya Barack.


"Tidak…"


"Ada apa dengan suaramu? Kenapa.."


Akhirnya Lyra memutuskan untuk mengatakan hal ini pada Barack.

__ADS_1


"Barack… kita bisa tetap membantu Ryan. Tetapi kita tidak bisa bertemu lagi, jujur ini menjadi masalah untuk suamiku. Ku pikir tunangan mu bisa salah paham juga nanti.. maaf, tolong mengerti.."


"Apa yang terjadi? Padahal kita tidak sedekat itu"


"Yaa.. tetapi aku sedang dalam masalah. Ini salah ku, bukan kamu. Jadi jangan di pikiran, maaf sekali lagi. Ku tutup…"


Lyra menutup panggilan tersebut. Ia mencoba untuk bernapas lega meskipun berat.


Seharian, Lyra hanya berada di kamar. Ia tetap bekerja menggunakan laptop dan panggilan video dengan sekretaris nya. Mendiskusikan beberapa file dan data baru.


Makan siang pun ia lakukan di meja kamar nya dekat jendela.


…..


Seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa, Bi?"


"Nyonya, ada tamu dibawah. Sepertinya ia mengantarkan barang penting yang hanya dapat Tuan atau Nyonya terima" ucap nya.


Bibi menyadari wajah Lyra yang sembab. Ia pun mencuci wajah nya dan turun ke bawah untuk menemui tamu tersebut.


Terlihat mobil barang di depan rumahnya. Seseorang telah menunggunya.


"Dengan siapa, ya?" tanya Lyra.


"Saya Rudy, pemilik photo studio. Dan kami mengantarkan barang pesanan pak Moeis. Apa kebetulan anda istrinya?"


Lyra tersenyum menjabat tangan.


"Ya benar, saya Lyra. Tapi, barang apa yang anda maksud, sebab saya tidak diberitahu oleh suami saya"


Pak Rudy tertawa ringan.


"Mungkin ini kejutan. Beliau sudah memesan sejak 15 hari yang lalu. Ini adalah foto-foto pernikahan dicetak dengan kualitas tinggi dan bingkai yang kami dapatkan dari Swiss"


"Ah, benarkah…"


"Anda bisa menandatangani ini. Dan kami akan turunkan"


"Ya, pak. Silahkan dibawa masuk"


Lyra berdiri di pinggir bersama Pak Rudy. Memantau barang yang sedang di angkut ke dalam. Bingkai tersebut masih terbalutkan kertas berwarna cokelat sehingga Lyra tidak dapat melihat foto nya.


Ia melamun. Tidak bisa mengingat hari pernikahan nya lagi. Seperti apa wajahnya. Apakah ia tersenyum? Riasan seperti apa yang ada di wajahnya saat itu?


Dan bagaimana Moeis melihatnya kala itu.


Lyra menelepon Helena agar memberitahu bahwa pak Rudy datang. Entah mengapa ia tidak ingin menghubungi Moeis secara pribadi.


"Helena, beritahu suami saya bahwa Pak Rudy pemilik studio photo hari ini datang. Hubungi kembali untuk mengucapkan terima kasih"


"Maaf, Bu. Pak Moeis sudah keluar kantor sejak makan siang dan meminta pembatalan jadwal"


"Apa? Kemana?"


"Bapak tidak memberitahu apa-apa kepada saya, Bu"


"Baiklah.."


Lyra menutup panggilan dengan cemas. Kemana Moeis pergi meninggalkan pekerjaan?


Saat malam tiba.


Lyra tidak memakan satupun makan malam nya. Ia hanya duduk diam di meja makan menunggu Moeis pulang.


Ellie berjalan mendekat membawakan teh hangat.


"Nyonya, silahkan di minum"


"Ya…"

__ADS_1


Kemudian Ellie pergi setelah melihat wajahnya.


Tidak berselang lama ponsel Lyra menyala mendapat kan pesan masuk. Sebuah alamat yang memberitahu dimana Moeis berada. Dan nomor tersebut tidak ia ketahui.


Siapa yang mengirimkan nya?


Awalnya ia tidak percaya dan hendak menghapusnya, tetapi sebuah keyakinan muncul membuatnya berdiri dan bergegas pergi menaiki mobil sendiri.


Lyra mencoba untuk menemukan alamat tersebut, mengemudi dengan perlahan. Hingga memarkirkan mobilnya didepan sebuah club besar. Pandangannya terpaku. Begitu banyak orang masuk menggunakan pakaian sexy dengan laki-laki.


Jantungnya berdetak kencang. Melangkah keluar mobil dengan penuh keraguan. Hatinya berkata Moeis tidak mungkin di dalam.


"Perlihatkan kartu akses anda" ucap penjaga pintu masuk.


"Saya tidak punya.."


"Maka anda tidak bisa masuk"


Lyra menghela nafasnya.


"Okey, dimana saya dapat membuat kartu tersebut? Katakan… saya harus masuk sekarang"


Namun penjaga tersebut mencegahnya.


"Anda harus memiliki kenalan yang sudah lebih dulu memiliki kartu akses, urus itu besok siang. Tidak bisa sekarang"


"Apa? Kamu gila? Aku harus masuk sekarang… ini uang. Terima lah"


Lyra memberikan uang sejumlah 5 juta dari dompetnya. Namum mereka tetap tidak memperbolehkan dirinya masuk. Dan terjadi perdebatan kecil. Lyra pun mundur untuk memikirkan cara lain.


Ia berdiri disamping mobilnya sambil memikirkan cara. Hingga ia melihat sekelompok orang yang ingin masuk begitu ramai, dan penjaga terlihat sibuk. lyra melepaskan jaketnya dan memakai topi. Ia menyelinap dengan cepat.


Akhirnya Lyra dapat masuk meskipun deg-degan setengah mati. Ia lalu mencari kesana kemari dimana ruangan VVIP berada.


Ruang 13.


Lyra membuka pintu secara asal. Seketika jantung nya loss begitu saja melihat Moeis di peluk oleh wanita sexy di ruangan yang terdapat beberapa wanita juga. Hatinya sakit, bahkan hancur.


"Keluar kalian!!..." ucap Lyra dengan nada tinggi.


Para wanita itu melihat nya dengan aneh dan mau tidak mau keluar dengan wajah biasa saja. Termasuk wanita yang memeluk Moeis.


Sedangkan Moeis memalingkan wajahnya dengan frustasi. Bagaimana Lyra mengetahui keberadaan dan masuk kesini?


"Apa yang kamu lakukan dengan wanita-wanita tadi??" tanya Lyra dengan emosi di luar kontrol.


"Apa urusan mu?? Jangan ikut campur, kenapa kamu datang dan mengacaukan suasana hati saya?"


Lyra tidak menyangka dengan ucapan Moeis.


"Aku... mengacaukan suasana hatimu?" tanya Lyra pelan.


Moeis mendesis.


"Kamu tidak akan mengerti, jika saya melakukan hal seperti ini. Artinya ada hal yang membuat saya di luar akal!! Saya merasa gila dan tidak dapat mengatasinya!!!" bentak Moeis.


Mata Lyra mulai memerah. Begitu sesak mendengarnya.


"Kenapa harus dengan wanita-wanita bayaran seperti mereka?? Menjijikan!! Aku ini istrimu... apa aku tidak bisa menjadi tempatmu merasa lebih baik? Apa aku tidak cukup mampu untuk membantumu??"


"Kamu mampu. Tapi bukan itu yang saya inginkan saat ini, saya sedang merasa gila jadi jangan ikut campur..."


Lyra meraih tangan Moeis. Menahan sejenak karena bibir nya sedang tidak bisa berkata apa-apa.


"Apa karena masalah Barack? Jika ada hal lain katakan.. jika seperti ini maka aku pun juga bisa gila..."


"Diam! Kamu tidak akan mengerti. Dan lelaki itu, saya tidak pernah memperdulikan nya! Itu urusanmu. Mulai sekarang jangan pernah mencampuri apapun yang saya lakukan!"


Moeis pergi melepaskan genggaman Lyra. Membuatnya menangis sesenggukan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2